Menikah Dengan Wanita Berhati Dingin

Menikah Dengan Wanita Berhati Dingin
Pulang


__ADS_3

Siang begitu terik, orang-orang seperti biasa melakukan semua aktivitas mereka. Termasuk Nina, dia tetap bekerja ditengah perasaan yang terus mempertanyakan kapan Arlan akan kembali, atau akankah Arlan akan meninggalkan Nina.


Bahkan saat bekerja, Nina tidak begitu berkosentrasi, saat bertemu para klien pun Nina kembali kehilangan fokusnya. Bahkan sampai-sampai Nina membatalkan pertemuan dengan beberapa klien.


"Bos kita kenapa sih?. Dari tadi ngelamun terus?"


"Iya nih, bahkan yang biasanya tegas gitu, mendadak jadi kayak gk perduli"


Memang benar hari ini Nina terlihat berbeda. Bahkan semua karyawannya tau kalau Nina tipe orang yang tegas dam perfeksionis. Jika melihat sesuatu yang tidak rapi atau keterlambatan, iya tidak segan untuk memarahi orang itu.


"Bos mau saya bawakan kopi?" Asisten Nina bertanya, karena melihat Nina yang begitu lesu


"Gak usah." Jawab singkat Nina


Mendengar itu, asisten Nina hanya bisa mematuhi saja. Meski begitu Nina tetap saja terus bekerja, ditengah pikiran yang menumpuk di kepala.


-------------------------------------------------


Di kampung Arlan terlihat sehabis pulang dari pasar. Arlan berjalan dengan membawa beberapa barang belanjaan, bahkan dalam perjalanan pulang Arlan selalu di sapa oleh orang-orang sekitar.


Bisa dibilang orang-orang di kampung Arlan cukup mengerikan. Bagaimana tidak perawakan orang-orang yang besar bahkan di lengkapi dengan tato di seluruh tubuhnya. Namun meski terlihat begitu, orang-orang begitu ramah dengan Arlan. Mungkin sedikit lambat menjelaskannya, Arlan sebenarnya juga mempunyai tato, yaitu di punggungnya. Tato berbentuk pedan yang sedang dililit ular cobra.


Nina sebenarnya terkadang melihatnya, namun tidak menggubris hal itu. Nina merasa mungkin tato itu adalah seni untuk Arlan.


"Woyy Arlan" beberapa orang memanggil dari sebuah warung


Seketika mendengar seseorang memanggil Arlan menoleh ke arah mereka. Beberapa orang melambaikan tangannya ke arah Arlan. Dan Arlan pun berjalan menghampiri mereka, dari senyuman yang di wajah Arlan sepertinya mereka adalah teman Arlan.


"Wehhh kapan pulang?" Sembari menyeruput kopi


"Kemarin baru sampai. Apa kabar kalian?" Arlan duduk di bangku


"Masih kaya dulu sih. Ya walau ada sedikit masalah karena lu udah gak gabung lagi"


"Aku udah capek mal" sambil mengehela nafas


Pria yang memanggil Arlan tadi bernama Ikmal. Ikmal adalah teman dekat Arlan juga, bahkan semua masa kebersamaan Arlan dihabiskan bersama Ikmal.


"Iya tau. Lu layak untuk berubah" Ikmal memakan kacang yang ia kupas


"Kalian juga gimana kabarnya?."


"Ya itu. Kayak yang dibilang Ikmal haha"


Beberapa orang tertawa lepas mendengar perkataan pria besar itu. Arlan pun hanya tertawa menanggapi mereka. Ditambah sikap mereka yang sepertinya sudah akrab dengan Arlan.


"Gila Lan, sekarang kerjaannya masak-masak gini?. Padahal dulu pukul-pukul." Sembari tertawa terbahak-bahak. Dan belum selesai tertawa pria itu segera terdiam melihat orang disekitarnya memandangnya.


"Jaga mulut lain kali" tiba-tiba pria besar tadi memegang baju kerah pria yang tertawa terbahak-bahak tadi.

__ADS_1


"Udah Jo gak usah emosi. Lagian gak salah kok" Arlan tersenyum sembari menarik tangan Pria besar bernama Jo.


Bahkan saat tangan Jo dilepas dari pria tadi. Tetap saja Jo memandang nya dengan tajam.


"Kalian jaga diri baik-bai. Aku besok bakal balik lagi ketempat istriku"


"Wih cepat banget baliknya" ucap Ikmal


"Aku kesini cuma buat ziarah makam ibu sama Rinko"


"Kamu tenang aja, kami juga sering ziarah kok kemakam ibumu sama Rinko. Bahkan rumah kamu ada Carla yang jagain"


"Iya aku udah tau. Makasih bantuannya. Kalau gitu aku mau pamit pulang dulu"


Setelah selama berbincang dengan teman lama Arlan. Arlan pun berjalan pulang. Nuansa kampung masih tetap sama, ya jelas sama lagian Arlan hanya pergi sekitar sebulan lebih. Jadi apa yang bakal berubah, dan begitu juga dengan manusia disini masih sama.


Sesampainya di rumah Arlan segera beres-beres dan dilanjutkan dengan memasak. Tanpa sadar hari sudah Maghrib, Arlan terlalu asik untuk bersih-bersih rumah, bahkan saat selesai bersih-bersih Arlan, lebih asik memandang foto lama keluarganya.


Malam pun tiba, Carla berjalan menuju arah rumah Arlan, dengan pakaian yang cukup rapi, baju panjang dan celana jeans. Tentu saja alasan Carla menggunakan pakaian itu untuk menutupi tatonya. Karena darla merasa tidak nyaman dengan hal itu yang membuatnya dipandang banyak orang.


Tok Tok Tok Tok!!!!


Suara ketukan terdengar dari luar. Arlan segera membuka pintu dan terlihat Carla sudah menunggu. "Udah rapi aja?"


"Kan malam ini mau jalan" sambil mengibaskan rambutnya


"Masuk dulu kita makan baru jalan"


"Makasih makanannya"


"Ya udah, kita jalan yuk kesana?" Arlan berdiri dari duduknya


"Yuk udah gak sabar juga"


Malam itu Arlan dan Carla berjalan menuju acara pameran, tanpa kendaraan. Bahkan saat berjalan Carla tidak pernah berhenti mengalihkan pandangannya dari Arlan, rasa suka yang begitu dalam membuatnya ingin memeluk Arlan. Namun ia sadar tidak boleh melakukan itu


"_sabar Carla kamu cuma harus sabar, sampai waktunya tiba"_ Carla dalam benaknya


Sesampainya dalam acara Pameran begitu banyak orang. Beberapa orang begitu asik dengan pandangan di depan mereka masing-masing. Sesampainya disana Carla jadi bingung ingin ngapain, karena terlalu banyak yang ingin dilakukan


"Emm kita mau kemana dulu?" Carla bertanya sambil memandangi Arlan


"Kita kesitu aja dulu" Arlan menunjuk toko aksesoris


"Yaudah yuk"


Arlan begitu sibuk melihat gelang-gelang yang berada dalam lemari kaca itu, seperti sedang memilih sesuatu Arlan begitu cermat memperhatikan semuanya.


"Bang saya mau yang ini satu, terus yang ini" Arlan menunjuk sebuah gelang"

__ADS_1


Setelah mendapat barang yang Arlan beli. Arlan segera memasangkan sebuah gelang berwarna ungu ke tangan Carla, yang sontak hal itu membuat Carla terkejut melihatnya.


"Sini tangannya, coba dulu gelangnya" Arlan menarik tangan Carla


"Ini buat aku?"


"Iya buat kenang-kenangan" Arlan tengah sibuk memasangkan gelang itu ketangan Carla


Melihat itu Carla tersenyum lebar. Carla merasa malam itu adalah malam yang begitu spesial, meski gelang yang di berikan Arlan tidaklah mewah. Namun tetap saja ini bukan soal harga, tapi tentang ketulusan.


Melihat Carla yang sangat senang, Arlan pun nampak ikut senang, Arlan merasa tidak sia-sia memilihkan gelang itu untuk Carla


"_syukur deh Carla suka. Anggap saja ini sebagai rasa terimakasih buat dia, ditambah Carla udah Arlan anggap kayak adek sendiri jadi gak masalah"_


Setelah memberikan gelang itu, Arlan dan Carla lanjut untuk berjalan dan melihat sekitar. Begitu banyak yang di lakukan, Arlan dan Carla begitu terlihat bersenang-senang. Mulai dari membeli beberapa cemilan, hingga beberapa permainan yang menyenangkan.


Tanpa disaring mereka berdua telah melewati beberapa jam, dan saat sadar haru begitu larut, Arlan segera mengajak Carla untuk kembali pulang.


"Kita pulang yuk. Udah larut malam juga"


Carla yang tengah menjilati es krim hanya mengangguk. Dan sebagai seorang pria tentu saja Arlan mengantarkan Carla pulang. Malam itu terasa begitu singkat untuk Carla, namun Carla tidak menyesal karena ia merasa begitu bahagia.


"Makasih, udah mau jalan-jalan sama aku" Carla berdiri di depan pintu rumah


"Iya sama-sama. Masuk sana udah malam, gak enak dilihat orang"


"Emang ada yang berani?" Carla tertawa sambil mengangkat alisnya


Mendengar ucapan Carla, Arlan hanya tersenyum. Lalu saat Carla sudah masuk kedalam rumah, Arlan berjalan pulang menuju rumah.


"Anggap aja ini hadiah" Arlan memandang gelang berwarna merah yang ia beli tadi di toko aksesoris.


-------------------------------------------------


Siang itu Arlan sedang berkemas-kemas, dan Carla bahkan membantu untuk berkemas. Dan di teras rumah juga terlihat beberapa orang yang tidak lain adalah teman-teman Arlan.


"Udah beres semua?" Tanya Carla


"Sip udah semua" Arlan pun segera berjalan dan membawa tas bawaannya, dan menaruh di bagasi taksi yang akan membawa Arlan ketempat istrinya.


"Bang bawa yang benar mobilnya. Kalau sampai ada apa-apa abang kami cari"


Mendengar hal itu seketika sang supir hanya bisa mengangguk dengan wajah ketakutan. Bagaimana tidak Jo berkata itu sambil mengguncang mobil si supir.


"Udah Jo jangan ditakuti abangnya. Maaf ya bang temannya saya bercanda"


Melihat tingkah Jo sontak membuat teman-teman yang lain tertawa, sedangkan si supir hanya bisa diam. Dan saat semua sudah siap Arlan segera masuk ke mobil dan bersiap untuk berangkat.


"Aku pamit dulu. Kalian jaga diri yang benar"

__ADS_1


Mobil pun pergi meninggalkan kampung halaman Arlan. Beberapa teman Arlan melambaikan tangan ke arah Arlan. Hari yang begitu singkat namun terasa begitu membahagiakan untuk Arlan. Dan kini Arlan akan kembali menuju tempat Nina.


__ADS_2