Menikah Dengan Wanita Berhati Dingin

Menikah Dengan Wanita Berhati Dingin
kucing


__ADS_3

Siang itu Arlan tengah sibuk dengan sesuatu di halaman belakang rumah. Bahkan Nina mendengar Rifan seperti tengah menimang sesuatu, hal itu seketika membuat Nina yang tengah duduk di sofa menikmati waktu liburnya penasaran.


"Matanya bulat, tangannya lucu. Perutnya gendut, ulululu" suara Arlan dari luar


Nina pun pergi untuk melihat apa yang tengah Arlan lakukan diluar. Dan saat sampai tiba, Nina terkejut melihat Arlan yang tengah menggendong kucing, seperti menggendong bayi.


"Kamu ngapain?." Nina mengangkat alisnya


"Ini ada kucing masuk ke halaman kita, dari kemarin loh aku lihat." Sambil menimang kucing di pelukan Arlan


"Jangan di ambil, itu punya orang kompleks sini."


"Siapa juga yang ngambil, nanti dilepas juga kok"


"Kamu mau kucing?." Nina bertanya


"Enggak. Aku mau yang lebih dari kucing sih"


Mendengar itu, lantas membuat Nina penasaran dengan apa yang Arlan maksud. Nina berpikir mungkin saja yang Arlan maksud seperti Harimau atau singa.


"Emangnya apa yang lebih?. Harimau?."


Arlan pun menurunkan kucing dari gendongannya, dan berjalan menghampiri Nina. Dan mengelus-elus perut Nina. "Aku mau yang ini"


Seakan mengerti maksud Arlan, Nina nampak malu dengan hal itu, bagaimana bisa Arlan dengan santainya mengatakan hal itu pada Nina.


"Kamu pasti mau juga kan?. Iyakan?." Arlan tersenyum mendekatkan wajahnya


"Udah ah, gak lucu" Nina pergi meninggalkan Arlan


Melihat tingkah Istrinya membuat Arlan tersenyum, meski sudah menunjukkan perilaku suka beberapa kali, namun tetap saja sikap Nina masih dingin.


"Dingin. Apa malu-malu?."


Siang itu Rifan datang mengunjungi Nina, namun kali ini Rifan tidak sendiri. Rifan bersama dengan anak buahnya. Kunjungan Rifan kali ini untuk menjenguk Nina, karena saat Rifan mengantarkan Nina. Rifan tau kalau Nina sedang sakit.


Mobil Rifan memasuki pekarangan rumah. Sebenarnya penjaga telah berusaha untuk melarang Rifan masuk, namun karena Rifan memaksa dengan maksud baik. Jadi mau tidak mau akhirnya Rifan di ijinkan masuk.


Bel pun dibunyikan, dengan wajah penuh senyuman Rifan berdiri di depan pintu. Namun saat perlahan pintu dibuka, perlahan itu pula senyum Rifan memudar.


"Eh Sopir yang kemarin?. Ngapain kesini lagi, belum dibayar ya yang kemarin?"


"Maksudnya kamu apa huh?."


"Masa ngomong harus diulangi lagi sih. Budek ya?."


"Kamu gak tau siapa Aku?. Dan kamu berani ngomong gitu?."


Nampaknya ejekan Arlan membuat Rifan jadi panas dingin dibuatnya. Namun seakan menikmati kemarahan Rifan, Arlan bahkan terus mempermainkan omongan Rifan.


"Gak tau, dan gak mau tau"


Rifan pun menarik kerah baju Arlan, dan mendapati hal itu justru Arlan malah tersenyum lebar. Sedangkan anak buah Rifan tidak tau harus berbuat apa, ia takut jika ia macam-macam dengan Suami Nina, ia akan terkena masalah.

__ADS_1


"Bos udah bos." Sambil melerai


"Kamu diam aja, nih anak harus di kasih pelajaran" Rifan mengepalkan tangannya


"Aaaa.. takut" Arlan berteriak sambil melirik langit-langit


Saat emosi Rifan yang semakin memuncak, seketika Rifan melayangkan sebuah pukulan ke wajah Rifan. BUKK!!. Satu pukulan cukup membuat bibir Arlan berdarah, namun kembali ekspresi tersenyum Arlan seperti tidak merasakan apa-apa dari pukulan tadi.


Setelah melayangkan sebuah pukulan ke wajah Arlan. Tanpa sadar hal itu dilihat oleh buk Siti dan Nina, yang mendengar keributan di depan rumah.


"Bangs*t. Rasaain tuh, enak gak" Rifan dengan mata melotot, sementara anak buah Rifan jadi bercucuran keringat. Apalagi saat tau Nina melihat kejadian tadi.


"Rifan!!. Apa yang kamu lakuin sama Arlan" Nina berlari menampar wajah Rifan dengan keras


PLAK!!!!


"Nin ini semua sala-" PLAK!!! Kanan kiri, nampak serasi oleh pukulan yang di layangkan oleh Nina


"Sayang... Wajah ku sakit banget, tiba-tiba di pukul sama dia" tiba-tiba wajah Arlan berubah menjadi menyedihkan, sambil memeluk Nina.


"Kamu gapapa?. Mulut kamu berdarah" sambil memegang kepala Arlan


"Nin i-" PLAK!!! Buk Siti memukul wajah Rifan juga.


"Rasain nih. Pukulan tadi dari Arlan, saya yang wakili" ucap buk Siti dengan mata melotot kearah Rifan.


"Kamu sekarang pergi sini. Dan jangan sampai aku ngeliat kamu lagi, dan juga untuk masalah ini aku bakalan ngasih tau Ayah kamu" Nina dengan emosi menunjuk Rifan


"CUKUP!!!. Aku gak mau ngeliat kamu lagi. Kamu bawa bos kamu ini yang kurang ajar pergi dari sini"


Jujur saja, Arlan tidak pernah melihat Nina marah sebelumnya. Entah Kenapa Arlan malah merasa takut dengan Nina, yang biasanya Nina tampil dengan muka cuek. Baru kali ini Arlan melihat raut marah Nina.


Setelah kejadian tadi, Rifan pun kembali dengan anak buahnya. Dan juga untuk kejadian dimana Rifan memukul Arlan, telah diberitahu Nina kepada Ayah Rifan. Nina berkata jika Rifan tidak di beri pelajaran, maka Nina akan Membawa masalah ini lebih serius.


--------------------------------------------------------------


Setelah kejadian Rifan memukul Arlan, kini kabar tentang Rifan tidak pernah terdengar lagi. Bahkan Nina saat bekerja pun sudah tidak pernah melihat kunjungan Rifan lagi.


Ada beberapa rumor yang beredar, kalau Rifan telah dinikahkan oleh orang tuanya, dengan tunangannya. Namun rumor lain mengatakan bahwa Rifan kabur dari rumahnya. Namun dibalik itu semua Kini, kehidupan Nina telah terasa sedikit damai dari kehadiran Rifan.


Dan untuk Arlan, seperti perasaan sedikit bersalah dengan kejadiannya waktu itu. Rasanya apa yang dilakukan Arlan begitu berlebihan kepada Rifan, padahal Rifan hanya datang untuk berkunjung.


"Tapi kata Nina, dia selalu di ganggu sama Rifan, jadi semua ini gak masalah kan?"


Dan tanpa mau memikirkan hal itu lebih lama, seperti biasanya Arlan berjualan kembali, beberapa tempat telah dilalui, dan beberapa pelanggan telah di jumpai. Namun rasanya ada yang kurang dari semua itu. Yani?. Beberapa hari terakhir saat Arlan berjualan, Yani tidak pernah memanggil Arlan lagi.


Bahkan rumah Yani terlihat seperti tidak ada penghuni, jangankan rumah. Yani yang biasanya menanyakan apakah Arlan jualan atau tidak, kini tidak ada lagi.


"Apa Yani lagi berpergian ya?."


Arlan juga tidak harus memperdulikan hal itu, karena Arlan dan Yani juga tidak punya hubungan apa-apa, ditambah Nina juga cemburu jika tau Arlan dekat dengan Yani


Dan setelah seharian berjualan, Arlan tidak lupa untuk pergi untuk menyumbangkan uang hasil dagangannya, sesuai perjanjian dengan Nina.

__ADS_1


"Kayaknya hari ini bakal pulang lambat deh" Arlan memandang langit yang sore.


Sesampai di panti, Arlan tidak langsung pulang setelah memberikan uang hasil dagangannya. Arlan menyempatkan diri untuk mengajak anak-anak panti bermain. Bahkan dikarenakan asik bermain dengan anak-anak, Arlan sampai hampir lupa untuk pulang, bahkan hari sudah nampak hampir Maghrib.


Setelah berpamitan, Arlan berjalan mendorong gerobaknya menuju rumah, hari semakin gelap, dan sudah pasti Arlan akan sampai malam. Namun saat melewati halaman rumah Yani, Arlan melihat Yani dari kejauhan bersama seorang pria.


"Laki-laki di samping Yani siapa?. Suami apa pacarannya?. Kalau pacar atau suami, kayak nampak tua banget" sambil mendorong gerobaknya menjauh


Malam itu Yani terlihat tengah keluar dari mobil, bersama seorang pria, yang bisa dibilang cukup tua untuk wanita seperti Yani. Bahkan Pria itu terlihat sedang menggandeng pinggang Yani, namun Yani malah menepis tangan orang itu.


Lagi pula bukan urusan Arlan, untuk tau urusan Yani, jadi Arlan pun pergi sembari mendorong gerobaknya menjauh. Dan setelah beberapa saat berjalan akhirnya Arlan telah sampai. Cukup melelahkan rasanya berjalan, apalagi seharian berkeliling.


Namun rasa lelah itu sepertinya terbayarkan. Nina terlihat menunggu kedatangan Arlan didepan rumah, melihat itu, seketika Arlan yang lelah tiba-tiba merasa segar kembali.


"Kenapa hari ini telat?" Nina menghampiri Arlan


"Tadi sekalian ngajak anak-anak panti main, jadi sampai lupa waktu gini"


"Yaudah masuk dulu, mandi terus makan. Aku mau ngomong sama kamu"


Arlan pun bergegas untuk mandi, dan tidak lupa setelah mandi Arlan makan malam bersama Nina. Sedikit penasaran rasanya dengan apa yang ingin di bicarakan Nina.


"Mau ngomong apa emang?"


"Bisa gak kamu berhenti jualan nasi goreng?" Nina mengusap mulutnya dengan tisu, sementara buk Siti tengah sibuk membersihkan sisa makanan di atas meja


"Emangnya kenapa?. Aku ngelakuin sesuatu yang salah?"


"Kamu gak ngelakuin yang salah, cuma aku ngerasa kayak. Kamu capek gak sih, seharian kerja keliling komplek, terus jalan jauh buat ngantar uang hasil jualan kamu ke panti-panti?"


"Enggak kok, lagian aku gak ngerasa capek" Arlan sedikit meninggikan suaranya


"Aku cuma pengen kamu kerja yang lain aja. Lagi pula kerjaannya barengan sama aku"


"Kerja yang lain?. Aku kerja apa?." Dengan raut penasaran


"Kamu kerja di perusahaan aku aja. Apalagi kamu kan suami aku, jadi untuk hal ini di masa depan, udah jadi kewajiban kamu"


"Tapi masalahnya aku gak pernah kerja di perusahaan, dan juga aku gak ada pengalaman"


"Kamu tenang aja, kerjaan kamu cuma cukup jadi asisten aku aja. Dikarenakan asisten lama aku berhenti jadi, aku butuh pengganti."


"Aku gak yakin bisa, ngebantu kamu"


Memang benar sebelumnya Arlan belum pernah untuk bekerja di perusahaan besar. Dikarenakan saat dulu ingin mendaftar kerja, selalu berakhir dengan penolakan. Alasannya selalu sama mereka berkata kalau Arlan tidak cocok bekerja di perusahaan mereka. Jadi karena itu Arlan lebih memilih pekerjaan yang memang orang kampung seperti dirinya bisa lakukan.


"Gak semua orang langsung bisa, kamu tenang aja. Pelan-pelan, nanti aku kasih tau semuanya biar kamu bisa. Lagi pula nanti kita bisa berangkat terus pulangnya bisa barengan"


"Owh... Jadi alasan kamu pengen aku jadi asisten kamu, Karena biar kita bisa barengan terus?" Arlan tertawa


"Udah, pokoknya mulai besok kamu siap-siap aja"


"Besok ya?. Yaudah lah coba aja dulu, gak ada salahnya juga kan?."

__ADS_1


__ADS_2