
"Ayo pelan-pelan! sebelah sini!"
"Kamu cepat telpon ambulan."
"Baiklah. Aku sudah menelpon ambulan. Mereka akan segera tiba."
Semua orang sibuk menolong Hye Na yang terjatuh dan tidak berdaya. Sementara Yootaeyang masih membeku dengan rasa traumanya.
Sirine ambulan berbunyi. Tim medis tiba di tempat. Tiba-tiba Yootaeyang berbalik dan melihat Hye Na dibawa masuk ke dalam ambulan.
"Saya ikut!" ucap Yootaeyang spontan.
"Apakah bapak keluarganya?" tanya perawat disana.
"Iya saya keluarganya." jawabnya tanpa pikir panjang.
Sepanjang jalan ia memegang tangan Hye Na dan menatap wajah gadis itu.
Wajahnya ketakutan dan panik karena rasa trauma itu. Ia merasa bersalah karena sudah bersikap sedikit kasar saat tadi Hye Na menanyakan keadaannya.
Entah mengapa timbul rasa ketakutan akan kehilangan terhadap diri Hye Na
"Bertahanlah Hye Na! Kamu akan baik-baik saja!" ucapnya lirih.
"Bertahanlah Hye Na!" ucapnya lagi. Tangannya menggenggam tangan gadis itu.
Mereka tiba di sebuah rumah sakit. Mereka segera membawanya ke IGD dan menangani gadis itu.
"Silahkan tunggu di luar saja pak." ucap seorang perawat.
"Baiklah." wajahnya panik karena khawatir dengan kondisi Hye Na.
Ia berjalan mondar-mandir di depan IGD. Perasaanya tidak tenang. Setelah selesai menangani Hye Na tim medis keluar dari ruang IGD.
"Dokter bagaimana keadaannya?" wajahnya sangat khawatir. Matanya penuh dengan tatapan gelisah.
"Pasien tidak apa-apa. Dia cuma mengalami shock saja. Luka-luka di tubuhnya juga tidak ada yang serius dan sudah di bersihkan. Pasien cukup istirahat beberapa hari saja." ungkap dokter
"Terima kasih banyak dokter. Bolehkah saya menemuinya?" tanya Yootaeyang antusias.
"Boleh pak. Pasien akan segera di pindahkan ke ruang rawat inap. Nanti bapak ikuti saja perawat yang mengantarkan pasien ke ruangannya."
"Baiklah dokter. Sekali lagi terima kasih banyak."
Kemudian ia mengikuti Hye Na yang di pindahkan oleh perawat ke ruangannya. Sesampai disana Yootaeyang terus menjaga Hye Na.
"Maaf.., seharusnya aku tidak bersikap kasar padamu." suaranya terdengar seperti sedang berbisik.
Tangan Hye Na yang di genggam oleh Yootaeyang merespon. Menandakan ia sudah sadar.
"Aku dimana? Auh kepalaku sakit sekali." ucap Hye Na setengah sadar. Perlahan Yootaeyang melepaskan genggamannya.
"Jangan terlalu banyak bergerak. Kamu baru saja sadar." ucap CEO tampan itu.
__ADS_1
"Kenapa bapak bisa ada disini?" wajahnya bingung menatap Yootaeyang.
"Istirahatlah Hye Na. Jangan selalu saja cerewet." ucapnya cuek.
"Saya cuma bingung pak. Apakah salah jika saya bertanya." matanya terlihat sedih.
"Bahkan di saat keadaan beginipun dia masih saja dingin." batin Hye Na.
"Bukan begitu. Kamu habis kecelakaan jadi harus istirahat total." jawab lelaki itu.
"Sekarang kita satu sama." Hye Na tersenyum.
"Apa maksudnya?" Yootaeyang mengerutkan dahinya.
"Kita impas. Dulu sewaktu bapak terjatuh di jalan saya menolong bapak. Sekarang bapak yang menolong saya." ucap Hye Na tersenyum.
Flashback Ingatan Yootaeyang
"Siapa wanita yang menolongku Pak Jung? Apakah sudah ada informasi?"
"Wanita itu bernama Kim Hye Na, dia hanya mengisi nama dan nomor teleponnya saja sebagai penanggung jawab tuan."
"Jadi kamu yang menolong saya? Kenapa kamu diam saja dan seolah tidak tahu apa-apa." ucapnya kaget.
"Ibu pernah berkata bahwa jika kita menolong orang lain jangan pernah mengharapkan sesuatu dari orang itu. Suatu saat orang juga akan melihat ketulusan itu." wajahnya tersenyum lalu bangun dan ingin menyandarkan badannya di atas kasur rumah sakit.
"Pelan-pelan. Biar aku bantu." tangan lelaki itu mengangkat bahu Hye Na berusaha menopang lalu menyandarkan badannya.
Hye Na menatap wajah lelaki itu lagi-lagi dari jarak dekat.
"Wajahnya sangat tampan hingga aku lupa rasa sakit yang ku rasa dalam beberapa saat." batinnya lagi
"Kalau begini bagaimana? Apakah sudah nyaman?" mata Yootaeyang menatap dalam yg semakin jarak dekat.
"Lama-lama bisa pingsan aku ditatap begini. Oh My God! Aku benar-benar tidak bisa menahan perasaanku. Bagaimana ini?" batinnya lagi
"Kenapa terdiam? Apakah ada yang sakit?" ucap Yootaeyang menatapnya lebih dalam.
Mereka saling menatap satu sama lain. Tangan Yootaeyang masih melingkar di punggung Hye Na. Tatapan itu semakin dalam.
Suasana sepi di dalam ruangan menjadi pendukung keadaan itu. Entah mengapa mereka semakin mendekat lalu mereka hampir berciuman secara tidak sadar. Untuk pertama kalinya naluri lelaki Yootaeyang datang secara alami.
"Tit!" sebuah pesan masuk ke ponsel Hye Na. Mereka mendadak salah tingkah karena kejadian tadi.
"Omo! Aku lupa menelpon ibu. Ia pasti khawatir kenapa aku belum pulang." ia berusaha menutupi rasa malu dan gugupnya.
"Benar juga. Kamu harus menelponnya."
"Pak saya ingin menelpon ibu dulu."
"Baiklah. Ini telponlah ibumu." ucapnya salah tingkah.
"Sebentar ya pak." lalu ia menelpon ibunya.
__ADS_1
5
"Eomma! Maaf aku tidak bisa pulang. Jangan khawatirkan aku." ucapnya enggan
"Ada apa Hye Na? Dari tadi ibu menunggumu pulang ke rumah. Kamu baik-baik saja?" tanya ibu cemas.
"Ibu bisa ke rumah sakit sekarang." ia menyengir.
"Hye Na! Ada apa! Baiklah ibu akan kesana sekarang. Tolong kirim ibu alamatnya." suaranya terdengar cemas lalu menutup telponnya. Ia terburu-buru mengemasi barangnya lalu berangkat menemui putrinya.
****
Lee Dawon mengirimi Hye So pesan. hidupnya tiada hari tanpa gadis itu.
Dawon
"Hye So.., lagi apa?" ๐
Hye So
"Tebak aja sendiri!๐
Dawon
"Kalau aku berhasil nebak kamu harus mau jadi pacarku."๐คญ๐ฅฐ
Hye So
"Ih apa sih kamu Dawon, kok jadi gitu. Kan kamu berjuang sendiri sampai aku mau menjawab sendiri cintamu."๐
Dawon
"Tidak bisa. Aku tebak kamu lagi duduk di atas kasur dan balas pesanku."
Hye So
"Ih curang! Curang!"
Dawon
"Berarti benar dong. Yess! Hari ini kamu menjadi milik ku Hye So. Percaya padaku aku akan membuat dirimu bahagia."
Hye So
"Bodoh ah!๐
Dawon
"Besok aku akan menjemputmu dan kita pergi ke kantor bersama. Kirimkan alamat rumahmu lalu tidurlah. Mimpi indah"๐
"Dasar Dawon yang aneh. Tapi dia selalu bersikap manis." ucap Hye So lalu menghela nafasnya.
Bersambung...
__ADS_1
jgn lupa vote ya โกโกโก