
Malam sangat larut, hari itu membuat Nina cukup lelah dikarenakan banyak pekerjaan seperti rapat, dan bertemu dengan beberapa klien
Saat memasuki rumah suasana sudah sepi, dan sepertinya Arlan sudah tertidur, Nina berjalan menuju dapur dan sesampainya di dapur Nina terkejut melihat banyak masakan.
Di tengah memandangi masakan itu Nina di kejutkan dengan kedatangan buk Siti di belakangnya
"Eh buk Siti, belum tidur?"
"Tidur kok Non cuma kebetulan aja tadi dengar suara mobil Non pulang kerja"
"Iya buk, hari ini Nina banyak kerjaan jadi pulangnya malam"
"Oh iya buk, ini kok masakannya banyak banget ya?" Tanya Nina sambil memandangi semua makanan
"Itu tadi Suami Non yang masak, dia dari tadi nungguin Non Nina pulang, terus karena lama jadi dia tidur"
"Gitu ya,, Arlan ada makan gak buk?"
"Gak ada deh, soalnya habis masak dia duduk di depan teras, terus karena lama dia langsung tidur"
Mendengar itu Nina seketika diam, yang ia pikirkan kenapa Arlan belum makan, apa ia kenyang? Atau ia memang menunggu Nina.
"Yaudah Non dimakan udah dimasakin sama suami tuh, saya mau kembali kekamar, nanti kalau perlu panggil aja ya Non"
Nina pun hanya mengiyakan perkataan Buk Siti, dan setelah buk Siti kembali Nina langsung duduk untuk makan, sebenarnya Nina ingin membangunkan Arlan tapi dikarenakan malam sudah larut Nina merasa tidak enak
Jadi Nina memutuskan untuk makan sendiri. Dan beberapa saat kemudian setelah Nina selesai makan ia kembali menuju kamar, dan sesampainya di kamar Nina duduk di kasur sambil memandangi Arlan yang tertidur pulas.
Perlahan saat menatap Arlan yang tertidur jantung Nina berdetak kencang, semakin lama ia menatap Arlan semakin cepat pula jantungnya berdetak
Karena merasa tidak enak Nina segera tidur meski jantung nya berdebar kencang "Makasih" Ucap Nina sambil memandang wajah Arlan.
-------------------------------------------------
Pagi kembali dan seperti biasa orang-orang melakukan aktivitas mereka kembali, sementara Arlan yang masih tidur tidak tau bahwa Nina di sampingnya menatapnya dengan tajam, terlihat Nina memegang ponsel Arlan
Dan di ponsel itu terdapat pesan dari seorang wanita bernama Yani yang bertulis "Selamat Pagi Mass!".
Melihat pesan itu Nina sempat berpikir apakah Arlan selingkuh?, namun disisi lain ia tak bisa asal menuduh Arlan, entah kenapa saat itu perasaan Nina begitu sakit Nina tidak tau ada apa dengannya bahkan ia tidak tau kenapa ia kesal.
Setelah beberapa saat Arlan pun bangun dan saat melihat Nina sudah tidak ada di sampingnya Arlan hanya berpikir mungkin Nina sudah kembali bekerja, Arlan pun bangun dan berjalan menuju dapur
Sesampainya di dapur terlihat Nina yang masih menggunakan baju tidur sedang meminum secangkir kopi, dan sambil fokus ke layar laptopnya
"Kamu gak berangkat kerja?"
"Emang kenapa kalau enggak?" Sambil terus fokus ke layar laptop
"Enggak aku cuma nanya aja gitu"
Entah kenapa setelah melihat pesan di ponsel Arlan, mendadak Nina tidak ingin pergi kekantor, entah alasan apa Nina pun juga bingung
"Kamu mau makan apa?" Arlan pun bersiap ingin memasak
"Gak aku kenyang"
"Emang kamu udah makan?"
__ADS_1
"Belum" jawab Nina singkat, melihat itu Arlan bingung ada apa dengan Nina kenapa hari ini tingkat cueknya Nina sangat tinggi
Saat Arlan bingung buk Siti pun datang kedapur untuk memasak makanan"Non mau makan apa hari ini biar saya masakin?"
"Masak Ayam pedas buk"
Mendengar itu Arlan terkejut padahal tadi saat ia menawarkan ingin makan apa Nina malah menolaknya, dan saat buk Siti yang menawarkan Nina malah mau
"Loh tadi aku tawarin katanya gak mau?"
"Terserah"
Nina pun beranjak pergi meninggalkan Arlan dan buk Siti di dapur, melihat itu buk Siti segera bertanya perihal apa yang terjadi antara mereka, namun Arlan menjelaskan bahwa kemarin semuanya baik-baik saja.
"Kayaknya Non Nina lagi kesal tuh"
"Emang dia kesal kenapa buk?"
"Ya mana saya tau, coba sana tanyakan baik-baik, kalian kan suami istri jadi usahakan untuk saling memahami"
Mendengar itu Arlan segera bergegas menuju kamar, untuk menemui Nina, dan sesampainya di kamar Arlan segera bertanya pada Nina tentang apa yang salah padanya
"Emm... Kamu kenapa?" Arlan duduk di samping Nina di atas kasur
"Aku gapapa, udah sana jangan ganggu aku sibuk"
Melihat itu sudah pasti ada apa-apa dengan Nina namun karena Arlan bukan tuhan jadi ia tidak tau apa alasan Nina marah padanya.
"Yaudah, kalau gapapa aku mau jualan dulu?" Saat Arlan hendak beranjak pergi seketika Nina menatap tajam Arlan
Mendadak Arlan kembali duduk dikasur dengan semakin bingung Arlan pun segera memutar otak, dan dari perkataan Nina yang seolah-olah Arlan ingin bertemu seseorang.
"Ketemu siapa?"
"Ya ketemu gitu, bisa aja sama perempuan simpenan kamu"
Di tengah rasa cemburu itu, Nina masih saja bersikap dan berekspresi dingin seolah-olah ia tak merasa apa-apa
"Oh... Hemm.... Gitu..." Seketika Arlan tersenyum sambil mendekatkan wajahnya pada Nina
"Bisa jauh gak?"
"Kamu cemburu ya Hem...." Melihat sikap Nina membuat Arlan tidak tahan dan mengelus-elus pipi Nina
"Kamu cemburu sama siapa emang?"
"Siapa yang cemburu, gak usah ganggu pergi sana" sambil menepis tangan Arlan
"Terus kalau gak cemburu kenapa?, Kalau gak jujur aku cium loh"
Melihat wajah Arlan yang semakin mendekat seketika Nina langsung mendorong wajah arlan. "Apaansih, jangan dekat-dekat "
"Ya terserah lagian udah halal kok, sini cium ututu"
Melihat Arlan yang semakin menjadi-jadi Nina pun segera berdiri ingin pergi dari kamar, belum sempat melangkah menjauh Arlan segera menarik Nina, yang sontak membuat Nina terjatuh di pangkuan Arlan.
"Jangan aneh-aneh ya aku bakal teriak nih" ucap Nina mengancam Arlan
__ADS_1
Bukanya takut Arlan malah memeluk Nina yang terduduk di pangkuannya Nina berusaha melawan namun tubuh besar Arlan membuat Nina tak berdaya di pelukan Arlan.
"Ya kalau mau teriak silahkan, lagian siapa yang bakal dengar, buk Siti di bawah kan lagi masak lagian mereka gak akan khawatir karena tau kita sudah menikah, palingan mereka mikir kita lagi uh- ah-uh -ah
Mendengar perkataan Arlan membuat pipi Nina memerah, bahkan ia bisa merasakan detak jantung Arlan, pelukan Arlan yang begitu erat membuat Nina tidak bisa bergerak
"Kamu mau apa sih, cepetan lepasin"
"Gak mau sebelum kamu kasih tau alasan kamu marah"
"Siapa yang marah sih, cepetan lepasin"
Melihat Nina yang tidak mau jujur seketika membuat Arlan gemas melihatnya, dan seketika Arlan langsung mencium leher belakang Nina yang membuat nya terkejut
"Ih.. kamu ngapain jangan cium-cium sembarangan "
"Kan udah ku bilang kalau gak jujur aku cium"
Seketika bekas ciuman Arlan meninggalkan bekas di leher Nina, bekas itu nampak sangat jelas di leher putih Nina, sementara Nina yang merasa tubuhnya seperti terbakar setelah lehernya di cium Arlan membuatnya gelisah.
"Sekarang jujur kamu cemburu sama siapa?" Ucap Arlan sambil mengendus-endus leher Nina
"Aku gak-" Belum sempat Nina menyelesaikan ucapannya Arlan kembali mencium leher Nina yang membuat lehernya mempunyai dua bekas.
"Agh... Apaansih jangan cium lagi,"
"Haha... Baru dua kalau kamu gak jujur bisa di tambah sampai semua leher loh, terus nanti kalau kerja bisa di lihat banyak orang loh"
Mendengar itu Nina tidak punya pilihan lain selain jujur, dengan Arlan alasan kenapa ia marah pada Arlan
"Tadi pagi, aku gak sengaja chat kamu sama perempuan namanya Yani, ditambah kelihatannya kamu suka sama dia"
Di saat mengatakan itu entah kenapa perlahan air mata Nina menetes, dan mulai membasahi pipinya Nina tidak tau kenapa hatinya begitu sakit dan mengapa rasanya begitu marah saat melihat pesan Arlan yang akrab dengan Yani.
"Jadi kamu cemburu karena itu... Nih ku kasih tau, Yani itu pelanggan aku, terus kenapa aku punya nomor dia ya karena dia yang ngasih, soalnya biar ntar kalo jualan dia tinggal chat aja kalau mau beli gitu"
"Ya alasan aku akrab gitu, juga gak ada maksud lain, aku cuma pengen akrab sama pelanggan aja mau itu pelanggan cowok atau cewek"
Mendengar itu Nina hanya tertunduk diam, rasanya ia tak sanggup menatap Arlan bahkan dalam benaknya ia mengutuk dirinya sendiri
Tanpa ia sadari, hubungan antara Nina dan Arlan sudah semakin menanjak kelevel yang jauh, dari hanya perasaan biasa hingga mulai tumbuh perasaan luar biasa.
-------------------------------------------------
Di kediaman keluarga Rifan
"Bisa gak kamu jangan pegang-pegang"
"Rifan... Aku ini tunangan kamu emang kenapa sih"
"Aku gak pernah setuju ngerti, lagian pertunangan kita juga atas dasar paksaan papah"
"Tapi kamu harus tau Rifan, syarat untuk jadi pewaris ya kamu harus nikah sama aku, di tambah kalau kamu nolak mungkin warisan bakal dikasih..."
"Cukup Rani, oke oke aku ngerti gak usah dijelasin lagi"
Setelah perbincangan tadi seorang pembantu datang dan mengatakan kalau Rifan di panggil oleh ayahnya, sebab ada hal yang harus dibicarakan dengan Rifan.
__ADS_1