
"Apakah ibu wali dari pasien?" tanya salah satu perawat disana.
"Ah, aku bukan walinya, aku hanya menolongnya saja." bantahnya dengan cepat.
"Kalau begitu bisakah ibu mengisi beberapa form rumah sakit sebagai data pertanggungjawaban atas pasien." Tanya perawat itu lagi.
"Baiklah data apa yang harus saya isi."
"Mari ikut saya sebelah sini bu." Perawat berjalan menunjukkan tempat administrasi rumah sakit.
Ia mengisi biodata dirinya dan beberapa data lainnya yang dibutuhkan rumah sakit. Setelah mengurus administrasi rumah sakit ia duduk didepan ruang IGD.
Setiap kali merasa gugup akan sesuatu ia menggigit jarinya. Lalu berulang ulang meremas jari jemarinya. Berdiri lalu mondar- mandir di depan ruang IGD. Kemudian Hye Na melihat dokter keluar dari ruangan itu.
"Bagaimana keadaanya, dokter?" suaranya terdengar cemas
"Keadaannya baik baik saja, dia hanya mengalami demam dan dehidrasi ringan. Sebaiknya dia menjalani perawatan, dengan istirahat dan makan teratur keadaanya akan segera pulih." tutur dokter itu dengan singkat dan jelas.
"Baiklah, terima kasih banyak dokter." sambil menghela nafas.
Lalu ia mengitip dari pintu IGD wajahnya seketika berubah menjadi sangat kesal.
"Aish..., kalau bukan karena dia sekarat tadi aku enggan membawa manusia vampir itu kesini." wajahnya memandang Yootaeyang dengan sinis.
"Wajahnya memang tampan, tapi sayang hatinya terbuat dari batu salju, membuat ku geram!" batinnya sambil menatap wajah Yootaeyang yang terbaring diatas kasur rumah sakit.
Kemudian Lee Dawon tiba di rumah sakit setelah mengambil sepeda motor Hye Na yang tertinggal dihalte tadi.
"Ini kunci sepeda motormu, aku sudah membawanya kemari." tangannya menyerahkan sebuah kunci yang memiliki gantungan berbentuk lonceng.
"Terima kasih banyak Dawon." tangannya menerima kunci itu lalu memegangnya.
"Sebenarnya ada apa Hye Na, kenapa kamu bisa membawa lelaki itu kerumah sakit?" dengan nada tergesa-gesa ia bertanya kepada gadis cantik itu.
"Sewaktu dalam perjalanan pulang aku menemukan dia pingsan dijalan didepan halte bus. Lalu aku membawanya kemari." jawabnya dengan nada kesal.
"Kenapa wajahmu kelihatan sangat kesal, apa kamu mengenalnya?" tanyalah lagi penasaran.
"Ceritanya panjang, aku sungguh kesal dengan manusia vampir seperti dia. Ya sudah kita tidak usah membahasnya, ayo kita pulang." tangannya menarik baju Dawon lalu keluar dari rumah sakit.
__ADS_1
"Ceritakan dulu." ucap sahabatnya itu penasaran.
"Kapan-kapan sajalah, aku lelah aku ingin pulang." tolaknya dengan cuek.
" Apa kamu mau aku antar pulang?" tanyanya sambil memandang Hye Na.
"Tidak usah, aku baik baik saja dan masih bisa pulang sendiri." ia berkata penuh percaya diri.
"Baiklah kalau begitu, kamu pulanglah dengan hati-hati Hye Na."
"Oke." Tubuhnya menaiki sepeda motornya lalu menekan tombol stater sepeda motor itu.
Lalu mereka pulang kerumah mereka masing masing. Dawon pun menyalahkan mobilnya dan meninggalkan rumah sakit itu.
****
Yootaeyang sudah sadar. Matanya terbuka tetapi pandangannya masih belum jelas sepenuhnya. Kepalanya masih terasa sedikit pusing.
"Aku dimana ini?" batinnya.
Kemudian ia berusaha untuk bangun dari tidurnya. Ia melihat tangannya sudah terpasang infus dan berada disebuah ruangan.
"Kenapa aku bisa berada disini?" wajahnya kebingungan dengan keadaanya sekarang.
Perawat ruangan masuk kedalam ruangan Yootaeyang untuk melihat keadaanya.
"Bapak sebaiknya berbaring untuk beristirahat." Ucap perawat itu.
"Tapi siapa yang membawaku kemari?" wajahnya terlihat bingung dan penasaran.
"Tadi ada seorang wanita cantik yang membawa bapak kemari. Untung saja ia menemukan bapak pingsan di tengah jalan lalu membawa bapak kemari, karena bapak mengalami dehidrasi." ungkap perawat itu dengan jelas.
"Terima kasih banyak atas informasinya." jawabnya dengan nada datar.
"Tapi siapa wanita itu?" batinnya.
Lalu ia mengambil handphone yang berada di saku celananya. Lalu mencari kontak sekretarisnya untuk mengurus keperluannya dirumah sakit.
"Halo, ya ada apa tuan?" jawab sekretaris separuh baya itu
__ADS_1
"Bisakah anda kerumah sakit sekarang?" suaranya terdengar berat
"Ada apa tuan, apa yang terjadi?" kedengaran jelas rasa khawatir dari sekretarisnya itu.
"Tidak apa-apa, datanglah sesegera mungkin aku akan mengirim alamatnya." Perintahnya dengan nada cuek.
"Baiklah tuan, saya akan segera tiba disana."
*****
Hye Na tiba dirumahnya. Ia mematikan sepeda motornya lalu turun dari motornya.
"Ibu, aku pulang." suaranya terdengar lelah.
"Kenapa wajahmu seperti itu, apa ada masalah?" wajah ibunya keliatan bingung.
"Ibu, hari ini sangat melelahkan." bibirnya menghembuskan rambut yang mengahalangi matanya lalu duduk diruang tamu.
"Ada apa Hye Na?" tanya ibu lagi.
"Aku tadi bertemu orang yang pingsan ditengah jalan bu, lalu aku membawanya kerumah sakit." ungkapnya sambil memegang lehernya yang terasa tegang.
"Bukankah itu perbuatan yang baik, jadi mengapa berkata seperti itu."
"Orang yang aku tolong itu adalah si manusia vampir itu bu!" suaranya terdengar sangat kesal.
"Hye Na tidak baik memilih mlih orang jika ingin berbuat baik. Jika kamu berbuat baik dengan ikhlas maka suatu saat orang pasti akan berbuat yang sama." ibu menasihati putri.
"Baiklah ibu, aku tidak akan mengeluh lagi akan hal itu." jawabnya dengan nada rendah sambil memeluk ibunya.
"Putriku sayang kamu harus bersikap baik kepada siapa sajadan dimana saja." ibu mencium kening putrinya itu.
"Baiklah ibuku sayang." tangannya semakin erat memeluk ibunya.
"Kamu mandilah dulu, ibu akan menyiapkan makan malam." tanganya menepuk pela pundak gadis cantik itu.
"Baik bu." bibirnya mengecup pipi ibunya sambil tersenyum.
Bersambung.....
__ADS_1
Ayo jgn lupa vote dan koment ya🥰
Biar cerita makin seru