Menikahi Calon Papa

Menikahi Calon Papa
HOP EMPAT TUJUH


__ADS_3

Rega pulang ke rumah dalam kondisi wajah yang tertekuk. Tiba di balkon kamarnya, matanya segera tertuju pada sosok istri yang kemudian berdiri dari ayunan demi menyambut kedatangannya.


"Om..."


Rega menyodorkan sebotol kapsul berwarna merah pada Vanessa. "Ini obat dari dokter. Kamu harus minum itu sebelum tindakan kuret."


Setelah kemarin Vanessa memilih menggugurkan kandungan. Hari ini Rega terpaksa meminta resep untuk janinnya.


Vanessa tampak gemetar saat menerima semungil botol transparan yang di dalamnya jelas berisi kapsul merah.


"Ambil!" Rega memaksa Vanessa untuk menggenggam obat peluntur janin dari dokter pribadi keluarganya.


Sebab, jika ingin dilakukan tindakan kuret, maka pasien harus memiliki alasan yang cukup, tidak serta-merta tiba di rumah sakit dan ingin melakukan aborsi.


"Minum." Rega meraih segelas air putih, lalu memberikan pada istrinya. "Buktikan kamu lebih kejam dari ibumu!"


Sontak, Vanessa menatap manik biru Rega yang mulai berkaca-kaca. Jelas Rega tak ingin melenyapkan janinnya, tetapi karena dia tak mau hamil, lelaki itu membawa obat ini.


"Kita lihat, apa karma yang akan kamu tuai setelah membunuh janin ku, Baby?" kata Rega datar.


Vanessa yang masih meragu, wanita itu membuang gelas dan pil di tangannya. Seketika ia menangis histeris, Rega benar, dia hampir menjadi pembunuh.


Vanessa lupa, bagaimana tak diinginkan ibunya itu sungguh sakit. Dan barusan, ia ingin menghabisi nyawa janin yang baru berkembang di dalam rahimnya.


"Maaf!" Vanessa peluk suaminya. Menangis histeris di dadanya. "Anes cuma belum siap ajah Om, maaf," ucapnya terisak.


Rega membalas pelukannya. Sambil terpejam, ia menghujani pucuk kepala wanita itu dengan kecup lembut .


"Anes udah mimpi pengen kuliah. Pengen jadi pelukis yang dikenal. Pengen lanjut sekolah seni. Terus tiba-tiba hamil, rasanya campur aduk, Om." Vanessa mengeluh dalam tangis.


"Dia buah cinta kita, Baby." Rega berusaha memberikan pengertian. Berharap, Vanessa mau menjadi lebih dewasa lagi.


Marwah wanita memiliki rahim yang mau tak mau dititipi janin saat sudah menjadi seorang istri. Semoga Vanessa sadar akan hal itu.


"Iya..." Vanessa sesenggukan menangis.


"Aku punya banyak uang. Kamu bisa kuliah tanpa diganggu tangisannya." Rega menarik lembut rambut di tengkuk istrinya agar senantiasa mendongak padanya.


"Kamu setuju kan kita rawat dia?" cecarnya setengah memaksa. "Kalau perempuan. Pasti dia lucu seperti mu. Kalau laki-laki, itu berarti kamu melahirkan Rega genius yang baru."


Vanessa tersenyum sambil membasuh air mata di kedua pipinya. Anggukan kepala yang terayun, membuat Rega lebih lega.


"Aku mencintaimu," ucap lelaki itu. Sekali lagi pelukan Rega berikan, sejenak keduanya nikmati pertempelan hangat tubuh mereka.


Suasana dingin malam ini, membuat Vanessa meraba dada bidang Rega yang hangat. Dari sana turun ke bawah dan mengusap milik suaminya.


Rega duduk di atas ayunan. Lantas, Vanessa duduk di atas pangkuannya. "Kita tidak akan merusaknya. Biar saja angsa kita puasa."


Vanessa terkikik di sela Isak yang belum hilang dari pernapasannya. "Yakin?" Ada goyangan yang kemudian diarahkan di atas inti Rega yang terkekeh pelan.


"Goda aku selama kau senang. Aku tetap tidak akan memakan mu sampai aman."

__ADS_1


•••••••••••••


^^^•••••••••••••^^^


Tiga bulan berlalu, detik-detik kelulusan telah terlewati. Vanessa membatalkan pendaftaran kuliahnya, dengan catatan jika tahun depan akan mendaftar ulang.


Namun, tetap tidak akan ke Oxford, karena Rega hanya memperbolehkannya kuliah di Indonesia saja. Daripada tidak sama sekali, lagi pula di Indonesia pun tak kalah bagus.


Bedanya, di Indonesia tidak bisa menikmati musim dingin bersalju seperti di Inggris. Ya, tidak apa-apa, jika rindu salju mereka bisa berbulan madu ke negara bersalju.


Di sofa ruang TV, Rega menyuapi istrinya potongan buah mangga. Meski sempat berkeluh tak ingin hamil, beruntung Vanessa tak mengalami ngidam yang aneh-aneh.


Tiga bulan terakhir, malah Rega yang siaga di rumah. Lebih sering WFH dari pada ngantor kecuali harus ketemu klien di luar.


"Malem Sayang." Arjuna datang-datang mengecup kening putrinya, lalu duduk di sofa lainnya.


"Mamer mana?" Rega bertanya. Mamer, Mama mertua. Sedang Arjuna Rega panggil Pamer, Papa mertua, moto hidup sesuka hati Rega.


"Lagi nggak enak badan," jawab Arjuna. Lalu beralih menatap putrinya yang akhir akhir ini doyan sekali makan. "Anes nggak mual?"


Vanessa menggeleng sambil memagut potongan mangga dari Rega. "Anes nggak ngerasa apa-apa lagi setelah tiga bulan. Anes mual di bulan pertama ajah."


Arjuna diam sejenak. "Dulu pas Mama kamu hamil, dia lumayan kerepotan, mual muntah sejadi jadinya."


"Ekm!" Nimas tiba bersama dahaman.


"Neng..." Arjuna jadi kikuk terciduk membahas soal Hilda. Lebih takut lagi ketika wanita cantik itu putar balik ke kamarnya.


"Neng..." Arjuna mengekor di belakang Nimas sambil menggaruk tengkuknya. "Kamu perlu sesuatu hmm?"


"Lanjut ajah cerita mantannya." Nimas akhir akhir ini memang lebih sensitif. Mungkin mau datang bulan, karena hormon wanita berubah ubah setiap harinya.


"Kamu ngambek?"


"Tidak..." Nimas duduk di sisi ranjang. Lalu air mata yang luruh membuat Arjuna semakin merasa bersalah.


"Tadi cuma keinget pengalaman ajah. Bukan maksud ngomongin mantan." Arjuna meraih tangan mulus wanita yang tiga bulan terakhir menemani malam-malam nya.


"Apa aku cuma pelarian, Tuan?" Nimas beralih menatap wajah suaminya yang meski sudah berumur masih cukup muda dan tampan.


"Kenapa bilang begitu?"


Nimas menghela demi mengatur suasana hatinya. "Terlalu cepat kita ambil keputusan. Nimas merasa, masih ada Nyonya Hilda di hati, Tuan."


"Stop panggil aku Tuan!" tukas Arjuna. Hanya masalah kecil saja Nimas terlalu berlebihan.


Wanita itu menunduk. "Maaf kalo sering terbawa suasana. Mungkin karena Nimas lagi hamil muda sekarang."


"Hah?" Arjuna sedang memastikan jika telinga dan suara Nimas sinkron. "Hamil?"


Nimas mengangguk. Akhir akhir ini kesensitifan Nimas karena kehamilannya. Baru saja, Nimas cek dengan testpack.

__ADS_1


"Serius, Neng?"


Sekali lagi Nimas mengangguk. Tiada yang lebih membahagiakan dari pada mendengar istri tercinta hamil.


"Alhamdulillah." Arjuna peluk istrinya dengan kelembutan. Berusaha berikan yang terbaik dan ternyaman untuknya. "Makasih, Nimas Dewi."


"Fathia!"


Arjuna tergelak pelan. "Cuma pura-pura. Maaf soal tadi. Aku tidak bermaksud mengingat masa lalu, Neng."


Nimas mengangguk, walau masih terlalu sulit dipercaya karena kenyataannya Arjuna masih sering mengigau nama mantan istrinya tanpa sadar dalam tidurnya.


Bukan hari ini saja Arjuna masih membahas soal Hilda, hari kemarin, bahkan kemarinnya lagi pun acap kali terdengar membahas soal Hilda yang masih sering wira wiri menemui Vanessa di rumah ini.


17 tahun menduda karena satu wanita yang sedari dua puluh tahun lalu membuatnya jatuh cinta, apa masuk akal jika semudah itu terlupakan, sedang diantara keduanya masih ada Vanessa.


Sulitnya memiliki pasangan yang terlalu baik, pendirian pun sukar digenggam. Berbeda lagi dengan Rega, yang meski keras dan meledak ledak, pria itu lebih kekeuh dalam pendirian.


Setidaknya, Nimas bisa melihat, Rega tak pernah memperlihatkan penyesalan atau raut masih cinta terhadap Hilda.


•••••••••••••


^^^•••••••••••••^^^


"Papa sama Mama marahan?" Vanessa bertanya polos. Dan Rega mengangkat kedua bahunya.


"Kita juga sering marahan, tapi ujung ujungnya ke ranjang juga." Lelaki itu terkikik setelahnya. Vanessa ikut tertawa pelan.


Di awal pertemuan, Vanessa berpikir, tidak akan pernah menyukai Om om yang dulu merenggut dunia ibunya.


Namun, kembali ia setuju dengan hatinya yang berkata bahwa jodoh sudah digariskan yang maha kuasa.


Sebagimana jika dua orang ditakdirkan bersama, pada akhirnya mereka akan menemukan jalannya.


Mengingat betapa manisnya pertemuan mereka, Vanessa bersyukur. Dia dan obat tidur yang dia berikan di malam itu, menjadi jalan berjumpa dengan jodoh yang terbaik baginya.


Tentunya, tak seperti Arjuna yang setia pada Hilda, karena selama hidup, wanita yang disukai Rega tak hanya Hilda.


Sebelum bertemu Vanessa, Rega sering memiliki hubungan ambigu dengan wanita, termasuk Yulia yang akhirnya menjadi salah paham atas perilakunya.


...T A M A T...


...MUSIM PERTAMA...


Q: Kenapa di t a m a t k a n Pasha?


A: Musim ke dua biar aku lebih mudah untuk merangkai kata-katanya. Karena aku mau langsung lompat ke ketika Arjuna dan Rega udah jadi bapack bapack yaaa....


Kisah ini belum berakhir, so jangan hapus dari rak buku kalian yaaa.... Salam selengean dari Akooh... 💋


__ADS_1


__ADS_2