
Alkana kembali menatap netra hitam Amanda. Dia tenggelam pada pikirannya sendiri. Genggaman tangan Amanda, pelukan hangatnya, dan sikap beraninya ...membuat Alkana jatuh hati.
"Tapi, tidak lebih cantik darimu," ungkap Alkana, jujur.
ke-dua insan itu terpaku, mata mereka beradu selama beberapa detik. Sebelum akhirnya, kontak mata itu diputus oleh Amanda. Gadis itu berdehem, guna menghilangkan rasa aneh yang menggerayangi dadanya.
"Apa kau sudah puas bermain?" tanya Alkana mengalihkan topik.
"Iya! Aku sudah puas, ayo pergi dari tempat ini!" jawab Amanda cepat. Situasi ini, benar-benar tidak aman bagi Amanda.
Sadarlah Amanda, dia adalah orang yang harus kau tangkap karena kejahatannya! Jangan sampai kau lengah.
***
Amanda pikir, setelah mereka selesai bermain di pasar malam dia akan diantarkan ke sebuah hotel. Tapi nyatanya, dia kini sedang berdiri di suatu tempat yang unik.
Pohon harapan.
Amanda tidak pernah menyangka, Alkana akan membawanya ke tempat seperti ini. Sebuah pohon besar yang terdapat banyak miniatur benda mini dengan berbagai bentuk. Miniatur itu nantinya akan diisi dengan kertas harapan, lalu akan ada gembok kecil yang akan mengunci kertas itu di dalam miniatur. Setelahnya, benda itu akan digantung di tali-tali yang melilit sekeliling pohon.
"Kenapa membawaku ke tempat seperti ini?"
"Ini pohon harapan. Mungkin kau berminat untuk membuat harapan, lalu menguncinya di dalam benda berbentuk hati ini," jelas Alkana, memperlihatkan 2 buah miniatur berbentuk hati.
"Bukannya ini terlihat kekanakan?"
"Apakah menuliskan sebuah harapan itu kekanakan?"
Pertanyaan yang dilontarkan Alkana membuat Amanda terdiam.
"Dulu, guruku pernah mengatakan, ["Manusia tanpa harapan adalah manusia yang jiwanya telah mati. Jadi, buatlah harapan, meski itu hanya sebuah harapan kecil. Tapi, harapan itulah yang akan menjaga jiwa kalian agar tetap utuh."] ."
Amanda menatap pria di sampingnya lekat.
"Berharap hanya akan melukaiku...," ujar Amanda sendu.
Dia, sudah lama menghilangkan kata "Berharap" dalam hidupnya. Karena, sering kali dia berharap, semua akan berbanding terbalik dengan kenyataan yang datang.
Alkana terdiam, tak mampu membalas perkataan Amanda. Tapi, dia tetap menawarkan sebuah kertas dan pena pada gadis itu.
__ADS_1
"Cobalah sekali lagi."
"Maksudmu?"
"Berharaplah sekali lagi. Aku akan membantumu, agar harapan itu tidak melukaimu."
Deg
Kalimat terakhir Alkana, membuat Amanda bungkam. Keadaan hening, tak ada yang berniat untuk memberikan reaksi. Bahkan, keberadaan orang-orang disekitar mereka pun seperti tak ada tempat di mata mereka.
Perlahan, tangan Amanda terulur untuk mengambil pena dan kertas di tangan Alkana. Pria itu sedikit tersentak saat ke-dua benda itu tiba-tiba diambil dari tangannya.
Alkana tersenyum tipis. "Jadikan punggungku untuk alas menulisnya!"
"Baik, segeralah berbalik!" perintah Amanda tegas, tapi ada rona bahagia di wajahnya.
Amanda tidak tahu, mengapa berada di sekitar Alkana membuatnya selalu tergerak untuk melakukan hal yang tak pernah dia lakukan. Alkana itu tidak arogan, atau pun kejam seperti yang orang lain katakan. Sikap pria itu, tergantung lawan bicaranya.
Bahkan, dipertemuan pertama mereka, Amanda sadar bahwa Alkana adalah pria yang memiliki hati seluas samudera. Buktinya, pria itu tidak menghukum adiknya yang telah mengacaukan acara konferensi persnya, malahan dia terlihat bersimpati saat mendengar alasan Sagara melakukan hal memalukan itu.
Alkana hanya tidak tahu cara mengekspresikan apa yang dia rasakan, itu karena orang-orang telah terlanjur menganggapnya sebagai tuan muda yang arogan, kejam, dan dingin. Tapi, ketika Amanda memperlakukannya dengan hangat, pria itu juga ikut luluh. Amanda menjadi kurang percaya, bahwa pria semanis itu ...adalah seorang mafia narkoba.
Pertanyaan tiba-tiba dari Alkana membuat lamunan Amanda buyar. "Ah, tidak. Maafkan aku, tadi hanya melihat sesuatu yang menarik," jelas Amanda berbohong.
"Menarik? Memangnya apa yang kau lihat?" tanya Alkana, ikut mengalihkan tatapannya ke arah objek yang dilihat oleh Amanda.
Tapi, dia tidak menemukan apa pun. "Mana? Tidak ada?"
"Dia sudah pergi. Ah, cepatlah berbalik! Aku akan segera menulis harapanku!"
***
klik!
Amanda mengunci miniatur berbentuk hati itu dengan gembok. Berhasil. Dia telah menemukan kembali apa harapannya. Ada rasa bahagia nan menggebu yang dia rasakan.
"Ayo, kita buang kuncinya!" ajak Amanda bersemangat.
Alkana tersenyum, dia juga sudah selesai menyimpan kertas harapannya di dalam miniatur hati.
__ADS_1
"Ayo, kita lempar di sungai itu bersama-sama!" balas Alkana, menunjuk sebuah jembatan di atas sungai yang letaknya tak jauh dari tempat mereka berada.
ke-dua anak manusia itu berdiri di tepi jembatan, bersiap melemparkan masing-masing kunci gembok yang ada di tangan mereka.
"1...."
"2...."
"3!!!"
Kunci kecil itu terlempar jauh ke arah sungai. Baik Alkana atau pun Amanda, mereka berdua dapat dengan jelas mendengar bunyi ke-dua kunci itu jatuh ke dalam sungai. Mungkin sudah berada di dasar sungai.
"Aku harap, harapanku tahun ini terwujud!"
Alkana, pria itu tersenyum menatap Amanda yang juga tersenyum lebar ke arah sungai. Gadis itu tidak tahu, kunci yang mereka lempar tadi, adalah kunci palsu.
***
klik!
Miniatur berbentuk hati itu terbuka, Alkana mengeluarkan kertas kecil yang ada di dalam sana. Hari sudah sangat larut, bahkan rasa dingin mulai menusuk tulang. Namun, setelah mengantarkan Amanda ke salah satu hotel berbintang 5 tadi, Alkana putar balik ke tempat ini. Pohon Harapan.
Harapanku :
Aku ingin berkumpul bersama mama, papa, dan Sagara tahun ini. Dan semoga mama dan papa bisa hadir di pernikahanku nanti....
Netra Alkana menatap lurus ke depan. Setelah membaca kertas harapan milik Amanda, pikirannya tiba-tiba menjadi terusik. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Mama? Papa? Itu artinya...."
"Tuan, apa kita langsung kembali ke rumah?" tanya Nervis saat Alkana telah duduk nyaman di mobilnya.
"Nervis, tolong cari tahu lebih dalam tentang keluarga calon istriku. Kau juga bisa mencari tahunya dari tuan Sagara, katakan saja bahwa aku perlu bertemu dengan orang tua mereka. Ingin membahas tentang pernikahanku dengan putrinya."
"Orang tua? Jadi, nona Amanda dan tuan Sagara bukan yatim-piatu?" tanya Nervis ragu.
Alkana mengangguk. "Iya, mereka memiliki keluarga. Namun, entah apa yang terjadi sampai tidak ada informasi apa pun tentang orang tua mereka."
"Baik, Tuan. Saya akan mendapatkan informasi yang kau butuhkan secepatnya."
__ADS_1