
"Kamu suka sama Babu ku?" Hilda menarik Arjuna ke ujung ruangan demi bisa mencecar mantan suaminya. Hilda masih berharap pria itu hanya pernah dan selalu mencintainya.
"Kamu ngomong apa sih?" Arjuna ingin pergi menghindar, tapi Hilda kembali meraih kerah jas kasual lelaki itu. "Barusan kamu terpesona sama Nimas?" tuduhnya.
Arjuna mengerinyih. "Kalau pun iya. Apa urusan mu? Kami laki-laki dan perempuan yang sama-sama sendiri."
"Kamu lupa kamu selalu mengirimkan pesan, panggilan, kata romantis, bahkan kado-kado selama 17 tahun untuk ku. Kamu lupa gimana kamu mencintai ku. Apa bisa semudah itu berpaling? Jangan jadikan orang yang tidak bersalah sebagai pelarian mu!"
Arjuna terkekeh samar. "Tujuh belas tahun kemarin. Aku berharap kau pulang demi Vanessa. Sekarang Vanessa tidak lagi menginginkan mu maka selesai sudah."
Hilda tertegun tak percaya.
"Kau masih berarti bagiku jika Anes masih menginginkan mu. Tapi nyatanya, Anes sudah tidak menginginkan penyatuan kita."
Lagi dan lagi Hilda menarik jas Arjuna dengan kasar. "Jadi kau masih mencintai ku kan?"
"Sayangnya tidak." Arjuna menyelanya.
Hilda tertawa pelan, dia masih tak ingin percaya bahwa Arjuna sudah cukup lelah mencintai dirinya. "Jadi kamu benar-benar tertarik dengan Nimas?" cecarnya.
"Kalau dilihat dari respon tubuh ku saat melihatnya. Sepertinya aku memang tertarik padanya. Bukankah dia sangat cantik dan lebih muda sepuluh tahun darimu?"
"Dia hanya babu, Juna!" ketus Hilda.
"Aku memiliki segalanya. Aku tidak perlu wanita kaya. Kau tahu itu pasti." Arjuna berusaha sabar meski sedari tadi Hilda terus menarik-narik jas kasualnya.
Sekarang, Hilda justru berjalan cepat menuju Nimas dan dugaannya tepat. Hilda menyiram air berwarna oranye pada gaun merah Hilda.
-Byurrr....
"Nyonya..." Nimas tampak terkejut. Dia melotot tak percaya. Apa salahnya, kenapa tiba-tiba saja wajah Hilda berubah murka.
__ADS_1
Melihat kemarahan Hilda sudah biasa, yang aneh adalah kenapa tiba-tiba dan tanpa sebab akibat. Nimas sendiri tak tahu apa pun.
"Kau mencuri gaunku, miskin!"
Nimas terpelotot lebih bulat. "A-apa maksud Nyonya?" tanyanya bingung. Bukankah Hilda sendiri yang menyuruhnya mengenakan gaun ini lalu kenapa sekarang dituduh mencuri.
Hilda menatap Arjuna, dan berkeliling menatap semua tamu elit termasuk Rega yang diam bersidekap di sudut tempat. Rega meneguk minuman sambil menikmati drama yang sudah mengalahkan sinetron paus terbang.
"Maaf Juna aku mengacaukan acara mu. Tapi, aku harus bicara." Hilda menuding lurus ke pada Nimas yang kebingungan.
"Hati-hati Tuan dan Nyonya yang hadir di sini. Wanita yang cantik ini seorang pencuri! Dia mengambil gaunku untuk menggoda laki-laki kaya! Jadi hati-hati, sebisa mungkin dompet dan tas kalian jaga dari orang miskin ini."
"Mama!" Vanessa menyentak. Semua tamu sedikit mengulas bingung. Tentu saja, untuk siapa Vanessa memanggil Mama. Selama ini tidak ada yang tahu siapa ibu Vanessa.
"Maaf Tuan dan Nyonya. Wanita cantik ini Mama Anes." Hilda melotot, dia kira Vanessa memanggil Mama untuknya, rupanya untuk Nimas yang menundukkan wajah sambil gemetar ketakutan.
"Tidak mungkin kan kalau Mama Anes pencuri. Papa sering belikan Mama baju yang bagus kok. Sepertinya Tante lupa kalau Anes membelikan gaun yang sama dengannya."
"Anes..." Hilda menegaskan rahangnya. Kurang ajar sekali Vanessa yang dia lahirkan memanggilnya dengan sebutan Tante.
"Anes..."
"Anes kecewa sama Tante," potong Vanessa secara lirih. Tak menyangka jika ibu yang selama ini dia anggap sangat baik, begitu mengerikan, bahkan tega memfitnah Nimas yang sudah terlalu baik.
"Kamu jangan jadi anak durhaka Anes!" Hilda berbisik dengan penuh penekanan.
"Kalau Mama yang keterlaluan. Mama tidak berpikir kalau Mama disebut durhaka juga?"
Hilda meredup wajahnya. "Kamu tahu kan. Mama sayang sama kamu. Dari dulu sampai sekarang. Masih sama, Mama cuma mau punya kamu. Makanya bujuk Papa kamu buat balik sama Mama, kita hidup bahagia seperti impian mu dari dulu."
"Sudah cukup Ma, Anes tahu Papa sudah tidak mencintai Mama lagi. Selama ini Papa bertahan mengharapkan Mama, just for me!"
__ADS_1
Gadis itu pergi meninggalkan ibunya di tengah lantai dansa. "Vanessa!" Hilda semakin geram saja, ingin mengejar tapi semua orang memandang ke arahnya.
Terlebih, orang-orang Rega juga tak membiarkan dirinya menyusul Nyonya muda mereka tentunya.
Vanessa menangis di besi pembatas balkon kamarnya. Sejadinya Vanessa meluah rasa yang mencokol di dadanya.
Kenapa dia pernah merengek pada Hilda bahkan sampai menjebak Rega hanya untuk memiliki ibu yang tidak baik seperti Hilda.
Papa Arjuna tentu tidak pantas bersanding dengan wanita ular seperti ibunya. Yang selalu bisa merendahkan orang yang lemah.
Saat tangannya mengusap air mata, sentuhan lembut berputar di dadanya kemudian mendekapnya dengan erat.
Siapa lagi jika bukan tangan hangat Rega yang entah sejak kapan begitu perhatian, dan apa maksud tujuan Rega berlaku romantis, jujur Vanessa belum tahu jawabannya.
Apa pun alasan Rega, nyatanya Vanessa lebih bisa tenang ketika kecupan kecupan lembut terlabuh di pucuk kepalanya. Aroma parfum suaminya begitu menenangkan.
Rega menilik lengannya, dan ada setetes air mata istrinya yang terjatuh di sana. Rega lantas mempererat pelukannya.
Ternyata ini yang membuat Vanessa menjadi pribadi yang nakal. Vanessa terbiasa hidup tanpa sosok ibu yang bisa menjadi contoh baik bagi perempuan mungil itu.
"Menangis lah. Air mata emosi mengandung lebih banyak hormon berbasis protein, dan leucine enkephalin sebagai penahan sakit alamiah. Sakit di hatimu akan sembuh setelah mengeluarkan air mata," kata Rega.
"Huaaaaa!!"
Rega tersentak, menangis sih menangis, tapi tidak berekspektasi jika istri kecilnya akan berteriak di depannya. Bahkan berbalik untuk memukulinya, melampiaskan amarahnya di dadanya yang bidang.
"Kenapa kalian jahat semua!"
Rega terkekeh, dia lantas memeluk gadis itu untuk diberikan usapan lembut di kepalanya.
"Kau tahu, kau juga jahat. Coba introspeksi diri dulu sebelum menyalahkan orang di sekeliling mu."
__ADS_1
Vanessa terisak sedang Rega tergelak tipis.
-Semoga setelah ini, kamu jadi sadar arti dadaku untuk mu gadis nakal....