
Rega dan Vanessa diam diaman di dalam mobilnya. Mereka punya alasan tersendiri untuk tidak saling bicara.
Oxford dan Om-om mata keranjang, yang bersarang di kepala Rega. Sedang di kepala Vanessa hanya ada Yulia.
Mobil itu sunyi sepi, sudah seperti rumah kontrakan Pouchi dan basecamp si Unti yang suka pakai seragam putih-putih.
Sampai tiba di sebuah salon tempat di mana Vanessa melakukan extensions, mobil mereka melipir ke sana. Vanessa terheran heran ketika Rega turun dan menyuruh dirinya ikut turun.
Sambil menunduk menatap wajah bingung Vanessa, Rega bertanya dari ambang pintu mobilnya. "Di sini kan salonnya tadi?"
"Iya, tapi ngapain ke sini lagi?"
"Turun dulu, kita bicarakan di dalam." Tangan Vanessa Rega tarik dan mau tak mau wanita mungil itu keluar.
"Om!" Rega selalu menatap protes saat Vanessa memanggilnya Om.
Vanessa ciut mendapat tatapan itu, ingin memanggil Rega dengan nama saja, tapi rasanya tidak sopan mengingat usia lelaki itu seusia ayahnya.
"Hey, Anes Syahara..." Di dalam outlet, mereka segera disambut ramah oleh pemilik salon.
Pria bertubuh ramping dengan dandanan menor dan gerakan gemulai itu bernama Septiansyah yang jika malam berubah Septi hapsari tralala trilili.
"Gimana Shay? Kok balik lagita kesindang? Pasti yeyy Rindang sama akika ya?"
Rega mengernyit, pertama, dia bingung harus memanggil manusia jelmaan itu dengan sebutan apa. Kedua, usapan lembut Septi cukup nyaman jika sering-sering.
Rega menepis tangan Septi dari lengannya, sedikit aneh menurutnya; yang kliennya Vanessa namun yang dirangkul Rega.
Vanessa sempat tersenyum senyum melihat ekspresi Rega yang seolah takut pada Septi. Rega tampak berpindah pindah tempat saat Septi mendekatinya.
Bagaimana bisa Septi tak mengikutinya, demi Tuhan bisep Rega sangat macho. Kaos hitam ketat itu sangat pas di lengan Rega.
Setiap jalan bersama. Rega sengaja mengganti pakaian yang lebih kasual agar tak disangka ayah Vanessa.
"Stop di situ!" Rega membentak Septi yang tersentak dan diam di tempatnya.
Om-om tipe Rega yang disukai oleh Septi hapsari tralala trilili. Alih-alih dapat nomor telepon, tatapan pria itu membuat Septi ingin bertaubat dan kembali ke jalan yang benar.
"Ganti model rambut kekasihku!"
"What?" Vanessa tercengang. Ganti model rambut lagi? Pagi tadi baru saja sambung rambut dan sekarang Rega minta ganti lagi?
Hebat...
"Om!" Vanessa menarik lengan Rega yang kekeuh untuk tetap berdiri di sana. "Anes nggak mau ganti gaya rambut lagi, Anes suka sama gaya rambut yang sekarang!"
__ADS_1
"Emang ada apa dengan gaya rambate ratahayonya Neng Anes ulala yang cetar membahana ini? Bukannya udah cucok meong kan Om?" tanya Septi bingung.
Ini kali pertama Septi hapsari tralala trilili menerima komplain dari kliennya secara langsung. Terlebih, yang komplain lelaki dengan bisep yang membuatnya menelan liur.
"Aku mau kamu mengganti semula gaya rambut istri ku! Kembalikan model rambut Vanessa seperti sebelumnya!" titah Rega sepihak. Sebab sepertinya Vanessa tak setuju dengan usulannya yang seenaknya.
"Tapi, Syahara..."
"Kembalikan rambut istri ku, atau kamu, saya panggil Mas!" ancam Rega.
"Idih," sambung Septi keheranan. Susuk di badan bisa luntur kalau sampai ada yang memanggil dirinya dengan sebutan Mas.
"Om apa-apaan sih?" Vanessa menghentakan kakinya sebelum pergi melengos. Vanessa keluar lagi dari outlet Septiansyah.
Mau tak mau, Rega kembali mengejar wanita mungil kesayangannya. "Mau ke mana, kamu belum ganti gaya rambut mu!"
"Anes baru sambung! Ngapain ganti lagi?" ketus Vanessa.
"Aku tidak suka dengan hasilnya!" kekeuh Rega yang terlihat seperti anak-anak di mata Vanessa Disaga.
"Bukannya tadi Om bilang cantik?" Vanessa tertawa samar. Suaminya ini semakin menjadi jadi saja keras kepalanya.
"Justru karena terlalu cantik. Jangan seperti ini! Aku tidak suka!" ketus Rega.
"Om kok egois sih?" Vanessa terpaku kesal, tapi kemudian melenggang pergi ke arah mobil mereka.
"Kita mungkin nggak cocok! Ada ajah yang bikin kita berantem!" Melihat wajah Vanessa dirundung sendu Rega merasa bersalah.
Namun, jika mengingat cara orang menatap istrinya, Rega ingin meledak rasanya. Satria, Roy, Hodgson, semua kliennya tampak ingin menerkam Vanessa di meja makan.
"Kalau kamu tahu gimana cara mereka menatap mu membuat ku cemburu. Mungkin kamu bisa mengerti ku, Vanessa."
"Terus gimana sama Om, dan Yul si tuyul peliharaan Om itu?" sergah Vanessa.
"Om pikir Anes nggak bisa cemburu gitu? Om pikir hati Anes baja gitu? Bisa dengan kuat ngeliat suami dan wanita lain berdekatan sedekat kalian? Bahkan, Yulia seperti sengaja pamer kemolekan ke Om!"
Rega terdiam memikirkan ucapan istrinya yang benar adanya, sering kali Yulia bersikap manja dan terlalu berlebihan untuk seorang karyawan, tapi Rega butuh Yulia karena selain pintar Yulia juga sangat cekatan.
"Aku sama Yulia, sama sekali tidak tertarik. Dia bukan tipe ku."
"Apa dulu Om tertarik sama Anes? Sama, kita juga berawal dari tidak saling tertarik. Dan kemarin sudah berakhir di atas ranjang. Tidak menutup kemungkinan kalau Yulia juga mau itu sama Om, makanya selalu berpakaian terbuka di depan Om! Kancing dada terbuka, rok mini yang tidak wajar, Om yakin tidak akan pernah tertarik?"
Rega kekeuh untuk menyatakan tidak tertarik pada wanita seperti Yulia. Dulu, Hilda di mata Rega wanita cerdas yang memiliki hati bak malaikat, tidak murahan, cantik Hilda tidak hanya di fisik, dan itu tipe Rega.
Namun, ketika tahu bagaimana Hilda memiliki sikap dan sifat yang tidak sesuai dengan harapannya, perlahan rasa suka itu terkikis.
__ADS_1
Justru saat Rega menemukan Vanessa, semua dunianya beralih. Segala aspek kehidupan seolah dia miliki dari seorang Vanessa.
Gadis yang menyenangkan, menggemaskan, lucu, cantik, mungil, dan bagian favorit Rega dari Vanessa adalah, meremas pinggang kecil yang membuat dirinya gila saat bercinta.
Cantik dan seksi saja tidak akan cukup menggetarkan hati Rega. Nyatanya, Rega langsung tertarik pada Vanessa di awal pertemuan.
Percaya atau tidak, Rega bahkan sampai menunggu di depan rumah Arjuna hanya untuk anak kecil yang bukan incarannya.
"Anggap saja aku sudah pecat Yulia. Apa kau tetap mau ke Inggris?" Permasalahan mereka bukan hanya soal Yulia, tapi pilihan Vanessa.
"Itu tentang cita-cita." Vanessa tak mau menatap Rega atau dia tidak akan tega untuk pergi.
"Universitas seni di Indonesia bagus-bagus. Raih cita cita mu, akan aku dukung, tapi tidak perlu sejauh itu."
Vanessa mencebik, sedari dulu Oxford bagian dari cita-citanya. "Om kan bisa datang ke sana. Bolak-balik jenguk Anes. Kita akan lebih mesra kalau LDR kan? Emang Om nggak takut Anes bosen sama Om?" tanyanya.
Rega terdiam, mungkin bagi laki-laki seumuran Rega sudah memiliki kemantapan, dan bisa dipastikan tidak akan mengalami jenuh pada pasangannya.
Karena bagi pria yang sudah berumur, hanya teman ngobrol yang nyaman, juga teman bercinta yang sesuai kriteria, bisa memanjakan, berdekatan, ya sekiranya itu yang Rega mau. Tapi bagaimana dengan wanita yang baru gede seperti Vanessa.
Arjuna benar, suatu saat nanti. Vanessa bisa saja mengalami pubertas yang menggejolak, dan membuat wanita itu bosan padanya.
Ini bicara soal realita yang terjadi di lapangan, bukan hanya berandai andai. Buktinya banyak pasangan yang gagal membawa kapalnya hingga karam karena menikah di usia muda.
"Sekalian kita bulan madu di sana," bujuk Vanessa kembali.
"Ubah model rambut mu kalau begitu!" Rega berpaling karena setiap melihat wajah manja Vanessa, ada sesuatu yang ingin meronta.
"Nggak mau!" Vanessa mengeratkan pelukan di lengannya. "Emang Om yakin nggak mau liat Anes merem melek dengan rambut yang panjang begini?" rayunya.
Ah, Vanessa ini selalu membuat Rega luluh lantak dengan kelicikannya. Bisa-bisanya saat di mobil begini membicarakan hal itu.
Vanessa yang melihat raut aneh dari Rega mulai peka. Diusapnya perut Rega hingga ke bawahnya kemudian. "Om yakin nggak akan penasaran liat Anes begitu sama rambut baru Anes?"
Rega berdecak, lalu menyalakan mesin mobilnya kembali. "Kita pulang!" ajaknya.
Vanessa terkikik, sudah pasti niat Rega pulang untuk melihatnya merem melek di atasnya dengan rambut baru. Om om seperti Rega memang perlu dibujuk dengan cara yang sensual.
Mobil kembali bergerak, kepala Vanessa selalu menempel di bisep Rega yang barusan membuat Septi berliur. "Om beneran kan mau pecat Yulia?" tanyanya memastikan.
"Aku pindahkan ke bagian lain. Yang pasti tidak bisa memecat karyawan karena urusan personal. Mereka punya hak juga untuk tetap tinggal selama tidak melanggar peraturan kontrak kerja."
"Baiklah." Vanessa setuju. Setidaknya Rega ada niat untuk tidak berdekatan dengan perempuan yang seperti memancing hasrat kekhilafannya. "Jadi mau gaya apa?"
"Gadis nakal!" Sekilas, Rega mengecup bibir Vanessa yang mendekat. Sejujurnya, rambut Vanessa sangat cantik, itulah yang membuat Rega tak ingin berbagi itu dengan pria lain.
__ADS_1
📌 maaf baru update