
"bisa gak sih lebih cepat!?"
"Rifan aku ini harus terlihat cantik, kita kan mau jalan masa aku harus jalan sama kamu dengan muka berantakan"
"Iya tau tapi ini udah setengah jam, masa selama ini sih"
Hari itu Rifan ada kencan dengan Rani, sebenarnya Rifan menolak kencan itu namun, Rifan tidak bisa menolak karena paksaan dari Ayahnya
"Yaudah yuk udah selesai nih"
Mendengar itu Rifan langsung berdiri dan berjalan menuju ruang tamu untuk berpamitan dengan ayahnya
Sesampainya diruang tamu terlihat Ayah Rifan yang sedang membaca koran dengan ditemani secangkir kopi panas
"Udah mau berangkat?" Tanya Ayah Rifan
"Iya om, ini kami udah siap mau berangkat" Jawab Rani sambil memeluk tangan Rifan, dan melihat Rani memeluk tanganya Rifan hanya bisa pasrah
"Ya udah Pah kami berangkat dulu"
"Iya hati-hati dijalan"
Setelah berpamitan Rifan dan Rani pun masuk dalan mobil dan pergi meninggalkan rumah, hari itu tujuan masih belum jelas entah mereka akan pergi kemana
"Kita mau kemana?" Tanya Rifan
"Kemana aja asal sama kamu"
"Serius Rani kita mau kemana, ku bawa pulang aja nanti loh" Balas Rifan sambil mengkerut kan alisnya
"Ih kamu gak bisa di ajak bercanda, Kalau gitu kita cari tempat makan dulu aja"
Akhirnya tujuan pertama telah di tentukan yaitu makan, dan tak lama mereka berdua sampai di tempat makan yang cukup mewah.
Mereka pun turun dari mobil, sambil Rani memeluk tangan Rifan, dan setelah masuk kedalam mereka disambut oleh pelayan, setelah itu mereka memilih tempat duduk lalu bersiap memilih menu makanan yang akan di pesan.
"Oke siap, mohon di tunggu ya" ucap pelayan itu dengan ramah dan senyum
"Disini suasananya nyaman ya?"
"Biasa aja tuh, gk ada istimewanya"
__ADS_1
"Ih jutek banget sih jadi cowok"
"Emang gak ada istimewanya, kecuali kamu di ganti sama Nina" Ucap Rifan dalam hatinya
Sambil menunggu pesanan Rifan hanya memainkan ponselnya, tanpa memperdulikan Rani didepannya, sedangkan Rani hanya menatap bunga yang berada di samping nya
Entah kenapa rasanya begitu canggung Rani yang tadinya banyak berbicara sekarang hanya diam sambil memandangi bunga yang berada di sampingnya.
Melihat Rani yang diam memandang ke arah bunga di sampingnya Rifan penasaran apa yang Rani pikirkan, tanpa sadar Rifan terus memandangi wajah rani apalagi saat Rani mengusap rambutnya ke daun telinganya
"Kamu kenapa bengong ngeliat aku?"
Sontak Rifan yang sedang melamun tadi terkejut, tiba-tiba Rifan merasa malu karena ketahuan menatap Rani.
"Eh apaansih, siapa juga yang ngeliat kamu" sambil memalingkan pandangannya dari Rani
Mendengar itu Rani hanya tersenyum, dan setelah itu makanan pun tiba, pelayan itupun menaruh pesanan di atas meja makan Rani dan Rifan
"Selamat menikmati makanannya" ucap pelayan wanita itu
Saat makanan tiba Rifan dan Rani tidak banyak berbicara, entah mereka lebih fokus pada makanan atau memang kehabisan bahan obrolan
Setelah puas dengan makan, akhirnya mereka lanjut dengan berbelanja di mall, sedangkan Rifan hanya bisa mengikuti keinginan Rani, karena jika tidak Rani mengancam Rifan pada Ayahnya Rifan.
"Iya cantik" Jawab Rifan dengan wajah ketus
"Ih.. cantik doang gak cukup, aku mau sesuatu yang bikin kamu senang lihatnya"
"Yaudah ini senyum loh" Rifan pun terpaksa tersenyum agar sesi milih baju ini segera berakhir, lagi pula Rifan sudah tidak tahan dengan semua ini
Melihat tingkah Rifan, Rani hanya bisa tertawa "ih lucu banget" sambil mencubit pipi Rifan
"Aduh... Apaansih sakit tau" Balas Rifan sambil mengelus-elus wajahnya yang merah di cubit
Hari itu dihabiskan dengan berjalan-jalan ke semua tempat, mulai dari tempat makan, mall, bahkan taman, dan sebenarnya masih banyak lagi hingga tidak terasa saat berjalan di taman hari sudah mulai sore Rani dan Rifan pun memutuskan untuk di bangku taman.
Sinar matahari yang berwarna orange itu begitu indah, bahkan bulat mata Rani tak berhenti menatap Matahari yang hendak tenggelam, senyuman terlihat jelas dari wajah Rani
Melihat itu Rani yang tersenyum Rifan penasaran, apakah Rani menikmati kencan hari ini?, Padahal dari tadi Rifan selalu cuek dan mengabaikan Rani, apakah boleh seperti ini?
Begitu banyak pertanyaan dalam pikiran Rifan, namun disisi lain ia juga masih menyukai Nina walau ia tau Nina sudah menikah. "Apa aku harus ngelupain Nina, dan memulai dengan Rani?" Ucap Rifan dalam hati kecilnya.
__ADS_1
Setelah puas dengan kencan hari itu, Rifan pun mengantar Rani pulang kerumahnya, suasana rumah begitu sepi dan hening, bahkan saat Rani hendak masuk kedalam rumah, senyuman yang ia pasang dari tadi perlahan menghilang
Rifan mengerti apa yang Rani rasakan, Ayah Rani adalah orang yang tegas bahkan saat Rani tidak sengaja melakukan kesalahan, Ayahnya tidak segan untuk memukulnya
Itu pula alasan mengapa Ibu Rani meninggalkan Ayahnya, tidak lain karena tidak tahan dengan sikapnya, begitu pula alasan pertunangan Rani dan Rifan terjadi, semua keinginan Ayah Rani, bahkan saat Rani sempat menolak, wajahnya di pukul oleh Ayahnya di depan Rifan dan Ayahnya
Namun meski begitu, ia hanya tersenyum sambil mengiyakan keinginan Ayahnya, Rifan tau jika saat itu Rani menahan tangisnya, meski begitu Rani adalah wanita kuat
"Nanti kapan-kapan kita jalan lagi" Ucao Rifan pada Rani saat hendak masuk kedalam rumah
"Ciee... Kamu suka sama aku ya" balas Rani dengan senyum lebar
"Ah udah, gak usah kegeeran masuk sana"
Rani pun segera masuk sambil melambaikan tangannya, setelah Rani masuk Rifan segera pulang menuju rumahnya, sambil pula Rifan memikirkan bagaimana bisa ia mengatakan itu pada Rani tadi
"Ah sial, aku ngomong apasih gila, gak gak, aku sukanya sama Nina"
-------------------------------------------------
Setelah kejadian sebelumnya dimana Nina berakhir di peluk oleh Arlan, hari itu begitu berbeda setiap kali Arlan berbicara pada Nina atau bahkan mendekat, Nina selalu menjauhinya
"Kamu kenapa?"
"Gak" Nina pun beranjak dari sofa dan hendak pergi meninggalkan Arlan
Namun dengan cepat Arlan memegang tangan Nina agar Nina tidak pergi menghindari Arlan terus-menerus "Hap, mau kemana hayo, kamu kenapa sih?"
"Lepasin" jawab Nina tanpa menoleh dan melihat Arlan
"Kamu marah sama kejadian kemarin?, Atau kamu belum puas di cium sama aku hehe"
"Yaudah sini aku ciu-"
BRUKK!!
Sebuah toples melayang ke wajah Arlan hingga membuat Arlan menjerit kesakitan dan melepaskan genggaman tangannya pada Nina, melihat peluang itu Nina segera pergi meninggalkan Arlan
"Kenapa sih, masih cemburu sama yang kemarin atau apa, hadeh wanita-wanita susah banget dimengerti"
Setelah pergi meninggalkan Arlan, Nina bergegas menuju ke kamar, lalu sesampainya di kamar Nina mengunci rapat kamar agar Arlan tidak bisa masuk
__ADS_1
Bukk!!
Suara Nina melompat ke atas kasur, Nina segera berbaring sambil memeluk guling, entah kenapa hari itu Nina begitu gelisah perasaannya tak karuan mengingat kejadian kemarin