Menikah Dengan Wanita Berhati Dingin

Menikah Dengan Wanita Berhati Dingin
Hujan


__ADS_3

Suasana hujan membasahi seluruh kota. Dinginnya pagi serta karena turunnya hujan, membuat orang-orang menjadi malas untuk beraktivitas. Pagi tadi, setelah menerima sebuah telpon dari seseorang. Arlan terlihat melamun di teras rumah, sambil memandangi hujan yang turun semakin lebat.


Sementara Nina, yang baru bangun, nampak penasaran apa yang membuat Arlan melamun setelah menerima telepon tadi pagi.


Nina berjalan menuju dapur, sambil membuatkan secangkir kopi panas, yang sangat cocok diminum saat sedang turun hujan.


Dengan masih menggunakan baju tidurnya, Nina berjalan mendekati Arlan dengan secangkir kopi di tangannya.


"Nih kopinya, diminum" Nina menaruh kopi tadi di meja samping Arlan


"Makasih" dengan senyum


"Tadi siapa yang nelpon?"


"Enggak. Bukan siapa-siapa, cuma teman"


"Yakin gak ada apa-apa?."


"Iya yakin " Arlan memandang lurus menatap langit yang gelap karena turunnya hujan


"Aku mau nanya?. Tapi kamu boleh gak usah jawab kalau gak mau"


"Nanya apa?" Arlan menatap Nina


"Emm. Kamu dulu beneran seorang gangster?" Nina dengan ragu bertanya


Mendengar pertanyaan Nina, Arlan terdiam sebentar. Seperti sedang memikirkan sesuatu. Dan Nina yang melihat itu, nampak menyesali pertanyaannya.

__ADS_1


"Kamu gak harus jaw-"


"Iya dulu, emang aku dulu pernah." Arlan tersenyum kearah Nina


"Maaf udah nanya gitu" Nina nampak menyesal


"Gapapa. Semua orang punya masa lalunya sendiri."


Nina seketika terdiam.


"Kenapa?. Kamu takut sama aku?." Arlan meringis kearah Nina


"Kalau takut, aku nggak mungkin mau Nikah sama kamu!." Nina mengalihkan pandangannya


"Jadi kamu sebelum kita nikah, udah cari tau tentang aku gitu?"


"Sampai sekarang aku masih penasaran. Kenapa tiba-tiba kamu nyuruh aku nikah sama kamu?. Dan membayar semua hutang aku?."


"Aku boleh, gak ngejawab kan?"


"Gak boleh. Aku kan udah jujur."


"Aku juga punya alasan. Tapi untuk sekarang aku belum bisa ngasih tau"


"Udah kaya film aja. Masa nunggu harus siap dulu baru di kasih tau"


"Ya memang. Lagi pula semua ini udah direncanain kok"

__ADS_1


Arlan nampak terkejut dengan penjelasan Nina. Apakah pernikahan semua ini adalah rencana seseorang?


"Ini rencananya seseorang biar kita bisa nikah?. Dan bukan kamu?."


"Kamu gak perlu marah atau benci, sama orang yang sudah ngelakuin hal ini. Lagi pula semua dilakukan biar hidup kamu berubah, jadi lebih baik."


"Lebih baik?. Yang lebih baik itu aku?. Terus kamu bagaimana, apakah dengan kamu menikah sama aku, hidup kamu juga lebih baik?." Arlan menatap tajam kearah Nina


"Ketika aku disuruh, untuk menikah sama kamu. Aku ngerasa hidup aku, sudah lebih baik."


"Aku gak ingin bahagia sendiri. Kamu udah jadi istri aku, jadi aku mau, ketika hidup aku jadi lebih baik. Kamu juga harus lebih baik."


Arlan menggenggam erat tangan Nina. Sementara Nina hanya terdiam, memandang wajah Arlan.


"_aku juga berharap kita bisa terus begini. Tapi aku gak yakin, dengan akhir bahagia yang kamu bilang, Arlan. Karena begitu semua ini tercapai, aku gak tau apa kita masih bisa begini"_ ucap Nina dalam hati kecilnya


Nina terdiam merenungkan semua perkataan Arlan, Nina juga merasa nyaman dengan semua ini, namun ia tidak tau apakah semua ini, akan berlangsung seterusnya. Perlahan hembusan angin semakin kencang, Udara begitu dingin, begitu juga dengan sebuah perasaan.


------------------------------------------------------------------------------------------


Sementara di tempat lain. Seorang wanita nampak tengah duduk di kursi roda, sambil memandangi tetesan hujan, di balik jendela. Wanita itu tersenyum, namun di sisi lain. Senyuman itu nampak bukan seperti sebuah senyuman, melainkan sebuah kesedihan.


Seorang pelayan wanita, datang kepadanya sambil membawakan piring, berisi makanan. Pelayan itu menaruh makanan tadi, di atas sebuah meja.


Dan ketika wanita yang berada di kursi roda tadi menangis. Pelayan tadi dengan sigap menghapus air mata itu, nampak kedekatan seorang pelayan tadi dengan wanita yang tengah duduk di kursi roda.


Derasnya hujan membuat obrolan mereka nampak bisu. Namun yang jelas, pelayan itu nampak menenangkan, wanita di kursi roda itu. Hingga akhirnya sang wanita pun berhenti menangis.

__ADS_1


------------------------------------------------------------------------------------------


__ADS_2