Menikah Dengan Wanita Berhati Dingin

Menikah Dengan Wanita Berhati Dingin
Kencan?


__ADS_3

Macetnya jalanan rasanya membuat Arlan jenuh. Entah apa yang terjadi dengan malam itu, atau memang biasanya seperti ini?. Tanpa memperdulikan hal itu Arlan terus mengemudi tanpa lelah, bahkan saat mobil didepan maju, Arlan pun ikut memajukan mobilnya.


Kondisi itu berlangsung sekitar sejam lebih, dan hal itu membuat bokong Arlan sakit. Dan juga Nina nampaknya telah bangun dari tidurnya, namun beruntung saat bangun, mobil telah melewati macet.


"Udah bangun?. Tidur lagi aja kalau masih ngantuk." Ucap Arlan sambil fokus


"Mau gantian gak?"


"Gini doang gantian?. Apaan, tapi nanti kita berhenti dulu deh"


"Kenapa?. Kamu capek?."


"Bukan, cuma lapar aja. Kita cari makanan kaki lima aja, mungkin sate atau bakso. Kamu mau?"


"Aku ikut aja." Jawab Nina singkat


Karena kondisi perut yang lapar, akhirnya Arlan memutuskan untuk mengisi bahan bakar perut. Apalagi setelah sejam melalui keadaan macet tadi, membuat bokong Arlan rasanya sakit. Setelah melihat beberapa tempat, akhirnya Arlan memutuskan untuk berhenti di salah satu penjual sate, di pinggir jalan. Mobil pun menepi, didekat tukang sate.


"Yaudah yuk. Turun dulu kita makan" Arlan keluar, lalu membukakan pintu samping tempat Nina duduk


Setelah keluar dari mobil, Sepasang pasutri ini pun mulai memesan beberapa tusuk sate. Dan setelah disuruh menunggu keduanya, duduk di dekat sebuah pohon yang rindang. Hembusan angin malam itu membuat suasana sangat nyaman. Apalagi lampu terang dari penjuru kota.


"Itu kakinya luka?" Arlan melirik ke arah kaki Nina yang nampak luka, akibat gesekan dari sepatu hak tingginya.


"Cuma lecet doang."


Arlan pun melirik di kelilingnya, dan saat melihat sebuah warung. Arlan pun mendatangi warung itu meninggal Nina sendiri. Dan tak butuh waktu lama, Arlan kembali lagi ketempat Nina.


"Kamu ngapain?"


"Beli sesuatu buat ngobatin luka kamu. Sini kakinya yang luka"


Arlan pun duduk lebih rendah dari Nina, dan menaruh kaki Nina di pahanya. Dan menempelkan sebuah plester, di kaki Nina yang terluka. Bentuk plester nya cukup lucu, karena bergambar Doraemon.


"Udah, biar cepat sembuh kakinya" Arlan pun kembali bangkit dan duduk di samping Nina


"Makasih. Udah ngobatin" Nina melirik kearah lain

__ADS_1


"Iya sama-sama, tapi lain kali kalau ngomong makasih, hadapnya kesini" Arlan menunjuk wajahnya


Sate yang di pesan akhirnya tiba, dan dikarenakan piring sedang digunakan banyak pelanggan, untuk sate pesanan Arlan dan Nina, digabungkan menjadi satu piring berdua.


"Mas ini satenya saya gabungin berdua. Soalnya piring yang lain masih dipakai pembeli yang lain, mau saya tungguin yang lain selesai, takutnya mas sama mbaknya kelamaan." Sambil meletakkan piring sate ditengah-tengah Arlan dan Nina


"Iya gapapa kok, makasih" Arlan tersenyum


"Satenya di makan, enak kok rasanya"


"Kamu kan belum makanya, gimana tau rasanya"


"Dari aromanya, kamu percaya aja sama aku"


Akhirnya Nina mencicipi setusuk sate. Dan benar saja apa yang di bilang Arlan, rasanya begitu enak dan gurih. Apalagi karena itu sate kambing, jadi tekstur daging lebih besar.


"Enak kan?" Arlan sambil ikut mencicipi pula. Dan Nina hanya menganggukkan kepalanya sambil, mengigit tusuk sate di mulutnya.


"Nih lontongnya juga enak." Arlan menyodorkan sesendok lontong, kearah mulut Nina. Nina awalnya ragu, dan malu untuk menerima suapan dari Arlan. Namun Nina berusaha membiasakan diri, dan akhirnya menerima suapan itu.


"Enak juga kan?. Makanya satenya sambil makan lontongnya"


"Habisnya kamu cantik banget, jadi rasanya gak makan pun bakal tahan"


"Yaudah gak usah makan" Nina mengambil sepiring sate dan berusaha menyembunyikannya


"Ya... Jangan gitu"


"Kenapa, mau?." Nina mengangkat alisnya


"Ya, jelas mau lah"


"Makanya gak usah gombal terus" Nina pun menaruh sepiring sate tadi ketempatnya semula.


Akhirnya keduanya pun menikmati sate yang sangat lezat itu. Dan setelah puas memakan beberapa tusuk sate itu hingga kenyang, akhirnya perjalanan pulang pun kembali dilanjutkan. Setelah membayar sate tadi, Arlan dan Nina masuk kedalam mobil, dan lanjut pulang.


------------------------------------------------------------------------------------------

__ADS_1


"Sayaang.. udah malam ayok tidur" Ucap Rani.


"Kenapa tidur harus nungguin aku sih?" Rifan berdiri sambil melihat keluar jendela.


"Owh kamu gak mau, atau?"


"Yaudah iya, iya, istriku."


Rifan pun berjalan menuju ranjang, sementara Rani sudah menunggu dari tadi, dengan pose yang begitu anggun. Rupanya setelah kejadian sebelumnya Rifan, dinilai dengan Rani secepatnya. Namun untuk warisan masih belum ada kepastian, Ayah Rifan berkata akan memberikan warisannya pada Rifan ketika ia sudah benar-benar siap.


Saat sudah berbaring, Rani pun memeluk belakang Rifan, dengan lembut. Dan sontak hal itu membuat Rifan terkejut.


"Kamu apaansih peluk-peluk" Rifan menepis tangan Rani.


"Kamu kenapa sih. Kita kan udah jadi suami-istri" Rani terus memaksa memeluk Rifan


"Tapi kan" Rifan terhenti


"Apa perlu?" Rani mengancam kembali


Akhirnya kedua manusia, itupun tidur dengan perasaan yang saling bertentangan. Dan entah seperti apa pula takdir akan membawa mereka nantinya.


------------------------------------------------------------------------------------------


Di subuh buta Arlan nampak sudah bangun. Tidak seperti biasanya yang selalu bangun kesiangan, namun Arlan bangun sebenarnya karena lapar. Seperti seekor kucing Arlan memeriksa setiap sisi dari kulkas, hingga akhirnya menemukan beberapa makanan ringan.


Setelah menyantap makanan ringan itu, Arlan kembali kedalam kamar, dikarenakan perut telah terisi kembali. Dan saat hendak tidur, Arlan menatap Nina yang nampak sedang hanyut dalam tidurnya.


"Hanyut sekali tidurnya Istriku ini"


Arlan pun naik ke atas kasur. Namun melihat Nina yang tidur begitu pulas, membuat Arlan tidak tahan. Arlan mencium wajah Nina sekali, lalu dilanjutkan dua kali, terus tiga kali. Dan semakin lama menjalar ke leher Nina. Tentu saja hal itu membuat Nina yang tertidur pulas terbangun.


"Kamu ngapain sih, masih gelap gini?." Sambil menjewer telinga Arlan


"Aduh, aduh, maaf. Remnya gak berfungsi" sambil memegang tangan Nina


"Jangan aneh-aneh, udah tidur. Masih gelap gini aneh-aneh aja"

__ADS_1


Akhirnya Arlan pun melanjutkan tidurnya, dikarenakan lampu hijau kini telah berubah menjadi merah.


__ADS_2