
Hye Na menoleh melihat Yootaeyang yang sedang tertawa di belakang nya.
"Apa yang sedang kamu lihat." tawa nya terhenti seketika dan ia menjadi salah tingkah.
Hye Na hanya membalas dengan sebuah senyuman.
"Aku rasa mereka berdua sama sama phsyco. Kamu harus kuat Hye Na jangan sampai kamu ikutan gila seperti mereka." suara hati Hye Na.
"Hmm.. kalau begitu kamu buat lah laporan hasil rapat tadi dan berikan nanti kepada saya." lalu ia tersenyum sinis dan meninggalkan sekretaris nya itu sendiri.
"Aku akan buktikan kinerja ku jauh lebih baik dari kinerja orang yang pernah kamu lihat." ucapnya di ruangan itu.
Lalu ia segera ke ruangan nya untuk membuat laporan hasil rapat mereka tadi.
****
Pak Jung pergi meninggalkan kantor. Ia ingin pergi ke suatu tempat bersama seorang supir nya.
Lalu ia tiba di sebuah toko buah.
"Selamat datang pak, ada yang bisa saya bantu." ucap wanita paruh baya itu. Tidak salah lagi wanita itu adalah ibu Kim Hye Na.
"Saya ingin membeli buah persik. Tuan muda saya sangat menyukai nya." jawabnya
"Baiklah saya akan menyiapkannya dulu."
"Ibu sendiri saja berjualan disini." tanya Pak Jung.
"Saya mempunyai seorang putri dan ia sedang bekerja."
"Benarkah? Dia pasti anak yang membuat anda bangga." tanya Pak Jung lebih dalam.
"Dia adalah harta yang ku punya satu-satunya. Hye Na adalah anak yang memiliki kepribadian yang baik. Bukan karena dia anakku tetapi memang dia gadis yang sangat pekerja keras. Semangat nya tinggi selalu membuat hatiku bahagia." ucapnya
"Aigo, kenapa aku harus cerita panjang lebar." sambung nya.
"Tidak apa-apa bu, anak-anak memang menjadi harta bagi semua orangtua. Berapa semua nya buk?" tanyanya.
"Semua jadi berapa bu?"
"Sepuluh ribu won." jawabnya
"Ini bu." ia memberikan lebih dari harganya.
"Ini jumlahnya berlebih pak."
"Tidak apa-apa bu. Anggap saja buah ibu hari ini dijual dengan harga segitu. Saya permisi bu." ucapnya.
"Terima kasih banyak pak." ucapnya.
Pak Jung sengaja berkunjung kesana untuk mengetahui bagaimana kepribadian Keluarga Hye Na. Karena ia ingin mengetahui bagaimana Hye Na dan keluarganya.
*****
Hye Na mengetuk pintu ruangan Yootaeyang lalu masuk ke dalam ruangan itu.
"Permisi pak, saya ingin mengantarkan laporan yang bapak minta."
"Cepat juga dia menyelesaikan tugas itu " ia berkata dalam hati.
__ADS_1
"Mana biar saya lihat dulu." ia mengoreksi semua laporan yang Hye Na kerjakan.
"Hmm.. gadis ini lumayan cepat dalam menguasai bidang baru yang ia jalani. Tapi aku akan mengerjainya." batinnya.
"Aku yakin pasti CEO sombong ini akan terkagum-kagum dengan kinerja ku." desah hatinya dengan percaya diri.
"Masih ada yang kurang." ucapnya.
"Apa? Bagian yang mana pak?" Ia mengerutkan dahinya.
"Yang ini disini." tangannya menunjuk sisi dokumen yang seolah-olah salah.
Hye Na dalam posisi berdiri tiba-tiba membungkuk dan melihat dokumen yang ditunjukkan Yootaeyang.
Posisi jarak mereka hanya terpisahkan oleh sebuah meja. Yootaeyang yang dalam posisi duduk melihat wajah gadis itu dalam jarak dekat.
Matanya terpaku dengan kecantikan Hye Na. Lalu gadis itu melihat wajah CEO nya itu.
Bertemu kedua pasang bola mata itu dalam satu pandangan. Mereka terdiam sejenak.
"Hei, kamu berusaha menggoda calon suamiku ya!" teriak Sae Ron yang tiba-tiba muncul.
Lalu mereka menjadi salah tingkah dengan kehadiran gadis kaya raya itu.
"Tidak bu, saya hanya ingin menyampaikan laporan yang di minta oleh Pak Yootaeyang." ucap nya gugup
"Jangan mencari-cari alasan!" bentak Sae Ron.
Sae Ron memang gadis kaya raya tetapi terkadang sikapnya suka kelewat batas. Kekayaan yang dimilikinya membuat dirinya menjadi orang yang angkuh.
"Hye Na, kembali lah ke ruangan." perintah Yootaeyang.
"Tidak kamu disini, saya belum selesai bicara." bantah Sae Ron.
"Tidak!" bentaknya lagi.
"Apa kamu menyukai Yootaeyang?" tanya gadis manja itu
Hye Na hanya terdiam mendengar pertanyaan itu. Ia bingung harus menjawab apa. Disisi lain sebenarnya ia sangat benci dengan Yootaeyang tetapi ia masih terikat kontrak kekasih palsu dengan Yootaeyang dan Pak Jung.
"Lama-lama aku bisa gila menghadapi dua orang kaya yang kewarasannya sedikit hilang." batinnya
"Hei, saya bicara kepada kamu. Kenapa kamu diam saja." ucapnya.
"Aduh bagaimana ini?" batinnya lagi
"Saya menyukainya sejak pandangan pertama." Yootaeyang merangkul bahu Hye Na lalu mendekatkan tubuhnya dengan Hye Na.
"Dasar vampir bisanya cari kesempatan." gerutu nya dalam hati.
"Jangan bercanda Yootaeyang. Mana mungkin gadis miskin seperti dia akan bersanding dengan mu. Jika dibandingkan denganku bagai langit dan bumi. Bahkan baju pembantuku saja lebih bagus dari bajunya." Sae Ron menghina Hye Na sambil memandang enggan wajahnya.
Mendengar ucapan itu hati Hye Na sangat sakit hati dan sedih. Ia tidak pernah mendapat penghinaan sekasar itu sebelumnya dari seseorang.
Lalu ia melepaskan rangkulan Yootaeyang dan pergi meninggalkan ruangan itu.
"Kamu ini kenapa Sae Ron. Bisa tidak kamu berkata sopan kepada Hye Na." bentak Yootaeyang.
"Itu mustahil. Dia akan merasakan penderitaan yang lebih parah lagi jika sampai berani mendekatimu lagi." ancam Sae Ron.
__ADS_1
"Tapi aku tidak pernah menyukaimu. Harusnya kamu paham itu!" bentak lelaki tampan itu.
"Sampai kapanpun aku pasti akan mendapatkan dirimu." tegasnya.
Lalu Sae Ron pergi meninggalkan Yootaeyang. Ia tidak pernah peduli dengan sikap Yootaeyang yang selalu bersikap dingin dan kasar.
****
Yootaeyang menghampiri Hye Na ke ruangan nya. Ia melihat Hye Na duduk dan menangis di bangkunya.
"Sae Ron pasti melukai hatinya." batinnya sambil menatap Hye Na.
"Maaf jika aku menyebabkan kamu seperti ini." ucapnya
Untuk pertama kali Yootaeyang meminta maaf pada seseorang.
"Bisa juga dia meminta maaf." batinnya terkejut.
"Aku baik-baik saja pak. Tidak masalah." ia mengusap air matanya.
"Kita harus lebih berani lagi pak. Saya akan berusaha sekuat mungkin membantu bapak." bibir mungilnya tersenyum.
Ia berusaha menutupi kesedihannya di mata CEO itu.
"Baiklah. Jika kesepakatan kita berhasil aku akan memberikan bonus nanti." Ia berusaha menghibur Hye Na.
"Tidak perlu pak. Bapak cukup mengabulkan permintaan saya yang ketiga." kata Hye Na.
"Baiklah saya tunggu syarat kamu kapanpun kamu mau."
*****
"Serius amat gadis cantik ini." suara rayuan Dawon tiba-tiba terdengar.
"Hei kamu, mengagetkan ku saja." ia menghela nafas.
"Ada apa Dawon?" sambung nya lagi serasa merapikan meja kantornya.
"Mau makan siang bersama tidak."
"Boleh, dimana?"
"Disini saja." Ia meletakkan bekal makanan di meja Hye So.
"Ibu mertua memasakkan bekal ini spesial untuk calon mantu nya." sambung nya lagi.
"Mulai deh mulai lagi gombal keliling nya." ejek Hye So.
"Dawon ternyata anak yang baik walaupun terkadang suka mengobral gombal." desah hatinya.
Dawon membuka satu persatu kotak bekal makanan itu. Hari ini ibunya menyiapkan sup daging, kimci dan sebotol jeruk peras.
Mereka makan bersama di meja itu.
Sesekali Dawon memandangi wajah Hye So.
"Hye So coba buka mulut mu." ucap Dawon.
Dengan polos nya Hye So membuka mulutnya. Lalu Dawon menyuapi dirinya. Alangkah terkejutnya Hye So dengan sikap manis Dawon.
__ADS_1
Dawon tertawa bahagia melihat ekspresi wajah Hye So. Kemudian Hye So memukul bahu Dawon untuk menutupi rasa gugupnya. Perlahan mereka menjadi semakin akrab.
Bersambung..