
Arlan masih terbaring di atas ranjang. Bahkan dari kemarin, Arlan nampak belum sadarkan diri. Pendarahan yang diterima Arlan sangat hebat, hamir saja hal itu membuatnya meninggal.
Nina dengan mata sayu, dan berkaca-kaca, nampak sedang duduk di samping ranjang. Sembari menggenggam tangan Arlan.
Dan saat Nina tengah merenung. Seorang pria cukup tua nampak sedang berdiri di depan pintu.
"Om Rian?."
Pria itu nampak tersenyum sebentar
"Boleh Om minta waktu bersama Arlan?."
Nina mengerti hal itu, Nina segera keluar dari ruangan. Meninggalkan Arlan dengan om Rian.
Dari luar, Nina melihat pria tua itu sedang duduk. Sambil mengusap kepala Arlan. Terlihat ia nampak meneteskan air mata. Nina tak bisa mendengar apa yang sedang ia bicarakan.
Cukup lama om Rian didalam ruangan. Hingga akhirnya ia pun keluar.
"Yaudah Om pulang dulu. Nanti kalau ada perlu telpon aja."
"Iya makasih Om"
Om Rian pergi meninggalkan Nina sendiri. Setelah Nina kembali kedalam, untuk menemani Arlan.
------------------------------------------------------------------------------------------
Setelah dua hari di rumah sakit. Nina kembali pulang, sementara Arlan masih berada di rumah sakit, bersama dengan pengawal Nina. Sementara Nina harus kembali, dikarenakan sebuah pekerjaan.
Dan untuk Arlan. Ia belum dibolehkan pulang, dikarenakan kondisinya yang masih belum sadar.
__ADS_1
Perawatan terbaik telah dilakukan untuk Arlan. Semua dilakukan untuk mempercepat kesembuhan Arlan.
Disaat sedang bekerja pun. Nina selalu menelepon pengawalnya yang sedang menjaga Arlan, hanya untuk memastikan perkembangan Arlan.
Sepulang bekerja pun, Nina tak punya waktu untuk istirahat. Nina selalu menyempatkan diri untuk ke rumah sakit.
Berharap saat Nina datang. Arlan sudah sadar dari tidurnya, Nina tak perduli meski ia kelelahan, asalkan Arlan kembali sembuh.
------------------------------------------------------------------------------------------
Sebuah mobil nampak memasuki pekarangan rumah sakit. Mobil itu nampak tidak asing, seorang wanita keluar dari mobil.
"Arlan di rumah sakit ini kan?."
"Iya Non Lora"
Lora nampak menatap dari balik kaca. Menatap Arlan yang tengah terbaring di atas ranjang
"Pelakunya gimana?." Tanya Lora
"Untuk pelaku penusukan, sudah di tangkap Non. Terus untuk teman pelaku yang ikut memukul, masih dalam proses pencarian polisi."
"Saya mau kamu cari teman pelaku itu. Dan saya mau beri dia pelajaran, yang setimpal sama harga yang telah dia lakukan sama Arlan." Lora dengan mata begitu membara
Sementara itu suara langkah terdengar mendekat. Lora menoleh kearah langkah itu, dan ternyata itu adalah Nina.
"Lora?."
"Eh kak Nina?."
__ADS_1
"Kamu ngapain disini?."
"Cuma jenguk doang. Ini baru sampai."
"Oh gitu. Gak mau masuk?."
"Emm. Kita masuk bareng aja ya kak?."
"Ya udah sini" Nina masuk keruangan disusul dengan Lora yang mengikuti dari belakang
Disitu Lora menceritakan bagaimana awal ia bertemu dengan Arlan. Dan bagaimana dia bisa tau jika Arlan sedang berada di rumah sakit sekarang. Sementara Nina juga menceritakan kejadian dan penyebab Arlan terluka.
------------------------------------------------------------------------------------------
"Katanya gak suka sama Arlan. Tapi kok nyuruh Lora jenguk dia?." Ucap Rani sambil menyeduh kopi
"Cuma mau mastikan aja. Orangnya mati apa masih hidup" Rifan cuek
"Khawatir kok malu-malu gitu. Kenapa gak kita aja yang jenguk dia"
"Apaansih kamu. Udah ah aku ada kerjaan.
Sementara Rani nampak tertawa kecil, melihat tingkah suaminya itu.
"Siapa juga yang khawatir." Rifan nampak kesal dengan perkataan Rani
"Lagian aku cuma pengen tau aja. Tuh orang masih hidup apa enggak"
Rifan segera mengemudikan mobilnya untuk pergi. Dan entah kemana tujuannya.
__ADS_1