
Sinar matahari pagi yang menembus jendela kaca kamar Vivi, ia terganggu dengan pantulan cahaya pagi. Vivi berusaha membuka matanya yang masih tertutup rapat akibat semalam dirinya berhubungan intim dengan sang suami sampai dirinya harus begadang menuruti permintaan sang suami.
Vivi duduk di tepi ranjang, setelah nyawanya terasa terkumpul, ia segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tidak butuh waktu lama Vivi keluar dari kamar mandi, kemudian berpakaian.
Vivi keluar dari kamarnya menuju dapur, karena mencium aroma harum khas masakan tumis.
"Pagi sayang, sudah bangun." Sapa Rendi yang sibuk memasak.
"Pagi mas, lagi masak apa ? Butuh bantuan gak ?" Tanya Vivi.
"Gak usah sayang, kamu duduk manis. Kali ini biar aku yang masak buat istriku tercinta." Ujar Rendi.
"Beneran nih, emang mas bisa masak ?" Tanya Vivi.
"Kamu remehin suamimu ini yah, begini gini suamimu ini jago masak lo." Ujar Rendi sembari membusungkan dadanya, membanggakan diri.
"Iyah iyah, cepet yah mas. Gak pake lama, aku sudah lapar nih." Ujar Vivi memerintaah.
"Siap tuan putri." Ujar Rendi.
Tidak lama Rendi menyiapkaan masakannya di atas meja makan.
"Silahkan tuan putri." Ujar Rendi.
"Makasih sayang." Ujar Vivi.
__ADS_1
Baru saja Vivi mengunyah beberapa sendok masakan suaminya itu, tiba tiba ia merasa mual dan ingin muntah. Vivi segera berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan semua makanan yang baru saja ia makan. Rendi mengejar istrinya ke kamar mandi dan memijit pelan belakang leher sang istri.
"Kita ke rumah sakit sekarang yah sayang, takutnya kamu keracunan makanan." Ujar Rendi sembari membasuh wajah pucat istrinya itu. Kemudian menggendongnya menuju mobil. Vivi hanya menurut, karena dirinya benar benar kehilangan tenaga akibat muntah dan kepalanya sedikit pusing.
Sesampainya di rumah sakit Vivi segera di bawa ke ruang UGD untuk mendapat perawatan. Rendi masih menunggu kabar dari dokter yang memeriksa istrinya. Rendi baru mengingat, kalau ia belum mengabari sang adik ipar bahwa kakaknya sekarang di rumah sakit.
Rendi segera mengeluarkan handpone miliknya dan menelfon Reva.
"Halo, kak. Ada apa ?" Tanya Reva di seberang telfon.
"Halo Va, kamu sekarang ke rumah sakit. Vivi masuk rumah sakit. Ia sekarang di rawat di UGD." Ujar Rendi.
"Ia kak, aku ke sana sekarang." Ujar Reva tanpa sempat bertanya kakaknya sakit apa, karena panik. Ia segera membangunkan Rara dan menyuruh sahabat kakaknya itu untuk mengantar dirinya ke rumah sakit. Rara yang mendapat kabar kurang baik dari Reva itu, segera bangun dan menuju parkuran mobilnya tanpa mencucu wajah dan berganti pakaian itu.
Tidak butuh waktu lama Rara mengendarai mobilnya itu. Sesampainya di parkiran rumah sakit, Reva dan Rara segera keluar menuju UGD dengan pakaian tidur dan wajah masih berantakan khas bangun tidur.
"Reva! Kakak juga belum tau, dokter masih memeriksanya." Ujar Rendi.
"Memangnya kak Vivi kenapa ?" Tanya Reva.
"Kakak khawatir kalau Vivi keracunan makanan, soalnya habis sarapan, dia langsung muntah muntah dan badannya lemas gitu." Ujar Rendi gelisah.
Tidak lama dokter keluar dari ruangan.
"Pak Rendi." Panggil dokter yang memeriksa Vivi.
__ADS_1
"Bagai mana ke adaan Istri saya ?" Tanya Rendi.
"Istri bapak baik baik saja, hanya butuh istirahat lebih. Fisiknya sangat lemah, apalagi dia sedang hamil mudah. Pak Rendi harus lebih memperhatikan istrinya agar tidak strees." Ujar Sang dokter.
"Istri saya hamil ?" Tanya Rendi memastikan.
"Iyah, istri pak Rendi hamil. Kandungannya sudah dua minggu." Ujar dokter.
"Makasih Pak." Ujar Rendi. Ini pertama kalinya Rendi berterima kasih dengan tulus dengan orang yang tidak dekat dengannya. Rendi sangat bahagia mendengar kabar bahagia itu, untung saja Rendi cepat mengetahui keberadaan Vivi. Hampir saja Vivi hamil tanpa seorang suami di sampingnya, Rendi tidak menyangka ternyata Vivi hamil setelah mereka melakukan hubungan intim sebelum sang istri menghilang.
"Alhamdulillah, akhirnya sebentar lagi aku punya keponakan." Ujar Reva bahagia.
"Iya, aku sudah tudak sabar menggendong dede bayi." Ujar Rara menimpali.
"Ayok kita masuk liat kakak kamu." Ujar Rendi.
Mereka masuk ke ruangan tempat Vivi di rawat.
"Makasih yah sayang." Ujar Rendi memeluk istrinya setelah melihat sang istri tersenyum bahagia.
"Sebentar lagi kita punya bayi mas, aku sangat bahagia." Ujar Rara terisak bahagia di pelukan suaminya.
"Iyah sayang." Ujar Rendi sembari mencium lembut kening istrinya.
Suasana haru dan bahagia mereka rasakan, Reva dan Rara ikut bahagia melihat keharmonisan mereka setelah menjalani lika liku kehidupan rumah tangga mereka.
__ADS_1
Bersambung....