
Meski libur hari tenang, sengaja Vanessa bangun pagi-pagi hanya untuk datang ke salon dan melakukan extension berharap wajah unyu-nya terlihat lebih dewasa dari biasanya.
Dua minggu Vanessa sibuk dengan persiapan ujian akhir sekolah. Sementara dia juga rindu pada suami bucin-nya.
Vanessa ke kantor dengan busana ala gadis remaja pada umumnya. Dari depan lift Vanessa bisa melihat bagaimana cara Rega dilayani oleh sekretaris seksinya.
Dada luber Yulia, seakan mau ditumpahkan ke meja kerja suaminya. Wanita mana yang tak kesal melihat hal seperti itu di matanya.
Vanessa mempercepat langkah kakinya lalu segera duduk dipangkuan Rega yang masih sibuk dengan berkas-berkas penjualan bulan terkini.
Rega menyambut Vanessa dengan kecupan di kepala dan pelukan di perut tanpa melihat wajah gadis itu. Rega masih sibuk menatap Yulia dan berkasnya bergantian.
"Sepertinya akan banyak kenaikan signifikan dari bulan bulan sebelumnya." Rega terlihat tersenyum sangat puas.
"Benar, produk barunya benar-benar laku dipasaran, Pak." Yulia lebih puas senyumnya.
Vanessa seperti anak kecil yang duduk menunggu ayahnya bekerja. Hanya dipangku tanpa diajak bicara bahkan disambut dengan ucapan pun tidak.
Vanessa memberengut dengan dagu yang dia topangkan di meja. Sesekali mengamati belahan dada Yulia yang mengkilap seperti ada serbuk glitter di sana.
Mata Vanessa beralih ke paha wanita itu karena Yulia hanya mengenakan rok yang menutupi pantat seksinya saja. Tentu pahanya bisa terlihat tanpa memandangi dari bawah.
Yulia sangat perfect untuk seorang perempuan. Vanessa minder jujur saja, bahkan ukuran dadanya tidak ada separuhnya Yulia.
Apa lagi urusan yang lainnya yang mungkin lebih over service. Bagaimana kalau besok atau lusa suaminya tergoda pada wanita yang seperti sedang memancing pujian dari Rega.
Akhir akhir ini Vanessa tak bisa fokus belajar hanya karena Rega memiliki Yulia. Pernah dia bicara soal ini baik-baik dengan Rega, dan Rega hanya tawa kecil saja.
Di atas pangkuan Rega, Vanessa hanya sibuk meniup niup poninya. Vanessa jenuh, sampai botol tinta printer berwarna merah Vanessa mainkan sembarangan.
Iseng, Vanessa menuang tinta tersebut di kertas kosong yang tergeletak di dekat tangannya. Saking gabut yang tak berkesudahan, gadis itu meletakkan telapak tangannya di atas kertas bertinta.
Menyetempel kertas-kertas kosong lainnya dengan tangan mungilnya. Cukup menghibur dikala tak diajak bicara oleh suaminya.
"Kau kerjakan yang ini dulu saja. Antonie yang akan membantu mu. Daddy akan periksa ini juga nanti. Jadi harus sudah siap malam ini."
__ADS_1
"Baik, Pak. Yul permisi." Yulia mengangguki titah atasannya.
"Yul permisi..." Vanessa menirukan gaya bicara Yulia dengan bibir yang meleyot dan suara yang sangat lirih.
Melihat tangannya masih penuh tinta, jiwa jail Vanessa terbangun dari hibernasi. Vanessa menyengir lalu menepuk pantat Yulia dengan tangannya.
"Baby!" Rega mencekal tangan Vanessa yang penuh tinta di area telapakan. "Apa ini?"
Yulia ternganga, sedang Vanessa hanya menyengir. "Maaf Mbak Yul. Abisnya Anes gemes sama pantat Mbak Yul."
Yulia tampak kesal, bagaimana tidak, rok yang Yulia pakai pasti berharga mahal. Vanessa seperti tak berdosa setelah membuat roknya kotor permanen.
Andai bukan Vanessa, mungkin Yulia sudah marah-marah sambil berteriak. Sayang dia masih ingin bekerja di perusahaan ini.
"Kau boleh pergi, Antoni yang akan mengganti rok mu." Rega mengusir. Lalu, Vanessa diam saja setelah itu.
"Baik, Pak." Yulia keluar.
Rega selalu perhatian pada sekretaris seksinya. Dan Vanessa bisa merasakan kepedulian suaminya selama ini pada Yulia.
Vanessa tak menyahutinya.
"Mau jalan?" tanya Rega.
"Tidak."
"Lalu?"
Vanessa menatap Rega setelah membalikkan tubuhnya ke arah pria itu. "Mau Anes, Om pecat Yulia, atau pindahkan ke mana saja."
"Yang benar saja." Rega menegur. "Yulia tidak ada salah, kinerjanya bagus. Lalu, apa masalahnya hmm?" herannya.
Vanessa tahu suaminya takkan pernah bisa mengerti posisinya. Kinerja Yulia memang baik, tapi tidak dengan hatinya yang merasa kehadiran Yulia sebagai beban.
Sepertinya pembicaraan ini sia-sia. Vanessa berdiri, lalu melengos pergi. Gadis itu keluar dari ruangan suaminya, dan masuk ke dalam lift.
"Baby!" Meski mendengus, Rega tentu tak membiarkan Vanessa begitu saja. Rega menyusul istrinya dengan menghalau pintu lift yang sudah akan tertutup.
__ADS_1
"Come on! Jangan begitu." Rega menegur. Dia meraih tangan Vanessa untuk dibawanya keluar lagi. "Kamu kenapa?" tanyanya.
Vanessa terdiam sejenak untuk menatap suaminya yang tidak peka seperti Geovan saat Adis menyukainya. Ya, Rega berbeda dengan mantan kekasihnya yang dia putus secara sepihak lewat chat malam tadi.
Vanessa membuka tas selempang miliknya, meraih secarik kertas, dan menyodorkannya pada Rega. "Anes udah daftar kuliah. Anes ke sini mau kasih tahu soal itu."
"Oxford?" Rega beralih dari kertas ke wajah serius istrinya. "Kamu mau ke luar negeri?"
"Dari dulu Anes mau ke sana." Itulah kenapa Vanessa ingin Arjuna memiliki istri sebelum dia berangkat ke luar negeri.
"Kamu mau jauh dariku?"
"Di sini sudah ada Yulia kan?"
"Kamu ini kenapa?" Rega tak habis pikir, Yulia Yulia dan Yulia yang bahkan tak sama sekali menarik perhatiannya.
"Mungkin Anes yang berlebihan. Tapi Anes nggak suka kamu dekat dengan Yulia. Even itu siapa pun, Anes nggak suka!"
Rega terdiam mencoba memahami, dan pola pikir mereka berbeda. Rega tak dapat paham dengan apa yang Vanessa resahkan.
"Kita bicarakan lagi nanti. Sekarang kita makan siang dengan klien," ajak Rega.
Vanessa mendengus lalu menurut untuk melangkah di belakang suaminya. Tangannya tertarik lelaki itu, mau tak mau Vanessa ikut.
Lewat lift transparan mereka turun dan tiba di lantai empat Rega membawa Vanessa ke ruangan khusus meeting bersama klien.
Karena waktu sudah memasuki jam makan siang, tentu Rega mengundang kliennya untuk makan siang bersama terlebih dahulu.
"Vanessa..." Ada Om Om yang menyambut antusias Vanessa. Bahkan tak peduli pada Rega yang menjadi tunangan gadis itu.
Om Satria nama teman Arjuna yang kesekian kalinya Vanessa temui di meja makan sambutan suaminya.
"Om senang kalau ada kamu di meja makan. Rasanya ada yang menyegarkan otak setelah bergulat dengan pekerjaan."
"Om bisa saja." Vanessa terkikik lalu duduk di sisi Rega yang mulai membetulkan jasnya dengan sedikit kesal.
Urusan Oxford belum selesai, ada Satria yang membuat dada Rega naik turun karena diisi dengan gemuruh.
__ADS_1