Menikah Kontrak Dengan BOSS!

Menikah Kontrak Dengan BOSS!
Part 29


__ADS_3

Setelah bertanya ke warga desa akhirnya ia menemukan rumah Vivi, dengan perasaan bahagia Rendi bergegas turun dari mobilnya dan berlari kecil menuju rumah yang di yakini rumah Vivi sekarang.


Tok! Tok! Tok!


"Assalamu Alaikum."


"Waalaikum Salam." Jawab seorang perempuan dari balik pintu.


"Bapak cari siapa yah ?" Tanya yang punya rumah.


"Reva, apa kabar ?" Tanya Rendi yang langsung mengenali Reva, berhubung bawahannya dulu sering mengirim gambar Reva saat masih di rawat jadi ia langsung mengenali wajah sang adik ipar walaupun ini pertama kali mereka bertemu.


"Baik, bapak siapa yah ?" Tanya Reva bingung, karena dirinya merasa belum pernah melihat wajah pria yang ada di depannya itu.


"Aku Rendi." Jawab Rendi yang tentu saja Reva langsung mengetahui siapa di depannya itu, ia tau nama Rendi dari kakaknya dan ia juga tau kalau Rendi lah yang membayar tagihan pengobatannya walaun ia tidak mengenal wajahnya tapi ia cukup mengenal nama yang menolongnya.


"Pak, Rendi. Bapak cari kakak Vivi?" Tanya Reva ramah, yah Reva memang belum percaya kalau kakak iparnya itu melupakan kakaknya, ia yakin kalau ini hanya salah paham, karena ia telah mendengar kisah sebelum perpisahan kakaknya dengan sang kakak ipar. Ia sudah mencoba membujuk sang kakak untuk menanyakan langsung ke Rendi tentang kejelasan perpisahan mereka, tapi kakaknya bersikukuh kalau Rendi memang sudah tidak menginginkannya lagi.


"Iyah, apa kakak kamu ada ?" Tanya Rendi dengan suara lembut dan wajah sendu.


"Kakak masih di warung, tidak lama lagi ia pulang. Kakak tunggu di dalam saja." Ujar Reva.


"Tidak usah, aku langsung ke warungnya saja. aku ingin menemuinya sekarang, kamu bisa mengantarkan ku untuk bertemu dengannya ?." Ujar Rendi tidak sabar.


"Iya, bisa." Ujar Reva.


Mereka segera meninggalkan halaman rumah Vivi menuju warung tempat Vivi jualan. Di perjalanan tidak ada yang bersuara, Rendi sangat gelisah memikirkan tanggapan Vivi kepadanya, sedangkan Reva memilih diam tidak menanyakan tentang hubungan kakaknya dan Rendi walaupun ia sebenarnya penasaran, tapi ia memilih tidak ikut campur dalam urusan mereka.


Sesampainya di warung tempat Vivi jualan, Rendi langsung memarkir mobilnya dan berjalan menghampiri Vivi. Vivi yang melihat pria yang sangat ia rindukan itu sangat terkejut, ia mematung tanpa bersuara, tanpa terasa air matanya jatuh membasahi pipinya.


"Vivi, aku sangat merindukanmu." Ujar Rendi sembari memeluk erat Vivi, sedangkan Vivi hanya mematung.

__ADS_1


"Ekhhm, Pak Rendi, kak Vivi kita pulang dulu saja. Nanti di rumah baru kakak dan pak Rendi bicara lagi." Ujar Reva menengahi tangis mereka, Reva bukan sengaja ingin mengganggu pertemuan mereka, ia hanya merasa tidak enak jika ada tetangga melihatnya.


"Baik lah." Ujar Rendi yang kemudian melepaskan pelukannya dari Vivi.


Vivi yang masih berdiri segera di tuntun oleh Reva agar masuk ke dalam mobil. Vivi masih diam,ia belum mengeluarkan suara apapun, ia masih syok dengan kemunculan Rendi.


Sesampainya di rumah.


"Kalian bicaralah, aku masuk ke kamar dulu." Ujar Reva yang segera meninggalkan mereka di ruang tamu untuk menyelesaikan urusan mereka.


Sekitar dua puluh menit Reva berlalu, belum ada yang mengeluarkan suara.


"Vi, kamu apa kabar ?" Tanya Rendi memutuskan untuk memulai percakapan.


"Aku baik baik saja." Ujar Vivi dengan suara pelan hampir tidak kedengaran karena suaranya yang parau akibat menangis.


Rendi memberanikan diri mendekat dan duduk tepat di samping Vivi.


"Vi, aku merindukan mu. Kenapa kamu pergi tanpa pamit." Ujar Rendi dengan suara lembut dan pelan.


"Aku tidak pernah menyuruhmu pergi, Vi. Kamu yang meninggalkan aku. Kamu tau ? aku hampir gila karena kehilangan mu Vi." Ujar Rendi yang kali ini, ia tidak bisa lagi menahan air matanya.


"Bukan kah kamu sudah menikah dengan Rosa Mas, kenapa datang menggangguku lagi." Ujar Vivi meluapkan amarahnya karena Rendi datang dan pergi semaunya.


" Aku tidak pernah menikah dengan Rosa Vi, di hatiku hanya ada kamu Vi." Ujar Rendi.


"Bukan kah kamu mengirim surat perceraian kita, karena ingin menikah dengan kekasih lama mu mas?" Tanya Vivi bingung dengan perkataan Rendi.


"Aku tidak pernah mengirim surat perceraian, aku menyiapkan hari pelamaraan yang sesunguhnya untukmu. Tapi kamu meninggalkanku Vi." Ujar Rendi.


"Benarkah ?" Tanya Vivi.

__ADS_1


"Malam itu, aku mempersiapkan malam pelamaran untukmu tanpa ada kontrak. Aku sadar kalau aku sudah jatuh cinta sama kamu Vi. Bagaimana mungkin aku mengirim surat perceraian. Siapa yang memberikan mu suran perceraian itu ?" Tanya Rendi


"Rosa menemuiku, dan mengatakan kalau kamu ingin menikahinya. Dia juga yang memberikan ku surat perceraian darimu." Jelas Vivi.


"Dia berbohong Vi, aku hanya mencintaimu." Ujar Rendi meyakinkan Vivi.


"Benar kah mas ?" Ujar Vivi, kali ini ia mengangkat wajahnya menghadap Rendi.


"Kamu tau aku kan Vi, aku tidak mungkin ke sini jika tidak mencintaimu." Ujar Rendi.


"Lalu kenapa kamu terlambat menjemputku mas, aku sangat merindukan mu." Ujar Vivi akhirnya mengukapkan keresahannya.


"Maaf kan aku, aku terlambat menemukan tempat tinggalmu. Kamu benar benar hebat bersembunyi ya." Ujar Rendi sembariencubit pipi Vivi.


"Sakit tau." Ujar Vivi berpura pura ngambek.


"Hehehe, maaf sayang. Mana yang sakit, sini aku obatin." Ujar Rendi sembari mengecup pelan pipi Vivi.


Vivi cukup kaget dengan perlakuan Rendi, Ia sudah cukup lama bersama dengan Rendi tapi baru kali ini Rendi bersikap manis dengannya. Vivi senang akhirnya cintanya terbalaskan walaupun banyak lika liku yang pernah ia lalu. Kali ini ia tidak perlu cemburu tapi tidak bisa mengungkapkan nya lagi, karena Rendi sudah membalas cintanya.


"Mas, aku sangat bahagia." Ujar Vivi.


"Di hari bahagia ini, aku tidak ingin menunda lagi rencanaku yang dulu sempat tertunda karena kamu kabur dari ku." Ujar Rendi kemudian berlutut di hadapan Vivi dan mengeluarkan sepasang Cincin.


"Vivi, mau kah kamu hidup menua bersamaku ? " Ujar Rendi.


"Iyah, mas." Jawab Vivi, Rendi kemudian menyematkan Cinci di jari manis Vivi.


"Makasih sayang." Ujar Rendi bahagia sembari memeluk erat Vivi.


"Besok kita pulang yah, ke rumah kita." Ujar Rendi.

__ADS_1


"Iyah mas." Ujar Vivi membalas pelukan Rendi.


Bersambung....


__ADS_2