
Kriiiiing! Kriiiinggg!
Bunyi alarm membangunkan vivi, dia meraih handpone nya, jam sudah menunjukan pukul 06.00.
Vivi ke kamar mandi melakukan ritualnya. Setelah itu sarapan roti dan susu.
Jam sudah menunjukan pukul 07.00 dia berangkat ke rumah sakit menjenguk adiknya sekaligus mengantar nya ke bandara. Sebenarnya dia ingin sekali mengantar Reva ke Amerika hanya saja vivi tidak bisa di karenakan dia harus bekerja, semuanya juga demi adiknya.
Setelah di bandara, kini giliran penerbangan yang Reva tumpangi berangkat. Vivi sangat berat melepaskan adik kesayangannya itu, dia terus menatap kepergian pesawat dari kejauhan.
"Hai Vi, kamu mau ke mana ?" Sapa Fendi yang menyapa Vivi di bandara.
"Ha- hai." Jawab vivi agak kaget.
"Gue kagetin kamu yah ? sorry habisnya kamu melamun. Kamu mau ke mana ?" Ujar Fendi mengulangi pertanyaannya tadi yang belum di jawab oleh Vivi.
"Antar adikku yang ke amerika. kamu sendiri ngapain di sini ?" Tanya Vivi bertanya balik sekedar basa basi.
"Dari singapur. Lagi tungguin sekertaris gue nih untuk menjemputku , tapi belum nongol nongol juga batang hidungnya." Ujar Fendi.
"Oh." Jawab Vivi ber oh ria sambil mengangguk tanda mengerti.
"Habis ini kamu mau ke mana ?" TanyaFendi.
"Yah palingan balik ke rumah." Jawab Vivi.
"Kebetulan kamu gak ada kegiataan mending ikut gue ke tempat makan, gue laper banget. Kamu pasti belum makan juga kan ?" Ujar Fendi mengajak.
__ADS_1
"Hmmmm." Vivi tampak berfikir, dia takut kalau di tempat makan vivi bertemu Rendy atau kerabat Rendy, bisa bisa Rendy marah besar karna di anggap merusak nama baik Bossnya itu karena jalan berdua bersama laki laki.
"Ayoo.l, gak usah banyak mikir." Ujar Fendi menarik tangan Vivi, sontak vivi kaget dengan perlakuan Fendi. Jantungnya berasa berdetak tak beraturan, iyah vivi masih menyukai Fendi walaupun hubungannya dengan Fendi sudah lama kandas tapi dia masih menyimpan rapi kenangan saat bersama dengan mantan kekasihnya itu.
Fendi memesan Taxi menuju sebuah Restoran.
Vivi melupakan perjanjian kontraknya dengan Rendy dia hanya merasa bahagia karna Fendy terus menggenggam tangannya.
Setelah sampai Fendi turun darj taxi dan membukakan pintu mobil buat Vivi ala putri. Vivi hanya tersenyum dengan tingkah romantisnya Fendi.
"Silahkan tuan putri." Ujar Fendi sambil menjulurkan tangannya berharap Vivi meraihnya.
"hehhehe, kamu lebay deh." Ujar vivi sambil menerima juluran tangan Fendi.
Fendi menarik dan memperbaikki posisi kursi dan mempersilah kan Vivi duduk. Vivi hanya tersenyum menerima perlakuan Fendi, dia sangat mendambakan perlakuan ini dari dulu, dan dia sangat bahagia karna dia adalah Fendi cinta pertamanya, dan dia masih menyimpan rasa.
Fendi kemudia memesan kesukaan Vivi, seafood kesukaan Vivi, alangkah bahagianya Vivi karna Fendi masih mengingat makanan kesukaannya.
"Em. Ngomongin apa, sepertinya sangat serius ?"ujar Vivi, Vivi deg degkan dengan apa yang akan Fendi katakan apa lagi tangan nya di pegang.
"Gue masih sayang sama lo. Aelama ini gue belum bisa move on, gue harap lo mau memberi gue kesempatan. Kita memulai hubungan kita dari awal." Ujar Fendi sambil menatap Vivi penuh harap.
Deg! Deg! Deg!
Jantung vivi berdetak tak beraturan, dia menghentikan aktifitas makannya. Sebenarnya dia sangat senang hanya saja dia tadak bisa menerima menerima cinta Fendi, bukan tanpa alasan hanya saja keadaannya sangat tidak memungkinkan. Baru saja vivi ingin berbicara tiba tiba dia di kagetkan dengan suara yang tidak asing lagi baginya, yah karnya akhir akhir ini dia sering mendengarnya.
"Vivi kamu ngapain di sini ?" Ujar Rendi mendahului pembicaraan vivi.
__ADS_1
"Saya tidak sengaja bertemu dengan teman SMA, jadi aku ngobrol bentar." Ujar Vivi menyembunyikan ketakutannya. Yah dia takut kalau Rendy marah besar dan membatalkan kontak perjanjiannya.
"Vivi siapa dia ?" Ujar Fendi bertanya tampak kebingungan karna dia tau betul kalau yang di depannya bukan keluarga vivi. Karna Fendi mengenal cukup dekat keluarga vivi.
"Dia, pacar saya." Ujar vivi tampak merasa tidak enak dengan Fendi dan ketakutan dengan tatapan sinis Rendi.
Fendi tampak kaget mendengar perkataan Vivi, ada rasa kecewa dan sakit mendengarnya. Sebenarnya sih Fendi sedah menduga kalau Vivi tidak mungkin masih sendiri. Setelah dia meninggalkan vivi dengan waktu yang cukup lama tanpa memberikan kabar dan kepastian, semua itu salahnya yang menyianyiakan wanita cantik dan baik yang berdirindi hadapannya.
"Ayo kita pulang, saya antar kamu pulang." Ujar Rendi tampak mengatur emosinya, sambil melangkah keluar restoran menuju parkiran yang di susul Vivi dari belakang.
Di perjalanan pulang seperti biasa tidak ada suara hanya saja sekarang berbeda, Vivi merasakan kalau Rendi bakalan marah.
Dalam hati vivi mengutuk dirinya.
Sesampainya di apartemen Rendi, dia menarik tangan vivi keluar dan menariknya ke dalam apartemen dengan kasar. Vivi tampak kesakitan karna Rendi menggenggam tangannya cukup erat yang membuat bekas merah di pergelangan tangan putih fan mulus itu, di tambah lagi Vivi tampak sempoyongan mengikuti langkah kaki panjang milik Bossnya karna dia sedang memakai high hells yang lumayan tinggi.
"kamu sudah lupa yah dengan posisi kamu ? oh atau jangan jangan kamu mau mengingkari perjanjian kita karena kamu sudah mendapatkan mesin uang baru. kamu yah sama aja tau gak dengan perempuan di luar sana." Ujar Rendi dengan berapi api.
Vivi hanya menangis tidak kuat dengan kata kata kasar dari Bossnya, dia tidak bisa bicara serasa mulutnya terkunci. Vivi memang kuat tapi dia tidak bisa menahan air matanya jika dia di bentak bentak.
Vivi tidak kuat lagi dengan berbagai kata kata kasar yang di dapatnya, dia hanya bisa menangis dan berlari keluar apartemen Bossnya, dia memang tau kalau Rendi bakalan marah besar tapi dia tidak menyangka kalau Bossnya memandang rendah dirinya.
"Sssssiiittttt." Rendi melempar vas bunga yang berada di dekatnya, dia sangat kesal dengan dirinya, kenapa dia sangat marah melihat vivi bersama teman SMA nya. Mengapa dia merasa bersalah saat vivi menangis. Seharusnya dia tidak peduli dengan siapa vivi jalan, Vivi menangis atau tidak itu bukan urusannya toh dia menikah dengan Vivi hanya karna ingin membalas sakit hatinya dengan Rosa, tapi kenapa saat melihat Vivi menangis dia sangat ingin menghapusnya, dia merasakan sakit saat Vivi menangis karna perkataannya. Dia sangat kesal dengan sekertarinya itu karna telah membuatnya kehilangan kontrol, lebih tepatnya dia kesal dengan dirinya sendiri.
*********
Yang sudah mampir jangan lupa tinggalkan jejak ( like, komen dan berikan penilain )...
__ADS_1
mimin juga punya novel lain yang berjudul ketika cinta berbagi.. mampir juga yah dengan novel mimin yang berjudul primadona kampus..
"Terima kasih sudah mampir...