Menikah Dengan Wanita Berhati Dingin

Menikah Dengan Wanita Berhati Dingin
perawatan dari Nina


__ADS_3

"uhuk-uhukkkk" Arlan batuk dengan keadaan terbaring di atas ranjang.


"Hari ini istirahat aja yang cukup" Nina duduk di samping Arlan


"Aku... Gak bisa... Aku bakal mati, kalau kamu tinggalin aku" jawab Arlan dengan tubuh lemas


"Iya tau, aku juga, gak jadi kerja"


"Sayaaaang...." Ucap Arlan manja


"Bisa gak ngomongnya biasa aja, geli dengarnya" Nina nampak kesal


"Aku cinta.. UHUKKKK" Batuk melanda


"Tunggu sebentar aku ambilkan obat dibawah"


Nina pun beranjak pergi, untuk mengambilkan obat untuk Arlan. Dan beberapa saat kemudian Nina datang, sambil membawa segelas air putih.


"Nih obatnya diminum"


Arlan segera duduk, dan meminum obat yang diberikan Nina


GLUK, GLUK, Suara tegukan Arlan


"Makasih Sayang" Arlan tersenyum manja


"Ya udah sekarang tidur, biar cepat sembuh"


"Gak bisa... Rasanya aku gak bisa," Arlan menggelengkan kepala


"Gak bisa gimana?"


"Gak bisa, kalau tidurnya gak dipeluk sama kamu"


"Lagi sakit, masih aja macem-macem"


"Aku serius, aghhhh.. kepalaku rasanya mau pecah"


Melihat Arlan yang merengek seperti anak kecil, akhirnya dengan terpaksa Nina menuruti keinginan Arlan.

__ADS_1


"Y-yaudah sini baring, aku peluk"


Arlan segera berbaring, dan disusul dengan pelukan dari Nina, Arlan nampak senang mendapati dirinya dalam pelukan Nina. Hingga Arlan menggoyangkan kepalanya kek kanan, dan ke kiri, di dada Nina.


"Bisa diam gak?. Kalau gak diam gak usah minta peluk"


"Ehh.. jangan-jangan"


Wajah Nina terlihat memerah. Namun untungnya Arlan tidak melihat raut Nina yang merah, apalagi rasanya Nina belum pernah memeluk Arlan. Kebanyakan malah Arlan yang memeluk Nina.


Seharian penuh, dilakukan Nina untuk merawat Arlan. Bahkan saat Nina duduk hingga makan pun, Arlan selalu menempel disisi Nina.


"Kamu kenapa sih, nempel terus dari tadi"


"Aku gak mau jauh dari kamu" Arlan memeluk tangan Nina


Rasanya ada yang berbeda dengan sikap Arlan. Yang biasanya sikapnya lebih dewasa walau sedikit konyol. Namun kali ini sikapnya begitu manja, seperti anak kecil


TING TING Suara bel berbunyi


Dikarenakan buk Siti tengah berbelanja, jadi terpaksa Nina harus membukakan pintu, dan saat Nina berjalan kedepan pintu pun, Arlan masih menempel dengan Nina. Pintu pun akhirnya dibuka


"Pesanan siapa ya?" Nina bingung


"Pesanan aku" Arlan berkata tanpa memandang kedepan


Akhirnya Nina pun membayar pesanan itu, bahkan saat membayar pesanan, terlihat pria yang mengantarkan pesanan Arlan nampak bingung, melihat Arlan yang begitu lengket dengan Nina.


Setelah pembayaran selesai pria itupun pergi meninggalkan rumah.


"Asemm. Enak benar masnya" ucap pria itu sambil mengendarai motornya


Nina pun kembali berjalan menuju sofa, dan masih tetap sama, Arlan masih memeluk tangan Nina.


"Katanya sakit?. Tapi kok beli es krim sama burger gitu?."


"Sakit-sakit begini, tetap bisa lapar" Arlan sambil memakan pesanan tadi


"Tetap aja, makan yang begitu, apalagi es krim. Ntar yang ada nambah sakit"

__ADS_1


"Tenang aja, ntar juga sembuh"


Nina hanya pasrah, dan membiarkan Arlan, memakan habis es krim dan burger yang ia pesan.


"Aghhh... Pusing"


Setelah puas memakan pesanan tadi, Arlan langsung berbaring di paha Nina.


"Tidur di kamar sana!"


"Aduh... Gak bisa, lebih enak baring di pangkuan kamu"


"Kebanyakan Alasan."


"Nin..." Arlan terhenti sambil memandangi Nina


"Hmmm?." Nina menatap Arlan


"Aku Cinta sama kamu" Arlan tersenyum


"Iya,, tau kok" Nina mengalihkan pandangannya


"Kamu?."


"Aku kenapa?" Nina nampak penasaran


"Kamu cinta juga sama aku gak?."


Wajah Nina nampak merona, bahkan Nina sampai mengalihkan pandangannya ke berbagai sisi. Nina nampak malu untuk membalas perkataan itu.


"Iya"


"Iya apa Nin?." Arlan memegang pipi Nina


"Iya aku juga Cinta..."


Arlan tidak membalas, ia hanya tersenyum. Hingga perlahan terlelap tidur, kondisi badan yang sedang sakit, membuat Arlan menjadi lelah, dan mengantuk.


Pesona sore begitu indah. Burung berkicau dengan riang, angin berhembus kencang. Perlahan dan perlahan, rasa cinta kedua insan, nampak nyata.

__ADS_1


Setelah seharian istirahat. Kini Arlan telah sembuh dari sakitnya, seperti biasa Arlan nampak tengah sibuk olahraga. Begitu juga dengan Nina, yang tengah sibuk dengan laptopnya.


__ADS_2