
Ke esokan paginya, Rendi mengurus administrasi biaya rumah sakit. Karena Vivi sudah di perbolehkan untuk beristirahat di rumah. Hari ini Rendi tidak ke kantor dan menyuruh Rara asistennya mengurus urusan kantor, Rendi ingin fokus memperhatikan istrinya yang sedang hamil. Untuk sementara Rendi bekerja di rumah, dan sesekali ke kantor bila Rara dan Rino kewalahan menghendel kerjaan kantor.
Sesampainya di rumah, Rendi membukakan pintu mobil untuk Vivi dan menuntunnya masuk ke rumah.
"Kamu tidak ke kantor, Mas." Tanya Vivi.
"Tidak sayang, Aku ingin menemanimu." Ujar Rendi.
"Aku sudah baik baik saja, Mas." Ujar Vivi..
"Kandungan kamu lemah, aku ingin merawatmu dan menemanimu di rumah. Kamu tidak senang kalau suamimu ingin memanjakan mu ?" Ujar Rendi.
"Bukan begitu, Mas. Tentu saja aku senang, hanya saja aku khawatir kerjaan kamu jadi terhambat karena menemaniku di rumah." Ujar Vivi menjelaskan.
"Aku bisa kerja di rumah kok, sayang. Lagian di kantor ada Rino dan Rara yang mengurus kerjaan di kantor." Ujar Rendi.
"Hm, baiklah." Ujar Vivi.
******
Jam sudah menunjukan pukul sebelas malam, Rendi masih sibuk dengan pekerjaan kantor yang ia kerjakan di rumah. Rendi merentangkan badannya untuk benghilangkan penat sejenak, ketika itu pula samar terdengar suara isakan. Rendi segera berdiri dari tempat duduknya menuju kamar tidur, mengecek sumber suara tangis yang ia dengar. Ia mendapati Vivi terbangun dan menangis.
"Ada apa, sayang ?" Tanya Rendi sembari mendekati istrinya perlahan.
Vivi hanya melihat Rendi sekilas dan kembali menangis.
" Apa yang membuatmu menangis, apa kau bermimpi buruk ?" Tanya Rendi, Vivi menggeleng.
Aku harus sabar, kata dokter kalau orang lagi hamil memang butuh kesabaran ekstra untuk memahaminya. Batin Rendi.
"Apa ada yang kau inginkan ?" Tanya Rendi lagi, dan langsung di jawab dengan anggukan pelan oleh Vivi.
__ADS_1
"Katakan apa itu, aku akan mendapatkannya untukmu." Ujar Rendi.
"Aku ingin makan tahu gejrot." Ujar Vivi.
"Ini sudah larut malam, sayang. penjual tahu gejrot sudah tutup. Apa kamu menginginkan yang lain ?" Ujar Rendi sabar.
"Aku hanya ingin makan tahu gejrot." Ujar Vivi sembari kembali menangis.
Sabar, sabar Rendi. Batin Rendi.
"Baiklah, aku akan membuatkannya untukmu." Ujar Rendi dengan penuh kasih sayang.
"Tunggulah sebentar, aku keluar untuk membeli tahu." Ujar Rendi, Vivi mengangguk sembari menghapus air matanya.
Rendi kemudian kel luar mencari tahu, untung saja ada swalayan yang buka 24 jam. Walau jaraknya cukup jauh, tapi Rendi sudah bertekat pantang pulang sebelum mendapatkan tahu ke inginnan istrinya.
Setelah mendapat apa yang Rendi butuhkan, ia segera pulang dan membuat tahu gejrot sesuai petunjuk mbak goggle.
"Sayang, makannya sudah jadi." Ujar Rendi sembari memegang piring yang berisi tahu gejrot permitaan sang istri.
"Kamu membuatnya, Mas ?" Tanya Vivi senang.
Rendi tersenyum lebar melihat Vivi tampak girang.
"Makanlah." Ujar Rendi.
" Makasih, Mas." Ujar Vivi sembari menyantap makanannya dengan lahap. Rendi menatap Vivi sembari tersenyum, ia merasa tingkah Istrinya kaya anak kecil. Ia tidak menyangka ada sisi manja sang istri, karena Rendi melihat selama ini sang istri tidak pernah bermanja dengan dirinya.
Bahagianya bila Vivi terus bersikap manis dan manja seperti ini, walaupun sedikit merepotkan tapi aku cukup senang bila ia bersikap seakan membutuhkan ku. Batin Rendi yang terus terusan menatap Vivi sembari tersenyum.
"Mas mau ?" Tawar Vivi ketika menyadari kalau suaminya terus terusan menatapnya, ia salah sangka dan mengira kalau suaminya juga menginginkan makanannya.
__ADS_1
"Tidak, aku sudah makan tadi. Makanlah." Ujar Rendi.
"Terus, kenapa Mas terus terusan menatapku. Ku pikir Mas juga mau." Ujar Vivi sembari melanjutkan suapannya.
"Aku menatapmu, karena kamu cantik." Ujar Rendi sembari mengusap pipi Vivi lembut.
"Mas, jangan menatapku terus." Ujar Vivi protes.
"Memangnya kenapa, menatap istri sendiri tidak dosa kan ?" Ujar Rendi bercanda.
"Tapi aku malu, Mas." Ujar Vivi.
"Hehehe, kenapa harus malu. Aku kan suamimu." Ujar Rendi.
"Mas." Ujar Vivi.
"Iya iya, Mas tidak menatapmu lagi. Habiskan makananmu kemudian tidur." Ujar Rendi sembari mengelus rambut Vivi lembut.
"Aku sudah kenyang, Mas." Ujar Vivi.
"Sini piringnya biar aku yang bawa ke dapur, ini minum lah dulu." Ujar Rendi sembari menyodorkan segelas air dan mengambil piring yang ada di tangan Vivi.
"Biar aku saja yang bawa, Mas. Kamu istirahat lah, pasti kamu cape karena harus membuat tahu gejrot." Ujar Vivi merasa kasihan melihat suaminya mengerjakan pekerjaan yang biasa ia lakukan untuk Rendi.
"Tidak apa, sayang. Biar aku saja." Ujar Rendi sembari melangkah menuju dapur setelah Vivi meminum habis airnya.
Rendi kembali ke kamarnya setelah membawa piring kotor ke dapur.
" Tidurlah sayang, ini sudah larut malam. Tidak bagus begadang saat mengandung." Ujar Rendi menuntun Vivi untuk berbaring, dan menyelimutinya dengan penuh kasih.
"Temani aku." Ujar Vivi manja sembari memegang tangan suaminya saat suaminya ingin melangkah keluar kamar untuk melanjutkan pekerjaan kantornya yang tertunda.
__ADS_1
"Baiklah, sayang." Ujar Rendi sembari ikut berbaring di samping Vivi dan memeluknya.
Bersambung.....