Menikahi Calon Papa

Menikahi Calon Papa
HOP EMPAT ENAM


__ADS_3

Arjuna dan Nimas terbang ke Bangkok untuk berbulan madu. Rega memboyong istrinya ke rumah utama keluarga Rain.


Pagi-pagi sekali Rega harus ke kota tetangga dan biasanya akan pulang sore.


Di rumah utama, Mami Kimmy dan Oma Krystal dibuat sibuk dengan kondisi menantu lucu mereka yang drop pasca menghadapi ujian akhir.


"Masuk angin, apa hamil?" Krystal segera peka terhadap keadaan cucu mantunya yang mual muntah sedari sarapan pagi.


"Nggak mungkin, Mommy." Vanessa menepis dugaan itu tentu saja, karena selama ini Rega selalu membuangnya di luar.


"Coba test dulu Anes. Mumpung kamu masih di Indonesia. Kalo udah kuliah terus baru tahu hamil, kan repot." Kimmy mendesaknya.


"Tapi Anes nggak mau hamil, Mam." Wanita itu merengek memelas. "Anes masih mau kuliah."


Kimmy menatap mertua yang juga balas menatapnya. Keduanya lebih senang jika Vanessa hamil, dan melanjutkan kuliah di Indonesia saja.


Rega sudah cukup umur. Memiliki keturunan adalah idaman setiap insan. Lagi pula, tujuan menikah bukankah salah satunya untuk ini.


"Coba dulu Anes. Ya." Vanessa menurut meraih sebungkus alat tes kehamilan dari mertuanya. Harapan yang membumbung tinggi masih sama sedari kemarin; negatif.


•••••••••••••


^^^•••••••••••••^^^


Diikuti Sofie, Rega melangkah pasti setelah turun dari mobil. Antonie sudah cuti karena dua minggu lagi harus menikah dengan istri pilihan ibunya.


Sampai Antonie kembali bekerja, posisi Antonie digantikan oleh Awan.


Rega sering mengamati sopir yang sudah dia anggap adik itu. Sepertinya Sofie mulai kehilangan keceriaan yang sedari dulu menemaninya.


Suka duka bersama Antonie dan Sofie telah Rega lalui. Rega iba pada gadis yatim piatu ini.


Terlepas dari apa pun itu, Rega akan pastikan jika Sofie memiliki jodoh yang tepat.


Antonie tak lebih dari pengecut. Berjuang untuk mendapatkan Sofie saja tak bisa.


Pria tak berpendirian teguh sepertinya, jelas akan lebih membuat Sofie menderita di neraka berlebel pondok mertua.


"Kau sudah punya pacar?" Setelah Sofie pamit ke kantin. Di lift Rega bertanya pada Awan.


"Belum, Pak."


Pemuda berambut ikal dengan usia 28 tahun itu menyanggahnya. Pernah berhubungan serius tapi baru-baru ini putus karena adanya pihak ketiga yang merenggut kekasihnya.


"Kau mau aku jodohkan dengan Sofie?"


Awan terkesiap. "Sofie, sopir Pak Rega yang barusan?" tanyanya memastikan.


"Hmm." Rega mengangguk. Dan membuat Awan menyengir meringis. "Saya tidak punya nyali mendekati gadis secantik Sofie, Pak."

__ADS_1


"Dia cari suami. Bukan pacar. Kalau kau mau serius dan mau setia. Aku sendiri yang akan menikahkan kalian."


Rega pernah mendengar jika Awan pernah menyukai sopirnya. "Kau menyukainya kan?"


"Tetap tidak mungkin, Pak." Awan menciut.


"Karena dia sopir?"


Ya, itu juga yang menjadi alasan Antonie tak mendapatkan restu dari ibunya. Sofie hanya anak yatim piatu yang Rega tarik untuk jadi sopir sekaligus bodyguard.


Dulu Sofie hanya seorang copet. Rega yang memberikan pekerjaan dengan harapan gadis secantik Sofie tak menjadi mafia jalanan.


"Bukan, Pak." Awan menggeleng. "Sofie pernah menolak saya sebelumnya. Makanya, saya tidak berani lagi mendekatinya."


Rega manggut-manggut pelan. Sedari awal Sofie memang gadis preman yang sulit ditaklukan.


Antonie saja perlu banyak jurus untuk bisa menjadikan Sofie kekasih. "Nanti kalau aku yang melamarnya untuk mu. Pasti Sofie akan mempertimbangkannya. Kau mau tidak dengannya? Tapi kalau tidak serius, lebih baik tidak usah."


"Boleh saya pikir lagi, tawarannya Pak?"


"Of course!"


Rega dengan tangan terbuka. Lagi pula, Sofie masih berkabung atas pernikahan mantannya yang akan berlangsung satu minggu lagi.


"Ada Nona Anes, Pak."


Sekretaris pengganti Yulia menyambut di lantai atas. Seorang pria yang masih berusia 26 tahun itu, memberi info.


Rega mempercepat langkah, dan masuk ke dalam ruangan tanpa Awan dan sekretaris barunya.


"Sayang..." Senyum Rega sontak meredup melihat tangisan istrinya.


"Om!" Vanessa memeluk tapi memukuli dada bidangnya kesal.


"Why?"


Vanessa meraih tas selempang miliknya, lalu meletakkan testpack positif di meja kerja suaminya. Rega memindai benda tersebut, senyum alami seketika terbit sangat impresif.


"Kamu hamil Sayang?" tanyanya antusias.


Meski tak pernah menuntut istrinya hamil. Namun, memiliki semungil momongan sudah ada di benak lelaki itu.


"Gimana bisa Om seneng begitu!" Vanessa justru berang melihat senyum manis Rega.


"Anes masih mau kuliah!" Vanessa menangis dan Rega segera mengunci pintu ruangannya, bahkan menutup gorden digitalnya.


Jangan sampai orang-orang melihat tangisan Vanessa, atau akan ada rumor. "Kuliah bisa dari rumah, Sayang."


"Mending nggak usah sekalian!" sanggah cepat Vanessa.

__ADS_1


Kuliah itu harus memiliki teman belajar, harus ada kunjungan wisata, harus ada ospek, dan harus ada camping.


Bagaimana bisa kuliah di rumah yang membosankan? Kenapa Rega tak mau pahami keinginan dari naluri dan jiwa mudanya.


"Lalu?"


Rega mulai mengerut kening tipis. Jika tidak mau di rumah, lantas apakah Vanessa harus hamil sambil melakukan kegiatan kuliah? Rega takkan mungkin tega.


"Anes nggak mau hamil! Pokoknya nggak mau hamil, Anes nggak mau punya anak dulu, Om! Nggak mau!"


"Tapi kamu sudah hamil, Sayang!" Rega ketus, hawa sejuknya mulai hilang terganti kesal yang kian memanas. Bagaimana ada wanita yang tidak mau hamil setelah positif hamil.


"Ini gara-gara Om!" Vanessa meneriaki Rega.


"Semuanya gara-gara Om! Kenapa Om nggak mau pake pengaman? Om pasti tahu kan kalo dibuang di luar masih berkemungkinan positif, makanya Om jebak Anes! Pokoknya Anes nggak mau hamil!" Vanessa menggila.


"Apa mau mu?" Rega mulai bingung hingga harus bertanya ini. "Gugurin?"


Vanessa terdiam, itu memang sempat terpikir olehnya. Tapi apakah harus sejahat itu pada buah dari cinta suaminya?


"Semua gara-gara aku!" Rega mendatangi meja kerjanya dengan gemuruh. "Sofie akan antar kamu pulang. Aku masih banyak kerjaan, kamu pulang dan pikirkan tawaranku!"


"Kenapa jadi Om yang marah?" Vanessa datang ke sini untuk solusi. Bukan kemarahan yang berujung pertengkaran rumah tangga.


"Aku tidak marah padamu."


"Ya terus apa begitu?" tukas Vanessa. "Nyata nya, Om yang buat Anes hamil!" teriaknya.


"Kamu bisa bilang begitu kalau aku tidak mau bertanggung jawab, Sayang. Tapi aku sangat senang mendengar kehamilan mu!"


"Tapi Anes masih mau main!" Vanessa histeris. Hormon aneh kehamilan membuat wanita itu meletup letup.


"Aku sudah tawarkan yang terbaik. Gugurkan saja. Selesai!" pungkas Rega tegas. Dan Vanessa hening di posisinya.


Rega tak tahan melihat air mata gadisnya, tapi Vanessa selalu ingin menang sendiri. "That's the risk of marriage, Baby!" ketusnya.


Vanessa tertegun miris.


"Seharusnya kamu tahu salah satu resiko menikah itu hamil!" Rega berhenti sejenak untuk kembali berkata lirih. "Setidaknya, sebelum menjebak ku menikah!"


"Om nyesel?" tuduh Vanessa berapi-api.


"Women are never wrong!" jawab Rega. "Dan anggap dugaan mu benar!"


Vanessa bergeming. Memang dia yang ingin Rega menikahinya. Juga, benar jika dia masih ingin menikmati masa mudanya.


Tapi....


Bagaimana dengan Oxford. Bagaimana dengan teman-temannya. Bagaimana dengan masa yang takkan pernah kembali. Masa beranjak dewasa dengan para karibnya.

__ADS_1


😴 Aku mau crazy up, King yaa... Jangan ganggu semedi kooh... Isi kolom komentar dengan coretan makian kalian... 😗


__ADS_2