
"Aku sungguh tidak mampu melupakanmu ibu.. ayah." ucapnya lirih. Matanya berkaca-kaca. Ia meremas kuat setir mobilnya. Dada sesak menahan rasa sedih itu.
Ia duduk di dalam mobilnya yang menepi di pinggir jalan. Tiba-tiba ia terbayang kejadian masa lalunya
Flashback tentang rasa trauma Yootaeyang.
Ketika mereka sedang asik bercanda dan tertawa di dalam mobil tiba tiba truk besar menghantam mobil mereka dari belakang. Truk itu lepas kendali karena rem nya mendadak rusak.
"ARRGHHH!!" teriak mereka
"Ibu.. ayah.. bangun. Ayo bangun. Aku takut itu. Ibu!! Ayah!" tangisnya terisak-isak. Wajahnya ketakutan menatap wajah orangtuanya yang berlumuran darah. Tubuhnya penuh luka dan terasa lemah akibat benturan keras dari kecelakaan itu.
"Anakku taeyang. Ibu sayang padamu." tangannya meraih wajah putranya itu lalu mengusap air mata anaknya itu dengan tenaga yang tersisa.
"Jangan lupa untuk berbahagia di masa depanmu." ucap ibunya terbata-bata. Wajahnya berlumuran darah. Sementara ayahnya tidak merespon apapun lagi.
"Saranghae uri Yootaeyang." lalu ia menghembuskan nafas terakhirnya.
"IBUU!!!! bangun bu! AYAH!!!! ayo bangun!" teriaknya sekuat mungkin. Tangisnya pecah. Air matanya bercucuran membahasi wajahnya yang terluka akibat kecelakaan itu. Ia teriak sekuat mungkin namun ayah dan ibu telah tiada. Kejadian itu memukul batin dan pikiran Yootaeyang.
Yootaeyang tersadar dari ingatan masa lalunya. Air mata yang sudah lama tidak jatuh akhirnya muncul karena kejadian tadi.
"Bagaimana bisa kebahagiaan menjadi milikku sementara rasa kehilangan selalu menjadi bayangan dalam hidupku." ucap Yootaeyang lirih
****
"Hye Na kamu darimana saja?" ucap Youngbin berjalan menghampiri Hye Na di depan ruangannya.
"Saya tadi keluar ada urusan pak. Ada apa pak?"
"Apa kamu melihat Yootaeyang?" tanya sepupu CEO perusahaan itu dengan wajah tersenyum.
"Bagaimana ini? Aku harus jawab apa? Aku tidak ingin orang salah paham nantinya." batinnya
"Beliau sepertinya lagi ke luar pak. Ada yang perlu saya sampaikan?" tanya Hye Na.
"Tidak apa-apa nanti saya akan mencoba menelponnya saja."
__ADS_1
"Bagaimana kalau nanti kita makan malam bersama." ajak Youngbin.
"Maaf pak bukannya saya mau menolak cuma saya ingin pulang lebih awal." ucapnya tersenyum enggan.
"Baiklah mungkin lain kali kita bisa makan malam bersama." mata Youngbin mendelik.
"Saya permisi dulu ya pak."
"Baiklah Hye Na kalau begitu. Aku ingin mencari Yootaeyang dulu."
****
Senja hari Yootaeyang balik ke perusahaan dengan wajah yang muram seperti tidak ada semangat hidup. Ia akan mengambil beberapa dokumen yang akan di pakai untuk rapat lusa.
Saat hendak pulang Hye Na melihat Yootaeyang di kantor. Ia berjalan sedikit lebih cepat menghampiri CEO berhati dingin itu. Ia ingin memastikan bahwa lelaki itu baik-baik saja.
"Apakah bapak baik-baik saja?" tanya Hye Na dari belakang.
"Hmm." jawabnya datar tanpa menoleh dan berjalan begitu saja.
Selain itu hatinya belum siap menerima orang baru karena trauma yang di alaminya.
"Bapak darimana saja? Tadi beberapa orang mencari bapak."
Yootaeyang hanya diam sambil berjalan.
"Tapi kelihatannya bapak sedang tidak baik. Apakah bapak sakit." tanyanya lagi antusias.
"Bisa tidak kamu diam!" ucap Yootaeyang. Langkah berhenti dan memandang sinis wajah Hye Na.
"Maaf pak, saya hanya khawatir saja dengan bapak." jawabnya lirih.
"Saya baik-baik saja. Tolong jangan bertanya apapun lagi! Saya tidak butuh belas kasian orang." ketusnya. Lalu Yootaeyang berjalan meninggalkan gadis itu di belakang.
Mendadak hati Hye Na menjadi sedih atas ucapan lelaki itu. Ia hanya terdiam menatap Yootaeyang berjalan semakin jauh dari pandangannya.
"Aku hanya ingin bertanya kondisimu bukan memberi belas kasian. Kenapa kamu berbicara begitu kasar." desah hati Hye Na.
__ADS_1
Lalu ia menuju parkiran untuk mengambil sepeda motor. Pikirannya mendadak kacau akan sikap Yootaeyang.
Karena rasa khawatirnya ia mengirimi sebuah pesan kepada Yootaeyang.
"Berbahagialah di tengah kegelisahan yang kamu rasakan. Karena kita berhak bahagia tanpa harus melihat keadaan kita yang sebenarnya." isi pesan Hye Na
Hye Na memang sudah mulai menaruh hati pada Yootaeyang. Kekhawatirannya muncul secara alami. Pikirannya melayang entah kemana.
"Semoga dia akan baik-baik saja." ucapnya sambil mengendarai sepeda motornya.
Di tengah perjalanan tiba-tiba ada mobil yang sedang menyelip mobil lain dari arah yang berlawanan.
"Mengapa mobil itu melaju cepat sekali." wajahnya terkejut dan ketakutan. Matanya melotot kaget.
Mobil itu menabrak sepeda motor Hye Na.
"ARRGHHH!" Teriak Hye Na.
Tubuhnya terhempas ke jalan raya dan tak berdaya menahan sakit yang ia rasakan. Beberapa tubuhnya mengalami luka. Tubuhnya terbaring di jalan raya.
Jalanan mendadak menjadi macet. Beberapa orang disana mengerumuni Hye Na yang sedang terjadi. Yootaeyang yang berada dalam mobil penasaran mengapa orang yang berkerumun disana.
"Ada apa? Mengapa ramai sekali?" ucapnya.
Lalu ia melihat beberapa pria mengangkat tubuh Hye Na yang tidak sadarkan diri. Matanya terkejut menyaksikan itu.
Ia langsung berlari mengejar Hye Na yang sedang tidak sadarkan diri.
Mendadak Yootaeyang menjadi ketakutan melihat kondisi Hye Na. Ia hanya diam terpaku.
"Apakah anda mengenalnya?" tanya pria yang berusaha menolong Hye Na. Namun Yootaeyang hanya terdiam membisu mengingat trauma datang kembali.
"Hei! Apakah anda mengenalnya!"
Yootaeyang hanya terdiam dan tubuhnya gemetaran.
Bersambung...
__ADS_1