Menikah Dengan Wanita Berhati Dingin

Menikah Dengan Wanita Berhati Dingin
bekerja


__ADS_3

Malam itu Nina tengah mengajari Arlan, tentang apa saja yang harus ia lakukan saat bekerja nanti. Mulai dari hal kecil hingga beberapa hal yang lebih besar, begitu juga dengan Arlan, ia mendengarkan penjelasan Nina dengan begitu serius.


"Ternyata cukup ribet juga ya?." Arlan mengehela nafas panjang


"Nanti juga terbiasa. Lagian gak ada yang instan, semuanya butuh proses."


"Meski ribet tapi kedengarannya simpel. Kan cuma kayak misal kamu butuh sesuatu informasi, berarti tugas aku, untuk ngurus hal itu?."


Mendengar Arlan yang cepat mengerti, entah kenapa Nina merasa bahwa Arlan akan cepat pula, untuk mengemban tugas yang lebih serius. Dan saat merasa semuanya telah selesai, Nina beranjak pergi untuk tidur.


"Nin.." panggil Arlan


"Kenapa?" Nina menoleh


"Kamu gak nyesal nikah sama aku?" Arlan memandang Nina


"Seharusnya aku yang ngomong gitu, bukan kamu" Nina pun pergi menaiki anak tangga


Setelah malam yang begitu singkat rasanya, hari telah sampai di pagi hari. Seperti biasa Nina selalu bangun paling dulu dari Arlan, bahkan Arlan terlihat masih menggunakan selimut di tubuhnya.


"Arlan bangun." Nina menggoyangkan tubuhnya Arlan


"Ehmmmm.. sebentar lagi"


"Gak ada nanti-nanti, hari ini kita mau berangkat sama-sama"


Mendengar hal itu, Arlan pun memaksa tubuhnya untuk bangun, dari rasa kantuknya. Arlan pun merenggangkan tubuhnya, matanya masih terlihat setengah tertutup, karena rasa kantuk.


"Buruan mandi, terus sarapan." Nina berlalu pergi meninggalkan Arlan


"Iya, hoaaammm."


Setelah berusaha melawan rasa malasnya, kini Arlan telah siap untuk mandi. Setelah mandi, Nina nampak telah menunggu di kamar.


"Nih pakai" Nina memberikan seragam kantor


Arlan segera memakai seragam itu, dan tidak lupa dibantu oleh Nina. Cukup sulit rasanya bagi Arlan untuk mengenakan pakaian serapi itu, wajar saja Arlan terbiasa menggunakan baju kaos putih biasa.


"Tangan rentangkan" Nina sambil merapikan seragam Arlan


"Sudah kaya CEO aja" Arlan meringis menghadap cermin


"Sini balik"


Arlan pun berbalik, sementara Nina merapikan dasi yang di kenakan Arlan. Di saat Nina sedang fokus, tiba-tiba Nina merasa hal lain. Apalagi saat tangan Nina menyentuh dada bidang Arlan, entah apa yang terjadi. Rasanya jantung Nina malah berdetak kencang


"Udah. Sisanya kamu aja yang rapiin"


"Tanggung banget." Cetus Arlan


"Aku nunggu dibawah, kalau sudah selesai cepat turun sarapan" Nina meninggalkan kamar.


Setelah selesai dengan urusan pakaian, Arlan pun menuruni anak tangga untuk bersiap sarapan. Dan buk Siti terlihat sudah bangun dan tengah bersih-bersih

__ADS_1


"Wisss.. Tuan Arlan ganteng banget" Ucap buk Siti yang tengah membersihkan debu


"Aghh... Buk Siti, tau aja kalau Arlan ganteng" Arlan nampak mengusap rambutnya dengan senyum tipis


"Udah gayanya nanti aja. Udah ditungguin Non Nina, tuh cepat makan"


Arlan pun melanjutkan jalannya, menuju meja makan. Dan Nina Sudah menunggu sedari tadi,


"Cepetan duduk, sarapannya dimakan"


"Oke siap, istriku tercinta".


Saat sedang sibuk menyantap makanan, tiba-tiba ponsel Nina mendapat telpon dari seseorang. Dan melihat itu Nina langsung menghentikan makannya untuk menjawab panggilan itu.


"Halo Om?" Jawab Nina


Nina pun menjauh dari meja makan, Arlan sebenarnya penasaran dengan siapa yang menelepon, namun Arlan berpikir mungkin saja teman kerja. Atau bisa saja kerabat Nina. Setelah beberapa menit menelpon akhirnya Nina kembali ke meja makan.


"Udah selesai?" Tanya Nina


"Udah. Ayok berangkat."


Arlan dan Nina pun bergegas menuju mobil, dan bersiap untuk berangkat. Dan gerbang dibuka oleh penjaga, mobil pun pergi meninggalkan rumah. Karena Arlan tidak tau, jalan menuju tempat kerja, jadi yang menyetir kali ini adalah Nina.


"Tadi yang nelpon siapa?" Arlan bertanya


"Om aku. Tadi cuma nanya kabar kamu" Nina fokus menyetir


"Emmm. Enggak cuma nanya basa-basi biasa. Udah gak usah dibahas".


Perjalanan menuju ketempat kerja, tidaklah terlalu lama. Dari rumah hanya berlangsung sekitar 25 menit, dikarenakan Nina berangkat pagi, jadi bisa terhindar dari macet.


Dan mobil pun memasuki area perusahaan, terlihat seorang satpam memberikan hormat kepada Nina. Setelah itupun Nina, dan Arlan keluar dari mobil.


"Intinya kamu ingat kan, apa yang aku ajarin tadi malam?" Nina mengambil tasnya dari dalam mobil


"Iya ingat kok"


"Bagus kalau gitu, yaudah sekarang kita masuk"


Nina pun berjalan memasuki gedung itu, sementara Arlan mengikuti Nina dari belakangnya. Dan saat Arlan berjalan Orang-orang melirik ke arah Arlan, apalagi melihat Arlan bersama Nina.


"Itu Suaminya, Boss Nina kan?" Ucap seorang karyawan wanita


"Kayaknya iya deh, soalnya aku pernah lihat"


Merasa dirinya dilihat banyak orang, membuat Arlan sedikit tidak nyaman. Bahkan saat melewati beberapa karyawan, Arlan tersenyum kepada mereka, dan berbeda hal nya dengan Nina. Yang merasa seperti bodo amat akan hal itu.


"Astaga Tuti... Dia senyum ke arah aku loh" salah seorang karyawan wanita kegirangan saat Arlan tersenyum padanya


"Ingat Is. Itu Suami Boss, mau kamu ntar di apa-apain" sambil membenarkan kacamatanya


Setelah itu, mereka berdua akhirnya sampai di ruangan Nina. Nina segera duduk di kursi kerjanya, sementara Arlan berdiri di samping Nina. Nina nampak memeriksa beberapa berkas, dan seperti memilih beberapa lembar kertas.

__ADS_1


"Nih bisa tolong di fotocopy, jangan sampai ada yang ketinggalan"


"Aku harus fotocopy dimana?"


"Minta aja sama karyawan diluar, ntar mereka fotocopy, kalau sudah antar hasilnya kesini"


"Oke. Cuma fotocopy doang"


Arlan pun, segera pergi dengan membawa berkas yang akan di fotocopy. Saat berjalan membawa berkas itu, pandangan beberapa orang masih tertuju pada Arlan.


"Mas bisa di fotocopy kan untuk saya?" Arlan memberikan berkas itu pada seorang Pria


"Bisa-bisa kok," Pria itupun mengambil berkas itu dan berjalan menuju mesin fotocopy.


"Masnya orang baru ya?" Tanya Pria itu


"Iya, saya pengganti asisten yang lama" jawab Arlan


"Nama saya Bagas." Bagas menjulurkan tangannya


"Nama saya Arlan"


Rasanya cukup senang, saat mendapatkan teman baru. Dengan begitu Arlan jadi tidak merasa sendiri.


"Mas Arlan kalau. Butuh sesuatu bisa bilang saya aja. Nanti saya bantuin"


"Makasih kalau gitu, saya senang juga dengarnya"


"Nih udah saya fotocopy," Bagas memberikan hasil fotocopy itu kepada Arlan


"Oke makasih. Saya anterin ini dulu kalau gitu"


"Siap, sama-sama"


Arlan pun berjalan kembali menuju ke ruangan Nina, untuk memberikan hasil fotocopy itu pada Nina. Dan saat masuk, Arlan melihat betapa seriusnya Nina dalam bekerja. Bahkan Nina sampai tidak menyadari kalau Arlan masuk ke ruangannya.


"Nih udah di fotocopy" Arlan meletakkan hasi fotocopy di atas meja Nina.


"Iya makasih" masih tetap fokus dengan pekerjaan


Seharian itu tidak banyak yang dilakukan Arlan, namun Arlan merasa senang, apalagi orang-orang di perusahaan tersebut sangat ramah pada Arlan. Hari itu Arlan habiskan untuk membantu Nina, dan berkenalan dengan beberapa Karyawan. Sebenarnya kata Nina hal itu hanya buang-buang waktu, namun tidak jadi masalah untuk Arlan.


Cukup lelah rasanya seharian bekerja, apalagi jadwal Nina hari ini begitu padat, dengan beberapa klien, untuk membahas beberapa kesepakatan. Bahkan hal itu membuat Nina jadi tidak punya waktu beristirahat. Melihat Nina yang sangat pekerja keras, sekali lagi membuat Arlan kagum.


Namun akhirnya hari yang melelahkan itu berakhir. Tepat saat sore menjelang Maghrib, akhirnya Arlan dan Nina bisa kembali pulang. Setelah selesai Arlan dan Nina menuju mobil, beberapa karyawan terlihat sudah pulang. Dan sebagian masih berada di perusahaan dikarenakan lembur.


"Aku aja yang nyetir mobilnya." Arlan membukakan pintu samping supir untuk Nina


Nina hanya mengangguk, menandakan ia sangat lelah hari ini. Sesudah Nina masuk, Arlan menutup pintu mobil, dan segera masuk kedalam mobil. Pada saat Maghrib jalanan cukup macet, jadi mungkin mereka akan sampai dirumah malam.


Tanpa memperdulikan keadaan, Nina nampak terlelap tidur. Namun saat melihat Nina yang tertidur lelap, Arlan seperti merasa bersyukur, karena dengan begitu, Nina tak perlu merasa jenuh dengan kondisi jalan yang macet.


"Apa kamu baru sekarang bisa, tidur sepulang kerja?. Kalau aku gak ada biasanya kamu gimana?. Pasti nahan ngantuk sampai rumah, apalagi kalau jalan macet gini." Arlan mengelus-elus kepala Nina yang tertidur.

__ADS_1


__ADS_2