Menikah Dengan Tuan Muda

Menikah Dengan Tuan Muda
Harapan Yang Patah, Lagi?


__ADS_3

Amanda merebahkan tubuhnya dikasur hotel. Sangat empuk, dan nyaman. Amanda hampir terlelap, jika saja suara ponsel berdering tidak menganggu waktu tidurnya. Terlihat pesan beruntun dari Sagara, bahkan pria itu sampai menelfonnya.


"Hum, ada apa?" tanya Amanda menguap lebar.


"Kau serius ingin menikah dengan pria kejam itu? Kau tidak tahu, ya? Pria itu digadang-gadangkan sangat kejam pada musuhnya!"


Diseberang sana, Sagara berteriak emosi. Tadi saat dia telah diantar oleh Alkana ke salah satu hotel mewah, Amanda langsung mengirim pesan pada adiknya bahwa dia tidak pulang ke rumah dan akan menginap di hotel karena besok akan menemui keluarga besar Alkana. Tapi pesan Amanda tadi tidak dibalas oleh Sagara dan hanya centang satu.


"Tapi aku bukan musuhnya. Aku calon istrinya," jawab Amanda malas.


"T-tapi, tetap saja dia itu kejam! Jika kau sangat ingin menikah, cari pria lain saja!" ujar Sagara menolak keras.


"Bukankah dia keren? Seorang pebisnis kaya raya, dia sangat mungkin bisa membantu kariermu makin melejit. Oh ya, dan jangan lupakan wajah tampannya itu. Kenapa kau tidak suka dia bersanding denganku?" tanya Amanda heran.


Sagara mengusap wajahnya kasar. "Justru karena itu! Dia seorang pebisnis kaya raya. Bahkan kekayaannya sudah diakui dunia! Dia memiliki banyak musuh, Kak! Aku tidak ingin hidupmu celaka karena menikah dengan pria yang memiliki banyak musuh!" sentak Sagara prustasi.


"Aku bisa menjaga diriku, Sagara. Jangan lupa dengan identitas kita yang sebenarnya, kita juga memiliki banyak musuh." Amanda bangkit dari tidurnya, dan menuju ke dapur untuk mengambil minum.


"Menikah dengannya, akan mendapatkan banyak keuntungan bagi kita," jelas Amanda tenang. menyeruput air hangatnya pelan.


"Keuntungan? Keuntungan apa, Kak? Yang ada hanya akan semakin membuat banyak kesulitan untuk kita!" jawab Sagara geram.


"Alkana, pria itu sangat sempurna untuk dikatakan sebagai manusia. Dia sempurna diberbagai bidang. Aku mendapatkan misi untuk menangkap bos besar Mafia Narkoba. Dari petunjuk yang anggotaku dapatkan, bos itu berasal dari keluarga Mahadja. Dan kemungkinan besar dia adalah pewaris kerajaan Mahadja, Alkana Fairuz Mahadja."


"A-apa? Jadi, dia?" Sagara tercengang, dia tidak percaya dengan apa yang kakaknya katakan.


"Itu baru kecurigaanku. Jika itu benar, maka menikah dengannya akan membuatku mudah untuk mengumpulkan bukti. Dan jika dugaanku salah, maka dia bisa menjadi teman untuk kita menghadapi kesulitan di masa depan."


Sagara menghela napasnya pasrah. "Baiklah, lakukan sesukamu. Dan, tolong pastikan kau tidak akan terluka."

__ADS_1


Tut, tut


Telepon ditutup sepihak, dibanding kembali tidur, Amanda lebih memilih duduk di kursi balkon kamarnya dan menghubungi nomer seseorang.


Telepon berdering, cukup lama sampai akhirnya Amanda baru bisa mendengar suara seorang wanita dewasa.


"Hi, girl. Ada apa menelpon pagi buta seperti ini?" tanya seorang wanita diseberang sana serak. Khas orang bangun tidur.


Amanda melirik jam ditangannya, pukul 11 malam, wajar saja jika disana masih sangat pagi. Mungkin sekitar pukul 4 pagi.


"Apa aku mengganggu waktu tidurmu, Mam?" tanya Amanda pelan.


Wanita yang dipanggil ibu itu bangkit dari tidurnya. "Tidak, kau tidak pernah mengangguku. Tell me, are you in trouble, dear?"


"Tidak ada masalah, Mam."


"Sayang, orang gila mana yang menelpon jam 4 pagi?" suara berat seorang pria menyapa indra pendengaran Amanda.


"Oh, no! Maaf, papi tidak bermaksud mengatakan hal itu, Dear!" ujar Mike panik.


Mami Amanda terkekeh mendengar suara panik pria disampingnya, Amanda ikut tersenyum.


"Jadi? Apa ada yang ingin kau sampaikan, Dear?" tanya Lethiza lagi, wanita yang melahirkan Amanda dan Sagara.


"Aku akan menikah, bulan depan. Minggu depan aku akan lamaran, bisakah kalian datang?" tanya Amanda gugup. Soal kapan diadakannya pernikahan itu, memang sudah dijelaskan oleh Alkana tadi.


"Oh... menikah ya. WHAT? MARRY? WAIT? ARE YOU KIDDING ME, DEAR?" teriak Lethiza histeris.


Ricky pun ikut terkejut dengan pengakuan putri semata wayangnya. Ditambah dengan teriakan sang istri, membuatnya hampir terkena serangan jantung.

__ADS_1


"No! I'm not kidding, Mam!" bantah Amanda cepat. "A-aku benar-benar akan menikah. Dengan... pewaris kerajaan Mahadja, Alkana Fairuz Mahadja," jelasnya Amanda pelan.


" WHAT? WITH THAT CRUEL MAN?!" Kini Mike yang berteriak kaget. Siapa yang tidak kaget saat mendengar putrinya akan menikah dengan seorang tirani bisnis yang kejam?


Lethiza sendiri tidak dapat berkata-kata, wanita cantik berdarah biru itu hanya mampu terdiam dengan pandangan kosong.


"Sayang, please! Jujur, kau pasti bercanda, kan?" ujar Mike berusaha menolak kenyataan.


"Tidak, Pap. Aku benar-benar ingin menikah dengannya. Dan, bisakah kalian datang untuk lamaranku minggu depan?" tanya Amanda penuh harap.


Lethiza kembali mendapatkan kesadarannya, wanita itu segera mengambil telepon ditangan sang suami. Ke-duanya sama-sama terdiam untuk beberapa saat.


"Mam? Apa kalian tidak bisa datang?" tanya Amanda lagi, saat tidak mendengar suara apa pun dari orang tuanya.


"Em, Dear. Maafkan mami, mungkin untuk lamaranmu kami tidak bisa datang. Tapi, kami pasti akan datang saat acara pernikahanmu. Kami berjanji!" jawab Lethiza tidak enak.


Amanda menghembuskan napasnya kecewa. "Baiklah, Mam. Maaf telah menganggu waktu tidurmu dan Papi, selamat malam...."


Amanda mematikan telepon itu sepihak. Dadanya terasa sesak saat menerima kenyataan bahwa orangtuanya lagi-lagi tidak bisa datang disaat acara penting dalam hidupnya. Tapi, dia tidak bisa egois. Sebab di belahan dunia lain, ke-dua orang tuanya pun sedang berjuang untuk mereka. Baik dalam segi materi, kehidupan, atau pun kebebasan mereka.


Ditempat lain, kini Lethiza sedang menangis di dalam pelukan sang suami. Mike mengelus rambut panjang sang istri, agar wanita itu tenang.


"Tenanglah sayang, tunggu sebentar lagi agar kita bisa segera lepas dari belenggu manusia serakah itu. Aku mohon, bersabarlah sebentar lagi...," ujar Mike sendu.


"Sampai kapan, Mike? Ini sudah terlalu lama! Andai saja aku bisa lebih pintar agar keberadaanku tidak diketahui oleh mereka, pasti kita hidup damai bersama buah hati kita," ujar Lethiza tergugu.


"Tidak, ini salahku. Maaf... aku akan segera melakukan tindakan secepatnya agar kita bisa bersama. Tolong, jangan menangis. Itu membuatku sakit."


Mike, pria sangar berstatus mantan mafia besar itu kini menatap wanita pujaannya dengan mata yang berkaca-kaca. Sebagai seorang pria, suami, sekaligus ayah, dia merasa gagal. Karena tidak mampu menjaga keutuhan keluarganya.

__ADS_1


Yah, memang tidak ada yang menginginkan perpisahan itu. Melihat anak-anak mereka bisa hidup bebas tanpa harus memikirkan hal yang mereka takutkan pun sudah membuat mereka bahagia. Walau, mereka harus memendam rindu begitu lama.


__ADS_2