
Hari ini Arlan dan Nina berencana untuk mengunjungi butik Carla, keduanya nampak sudah begitu rapi, segera setelah itu mereka segera berangkat menuju lokasi butik yang di beritahu Carla.
Perjalanan hanya sebentar, dari kejauhan butik itu nampak sudah terlihat, Arlan segera menuju butik tersebut.
Setelah selesai parkir mobil, Carla nampak tengah menunggu di depan butik, dan segera berjalan menuju arah Arlan dan Nina.
"Akhirnya datang juga..." Carla berjalan mendekat
"Iya... Kirain tadi jauh betul lokasinya, ternyata gak sampai 15 menit"
"Yaudah, yuk masuk dulu"
Carla mengajak keduanya untuk masuk, segera setelah masuk keduanya nampak di sambut hangat oleh beberapa pekerja.
Carla membawa keduanya, kedalam ruangannya, dari samping ruangan terdapat sebuah kaca tembus pandang, hal itu di gunakan Carla untuk memantau butiknya dari dalam ruangan.
Kaca tersebut hanya bisa dilihat dari sisi dalam saja, sedangkan dari sisi luar, orang-orang hanya seperti melihat dinding kosong saja.
"Jadi gimana?" Tanya Carla
"Bagus.. Aku gak nyangka ternyata kamu mau ngejalanin butik"
"Ya gitu, semua manusia bisa berubah kok"
Di saat keduanya tengah berbincang, Nina mendadak mendapatkan sebuah panggilan.
"Aku keluar dulu ya"
Arlan hanya mengangguk, Nina segera bergegas keluar meninggalkan Arlan dan Carla berdua, seperti biasa Arlan masih tidak tau siapa yang tengah menelepon Nina.
"Istri kamu kelihatannya sibuk"
"Iya maklum"
__ADS_1
"Oh iya, gimana selama ini kamu sama istri kamu?"
"Baik-baik aja, kenapa emang?"
"Enggak, aku cuma nanya aja"
"Kalau gak salah dengar, kamu mau di jodohkan ya?"
Carla diam, padahal Carla tidak pernah memberi tahu Arlan tentang itu.
"Kamu tau dari mana?"
"Dari Ikmal, kemarin dia nelpon aku"
"Emmm, gitu ya, ya emang gitu, tapi aku nolak"
"Nolak kenapa?, Apa kamu gak ngerasa cocok?"
"Kalau kamu mau nya begitu, jadi gimana?, Kalian gak jadi nikah gitu?"
"Aku sih emang nolak, tapi kayaknya Ayah, bakal tetap nyuruh aku untuk nikah"
Arlan hanya diam, baginya tidak etis rasanya mencampuri urusan orang lain, di tambah hal itu menyangkut keluarga.
Dari dalam ruangan, Nina terlihat sudah selesai dengan urusannya, dan kembali berjalan ketempat Arlan.
"Udah selesai?" Tanya Arlan
"Iya, tadi cuma telpon dari om aku kok, dan juga kayaknya kita gak bisa lama-lama"
"Kenapa?, Kamu ada kerjaan?"
"Katanya Om Rian mau ketemu sama kamu"
__ADS_1
"Ada urusan penting?"
"Aku gak tau, nanti kalau ketemu aja kamu tanyakan, sekalian kamu kenalan"
"Oh iya. Maaf ya Carla, kayaknya gak bisa lama, ada urusan mendadak"
"Iya santai aja, nanti kalau udah gak sibuk datang aja"
"Iya nanti kalau udah gak sibuk"
Arlan dan Nina segera keluar meninggalkan butik, sementara Carla mengantarkan keduanya sampai depan butik, menuju tempat parkir.
"Yaudah ya, aku pamit dulu"
"Iya hati-hati"
Mobil berjalan, Carla hanya melihat mobil itu yang sedang menjauh.
Mobil kali ini bergerak ketempat yang begitu asing bagi Arlan, sebuah rumah yang begitu besar dan mewah.
"Ini rumahnya?" Tanya Arlan
"Iya masuk aja"
Pagar terlihat di buka oleh seorang penjaga, mobil pun bergerak masuk, dan setelah itu, keduanya segera keluar dari mobil.
"Yaudah yuk masuk" ajak Nina
"Kamu udah sering kesini?"
"Iya dulu"
Arlan segera berjalan menuju dalam, untuk menemui seseorang yang bernama Om Rian, yang sering di bicarakan Nina, namun belum pernah Arlan lihat.
__ADS_1