
Rega mengangkat Snowy dari baby car seat miliknya, dan bergegas masuk ke dalam rumah mertuanya. Hanya karena tak mau memisahkan Snowy dengan Daru, Rega mengalah tinggal di rumah ini.
Vanessa yang merasa tidak nyaman pada dinginnya sikap Rega. Mendadak, wanita itu diam untuk berpikir apa yang salah darinya.
Arjuna tertunduk di atas sofa ruang tengah, Daru tertidur di sofa lainnya.
Rega mengernyit tentu saja. Untuk apa Arjuna mengajak Daru tidur di luar? Bukankah ini sudah cukup malam?
"Juna..." Rega berdiri menatap Arjuna yang tengah menghela napas karena menitihkan air matanya. "Kau menangis?"
Vanessa segera merapat. "Papa kenapa? Ada siapa barusan?" Dilihat di meja, ada dua gelas minuman yang dipastikan bukan milik Arjuna.
"Nimas!"
"Hah?" Rega duduk di sisi Daru yang masih terlelap, sambil mempertahankan Snowy di dadanya. Pantas Arjuna menangis, Nimas datang setelah sekian tahun.
"Terus Mama mana?" Vanessa mencecar. Rega hanya menjadi pendengar seksama.
"Dia lari dariku demi menjadi pembantu di tempat dokter Lusia!" katanya lirih.
"Apa?" Rega terkejut. Arjuna tulus ingin mengangkat derajat gadis itu, dan Nimas lebih suka posisinya yang sekarang.
"Aku menceraikannya!"
"Kau gila?" Rega menepuk punggung Snowy yang berjingkrak karena suaranya. Vanessa juga menepuk kaki Daru yang barusan gerak.
"Aku pikir, aku tidak perlu pasangan, aku tidak perlu lagi menjaga perasaan orang lain. Aku bahagia hidup seperti ini. Bersama Daru, Snow dan kalian!" Arjuna lelah harus sembuh sementara dia tidak merasa gila.
"Ingat lagi bagaimana kamu menikahinya dulu. Kamu baru menginginkan gadis lain setelah terjebak oleh cinta Hilda!" Rega menegurnya.
"Aku sudah memutuskan. Aku lebih suka hidup sendiri, tidak perlu ada yang merasa sakit saat aku mengigau nama siapa pun. Ini hakku." Arjuna kembali lirih.
"Ya Tuhan!"
Rega cukup menyayangkan, terlebih Vanessa yang sedikit kaget dengan aksi ayahnya. Tujuh belas tahun sabar menunggu Hilda tapi baru tiga tahun menunggu Nimas, Arjuna sudah menyerah.
"Puluhan kali aku berpikir. Jika wanita bisa dengan mudah pergi dari darah dagingnya. Aku bisa pastikan dia tidak punya hati sama sekali."
Arjuna menghela napas dalam. "Bukankah mereka yang menikah harus memprioritaskan keluarga daripada rasa sakitnya sendiri?"
Vanessa tersayat, karena dirinya seperti mendapat peringatan keras. Lihatlah sikap skeptis Arjuna, mungkin ini juga bisa saja terjadi pada Rega.
"Andai dia mau beritahu aku sebelum dia pergi, mungkin aku bisa berubah. Tapi aku pikir, dia tidak lebih dari wanita egois. Sama seperti Hilda."
__ADS_1
Puluhan kali Arjuna berpikir, dan jawabannya, Nimas memang bukan ibu yang baik untuk putranya Daru disaga.
Nimas pergi lalu meninggalkan ucapan yang membekas, seperti sengaja ingin membuat dirinya merasa bersalah. "Dia tidak pernah mau usaha perbaiki, maka takkan ada yang harus diperbaiki."
"Kamu butuh waktu, Juna."
"Waktuku yang tersisa. Tidak akan aku sia siakan hanya untuk kepentingan perasaan dan kebutuhan biologis ku. Daru lebih penting dari apa pun bagiku." Arjuna kian tegas.
"Papa!" Vanessa peluk ayahnya. "Anes turut sedih. Tapi semoga terapi Papa bisa berhasil buat Papa lupa akan trauma masa lalu Papa."
Rega mengusap dan menepuk punggung Arjuna sedikit kasar. "Kau laki-laki yang kuat. Aku yakin ini keputusan yang tepat. Daru milikmu utuh."
Ini tidak mudah, bisa bayangkan betapa hancur Arjuna, dia menemui istrinya menjadi pelayan di rumah dokter yang menangani dirinya.
Nimas bahkan sempat mengaku jika sudah berpacaran dengan sopir Lusia, meski di akhir Arjuna tahu, itu hanya asalan Nimas untuk pergi menjauh darinya siang tadi.
Nimas menolaknya mentah-mentah. Lalu, di malam hari, Nimas datang bersama Lusia setelah tahu jika dirinya mengalami trauma masa lalu.
Terlambat, Arjuna sudah menceraikan wanita itu tepat disaat Nimas mengaku sudah memiliki kekasih baru. Arjuna yakin akan keputusannya, Nimas tidak layak dijadikan ibu untuk anaknya.
Tidak ada ibu yang rela jauh dari putra yang dilahirkannya. Ibu cenderung lebih bisa menahan kesakitan asal bisa bersama putranya, tapi tidak dengan Hilda dan Nimas.
"Gimana kalo aku jadi Casanova saja?"
"Papa!"
•••••••••••••
^^^•••••••••••••^^^
Malam kiam larut, dan pagi mulai menjelang, Vanessa dan Rega masuk ke dalam kamar setelah Arjuna, Snowy dan Daru masuk ke dalam masing-masing kamarnya.
"Papi..." Vanessa menyuguhkan cangkir di atas meja kamarnya. Rega tak mau tidur, dan dia mengalah ke dapur untuk membuat kopi.
"Hmm?" Rega melebarkan bibirnya. Lalu Vanesa menghambur ke dalam pelukan pria matang itu. "Maaf," ucapnya.
"Kamu sadar kalo kamu salah?" Rega terkekeh kecil. "Kita nggak mungkin berantem dulu baru kamu paham kan? Kita nggak mungkin berpisah dulu baru kamu nyesel kan? Snowy dan aku butuh kamu," lanjutnya.
"Hanya sesederhana itu!" tambahnya lagi.
"Maafin Anes." Vanessa tenggelam di dada beraroma maskulin suaminya. "Bilang apa yang harus Anes lakuin?"
Rega mundur untuk menatap istri kecilnya yang tumben. "Kamu yakin mau mendengar dan melakukannya untukku?"
__ADS_1
Vanessa menganggukkan kepalanya, yakin.
"Jangan temui Geovan. Jangan lupa kau punya Snowy. Jangan lupa aku suamimu. Jangan masuk lagi ke bar tanpa aku. Orang bisa saja menjebak mu minum, atau hal apa pun yang lainnya."
"Aku jenuh dengan drama cinta yang berakhir berdusta. Kau tahu, melihat perselingkuhan Sofie dan Antonie saja aku muak!"
Di kantor, Rega sudah cukup kesal oleh drama cinta segitiga Antoni, Sofie dan istri pilihan ibunya Antoni. Di rumah, Rega tak mau ada drama yang seperti ini.
"Aku tidak akan selingkuh, tapi kalau kamu selingkuh, mungkin aku akan melakukan yang Arjuna lakukan! Pergi..."
Vanessa mendesis. "Jangan pergi. Jangan menyerah. Jangan bosan sama Anes. Apa lagi mengambil keputusan seperti Papa. Anes nggak mau!"
Rega terdiam sejenak untuk merenung.
"Prioritaskan Snowy dan aku. Jangan buat karakter Anes ke dua setelah kamu yang senakal ini. Aku tidak mau punya anak gadis yang mengajak Om Om mabuk bersama di kamar seperti mu."
Vanessa sempat-sempatnya tertawa. Dia memang nakal, dan beruntung Om Rega yang dia temui di kamar yang disebutkan tadi.
"Apa lagi yang perlu Anes perbaiki?"
Rega menaikan iris ke atas, berpikir dan tidak menemukan keluhan lainnya. "Tidak ada, selain goyangan mu yang perlu ditingkatkan lagi. Akhir akhir ini kamu kelelahan, sudah tidak all out seperti sebelumnya."
Vanessa tertawa renyah. "Gimana kalo akhir semester kita bulan madu?"
"Ke mana?"
"Bali saja yang dekat. Di sana juga hotelnya bagus bagus. Bisa bawa Papa, Daru sama Snowy juga." Vanessa beri usul.
"Boleh..." Rega mengarahkan raba tangan ke halaman semestinya. Vanessa pejamkan mata untuk menyambut datangnya sang belaian.
Tak mau ada pengkhianatan, tak mau berpisah, tak mau bernasib sama seperti kisah-kisah di sekeliling mereka. Itu yang membuat Vanessa dan Rega senantiasa saling memperbaiki.
Rega sudah jarang marah. Rega sudah jarang egois. Rega berubah demi gadis itu. Dan saat ini, biarkan Vanessa berproses untuk upgrade ke versi terbaiknya.
...TAMAT MUSIM KEDUA 🙏...
...📌 Mau tahu kenapa Arjuna dan Nimas harus cerai? Karena tidak semuanya harus happy ending. Dan dari tidak happy ending inilah, Pasha bisa nemuin karakter baru di cerita berikutnya....
...Di mana akhirnya Daru harus menjadi pribadi yang benci sekali wanita miskin. Dan benci sekali wanita cantik. Mau tahu siapa pawangnya? Kalo ada waktu dan kesempatan, lanjut di cerita baru saja nanti yaa, biar cerita ini nggak garing karena lama-lama dipenuhi konflik batin Arjuna dan keluar dari genrenya, wkwk......
...Tadinya mau aku panjangin, tapi aku kurang suka bikin konflik setelah tokoh utama pada bahagia... Akan jadi garing menurut ku... Selanjutnya bonus chapter saja yaa......
...Jalan-jalan ke tanah melayu... See you... Garing Sha!! Astaga......
__ADS_1