
Di hari yang spesial ini. Arlan dan Nina akan berkencan, ya sebenarnya entah bisa dibilang kencan atau tidak. Karena hari ini, Arlan akan menemani Nina, untuk berbelanja. Semalam Nina, mengajak Arlan untuk menemaninya berbelanja.
Arlan nampak menggunakan pakaian cukup rapi. Begitu juga Nina, nampak Nina menggunakan sebuah dress merah muda. Bahkan pandangan Arlan, tidak bisa berpaling dari hal itu.
"Cantik banget istriku"
Nina nampak diam menanggapi hal itu, sambil fokus dengan make up nya. Sebenarnya Arlan sedikit terkejut, Arlan mengira Nina tidak bisa menggunakan make up.
Bahkan tak tahan melihat kecantikan Nina. Arlan berjalan mendekati Nina.
CUPP!!
Arlan langsung mencium pipi Nina. Yang sontak hal itu membuat Nina jadi terkejut. Meski sudah pernah melakukan hal itu beberapa kali, tetap saja Nina masih belum bisa terbiasa.
"Bisa gak, gak usah tiba-tiba nyium begitu?" Nina melotot kearah Arlan
"Aduh, gak bisa. Ini juga mau nambah lagi"
"Kalau kamu mendekat lagi, kita gak jadi berangkat"
"Ehhh. Iya iya, ini gak dekat lagi" Arlan menjauh dirinya
Setelah selesai dengan urusan berdandan. Kini saatnya untuk berangkat, ketempat tujuan. Arlan mengemudi mobil menjauh dan meninggalkan rumah. Dan tujuan kali ini adalah sebuah Mall.
"Kita ke Mall Mega" Ucap Nina
"Oke siap"
Mobil menuju kesebuah Mall, yang nampak begitu besar dan megah, Arlan dan Nina berjalan masuk menuju dalam Mall.
"Kita mau beli apa aja?" Tanya Arlan
"Lihat-lihat aja dulu. Tapi kita ketempat baju dulu"
Mereka berdua pun berjalan, kesebuah tempat yang menjual baju Pria. Dan di saat itu Nina nampak tengah sibuk memilih beberapa baju Pria.
"Ini kayaknya cocok" Nina membandingkan kearah tubuh Arlan
"Aku apa aja cocok kok"
"Yaudah aku belikan dress aja kalau gitu"
"Aku bercanda doang"
Setelah puas memilih dan membeli beberapa baju, kini Arlan dan Nina kembali berkeliling untuk membeli beberapa keperluan, saat Nina tengah sibuk belanja, Arlan nampak sedang pergi ke toilet.
Setelah beberapa menit kemudian, Arlan keluar, dan saat melihat Nina. Arlan nampak terkejut saat melihat Nina bersama dengan dua orang Pria.
"Boleh minta nomernya gak?." Ucap pria asing itu dengan tersenyum
Nina nampak terganggu dengan kehadiran orang-orang itu " gak bisa. Bisa gak kalian pergi?" Nina nampak melototi
__ADS_1
Kedua pria itu nampak mentertawakan ucapan Nina, dan bahkan salah satu pria berusaha menyentuh wajah Nina.
"Cantik-cantik gini gak boleh marah" saat tangan itu hendak menyentuh wajah Nina. Seketika Arlan langsung menggenggam kuat.
"Ngapain bang ganggu istri saya?."
"Lepasin tangan saya"
Tanpa memperdulikan perkataan itu, Arlan malah menggenggam kuat dan semakin keras. Yang sontak membuat pria itu teriak.
"Aghhhh... Sakit"
"Lepasin teman saya" ucap teman pria itu
Arlan langsung mendorong dan melepaskan tangan orang yang di genggamannya. Seketika pria tadi terjatuh tersungkur, sampai-sampai beberapa orang mentertawakan kejadian itu.
"Anj*nk sakit banget."
Melihat kejadian tadi, sontak membuat teman pria tadi memegang kerah baju Arlan.
"Brengs*k kamu mau mati?"
"Emang bunuh berapa orang kamu?." Arlan nampak mendekatkan dirinya
Seakan tak bisa berkata apa-apa, pria tadi nampak terintimidasi oleh gertakan Arlan.
"Kenapa diam?. Apa perlu kita selesaikan diluar?."
"Arlan udah." Nina nampak menarik Arlan
"Kamu gapapa kan?"
Arlan nampak tersenyum saat berbicara dengan Nina. Padahal barusan wajah Arlan sangat dingin dengan tatapan begitu tajam.
"Iya tenang aja. Udah kita kesana aja"
Puas berbelanja bahkan jalan mengelilingi Mall. Kini Arlan dan Nina kembali ke mobil, rasanya sudah cukup untuk kali ini. Jadi sudah waktunya pulang.
Saat di perjalanan dari kaca mobil, terlihat dua orang dengan motor sedang mengikuti. Seakan sudah terbiasa dengan hal itu, Arlan nampak tenang.
Bahkan mobil berjalan keluar dari jalur pulang, dan menuju kesebuah gang yang sepi.
"Ini kan bukan jalan pulang?."
"Udah kamu disini dulu, aku mau ngajarin seseorang"
Arlan memberhentikan mobil, dan segera keluar. Begitu juga dengan kedua orang tadi, yang ikut berhenti dan turun dari motor.
"Woy anj*nk. Berani juga ya?" Ucap salah satu pria turun dari mobil.
Arlan bahkan tak memperdulikan perkataan orang tadi, dan fokus melipat lengan bajunya.
__ADS_1
"Arlan" Nina nampak tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Kamu didalam aja. Tenang aja bakal selesai cepat"
"Kamu ngapain sih. Mending kita biarin aja mereka."
Arlan tak memperdulikan perkataan Nina, dan berjalan menghampiri kedua orang tadi, yang sepertinya sudah siap pula.
Sedangkan Nina tengah sibuk, menelepon beberapa pengawalan.
"Gak usah sok berani"
"Tau tuh, mau sok keren di depan cewek aja" keduanya nampak tertawa terbahak-bahak
"Ngomong terus dari tadi. Gak berani maju?." Arlan nampak memancing
"Bangs*t. Hari ini kubikin mati kamu!!."
Pria itupun langsung berlari menuju kearah Arlan, satu pukulan dilayangkan, namun dengan mudahnya Arlan menghindari hal itu. Pukulan kedua pun dilayangkan.
Arlan langsung memutar tubuhnya, dan menyerang menggunakan elbow nya. Dan serangan itu sukses mengenai wajah pria tadi, dan seketika membuatnya tersungkur lagi.
Melihat temannya yang terjatuh, pria kedua segera berlari untuk melayangkan pukulan kearah Arlan. Sama seperti tadi Arlan memutarkan tubuhnya dan melayangkan, tendangannya. Dan hal itu pun berhasil.
Sementara Nina didalam mobil, nampak panik dengan perkelahian yang terjadi. Dan lagi para pengawal Nina nampaknya perlu waktu beberapa menit lagi untuk sampai.
CRAKK!!!
Sebuah tusukan mengenai Perut Arlan, namun Arlan langsung melayangkan sebuah pukulan yang sangat keras, hingga membuat pria tadi pingsan.
Melihat Arlan yang tertusuk, sontak teman pria tadi pergi meninggalkan temannya yang sedang pinsan.
"ARLAN!!!." Nina berlari kearah Arlan
"Huhh...!" Arlan terduduk sambil memegang perutnya
"Arlan!!!. Perut kamu berdarah. Kita harus kerumah sakit." Nina nampak panik melihat genangan darah Arlan yang keluar begitu banyak.
Sedangkan anak buah Nina nampak baru sampai ketempat kejadia itu. Dan Arlan segera dibawa menuju rumah sakit, bahkan saat di mobil, Nina nampak memeluk tubuh Arlan, sambil menekan luka di perut Arlan.
"Tenang aja. Aku udah biasa" ucap Arlan dengan suara lemas.
Sementara Nina tidak bisa berkata apa-apa. Nina terus saja menangis, bahkan sampai membuatnya tak bisa berbicara.
Setelah beberapa kemudian, akhirnya telah sampai dirumah sakit, dan para perawat nampak berlari untuk segera membawa Arlan.
Nina diauruh untuk menunggu. Sedangkan para dokter tengah sibuk untuk memberikan pertolongan pada Arlan.
Butuh waktu sekitar satu hingga dua jam. Untuk proses tadi, diakibatkan Arlan yang mengalami pendarahan hebat.
"Gimana Dok?." Seorang Dokter baru keluar dari ruangan Arlan
__ADS_1
"Kondisinya sangat lemah, apalagi tadi mengalami pendarahan hebat. Jadi kalau saja gak cepat ditangani, bisa aja pasien mati, dikarenakan kehabisan darah"
Dikarenakan Nina telah diizinkan untuk melihat Arlan. Nina segera masuk. Arlan nampak terbaring lemas di atas ranjang.