
"jadi Jo gimana. Mau ikut gak?." Ikmal sembari menghisap rokok
"Cuma nagih hutang kan?."
"Iya Jo. Santai aja, ntar kalau sudah dibayar ku kasih kau."
"Ya udah lah. Ayok, aku mumpung lagi gak ada uang juga nih.
Hari ini Ikmal berencana untuk menagi hutang salah seorang pria. Yang dimana pria tersebut telah berhutang uanh sebesar Rp500.000. pada Ikmal, dan masih belum di bayar sampai sekarang
Ikmal dan Jo mengendarai sebuah motor, yang bisa dibilang cukup jadul dan cukup tua. Motor berjalan memasuki sebuah gang yang cukup sepi, kebanyakan penghuni dari gang tersebut orang-orang perantau.
Kebetulan saat itu, pria yang akan ditagih hutangnya, sedang terlihat berjalan seorang diri. Motor pun berjalan menuju kearah pria itu.
"Woyy Tol*l." Ikmal teriak
Seketika pria tadi nampak terkejut, dengan kedatangan Ikmal, apalagi saat melihat Jo, yang berbadan sangat besar.
"Eh. Bang" memaksa tersenyum
"Gak usah senyum. Bayar hutang dulu" Ikmal turun dengan menyodorkan tangannya.
"Anu. Bang. Belum bis-"
"Gak usah alasan. Kau liat teman aku tuh?. Besar kan?."
"I-iya besar bang"
"Nah kau cepat bayar hutang mu. Atau ku suruh dia nelan kau?."
"T-tapi bang "
Tanpa memperdulikan omongan pria itu, Ikmal segera merogoh kantong celana orang tersebut, dan hanya di temukan uang Rp100.000 saja dari kantongnya
"Bang jangan bang"
"Jangan matamu. Mana sisanya"
Ditengah sibuk merogoh kantong pria itu. Dari kejauhan nampak sekumpulan pria dengan badan penuh tato seperti melihat kearah Ikmal.
"Eh itu kan. Anak dari gang sebelah?."
"Iya tuh. Berani juga dia meras di wilayah kita"
"Cuma berdua tuh. Kita gas aja kasih pelajaran"
Beberapa pria itupun menghampiri Ikmal dan Jo, yang tengah sibuk menagih hutang seorang Pria.
"Woy kalian. Cari mati ya?" Salah seorang pria nampak berteriak kearah Ikmal
"Haduh.. orang tol*l nya jadi nambah lagi"
"Siapa yang kau bilang tol*l."
"Udah kalian kalau mau main jangan disini, aku lagi sibuk, nagih"
Pria tadi nampak kesal dengan perkataan Ikmal. Dan tanpa membalas perkataan Ikmal sebuah pukulan melayang di wajah Ikmal, hingga membuat Ikmal terpenting jatuh.
__ADS_1
"Anj*nk. Mau apa sih kalian" Ikmal memegang wajahnya
"Ya kalau diliat mau apa emangnya?."
Dan saat itupun terjadi lah perkelahian yang tidak seimbang, antara kubu Ikmal dan kubu Pria tadi. Dikarenakan harga diri Ikmal cukup tinggi, ia lebih memilih berkelahi dibandingkan lari.
Perkelahian cukup berat. Wajah Ikmal bahkan banyak memar, ditambah Jo ya sedang sibuk mengurus yang lain. Akhirnya karena tidak tahan dengan lawan yang cukup banyak, Ikmal akhirnya memilih mengalah, dan segera pergi dengan Jo.
"Sialan, mainya keroyokan." Ikmal sambil mengendarai motornya
"Katanya cuma nagih hutang. Tapi kok malah kelahi begini" balas Jo
"Ya aku gak tau Jo. Lagian mereka datang tiba-tiba"
Ikmal dan jo terpaksa kembali hanya dengan uang 100 ribu di tangan. Itupun di bagi dua dengan Jo, sebagai perjanjian mereka sebelumnya.
_______________________________________________________
"Yani!!" Teriak seorang wanita di depan pintu kamar
"Ehhh. Kenapa Susi?" Yani menoleh
"Kamu ngelamunin apa sih?." Susi mendekati Yani
"Enggak kok. Gak ada apa-apa"
"Masih kepikiran sama om-om tua waktu itu?"
"Ya.. iya sih, kalau gak salah pas aku di antar pulang, aku gak sengaja ngeliat Arlan"
"Arlan?. Emang kenapa?."
"Ya terus apa hubungannya?." Susi penasaran
"Ya bisa aja dia gak pernah jualan nasi goreng lagi, atau dia ngehindarin aku?. Dan juga setiap aku chating gak di bales?"
"Yan?."
"Eh.? Lupain Sus." Yani nampak malu
"Kamu suka ya, sama si Arlan itu?."
"Ihhh.. Susi lupain gak" Yani memukul Susi dengan bantal
"Cieee Yani"
Yani segera mengejar Susi, sambil melemparinya dengan bantak. Sementara Susi berlari sambil mengolok-olok Yani..
_______________________________________________________
Sementara itu di ruangan yang asing, seorang pria yang sempat berkelahi dengan Arlan, nampak sedang terduduk dengan kondisi terikat. Wajah pria itu nampak berlumuran darah, seperti sedang dipukul.
"Gak usah pura-pura pingsan kamu"
Pria yang terikat itupun, perlahan membuka matanya dengan raut begitu ketakutan.
"Ampun bang, saya janji bakal tanggung jawab"
__ADS_1
"Iya, sekarang kamu sedang tanggung jawab kok"
BUKK!!!
Satu pukulan lagi menghantam pria itu, sehingga membuatnya mengeluarkan darah dari dalam mulutnya.
Suara langkah kaki terdengar memasuki ruangan itu, seorang wanita nampak berjalan mendekat. Wanita itu berjalan sambil di dampingi oleh dua orang pengawal di sisi kiri dan kanan.
"Boss saya mau ngomong sama kamu" sambil menghentikan pukulannya
"Kenapa kamu berani menyerang suami saya?"
"Maafin saya buk. Saya cuma ngebantu teman saya aja, lagian semua ini salah teman saya, saya cuma ikutan dia aja"
"Tapi tetap aja kamu ikut mukulin suami saya?." Nina menatap dengan tatapan yang begitu dingin, seolah ingin menerkam pria di hadapannya
Di saat pria itu, tak berbicara dengan perkataan Nina, seorang pengawal Nina pun melayangkan sebuah pukulan lagi.
BUKK!!!
"Kalau Boss saya nanya, di jawab!!!" Bentaknya
"Uhuk-uhukkkk,,,, i-iya maaf "
"JAWAB!!!" Pengawal itu membentak lagi.
Setelah beberapa saat di ruangan itu. Nina pun keluar bersama dua pengawalnya.
"Yang satunya bereskan juga"
Kedua pengawal Nina, menganggukkan kepala, dan mereka berdua pun segera pergi meninggalkan Nina. Setelah selesai dengan urusannya, Nina pun kembali kerumah sakit untuk menjenguk Arlan kembali.
Sesampainya di rumah sakit, dan seakan tak percaya dengan apa yang Nina lihat. Arlan nampak sudah sadar dari tidurnya, bahkan Arlan terlihat tengah duduk sambil memakan buah-buahan.
"Dari mana aja kamu?." Arlan bertanya
Sedangkan Nina yang melihat itu, malah meneteskan air mata. Nina berusaha memalingkan wajahnya agar Arlan tidak melihatnya meneteskan air mata.
"Sini kalau mau nangis...?" Arlan merentangkan tangannya.
Nina segera berlari kearah Arlan.
"Aghh... Jangan keras-keras, masih sakit"
"Iya maaf" Nina menenggelamkan kepalanya di pelukan Arlan.
"Kamu udah baikan?" Nina melirik kearah Arlan
"Jelas.. kenapa kamu rindu sama suami kamu ini?"
"Iya."
"Eh iya, rasanya aku ngerasa kayak ada om-om ngelus kepala aku deh?"
"Emmm. Masa sih?"
"Iya loh. Apa jangan-jangan, ada om-om mesum lagi yang mau ngelecehin aku?"
__ADS_1
Nina hanya menghela nafas, rasanya ini benar-benar Arlan. Bahkan sikap konyol yang seperti ini adalah sifat Arlan.