Menikah Kontrak Dengan BOSS!

Menikah Kontrak Dengan BOSS!
Part 24


__ADS_3

Pagi pagi Vivi sudah terbangun yang mendapati suaminya masih tertidur di atas sofa, dia kemudian menyiapkan pakaian Rendi untuk hari ini dan mem packing barang barang mereka berdua jangan sampai ada yang tertinggal kan tidak mungkin untuk kembali ke bali hanya untuk mengambil barang barang yang tertinggal.


"Pagi istriku, rajin bener." Ujar Rendi menggoda Vivi.


"Ini sudad siang, cepetan bangun, mandi sana. Cacing di perutku sudah pada demo." Ujar Vivi ngomel.


"Saya antar kamu ke dokter yah." Ujar Rendi.


"Ngapain ke dokter ?" Tanya Vivi bingung.


"Untuk periksa kamu, katanya kamu cacingan." Ujar Rendi bercanda.


"Siapa yang cacingan itu hanya pribahasa." ujar Vivi kesal.


"kirain kamu cacingan beneran, tapi kayanya kamu memang cacingan deh. Liat badan kamu kurus padahal makannya banyak. hehehe." Ujar Rendi sambil tertawa ngeledek yang di balas dengan lemparan sandal hotel, mau tidak mau Rendi langsung kabur ke kamar mandi takutnya Vivi ngelempar dia lewat jendela. Setelah mandi Rendi mau keluar tapi lupa bawa handuk gara gara tadi buru buru masuk kamar mandi.


"Istriku ambilin handuk dong sayang." Ujar Rendi menyuruh Vivi dengan nada menggoda.


"Ambil sendiri." Teriak Vivi.


"Kamu sengaja yah, biar bisa liat badan saya yang polos ini." Ujar Rendi bercanda.


"Apaan polos." Ujar Vivi kesal.


"Ya sudah kalau tidak mau! Saya keluar telanjang saja." ujar Rendi membuka pintu kamar mandi.


"Stop stop, saya ambilin handuk, tutup kembali pintunya." Ujar Vivi sambil memberikan handuk ke Rendi dengan menjulurkan tangannya masuk ke dalam kamar mandi dan dia membelakangi pintu.


Rendi bukannya langsung mengambil handuknya malah mempermainkan Vivi, dia memegang tangan Vivi dan menyimpannya ke perut sixpacknya. Vivi langsung menarik tangannya kemudian lari ke sofa. wajahnya merah merona akibat Rendi mempermainkannya.


"Dasar mesum, laki laki mesum." jar Vivi Rendi yang mendengar Vivi kesal hanya tertawa.

__ADS_1


Setelah memakai handuk dia pun keluar kamar mandi dan memakai pakaian yang sudah di siapkan oleh Vivi.


"Kamu masih marah yah?" Tanya Rendi yang di cuekin oleh Vivi. Vivi tidak menjawab pura pura tidak mendengar.


"Ya sudah kalau masih marah, saya pergi makan sendiri." ujar Rendi yang melangkah menuju pintu.


"Siapa yang marah, saya gak denger tadi. Ikut dong, saya juga lapar." ujar Vivi tidak jadi ngambek.


"Itu denger yang saya katakan tadi." ujar Rendi.


"Iyah, tapi sekarang sudah tidak marah lagi." Ujar Vivi mendekat ke Rendi.


"Senyum dulu kalau emang kamu gak marah sama saya." ujar Rendi.


Vivi tersenyum menuruti perkataan Rendi daripada tidak makan. Rendi yang melihat tingkah Vivi yang mirip anak kecil sangag gemes dan mencubit hidung Vivi kemudian berlari menuju lift sebelum yang empunya mengamuk.


"Dasar Rendi rese." ujar Vivi kesal dan melangkah mengikuti Rendi takut di tinggalkan.


Setelah selesai makan dan berjalan jalan di pinggir pantai mereka langsung ke hotel untuk siap siap ke bandara. Rendi dan ViVi ke bandara yang ternyata di sana sudah ada para karyawan yang menunggu.


mereka kembali ke jakarta, waktu liburan telah selesai, kini pekerjaan sudah menunggu di kantor.


Setelah sampai di bandara jakarta mereka pulang masing masing ke rumahnya ada yang memesan taxi ada yang di jemput, begitupun dengan Rendi dan Vivi pulang ke apartemennya menggunakan taxi.


Setelah sampai Rendi dan Vivi ke kamar masing masing, mereka ingin mandi karna gerah di perjalanan pulanh tadi. Setelah mandi Vivi tertidur begitupun Rendi. saking lelahnya mereka baru terbangun pada saat malam sekitar pukul 20.00.


Vivi ke dapur mencari bahan makanan, ternyata kulkasnya hanya berisi air mineral.


"kamu gak usah masak, kamu pasti capek. Saya sudah pesan makanan lewat Gojek." Ujar Rendi.


"Hmmm." ujar Vivi yang masih setengah sadar.

__ADS_1


Setelah pesanan datang mereka makan dengan lahap. kemudian ke ruang TV untuk menonton.


Drrrrttt! Drrrrrtttt! Drrrrrtttt!


"Halo." Ujar Vivi mengangkat telfonnya dan mengisyaratka ke rendi kalau dia ke kamar yang di jawab anggukan oleh Rendi.


"Halo nyonya Vivi, saya yang bertugas menjaga nona Reva." Ujar si penelfon memperkenalkan diri.


"Iyah, bagaimana ke adaan adik saya,apa ada perubahan." Ujar Vivi tampak cemas.


"Nona Reva sudah di izinka bicara, nona Reva ingin bicara ke nyonya." Ujar si penelfon.


"Halo kak Vivi, Reva kangen." ujar Reva.


"Kakak juga kangen, nanti kalau kakak ada libur, kakak bakalan jenguk Reva." Ujar Vivi.


"Iyah kak, kakak jaga kesehatan yah." Ujar Reva sangat mengerti keadaan kakaknya, dia tidak ingin mengaduh bahwa dia kesakitan karna ia tau kakaknya tulang punggungnya setelah orang tuanya meninggal, ia sebenarnya dia tau dari orang yang merawatnya makanya dia tidak bertanya ke Vivi karna dia tau kalau kakaknya akan sedih lagi.


"Kamu istirahat yang cukup yah sayang, nurut apa kata dokter." ujar Vivi.


"Iyah kak. Saya istirahat dulu yah kak, kakak juga istirahat." ujar Reva.


"Iyah sayang." ujar Vivi kemudian telfon terputus.


Dia sangat senang karna Reva sudah sadar dan dia sekarang lagi berfikir keras kalau Reva bakalan nanyaain orang tuanya, Vivi belum tau kalau Reva sudah tau kalau orang tuanya sudah meninggal. Vivi takut kalau nanti Reva tau kebenarannya dia bakalan sakit lagi padahal Reva lebih kuat dari yang dia fikirkan. Vivi berfikir mungkin kali ini dia lolos dari pertanyaan adiknya.Vivi memikirkan semua sampai akhirnnya dia kelelahan da tertidur pulas.


***********


Yang sudah mampir jangan lupa tinggalkan jejak (Like dan Komen) yah biar autor tambah semangat...


ets jangan lupa kasi renting 5 bintang yah biar autornya semangat..

__ADS_1


"Terimakasih sudah mampir...


__ADS_2