
Tidak ada hujan atau badai tiba-tiba Dawon berbicara kepada Hye So yang sedang asik mengunyah makan siangnya.
"Hye So berbagilah dengan ku apapun masalahmu. Tidak masalah jika mau menolak perasaanku. Aku ingin menjadi tempat pertama yang kamu tuju." Dawon memegang erat tangan Hye So. Tatapannya teduh sekali saat menatap Hye So.
"Uhuk..uhuk..!" Hye So mendadak batuk mendengar ucapan lelaki receh itu. Ia segera melepaskan tangannya dari genggaman Dawon.
"Hye So, gwencanayeo? Ini minum dulu." tanya Dawon sambil tersenyum.
"Huft!" gadis itu menghela nafas setelah meneguk air minum.
"Dawon, kamu mengangetkan ku saja." Hye So salah tingkah dan wajahnya memerah.
Dawon tersenyum melihat tingkah lucu Hye So.
"Kenapa tertawa? Ada yang lucu?" Hye So memanyunkan bibirnya.
"Aku akan selalu menunggumu Park Hye So!" gumamnya pelan berusaha meyakinkan gadis pujaannya itu.
"Dawon berjuanglah sampai batas mana kamu mampu. Disaat kamu tidak mampu aku akan memberikan jawaban itu. Bagiku cinta bukanlah hal yang mudah. Cinta bukanlah sebuah mainan yang ketika sudah tidak di perlukan lagi, ia tinggalkan begitu saja. Suatu saat nanti kamu akan tahu alasanku seperti ini." ungkap Hye So menatap Dawon.
"Baik! Akan ku buktikan semuanya kepadamu." wajah lelaki itu tertawa menatap balik Hye So.
"Satu hal yang kamu harus tahu, aku berbeda dari lelaki manapun di dunia ini. Lelaki sepertiku cuma ada satu di dunia ini." ia berusaha menyakinkan gadis itu.
"Dan gadis seperti ku juga cuma ada satu Lee Dawon." ledek Hye So sambil memandang jail.
****
Yootaeyang dan Hye Na dalam perjalanan pulang. Mereka tampak saling mencuri pandang secara bergantian. Suasananya menjadi sangat canggung. Karena Hye Na suka mulai merasakan getaran cinta akan diri Yootaeyang.
Tiba-tiba ada mobil yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi yang akan bertabrakan dengan mobil mereka dari arah yang berlawanan.
"HATI- HATI pak! Awas pak!" teriak Hye Na kencang dengan ekspresi terkejut.
"AARGHHH!! teriak mereka mendadak karena terkejut.
Lalu Yootaeyang membanting setir mobilnya ke arah lain dan terhenti secara mendadak.
"Hampir saja. Untung kita selamat." ucap Hye Na sambil menghela nafas lalu menatap CEO nya itu.
__ADS_1
Yootaeyang terdiam di bangkunya. Ia menundukkan wajahnya ke setir mobil. Tangannya gemetaran. Desah nafasnya tidak beraturan. Wajah seperti orang yang ketakutan. Badannya pun ikut gemetar seusai kejadian itu.
"Apakah bapak baik-baik saja?" Hye Na memutar arah duduknya ke arah lelaki itu. Namun ia tidak menjawab pertanyaan Hye Na. Lalu gadis itu menyentuh pundak Yootaeyang.
"Kenapa bapak seperti ini?" rasa khawatir gadis muncul.
"Sebaiknya kita keluar saja dulu pak. Biar saya bantu." Hye Na keluar dari mobil lalu ia membuka pintu mobil dimana Yootaeyang duduk.
"Mari pak saya bantu." ia berusaha menopang tubuh lelaki itu dengan tangannya. Namun Yootaeyang masih saja terdiam dan tubuhnya gemetaran.
Mereka duduk di bawah pohon di pinggir jalan.
Yootaeyang terdiam membisu ia teringat akan kecelakaan kedua orangtuanya. Wajahnya pucat dan tiba-tiba ia menangis seperti orang emosi yang diluar kendali. Desah nafasnya tidak terkendali. Ia seperti orang yang hilang kendali kesadaran.
"Bapak baik-baik saja?" tangannya menepuk bahu lelaki itu dengan wajah bingung sambil memandanginya.
Kemudian Yootaeyang menatap Hye Na lalu memeluknya erat. Rasa trauma itu membuatnya tiba-tiba memeluk Hye Na dengan erat. Lalu ia menangis di pelukan gadis cantik itu.
"Dag! Dug!" irama jantung Hye So naik turun seperti roller coaster yang sedang melaju. Ia pasrah saja dengan perlakuan lelaki tampan itu.
"Mengapa ia begitu ketakutan? Ada apa sebenarnya dengannya?" batin Hye Na mengkhawatirkan CEO nya itu.
"Tidak apa-apa pak. Semuanya baik-baik saja disini." lalu ia menyambut pelukan itu dan menepuk lembut pundak Yootaeyang dengan lembut.
Perasaan Hye Na kepada Yootaeyang semakin bertambah karena sentuhan pelukan itu. Ia merasakan sesuatu yang nyaman yang belum pernah ia rasakan.
Mereka berpelukan selama beberapa menit. Setelah perasaan Yootaeyang merasa baikan ia perlahan tersadar bahwa ia sedang ada dalam pelukan Hye Na.
"Maaf! Aku tidak bermaksud." gumamnya pelan lalu menunduk di hadapan Hye Na dan ia menjadi salah tingkah.
"Tidak apa-apa pak. Kenapa bapak begitu ketakutan? Ada apa?" tanya Hye Na penasaran sambil menatap atasannya itu.
"Tidak apa-apa. Sebaiknya kamu pulang saja dengan taksi. Saya ada urusan lain." jawabnya terburu-buru lalu masuk ke dalam mobil.
Ia meninggalkan Hye Na disana sendirian. Hati Hye Na mendadak sedih. Bukan karena di tinggal pergi tetapi ia melihat ada sesuatu yang lain yang membuat Yootaeyang bersikap demikian.
"Aku penasaran kenapa kamu seperti itu? Apakah yang membuat dirimu tidak berdaya seperti itu Yootaeyang?" ucapnya lirih.
Untuk pertama kali ia menyebut nama lelaki itu dari hati. Ia kembali ke kantor dengan sebuah taksi yang lewat.
__ADS_1
Selama di perjalanan Hye Na selalu terusik dengan sikap Yootaeyang tadi. Ia tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ia tiba di perusahaan dan berjalan masuk ke dalam.
"Darimana nona dari tadi saya mencari nona?" Pak Jung tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Saya tadi keluar bersama Pak Yootaeyang." ucap Hye Na seadanya.
"Apa yang mengganggu pikiran nona?" terlihat jelas di mata Pak Jung bahwa Hye Na sedang gelisah.
"Pak Jung saya ingin bertanya. Tapi itu sedikit pribadi." ucapnya enggan.
"Kita duduk dulu nona. Nanti saya akan jawab kalau itu bisa saya jawab." Pak Jung menuntun Hye Na duduk di bangku lobby perusahaan.
"Begini pak, apakah Pak Jung tahu mengapa Pak Yootaeyang sering bersikap dingin?" tanyanya pelan
"Oh tuan muda ya. Memangnya kenapa nona bertanya demikian?"
"Tadi saya dan Pak Yootaeyang hampir saja mengalami kecelakaan di perjalanan dan untungnya tidak terjadi. Namun mendadak dia gemetaran dan wajahnya pucat. Lalu ia pergi begitu saja." ungkap gadis yang kini menjadi sekretaris CEO itu.
"Tuan muda sangat trauma dengan kecelakaan yang menimpa orangtuanya. Saat kecelakaan itu terjadi ia berada di dalam mobil bersama orangtuanya. Ia menyaksikan kedua orangtuanya meninggal dunia saat itu juga. Sejak itu tuan muda tidak pernah ceria lagi dan ia selalu lebih suka sendiri dalam hal apapun." ungkap Pak Jung.
Hye Na terdiam mendengar cerita Pak Jung. Hatinya mulai merasakan simpati yang mendalam pada sosok Yootaeyang.
"Baiklah Pak Jung terima kasih banyak." ucap Hye Na.
"Nona sepeda motor nona sudah saya urus. Dan sudah berada di parkiran." Pak Jung tersenyum.
"Terima kasih banyak Pak Jung. Anda baik sekali." jawabnya tersenyum.
"Sepertinya Hye Na mulai menaruh hati kepada tuan muda Yootaeyang." batin Pak Jung.
****
"Apa yang ku lakukan tadi? Mengapa aku harus memeluknya?"
"Dan mengapa hatiku merasakan hal aneh setiap bersamanya?" ucap Yootaeyang di dalam mobilnya.
Bersambung.
__ADS_1