
Jam sudah menunjukan pukul 10.00 Vivi kemudian terbangun yang mendapati Rendi di sofa dengan sejumlah buah buahan yang ia beli tadi saat berlari pagi di pinggir pantai.
"Saya kesiangan yah." Ujar Vivi mengucek matanya.
"Hmmm, kamu cepetan mandi sana, kita cari makan di luar." Ujar Rendi, sebenarnya dia penasaran dengan mimpi buruk Vivi yang membuatnya menangis, tapi dia urungkan niatnya untuk bertanya takutnya itu mimpi yang membuat Vivi mengingat masa lalunya yang menyakitkan.
"Iyah, bentar. tunggu saya yah, soalnya saya gak tau daerah sini, entar saya malah hilang kalau keluar sendiri." Ujar Vivi bergegas ke kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi Vivi kembali mengingat mimpinya yang membuat dirinya kembali menangis. Rendi yang mendengar suara tangisan Vivi di dalam kamar mandi langsung melangkah ke depan kamar mandi dan mengetuk pintunya.
"Vi kamu kenapa ? kamu baik baik aja kan." Tanya Rendi di balik pintu.
"Hmmmm, saya baik baik aja." Ujar Vivi menghapus air matanya, setelah mandi dia berpakaian di kamar mandi karna ia segaja membawa pakaiannya masuk ke kamar mandi berhubung dia satu kamar dengan Rendi jadi dia tidak bisa terlalu bebas buka bukaan di dalam kamar.
"Sini saya keringkan rambut kamu." ujar Rendi sambil merampas handuk yang ada di tangannya Vivi sambil mendorong Vivi ke meja rias dan menyuruhnya duduk. kemudian mulai mengusap pakai handuk rambut Vivi yang baru habis keramas setelah itu mengeringkan dengan hair dryer.
"Vi, kalau kamu lagi sedih jangan di tahan, ada saya di sampingmu." ujar Rendi ke vivi, entah kenapa kata kata itu keluar begitu saja melupakan perjanjiannya sendiri. Dia seperti merasa kasihan kepada Vivi karna harus menanggung beban berat keluarganya dan dia selalu di bayang bayangi dengan masa lalunya di saat ayah dan ibunya kecelakaan.
"Saya baik baik saja kok Ren." ujar Vivi.
"Semalam saya hanya bermimpi buruk tentang masa laluku, tapi itu sudah berlalu, saya baik baik saja, kamu gak udah khawatir aku lebih kuat di banding yang kamu fikirkan." ujar Vivi sembari senyum yang terlihat lebih di paksa.
"Hmmm, iyah iyah. Mending kamu cepatan deh, perutku mulai demo, saya belum sarapan gara gara kamu molor samapi jam 10.00." ujar Rendi bercanda yang membuat hati Vivi terasa hangat.
"Iyah iyah, cerewet amet sih, ngomel mulu ngalahin ibu mertua lu. Awas cepet tua kalau ngomel mulu. ujar Vivi ngeledek Rendi.
__ADS_1
"Aku ini keturunan Vampir awet muda." ujar Rendi bercanda.
"Terserah kamu deh, mau keturunan vampir mau keturunan serigala saya gak peduli, yang saya pedulikan sekarang makan, cepetan saya sudah lapar, jadi orang lelet amat." ujar Vivi balik mengomeli Rendi..
"Eh yang bikin lelet itu kamu, saya dari tadi juga nungguin kamu." ujar Rendi.
Mereka berdua menuju tempat makan out door dekat pantai. Sebenarnya Rendi mau sarapan sambil menikmati panas matahari pagi tau taunya Vivi telat bangun dan Rendi gak tega banguninnya, jadinya bukan lagi sarapan ini sudah makan siang karna sekarang jam sudah menunjukan pukul 11.00.
Vivi nyaman di dekat Rendi dan entah mulai dari kapan dia se akrab sekarang ini dengan Rendi, bisa ketawa lepas, bercanda saling ngeledek. Vivi ingin waktu berhenti tapi itu tidak mungkin, Vivi senang dengan hari harinya bisa bercanda gurau dengan Rendi dan memang setelah menikah Rendi lebih perhatian, jika suatu saat dia berpisah Vivi tidak akan menyesali pertemuannya dengan Rendi karna dia bisa sebahagia ini, dan dia ikhlas melepaskan Rendi jika waktunya sudah tiba, dia akan selalu mengenang masa masa saat bersama Rendi. Dan Vivi tidak boleh egois menuntut Rendi lebih, karna baginya Rendi sudah sangat baik padanya membiayai pengobatan adiknya.
Setelah selesai makan, Vivi dan Rendi ke pinggir pantai, berjalan menyusuri pantai tanpa ada yang besuara, mereka larut dengan fikiran masing masing.
Jam sudah menunjukan pukul 15.00 mereka ke pusat perbelanjaan oleh oleh khas bali. Vivi membeli beberapa oleh oleh untuk teman temannya, sekalian juga membeli oleh oleh buat Fendi karna dia sudah janji ke Fendi untuk memberinya hadiah. Sebenarnya Fendi minta hadiah seperti yang dia kasih ke maminya yaitu syal rajut hanya saja Vivi sibuk tidak ada kesempatan merajut, kebetulan ke bali sekalian aja vivi beliin oleh oleh ke Fendi membayar utang janjinya tenpo hari.
"kamu mandi duluan sana, soalnya perempuan rempong kalau mau bepergian. Bisa bisa saya keburu pingsan karna kelaparan nungguin kamu dandan." ujar Rendi menyuruh Vivi duluan mandi karna mereka akan keluar makan malam lagi,menurutnya dia harus manfaatkan waktu liburnya.
"Saya gak lama yah kalau dandan." ujar Vivi gak terima.
"Mau mandi sekarang atau saya dulu, kalau saya sudah mandi dan pakean, ya langsung keluar makan sendiri juga bisa. Lagian saya malas nunggu nunggu." ujar Rendi mengancam.
"Iyah iyah, saya mandi duluan. Dasar bawel." ujar Vivi mengalah.
"Kamu bilang apa, kamu ngatain saya yah." ujar Rendi setengah berteriak karna Vivi sudah dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Saya tidak ngatain pak Boss kok. Saya hanya bilang pak Boss baik, perhatian, cakep." ujar Vivi setengah berteriak.
Setelah Vivi mandi kini giliran Rendi untuk mandi.
"Ih, kamu kembiasaan keluar kamar mandi telanjang dada." Ujar Vivi melemparkan handuk ke tubuh Rendi.
"Kebiasaan, lagian ini di kamar dan ruangan tertutup." ujar Rendi enteng.
"Tapi kan ada saya di sini." ujar Vivi kesal.
"Kamu kan istriku, kalau kamu mau pegang juga gak apa apa." ujar Rendi sembari menyunggingkan senyum menggoda.
"Dasar mesum." Teriak Vivi kemudian mengalihkan fokusnya ke TV tapi fikirannya ke badan sixpacknya Rendi. hehehe, Vivi kan juga wanita normal.
Setelah siap mereka keluar makan di salah satu restoran mewah di bali.
kemudian berjalan jalan sebentat di pinggir pantai sebelum pulang ke hotel.
**********
Yang sudah mampir jangan lupa tinggalkan jejak (like dan komen) yah biar autor tambah semangat..
"terima kasih sudah mampir..
__ADS_1