
Setelah kejadian semalam, Nina nampaknya cemburu, meski begitu Nina tetap berekspresi seolah tidak terjadi apa-apa. Melihat tingkah Nina, Arlan merasa ingin menggodanya lebih lama.
Di dapur Nina nampak tengah sibuk dengan urusan memasaknya, dikarenakan Buk Siti tengah pulang kampung, jadi terpaksa yang menggantikan memasak adalah Nina.
Arlan berjalan perlahan membelakangi Nina, yang nampak tengah sibuk dengan acara masaknya.
Dari belakang Arlan langsung memeluk tubuh Nina, yang hal itu membuat Nina terkejut
"Pagi Istri ku tercinta" sambil mencium kepala Nina
"Aku lagi masak, jangan ganggu" balas Nina
"Ya lanjutkan, aku fokus meluk kamu aja"
"Aku gak fokus jadinya, bisa minggir dulu gak?"
"Gak bisa hummmm" Mencium kepala Nina lagi
Di tengah adegan mesra tersebut, Arlan dikejutkan dengan dering ponsel di kantong celananya, segera Arlan melepaskan pelukannya dan mengangkat panggilan tersebut.
"Halo?. Kenapa Carla?"
Di tengah sibuknya Nina memasak, seketika pandangan Nina teralihkan kearah Arlan, nampaknya Arlan tengah asik menjawab panggilan dari Carla.
"Iya nanti liat dulu ya..." Ucap Arlan
Percakapan tersebut cukup singkat, dan cukup membuat Nina sedikit tersulut
"Kamu ikut gak?" Tanya Arlan
"Kemana?" Dengan nada datar
"Ketempat butiknya Carla?"
Seketika Nina terdiam, dan seperti sedang memikirkan sesuatu
"Kok diam?. Ikut gak?"
"Emangnya apa pentingnya harus kesana?"
__ADS_1
"Ya gak ada sih,"
"Kamu juga, harus banget gitu kesana?" Nina menghadap kearah Arlan
"Kamu kenapa?... Cemburu ya?" Arlan tersenyum
"Untuk apa cemburu, gak jelas banget" Nina kembali melanjutkan masaknya
Sekali lagi, Arlan memeluk Nina dari belakang, dan sambil sesekali mencium leher Nina, yang hal itu membuat Nina nampak terganggu
"Kamu apaansih!" Nina sedikit emosi
"Aku cuma ngasih tanda cap aku doang"
"Hah??." Nina nampak menggosok lehernya
"Ada bekasnya ya kamu bikin?"
"Iya, kenapa?. Mau nambah satu lagi?"
Nina segera berbalik menghadap Arlan, dan ingin memukul, namun tangan Nina terhenti dan di tahan oleh tangan Arlan, kembali Arlan memegang pinggang Nina, dan menariknya hingga begitu rapat dengan tubuh Arlan.
"Gak usah bahas orang"
"Ya kalau gak di bahas, gak akan selesai kamu marahnya, denger ya, Carla itu udah aku anggap adek sendiri, jadi mana mungkin aku suka sama dia lebih dari itu"
"Untuk apa sih di jelasin, aku gak perduli juga"
Arlan kembali mencium leher Nina, yang hal itu membuat kanan dan kiri memiliki bekas ******.
"Ahmmm... Kamu... Apaansih" Ucap Nina sambil berusaha mendorong tubuh Arlan
"Mau di tambah lagi?"
"Stop, udah berhenti"
"Kalau gitu kamu harus ikut?."
"Untuk apa ak-"
__ADS_1
Sekali lagi Arlan mencium leher tengah Nina
"Ehmmm... Arlan... Iya aku ikut, udah stop"
Nafas Nina tidak karuan akibat ciuman tadi, Arlan yang melihat itu hanya tersenyum, sementara Nina yang salah tingkah mengalihkan pandangannya.
"Nah gitu dong"
"Semoga Arlan nanti beneran datang" ucap Carla
Di dalam butik Carla nampak sibuk memperhatikan semua barang-barang, dan sekaligus mengawasi para pekerjanya.
Alasan Carla ingin menjalankan butik di kota, tidak lain hanya agar bisa selalu bertemu dengan Arlan, di tambah ia kini sedang di jodohkan dengan seseorang oleh orang tuanya.
Meski hanya terpaksa, Carla tetap harus serius menjalankan semuanya, di tambah sang Ayah akan selalu datang untuk mengecek penjualan.
Jadi bisa di bilang Carla masih tidak terlalu bebas, di tambah Carla juga harus menghindari seorang pria yang dijodohkan orang tuanya.
__ADS_1