
"buk.. Maaf baru bisa berkunjung lagi" sambil menaburkan bunga di atas sebuah makam
"Oh iya buk, Arlan sudah menikah. Tapi istri Arlan belum bisa di ajak kesini. Sebenarnya Arlan sudah berusaha ngajak tapi di abaikan terus, oh iya dia gak jahat kok buk, kebetulan aja dia lagi marahan sama Arlan karena cemburu" Ucap Arlan sambil sedikit tertawa
Hari ini Arlan sedang berada di kampung halamannya. Dikarenakan Arlan ingin berziarah ke makam sang Ibu. Sudah cukup lama rasanya Arlan tidak berziarah, dikarenakan ada beberapa masalah
"Ibu yang tenang di sana. Arlan gak akan kaya dulu lagi buk. Arlan udah sepenuhnya berubah, lagi pula Arlan tau apa yang Arlan dulu lakukan itu salah."
Tanpa Arlan sadari kerinduannya pada sang Ibu membuatnya meneteskan air mata. Rasanya begitu cepat, padahal dulu sang Ibu selalu merawat Arlan. Namun kini sudah tak bisa lagi.
Setelah puas menyapa Ibu dan Adiknya, Arlan berencana untuk tinggal dua hari di rumah lamanya. Hal itu karena Arlan masih merasa dengan tempat tinggal lamanya
"Huh capek juga jalan dari makam ke rumah. Arlan berjalan masuk kerumah, dan tak ada yang berubah dengan isinya. Semua masih sama, tempat ibu masih sama, hanya saja sepertinya sudah dibersihkan oleh seseorang.
"Siapa yang bersihin ya?. Padahal udah cukup lama ditinggalin?"
Tak ingin memperdulikan hal itu, Arlan langsung saja memasak makanan untuknya, dikarenakan perjalanan jauh yang membuatnya lapar. Bahkan sesampainya di kampung Arlan belum makan, karena langsung mampir ke makam Adik dan Ibu.
"Untung di perjalanan tadi belu bahan-bahan. Jadi gak perlu keluar lagi nyari bahan."
Beberapa saat setelah Arlan memasak. Kini Arlan sudah siap untuk sarapan, menu hari ini pun hanya sederhana. Hanya ada sayur kangkung serta tempe, dan tahu. Tujuan Arlan membeli makanan ini karena ketika memakannya, membuat Arlan teringat kebersamaan dengan Ibu dan Adiknya.
Arlan begitu lahap makanan itu dengan lahap. Walau rasanya Arlan merindukan sosok keluarga yang selalu berkumpul untuk makan bersamanya seperti dulu.
Saat sedang asik menikmati menu malam itu, Arlan di kejutkan dengan suara seseorang membuka pintu. Dengan perlahan Arlan berjalan untuk melihat.
"Aghhh... Siapa kamu" seorang wanita memukul Arlan dengan tangannya
"I-ini Arlan. Aduh sakit" jerit Arlan
__ADS_1
"Arlan?. Kamu kapan pulang?."
"Huh... Baru tadi. Oh iya kamu ngapain?"
"Aku kadang kesini, bersih-bersih gitu. Siapa tau ada pencuri gitu"
"Oh jadi kamu yang bersih-bersih rumah ini?. Pantesan aja kok lama ditinggalin bisa masih bersih?"
"Iya. Soalnya kasihan aja kalau gak dibersihkan dan dibiarin kosong"
"Oh ya kebelakang dulu yuk. Aku habis masak, cuma tahu sama sayur kangkung aja sih"
"Ayo deh. Aku juga diluar tadi habis beli ayam goreng juga"
Ternyata selama ini rumah Arlan di urus oleh Carla. Carla bisa dibilang adalah teman dekat Arlan, untuk penampilannya Carla cukup cantik dengan rambut pendek sebahu. Dan mungkin beberapa orang akan berpikir Carla adalah wanita nakal. Dikarenakan tubuh Carla yang lumayan banyak memiliki tato. Mulai dari punggung, pinggang dan kedua tangan Carla.
Terlepas dari penampilannya Carla wanita yang sangat baik. Apalagi jika orang itu sudah kenal dekat dengan Carla. Dan juga Carla dari dulu sudah menyukai Arlan, namun perasaan itu masih belum tersampaikan. Apalagi setelah mendengar kabar bahwa Arlan telah menikah, membuat perasaan Carla menjadi begitu hancur. Namun saat tau kalau Arlan menikah atas dasar paksaan hutang, membuat Carla kembali menyukai Arlan
"Oh iya, kamu berapa lama tinggal?." Carla bertanya sambil menyantap makanan
"Cuma dua hari aja kok"
"Kok bentar banget?. Terus istri kamu mana?."
"Iya sebentar lagian cuma mau jenguk makam doang. Dan kalau istri ya gitu lagi ada masalah kecil"
Mendengar itu, membuat Carla berpikir bahwa Arlan pasti selalu mendapatkan perlakuan buruk dari istrinya itu. Apalagi tingkat sosial Arlan dan Nina sangat jauh berbeda, sebenarnya Carla tau sebab saat Arlan pergi dari rumah pernikahan. Carla mengikuti Arlan.
"Oh gitu?. Emm besok malam, mau nemenin aku gak?"
__ADS_1
"Kemana emangnya mau di temanin?"
"Itu besok malam ada pameran gitu, lagian kan jarang-jarang kita bisa ketemu lagi. Ditambah kamu cuma dua hari, jadi bisa ya?" Dengan wajah memelas
"Ya udah bisa kok. Besok malam kita jalan, lagian kangen juga pengen ngeliat acara pameran."
Setelah selesai dengan makan-makan Carla pun memutuskan untuk kembali pulang. "Mau di anterin gak?"
"Dikira aku cewek penakut apa"
"Yaudah hati-hati aja kalau tiba-tiba ada yang ngejar" Arlan sembari tertawa lebar
"Udah ah, aku mau pulang"
Carla pun bergegas pergi meninggalkan Arlan, sementara Arlan hanya bisa tersenyum melihat Carla yang menjauh.
"Besok ya, lagian gak masalah juga kan?. Lagian Carla udah ku anggap kaya adek sendiri"
-------------------------------------------------
"Non... Makan dulu." Buk Siti menunggu di depan pintu kamar Nina
"Enggak buk. Nina gak lapar"
"Tapi kan Non Nina belum makan dari kemarin loh, ntar sakit"
Namun sia-sia Nina memilih diam dari pada terus berbicara. Dan buk Siti hanya bisa pasrah, dan tak ada yang bisa dilakukan selain menunggu Arlan pulang.
"Semoga tuan Arlan gak beneran pergi. Dan cepat kembali kesini" Buk Siti pun meninggalkan Nina sendiri dan menuju dapur
__ADS_1
Sementara itu Nina terbaring lesu di atas kasur, dengan selimut. Nina masih saja memikirkan hal beberapa hari lalu. Tentang apakah Arlan benar-benar pergi karena marah dengan sikap Nina.