Menikah Dengan Wanita Berhati Dingin

Menikah Dengan Wanita Berhati Dingin
Pertemuan dengan Lora


__ADS_3

Pagi itu cukup cerah, jam menunjukkan pukul 07:38 Nina sudah berangkat bekerja sementara Arlan sedang sibuk menyiapkan dagangannya, hari itu Arlan cukup bersemangat, karena hari ini ia akan berdagang kembali setelah beberapa hari tidak berdagang karena mengurus Nina yang sedang sakit.


Seperti biasa Arlan beranjak pergi meninggalkan rumah untuk mulai berdagang, ia mendorong gerobaknya menjauh dari rumah dan berjalan menjauh sambil mendorong gerobaknya


Dari kejauhan sebuah mobil terlihat sedang mengikuti Arlan, orang yang mengikuti itu adalah Lora dan supirnya akhirnya hari dimana Lora bisa melihat Arlan tiba.


"Jadi itu yang nakanya Arlan?"


"Sepertinya ia Nona, karena yang saya dengar ia berjualan nasi goreng" sambil fokus menyetir mengikuti Arlan


"Padahal dilihat dari penampilannya biasa aja, kok bisa Nina suka sama orang kaya dia?"


Pemberhentian pertama Arlan adalah tempat seorang wanita bernama Yani, terlihat Yani sudah menunggu Arlan di depan rumahnya


"Mass Arlan sini...!" Sambil melambaikan tanganya


Gerobak pun didorong menuju arah Yani


"Nasi goreng lagi?"


"Iya kaya yang waktu itu lagi dua porsi"


"Siap!"


"Mas kok lama gak jualan? Apa mas lewatin rumah saya?"


"Eh enggak kok, saya ada kesibukan aja kebetulan makanya gak dagang beberapa hari"


Mendengar itu Yani hanya bisa memahami saja walau sebenarnya ia penasaran, selagi Arlan sibuk menggoreng Yani sibuk memandang Arlan yang sepertinya menikmati waktu memasaknya.


"Oh iya mas tinggal dimana? Kalau boleh tau sih hehe"


"Saya juga tinggal di komplek ini kebetulan"


Mendengar jawaban dari Arlan Yani hanya bisa bingung, soalnya kompleks ini merupakan kompleks perumahan elite, hampir semua yang tinggal disini adalah orang kaya.


Yani berpikir kalau Arlan sebenarnya adalah orang kaya yang sedang menyamar mungkin.


"Oh ya?, Jadi mas disini juga"


"Iya, oh ini udah siap nasi gorengnya"


Arlan pun segera memberikan nasi goreng itu kepada Yani, seperti biasa Yani memberikan Arlan bonus kembali, namun bukan hanya bonus.


"Eh, Mas saya boleh lebih kenal gak?"


"Boleh boleh"


Dengan wajah malu-malu Yani pun menyodorkan Hp nya ke arah Arlan


"Eh?, Kenapa Hp nya?"


"Boleh minta nomornya gak?, Biar lebih kenal aja gitu"


"Oh iya boleh" akhirnya Arlan pun memberikan nomornya kepada Yani tanpa ragu sekalipun, Arlan hanya berpikir mungkin saja Yani ingin memesan nasi goreng tanpa harus memanggilnya.


"Nih udah"

__ADS_1


"Makasih nanti aku chat langsung save aja ya"


Setelah pertukaran nomor itupun Arlan lanjut berdagang kembali, sementara itu Lora yang dari tadi masih mengikuti berinisiatif untuk bertemu langsung dengan Arlan


Mobil pun berjalan melewati Arlan agak jauh lalu Lora turun dari mobilnya sendiri menghampiri Arlan


"Mau beli?" Tanya Arlan melihat Lora yang berdiri di depanya


"Eh i-iya" Seketika Lora kaget saat Arlan bertanya tadi, bagaimana tidak Lora belum menyiapkan perkataan apa yang akan ia katakan saat bertemu Arlan


"Um... Nasi gorengnya pedas apa enggak mbak?" Tanya Arlan sambil memandang Lora


Mendengar itu Lora hanya tiba-tiba refleks menjawab pertanyaa Arlan"Pedas, pedas"


"Oh, oke siap, mbak nya duduk dulu ya"


Arlan pun meletakkan kursi plastik dari gerobaknya di dekat Lora dan tanpa basa-basi Lora pun langsung duduk


"Aduh... Kok malah jadi orang bego gini sih..." Ucap Lora dalam benaknya.


"Mbaknya dari mana?, Orang sini ya?"


"Eh, itu saya kebetulan aja lewat kok"


"Oh gitu, ini nasi gorengnya mau di bungkus atau makan disini?"


"Um..makan disini aja"


Sebenarnya Lora tidak berniat makan nasi goreng itu bahkan berlama-lama disitu, dikarenakan ia masih penasaran dengan Arlan akhirnya ia terpaksa disitu lebih lama.


"Nih nasi gorengnya, masih panas" sambil memberikan Nasi itu pada Lora


Lora pun refleks menaruh piring nasi goreng itu ke gerobak Arlan kembali


"Gak ada mbak, lagian gak terlalu panas kok megang piringnya"


"Ini panas banget loh serius"


Melihat Lora yang kepanasan sambil meniupkan tangannya Arlan hanya bisa geleng-geleng dan Arlan pun mengambil satu kursi plastik satu lagi


"Nih taruh disini aja piringnya"


"Emmm.. capek masa makanya harus bungkuk, mana rendah lagi nih kursi nya"


Melihat itu Arlan mengangkat piring nasi itu lalu Arlan pun duduk di kursi plastik itu sembil mengarahkan nasi goreng itu ke arah Lora


"Nih saya pegangin aja mbak, cerewet benar mbaknya"


Melihat Arlan duduk di depannya sambil memegang nasi goreng itu seketika membuat Lora yang tadinya mengoceh terdiam sejenak.


"Gak di makan?" Perkataan Arlan membuat Lora yang terdiam kembali bergerak


"I-iya, dimakan"


Sambil melahap makanan sesendok demi sesendok Lora hanya bisa diam menikmati nasi goreng itu, namun mendadak kenikmatan itu berubah jadi neraka.


"Agh... Panas" sambil mengipasi mulutnya

__ADS_1


"Ya.. tadi kan pesan yang pedas wajar lah"


"Pedas...!! Ah.. pedas"


Melihat Lora yang merengek kepedasan akhirnya Arlan pun mengambilkan minuman dingin dari gerobaknya "Nih minum"


Tanpa basa-basi Lora segera meminum habis air yang diberi Arlan sampai membuat wajahnya basah hingga mengenai bajunya.


"Huh... Pedas banget gila"


"Udah mendingan?, Nih tisu"


"Sedikit, ini rasanya mulut kaya berdetak"


"Lagian gak tahan pedas ngapain dipesan"


Lora hanya diam sambil mengelap bibirnya dengan tisu


"Nih uangnya" sambil membe uang 100 ribu


"Gak ada uang kecil lagi?"


"Huh.. emangnya berapa harganya sih"


"15k doang itu ada gak"


Mendengar harga nasi goreng yang sangat murah membuat Lora terkejut, bagaimana enggak lora selama hidupnya kalau jajan ya ke rumah makan mahal nan mewah.


"Serius nasi goreng seenak ini 15k walau pedas sih"


"Iya serius mbak"


"Yaudah lah ambil aja nih anggap aja bonus karena enak, walau pedas"


"Ya kalau gitu saya gak nolak, makasih"


Akhirnya Lora pun kembali kedalam mobil dan bersiap untuk kembali pulang


"Kenapa Nona?, Kok bajunya basah gitu?" Tanya supir


"Udah gak usah banyak tanya, cepat bawa mobilnya pulang"


Akhirnya Supir itu hanya bisa menurut dan kembali pulang, dan disisi lain Lora tak bisa berhenti memikirkan kejadian tadi apalagi saat Arlan duduk didepannya sambil memegang kan piringnya


"Iya sih ganteng... Tapi dari penampilannya biasa aja, apa jangan-jangan Nina suka sama dia karena perhatian?, Kayaknya kita bakal ketemu lagu"


-------------------------------------------------


Sementara itu di kantor Nina sibuk dengan pekerjaannya, hari itu ia bekerja ekstra untuk menyelesaikan semua pekerjaan, bahkan ia sampai tidak melihat jam sudah menunjukkan pukul 7malam.


Sementara ia sibuk dengan pekerjaannya disisi lain Nina tidak bisa berhenti mengingat bagaimana Arlan yang begitu baik mengurusi nya saat sakit kemarin


"Kira-kira dia lagi ngapain ya?"


Malam itu Arlan duduk di depan rumah sambil menunggu sesuatu, bahkan makanan yang ia masak pun belum ia makan sama sekali


"Dia kok lama ya?, Apa biasanya emang begini?"

__ADS_1


Malam itu angin begitu lembut, bintang sangat terang entah kenapa saat duduk merenung menunggu Nina pulang Arlan teringat kenangan bersama keluarganya


"Arlan kangen ibu..."


__ADS_2