
"Sepertinya bapak sangat dekat dengan ibunya?" tanya Hye Na.
Yootaeyang terdiam mendengar pertanyaan Hye Na. Gadis itu melihat wajahnya mendadak berubah menjadi sedih.
"Maaf... Apakah saya menyinggung bapak?" tanya gadis cantik itu melirik wajah CEO nya itu.
"Orangtuaku sudah lama meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan." ucapnya lirih menatap lumba-lumba yang asik menari indah di aquarium.
Hye Na terdiam mendengar hak itu. Ada perasaan tidak enak di hatinya. Dia tahu persis bagaimana rasanya kehilangan orangtua.
"Maaf pak. Saya tidak tahu dan tidak bermaksud membuat bapak sedih." gumamnya pelan sambil menunduk.
"Tidak apa-apa Hye Na. Kejadian itu sudah lama sekali."
"Saya tahu rasanya bagaimana kehilangan orang yang kita cintai." Hy Na menatap aquarium di sepanjang lorong itu sambil berjalan pelan
Yootaeyang langsung menoleh ke arah Hye Na. Ia penasaran kenapa Hye Na berkata demikian. Ia mengikuti gadis itu dari belakang.
"Kenapa kamu berkata demikian?" tanya lelaki berhati dingin itu.
"Karena ayah saya juga sudah meninggal pak." ia duduk di bangku di sudut lorong aquarium. Kemudian Yootaeyang menyusulnya untuk duduk bersama disana.
"Maaf aku tidak tahu." matanya menatap Hye Na.
"Semenjak kepergian ayah, aku dan ibu hidup dengan bekerja keras. Semua kami lakukan bersama-sama. Ibuku adalah harta satu-satunya yang saya punya." ucapnya sambil tersenyum.
"Kamu tinggal bersama ibumu?" tanya Yootaeyang antusias.
"Tentu saja. Kemanapun aku pergi aku hanya ingin bersama dengan ibuku. Dia adalah wanita yang sangat aku kagumi."
Timbul rasa simpati di hati Yootaeyang saat itu.
"Kehilangan bukan menjadi penghalang untuk kita meraih kebahagian. Bukannya kita mengabaikan arti kehilangan itu, namun hal itu justru membuka jalan dari kebahagian. Hidup terus berjalan dan kita tidak mungkin berjalan di tempat saja hanya karena merasa sedih dari rasa kehilangan. Sedih boleh saja namun jangan jadikan itu menjadi hal yang mengikat diri kita sendiri."
Yootaeyang hanya bisa terdiam mendengar kata-kata motivasi itu. Ia merasa seakan ucapan Hye Na benar adanya. Selama ini ia hanya berjalan di tempat dan tidak pernah merasakan sebuah kebahagiaan.
"Mari temukan semangat baru yang membuat kita berani untuk memiliki kebahagiaan itu." tangannya menepuk pelan pundak lelaki tampan yang sedang menunduk itu.
Entah mengapa Yootaeyang merasa nyaman atas ucapan dan perlakuan Hye Na kepadanya. Lalu ia menatap wajah cantik Hye Na.
"Hah? Maaf pak saya tidak bermaksud apa-apa." ia menarik tangannya dari pundak CEO itu.
"Terima kasih Hye Na."
"Terima kasih buat apa pak?" dahinya mengerut menatap lelaki itu.
"Ya terima kasih saja untuk hari ini."
"Saya yang seharusnya berterima kasih karena bapak sudah baik dan mau menghibur saya." wajahnya tersenyum cerah.
Yootaeyang tersenyum menatap Hye Na. Dan apa yang terjadi. Lagi-lagi jantung Hye Na berdebar melihat senyuman manis dari wajah tampan lelaki itu.
"Jangan senyum seperti itu. Aigo. Aku sungguh tidak kuat." batinnya lalu ia memalingkan wajahnya ke aquarium untuk menutupi rasa gugupnya.
****
"Hye So! Makan siang yuk." rayu Dawon sambil menyengir di hadapan Hye So.
"Bodoh ah! Kamu makan siang saja sendiri Mr. Gombal!" ketusnya. Tangannya sibuk merapikan dokumen di meja kantornya.
"Jangan ngambek gitu dong. Aku janji akan memberitahu kamu jika ke suatu tempat. Udah ya jangan ngambek gitu. Ya..ya..yaaa." rayu nya lagi. Wajahnya semakin mendekat ke wajah Hye So yang sedang duduk.
"Dasar kamu ini!" tangannya menoyor kening Dawon. Wajahnya terkejut saat berhadapan dengan lelaki receh itu.
__ADS_1
"Hye So jangan gitu sama calon kamu." tangannya mengusap kening yang di toyor Hye So.
"Calon apa? Calon asisten gitu?" ledeknya sambil menautkan alisnya.
"Gemesnya aku!" Dawon mencubit pipinya. Wajah Hye So mendadak merah karena perlakuan Dawon.
"Rasain ini!" Gadis itu memukul lengan Dawon dengan keras.
"Auhh! Sakit Hye So." teriak Dawon.
"Siapa suruh bertingkah aneh!" ketusnya sambil menatap jengkel.
"Siapa suruh wajahmu cantik. Kan aki jadi terbayang-bayang mulu." gombalnya dengan tatapan jail.
"Ih...! Dasar tukang gombal keliling." pukul Hye So lagi.
"Udah ayo kita makan siang bareng." Dawon menarik tangan Hye So.
"Ih Dawon makan saja sana sendiri."
"Aku tanpamu bagai butiran debu."
"Apa sih Dawon. Nggak mau."
Namun Dawon tetap saja menarik tangannya dan mengajaknya untuk makan siang bersama.
****
"Kruk...kruk!" suara perut Hye Na terdengar.
"Maaf pak." Hye Na malu karena suara perutnya yg lapar terdengar.
"Ayo kita makan." Yootaeyang berdiri lalu berjalan.
Mereka berjalan beriringan menuju pintu keluar. Hye Na menatap Yootaeyang yang berjalan di depannya. Betapa gagahnya ia berjalan menyusuri lorong aquarium itu.
"Aku rasa aku sudah gila. Bagaimana mungkin aku merasakan hal yang aneh ini?" batinnya berjalan sambil menggelengkan kepalanya.
Mereka makan di restaurant yang berada di dalam gedung CEOX Aquarium.
"Kamu mau makan apa?" tanya lelaki itu cuek sambil membolak-balik menu makanan di restaurant itu.
"Saya pesan satu porsi nasi dan sup dagingnya." ucap Hye Na pada pelayan restaurant yang berdiri di depan meja mereka.
"Saya juga pesan yang sama dengan dia." ucap Yootaeyang.
"Baiklah. Terima kasih. Silahkan menunggu sebentar." ucap pelayan restaurant itu.
"Bapak suka dengan sup daging juga?" tanya Hye Na antusias.
"Terkadang saja." ucapnya sambil memainkan handphone miliknya.
Hye Na tersenyum enggan. Dia pikir selera makanannya bakal sama dengan lelaki itu.
sebuah pesan masuk ke dalam handphone Yootaeyang.
Youngbin
"Kamu dimana? Aku ingin mengajakmu makan siang."
Yootaeyang
"Aku ada urusan di luar. Kamu makanlah sendiri."
__ADS_1
Youngbin
"Apa kamu bersama Hye Na? Aku mencarinya tidak ketemu."
Yootaeyang
"Cari saja sampai ketemu sana. Jangan ganggu aku."
Yootaeyang tertawa kecil membaca pesan antara dirinya dan sepupunya itu.
"Mau keliling perusahaan ratusan kali juga Youngbin tidak akan menemukan Hye Na. Dasar Youngbin!" batinnya ia tersenyum menatap layar handphone.
"Kenapa dia sepertinya senang sekali? Dia lagi chat an sama siapa sih? Kenapa aku harus bertanya seperti ini. Lupain saja Hye Na. Jangan sampai dia menguasai pikiranmu. " desah hati Hye Na. Dia penasaran akan tingkah Yootaeyang yang mendadak ceria ketika menatap layar handphone.
"Permisi. Ini pesanan makanannya. Silahkan dinikmati." ucap pelayan restaurant.
"Baiklah mari kita makan!" teriak Hye Na tersenyum.
Yootaeyang menatap wajah Hye Na yang riang saat makan bersama.
Handphone gadis cantik itu berdering. Ternyata Dawon menelponnya.
"Apa ada?" bibirnya penuh dengan makanan.
"Apa kabar sahabatku yang paling baik?"
"Baik. Jadi kamu menelpon hanya untuk menanyakan itu?"
Yootaeyang menatap Hye Na yang sibuk berbincang melalui handphone.
"Wah...wah... parah sekali sahabatku yang satu ini. Semenjak kerja disana dia semakin cuek saja."
"Ih Dawon kamu bawel sekali." ia menghela nafas menanggapi sahabatnya itu.
"kamu pasto lagi makan" ucap Dawon.
"Bagaimana kamu tahu aku sedang makan?" matanya melirik ke sekelilingnya. Ia berpikiran kalau Dawon juga berada di tempat yang sama.
"Suaramu terdengar jelas. Aku lagi sama sama Hye So. Berdua lagi." Dawon tertawa manja karena bahagia.
"Dawon kamu tuh selalu berlebihan. Aku dipaksa sama dia Hye Na." teriak Hye So.
"Sudah makan sana. Jangan obral gombal disana ya! Bye!" Gadis mengakhiri telepon dari Dawon.
Seketika Hye Na menatap Yootaeyang yang dari tadi memperhatikannya.
"Maaf pak. Tadi yang menelpon itu.." Belum selesai menyelesaikan ucapannya tangan Yootaeyang menyentuh lembut dagu Hye Na yang belepotan karena makan sambil berbincang tadi.
Mata Hye Na melotot. Jantungnya berdegup kencang.
"Omo! Aku bisa gila lama-lama. Aku nggak kuat menatap wajah tampannya." batinnya
"Maaf bibir kamu belepotan." gumam Yootaeyang pelan.
"Terima kasih pak." lalu ia menundukkan kepalanya. Wajahnya memerah seperti buah cherry.
"Ada apa?" tanya CEO itu
"Hah? Tidak apa-apa pak." mendadak ia salah tingkah.
Sepertinya Hye Na akan segera termakan omongannya sendiri. Dimana dia pernah bilang tidak akan menyukai lelaki seperti Yootaeyang. Namun hatinya berkata lain semenjak hari ini.
Ada pepatah bilang "Tak Kenal Maka Tak Sayang." ungkapan itu seakan cocok dengan mereka.
__ADS_1
Bersambung..