
"Tuan.. tuan muda." ia melambaikan tangannya ke pandangan Yootaeyang.
"Mengapa anda melamun tuan?" tanyanya lagi.
"Bukan apa-apa Pak Jung." ia tersadar dari lamunannya dan pergi meninggalkan Pak Jung.
"Sepertinya akan ada cerita cinta segitiga." desah hati Pak Jung sambil tertawa.
****
"Mengapa diam saja? Apakah aku terlihat seperti pencuri atau penjahat?" bibir Youngbin tersenyum.
"Bukan.., bukan begitu pak." Hye Na menyengir
"Kamu tinggal dimana?"
"Saya tinggal di daerah Ansan pak."
"Baiklah saya akan mengantarkan kamu kesana. Sudah berapa lama kamu bekerja di SHINWA GROUP?" tanyanya lagi.
"Saya masih baru bekerja di sana pak. " jawabnya ramah.
"Pantesan saya baru melihat kamu."
Hye Na hanya diam dan tersenyum. Suasana di dalam mobil sangat canggung maklum Hye Na belum pernah di antar lelaki selain Dawon sahabatnya.
****
"Kita mau kemana?"wajah Hye So kebingungan.
"Ada deh. Kamu nanti juga akan tahu." ia tersenyum
"Dawon jangan aneh-aneh yah!" ketusnya.
Dawon menepikan mobilnya di depan sebuah rumah. Rumah itu terlihat sederhana namun elegan.
"Ayo turun." ia membuka pintu mobilnya.
"Dasar Dawon suka bertindak di luar nalar. Aish ini rumah siapa lagi." ia menggerutu dalam hati.
"Ayo turun Hye So." ajaknya sekali lagi. Ia membuka pintu mobil tempat Hye So duduk.
"Ini rumah siapa seh? Kenapa kita kemari?" tanyanya lagi kebingungan matanya sibuk menyimak rumah itu.
"Sudah ikut saja. Bawel amat." ia berjalan masuk ke rumah itu dan Hye So mengikutinya dari belakang.
"Ibu.. aku pulang! teriak Dawon.
"Ibu? berarti ini rumah Dawon dong? Aishh. Dia pasti sudah gila." umpatnya dalam hati.
"Hei, kenapa kamu tidak bilang kita akan ke rumahmu. Bukankah kamu bilang kamu akan mengantarkan aku pulang." tangannya memukul pundak lelaki itu.
"Maaf aku sengaja berubah pikiran." ia tersenyum manis.
"Aish.. ini sama sekali tidak lucu Dawon. Yang benar saja kamu membawa ku kemari." ia mengomeli Dawon tiada henti di depan pintu rumah.
Mereka sibuk beradu tinju di depan pintu rumah hingga suasana menjadi riuh.
****
"Kamu sudah pulang?" tanya Ibu Kim Nara.
Kim Nara adalah ibu dari Lee Dawon. Wanita yang paling di sayangi oleh lelaki tukang gombal itu.
Hye So terkejut melihat ibu lelaki itu muncul dan membukakan pintu rumah.
"Sudah bu." ia tersenyum cerah menatap wajah ibunya.
"Gadis cantik ini siapa?" matanya tersenyum menyambut Hye So.
"Saya Hye So bu, teman kantor Dawon." ia menjawab lalu memberi salam.
"Oh.., teman kantor Dawon. Ayo masuk ke dalam. Kita makan malam bersama." ajak Bu Nara.
"Iya anggap saja rumah sendiri. Kan bakal jadi menantu di rumah ini." canda Dawon sambil tertawa.
Mata Hye So sibuk melototi Dawon yang bertingkah jail.
Hye So terlihat sangat enggan berada di rumah Dawon. Karena selama ini ia sudah terbiasa hidup sendiri.
****
"Disini saja pak."
"Ini rumah kamu? kelihatannya nyaman sekali." ucap Youngbin.
"Rumah saya biasa saja pak. Tidak sebagus rumah orang orang lain. Namun dengan adanya ibu di dalamnya membuat rumah saya terkesan sangat mahal." ia tersenyum.
"Baiklah saya turun dulu pak. Terima kasih banyak." sambungnya.
"Baiklah Hye Na." ia menatap Hye Na lalu tersenyum.
__ADS_1
"Dia memang gadis yang baik. Dia berbeda dari yang lain." batin Youngbin. Rasa penasaran akan sosok Kim Hye Na muncul di hatinya.
Youngbin melanjutkan perjalanannya setelah mengantarkan Hye Na.
****
"Ibu aku pulang!" teriaknya sambil membuka pintu rumah.
"Kamu sudah sampai? Tapi kenapa suara sepeda motor kamu tidak terdengar?" tanya ibu
"Ban sepeda motorku kempes bu. Hari ini aku di antar oleh atasanku. Dan aku sangat segan." ungkapnya.
"Atasan? Siapa? Vampir?" wajah ibu tersenyum cerah.
"Ah ibu.., bukan dia yang mengantarkan aku tetapi sepupu nya. Dan sepupunya itu jauh lebih baik daripada dia." matanya mendelik.
"Hye Na sayang, jangan begitu rasa benci nanti bisa berubah jadi cinta." ucap ibu sambil mengelus pundak putrinya.
"Entahlah bu, aku harap tidak. Bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta pada manusia berhati dingin seperti dia." bantahnya
"Hye Na, cinta sudah jatuh kepada seseorang, ia dapat mengubah seseorang atau bahkan dunia. Jadi kita tidak bakalan tahu kedepannya." ibu bercerita panjang lebar.
"Iya bu, iya." ia mengendus nafasnya lalu masuk ke dalam kamar.
Tiba-tiba sebuah pesan kakao talk masuk ke handphone Hye Na.
"Apa kamu pulang bersama Youngbin?" bacanya.
"Ini nomor siapa ya." tangannya mengotak atik handphone miliknya.
Matanya melotot melihat profil kakao itu. Dan ternyata pesan itu dari Yootaeyang.
"Omo! kenapa dia tiba-tiba menanyakan hal seperti ini? Dia dapat nomorku darimana?" ia duduk di atas kasurnya lalu meletakkan tas nya.
"Kenapa tidak menjawab?" pesan dari CEO itu masuk lagi.
"Iya pak. Saya baru saja tiba di rumah dan diantar oleh Pak Youngbin." tangan mengetik pesan itu lalu mengirim pesan.
Yootaeyang menerima pesan dari Hye Na. Wajahnya sangat antusias menerima balasan pesan itu.
" Kelihatannya dia sangat nyaman bersama Youngbin." batinnya lalu membalas pesan lagi.
"Hye Na kamu itu masih punya tugas bersamaku. Jadi jangan sampai kamu melupakan itu dan kamu bukan sekretaris Youngbin."
Hye Na membaca pesan dari Yootaeyang.
"Aishh.. dia masih saja menyebalkan. Benar benar membuat ku mendidih." ia mengepal manja tangan mungilnya.
"Satu lagi kamu harus selalu berada di dekatku selama kontrak kita berlangsung." pesan Yootaeyang masuk lagi.
"Besok temui saya di ruangan. Jangan sampai terlambat!"
"Baiklah pak." balas Hye Na mengakhiri percakapan.
Begitulah isi percakapan mereka. Hye Na membalas pesan seakan ia adalah sekretaris yang baik namun sebenarnya ia sangat geram pada CEO nya itu.
. ****
"Makanlah ini. Makan yang banyak." wajah ibu Dawon tersenyum saat menaruh sepotong daging diatas nasi Hye So.
"Terima kasih ibu." jawabnya malu-malu.
Dawon sibuk memperhatikan gerak-gerik Hye So dan ibunya.
"Dawon kamu makanlah mau sampai kapan kamu memperhatikan kami saja. Nanti Hye So jadi malu untuk makan bersama kita." tangan ibunya memukul lengan Dawon.
"Ah ibu ini momen langkah jadi harus di abadikan di dalam pikiran." tangannya mengusap lengan yang dipukul ibu.
"Ini kamu juga makanlah. Jangan cuma berbicara saja. Kamu pasti lelah bekerja seharian." tangan ibu menaruh sepotong daging dan sayuran diatas nasi Dawon.
"Ayah dimana bu?" tanyanya.
"Ayahmu lagi keluar sebentar. Ada urusannya di luar."jawab ibu.
"Sayang sekali padahal ada calon menantu nya disini." matanya melirik Hye So yang sedang makan.
Hye So menyenggol kaki Dawon dari bawah meja. Mata nya melotot.
"Maaf bu, bukan begitu buk, jangan di ambil hati tentang ucapan Dawon. Dia memang suka ngelantur kalau ngomong." ucapnya spontan.
"Memang benar bu, Hye So mungkin merasa malu"
"Bukan begitu bu."
"Ibu lebih percaya anak sendiri kan bu. Dia memang calon menantu ibu." ia tertawa bahagia
"Dawon. Hentikan itu tidak lucu." wajahnya memerah karena malu.
"Aigo. Sudah. sudah. Jangan berdebat. Dasar anak muda." ucap ibunya menengahi perdebatan mereka.
"Dawon sudah kamu makan saja. kamu ini ribut sekali." ibu kembali memukul lengannya
__ADS_1
Hye So hanya diam dan tersenyum saat berada di meja makan. Hati nya tersentuh melihat kehangatan di keluarga Dawon.
****
"Pagi Hye Na." suara lelaki terdengar dari belakang.
Pagi itu Hye Na datang lebih awal karena ia harus menemui Yootaeyang.
"Pagi pak." ia menoleh dan membalas sapaan Youngbin lalu memberi salam.
"Kamu mau kemana? Bukankah itu ke arah ruangan Yootaeyang?" tanyanya
"Iya benar pak. Saya di minta untuk menemui beliau di ruangannya."
"Kebetulan saya juga ingin kesana." ia tersenyum cerah kepada Hye Na.
Pak Youngbin sangat baik dan ramah berbeda sekali dengan CEO rasa dewa di perusahaan ini. batinnya.
Mereka tiba dan masuk ke ruangan Yootaeyang. Wajah Yootaeyang sedikit kebingungan melihat kebersamaan itu.
Hari ini Hye Na tampil sangat feminim. Ia memakai high wais dengan kemeja bermotif bunga-bunga.
"Selamat pagi pak." sapa Hye Na
"Hmm. Selamat pagi." sapanya balik.
"Kamu tidak berubah juga ya. Selalu rajin dan tepat waktu saat bekerja." ucap Youngbin sambil duduk di hadapannya
"Sekarang kerjaan Youngbin bertambah yaitu mengikuti Hye Na kemana- mana."batin Yootaeyang kesal.
"Bukankah setiap pekerjaan harus di lakukan dengan sepenuh hati." ucapnya cuek .
"Hye Na tolong kamu ambil dokumen berwarna merah di lemari sebelah sana." tangannya menunjuk lemari di belakang Youngbin.
Hye Na berjalan menuju lemari itu. Ia susah sekali menggapai dokumen itu karena posisinya berada rak paling atas. Ia berusaha menggapai dokumen itu tapi tidak bisa juga.
Melihat hal itu Yootaeyang merasa tidak sabaran lalu ia berjalan dan berdiri di belakang Hye Na.
Tubuh mereka saling mendekat. Tangan Yootaeyang meraih dokumen itu. Lalu Hye Na berbalik dan berhadapan dengan Yootaeyang dalam jarak dekat.
"Dag! Dig! Dug! irama jantung Hye Na tidak karuan. Ia menatap wajah CEO itu dalam jarak dekat. Ketampanan Yootaeyang jelas membuat hatinya berdebar kembali.
"Ini. Hanya mengambil ini saja lama sekali." ucapnya dingin.
"Astaga bagaimana bisa dia berbicara santai begitu sedangkan jantungku hampir saja lepas." batinnya.
Ia masih saja terdiam di posisinya.
Untuk kesekian kali nya ia merasakan debaran itu. Namun hari ini debaran itu terasa lebih kuat.
Lalu Yootaeyang kembali duduk di bangku nya.
"Hye Na apa kamu baik-baik saja." ucap Youngbin.
"Hah? Iya pak." ia tersadar dari lamunannya.
Tiba-tiba handphone Youngbin berdering. lalu ia mengangkat telpon.
"Aku duluan ya, ada hal yang harus aku kerjakan. Hye Na saya duluan ya. Ia melambaikan tangannya.
"Hye Na kemari dan duduk lah. Saya akan menjelaskan tugas kamu hari ini." perintah Yootaeyang.
Hye Na pun duduk di bangku yang posisinya berada di hadapan CEO nya itu.
Yootaeyang sibuk menjelaskan tugas yang harus di kerjakan Hye Na.
Hatinya menjadi tidak karuan karena kejadian tadi. Timbul rasa kagum dalam hati Hye Na.
"Kenapa ia terlihat sangat tampan. Stop Hye Na. Kamu ini jangan ngelantur." batinnya
"Suaranya terdengar sangat indah di telinga ku." batinnya.
"Aigo. Fokus Hye Na. Jangan bersikap aneh-aneh. Kamu lagi diskusi bukan sedang lomba menulis puisi." batinnya lagi sambil menggelengkan kepala.
"Sampai di sini kamu mengerti apa yang saja jelaskan?" tanya Yootaeyang.
"Baiklah pak." ia asal menjawab seadaanya tanpa menyimak penjelasan itu dengan baik. Wajah ia tidak menatap Yootaeyang.
"Kamu mengerti tidak?" dahinya mengerut menatap Hye Na yang sedang melamun.
"Kenapa wajahmu tampan sekali." ucap gadis itu tanpa sadar.
Lalu lelaki itu menunjuk lembut pipi Hye Na dengan telunjuk agar Hye Na tersadar dari lamunannya.
Wajah Hye Na memerah seketika. Ia merasa malu saat melamun di depan atasannya itu.
"Maaf pak!" teriaknya spontan. Lalu ia berdiri dari bangkunya.
Tangan Yootaeyang menarik tangan Hye Na yang hendak kabur dari hadapannya.
"Kamu mau kemana?" tanya Yootaeyang.
__ADS_1
"Apa yang sedang kalian lakukan!" Teriak Sae Ron dari depan pintu dengan penuh emosi. Matanya menatap tajam posisi tangan mereka.
Bersambung...