
Perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Arlan kini telah sampai di kediaman Nina. Suasana terasa masih begitu sama, dengan saat Arlan meninggalkan rumah ini. Begitu keluar dari taksi, seperti biasa Arlan disambut oleh penjaga.
"Selamat datang tuan Arlan." Sambil menganggukkan kepalanya
Setelah itu Arlan berjalan menuju kedalam rumah, suasana begitu sepi. Arlan tau kalau mungkin Nina sedang bekerja sekarang ini, namun saat hendak menuju kamar. Arlan dikejutkan oleh panggilan dari buk Siti.
"Tuan Arlan!." Buk Siti berlari menuju kearah Arlan
"Iya kenapa buk siti?" Arlan menoleh
"Akhirnya tuan Arlan kembali, buk siti kirain mas Arlan gak bakal balik lagi"
"Memangnya kenapa buk?. Arlan kan tinggal disini?."
"Tuan Arlan kemana aja, Tuan Arlan gak pergi dari rumah kan?"
Mendengar itu, Arlan sedikit bingung dengan apa yang dikatakan buk Siti. Bagaimana bisa buk Siti berkata Arlan seolah gak akan kembali kerumah ini lagi.
"Enggak kok. Arlan dua hari ini pulang kampung, Arlan ziarah ke makam almarhum ibu sama adek Arlan."
"Owh gitu. Terus kok tuan Arlan gak ngasih tau Non Nina?"
"Ya gimana bisa ngasih tau. Tiap di deketin Nina ngejauh terus, ya mungkin masih ngambek. Jadi Arlan biarin aja dulu"
Buk Siti pun menganggukkan kepalanya menandakan ia mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Emang kenapa sama Nina buk?"
"Non Nina kira, Tuan Arlan pergi dari rumah ninggalin dia. Jadi selama beberapa hari ini Non Nina itu kaya ngelamun terus, bahkan makan pun jarang"
"Ya udah buk, nanti Arlan coba ngomong dan ngejelasin semuanya ke Nina."
"Iya. Tolong ya, kasian Non Nina"
Setelah percakapan tadi. Arlan bergegas menuju kamar untuk mengembalikan semua barang bawaan yang ia bawa. Dan sembari menunggu Nina datang, tidak lupa Arlan memasak makanan untuk Nina. Karena mendengar Nina yang jarang makan karena sebuah kesalah pahaman.
Dan setelah sekian lama menunggu, terdengar suara mobil yang datang. Namun kali ini suara mobil agak berbeda dari yang di gunakan oleh Nina. Arlan pun berjalan menuju keluar dan melihat siapa yang datang.
Saat sudah berada di teras rumah, Arlan sedikit penasaran siapa yang berada di dalam mobil. Namun begitu pintu mobil terbuka, seorang wanita berlari memeluk Arlan. Dan wanita itu adalah Nina, yang di antar oleh Rifan.
__ADS_1
"Kamu gapapa?."Arlan bertanya pada Nina yang memeluk Arlan begitu erat.
Melihat Nina memeluk Arlan. Rifan jadi tau seperti apa rupa dari seorang Arlan itu. Dan melihat itu terlihat tatapan iri dari mata Rifan. Sementara Nina tidak berkata apa-apa, dan hanya membenamkan kepalanya di tubuh Arlan.
"Kamu sekarang bawa supir ya kerjanya?."
Mendengar dirinya dikatakan sopir oleh Arlan membuat Rifan jadi naik darah. Bagaimana bisa pria terhormat seperti dirinya dibilang sopir.
"Sembarang bilang sopir. Jagain istri kamu tuh, bilangin kalau sakit jangan kerja. Dasar suami gak berguna"
Seolah tidak perduli dengan perkataan Rifan. Arlan malah memeluk Nina di depan Rifan, bahkan sambil mencium kepala Nina.
"Yaudah yuk, kita masuk aja." Arlan pergi meninggalkan Rifan.
Merasa dirinya di abaikan membuat Rifan begitu emosi. Bahkan Rifan sampai memaki di depan rumah, yang membuatnya di usir oleh penjaga rumah.
Sambil menggandeng tangan Nina. Arlan berjalan menuju dapur. bahkan dengan tatapan lesu Nina terus memandangi punggung besar Arlan.
"Kamu makan dulu, katanya kamu lagi gak enak badan. Terus aku dengar kamu juga belum ada makan."
Nina hanya diam dan mengikuti perkataan Arlan. Arlan pun duduk di samping Nina, sembari mengambilkan makanan ke piring Nina.
"Emangnya aku mau pergi kemana?."
"Selama dua hari ini, kamu kemana aja?. Kamu marah sama sikap aku yang ngejauh dari kamu?"
"Udah makan dulu. Nanti aja ngomong nya"
Dengan masih di penuhi rasa penasaran Nina pun memakan makanan yang di masak oleh Arlan. Dan perlahan saat sedang makan. Arlan menjelaskan tentang semua yang terjadi pada Nina, serta alasan kemana Arlan pergi selama ini. Dan mendengar hal itu Nina jadi terdiam.
"Makanya jangan ngambek terus. Jadinya Aku mau ngomong jadi gak bisa. Padahal aku juga mau ngajak kamu"
"Maaf" Nina menundukkan kepalanya
"Gak usah dipikirin lagi. Sekarang kamu harus sehat lagi kaya biasanya" Arlan mencium kening Nina
Yang sontak hal itu membuat Nina menjadi malu dibuatnya. Seorang Wanita dengan perasaan yang begitu dingin, sepertinya mulai meleleh dengan kehangatan dari seekor Pria bernama Arlan.
-------------------------------------------------
__ADS_1
Setelah pulang dari kediaman Nina. Rifan malah mengamuk di kantornya, bahkan anak buahnya hanya bisa diam melihat tingkah laku Rifan. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba Lora memasuki ruangan Rifan.
"Waduh... Ada dengan Kakak ku" Lora dengan wajah tersenyum
"Kamu lagi ngapain masuk-masuk kesini." Dengan raut emosi
"Ya terserah. Emang Kak Rifan kenapa sih kok sampe kayak gini"
"Sialan. Bisa-bisanya si Arlan itu bilang Aku seorang sopir. Mana dia ngomong itu sambil pelukan dengan Nina. Padahal kudengar dia pergi dari rumah, ngapain sih dia kembali lagi."
"Ya mungkin emang benar. Lagian kalau di bandingkan dengan Kak Rifan, Arlan itu ganteng, terus badannya itu loh gak nahan." Lora lekas pergi meninggalkan ruangan, dan mendengar hal itu sontak membuat Rifan semakin mengamuk di buat olehnya.
"Tunggu aja kamu Rifan. Kali ini aku bakalan main kasar sama kamu. Aku bikin kamu gak bisa jalan lagi"
-------------------------------------------------
Hari kembali malam. Suasan begitu dingin dengan hembusan angin yang lumayan kencang. Sepertinya malam ini akan turun hujan, bahkan hari pun begitu mendung. Namun malam itu tidaklah terlalu dingin bagi Nina. Di tengah pelukan Arlan.
Malam itu entah kenapa Nina sangat cantik dari malam-malam sebelumnya. Dengan kimono nya, tidak seperti biasanya yang hanya menggunakan baju tidur biasa . Malam ini Nina menggunakan sesuatu yang berbeda.
"Kalau kamu begini, cantiknya kelihatan jelas banget loh"
"Biasa aja" masih dengan sikap dingin, namun sedikit malu-malu
"Tunggu sebentar. Aku ada sesuatu" Arlan pergi mengambil sesuatu dari tasnya
Dan saat sedang sibuk mengorek sesuatu dari isi tas. Arlan mengeluarkan sebuah gelang yang di beli saat acara pameran di kampungnya. Arlan berjalan kembali menuju Nina. Dan tanpa basa-basi langsung mengenakan gelang itu di tangan Nina.
"Anggap aja hadiah. Gelangnya murah kok. Terus kalau gak suka kamu boleh buang kok"
"Enggak bakal ku buang" Nina tersenyum menatap gelang yang berbeda di tangannya
"Nah gitu dong. Kalau senyum kan manis banget ngeliatnya" seakan tidak tahan dengan senyuman Nina. Arlan langsung menyosor mencium bibir Nina.
Dan mendapati hal itu. Entah kenapa Nina seperti tidak melawan dengan yang dilakukan Arlan. Dan seakan mendapatkan lampu hijau dari Nina, Arlan tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
"Siap untuk season kedua?" Arlan dengan tertawa mengatakan hal itu
Dan hujan turun. Membasahi bumi yang sudah kepanasan oleh matahari. Namun di sebuah kamar, hal itu tidak masalah, karena malam yang sangat dingin saat itu. Begitu hangat untuk kedua insan yang tengah melakukan kewajibannya.
__ADS_1