
Rega menatap mondar-mandirnya tubuh sang mertua. Dua jam yang lalu, Arjuna mengetuk pintu kamar Vanessa dan bilang ingin bicara serius dengan Rega.
Sudah dua jam berselang dari terakhir kali Rega keluar kamarnya, tak ada yang Arjuna ungkap selain hanya. "Begini, Rega..."
"Apa, begini, begitu, begini, begitu, kau mau membuat ku menunggu sampai Vanessa dilahirkan lagi hah?" Rega ketus saking kesalnya.
"Et, aku mertua mu!" Arjuna mengandalkan posisi untuk bisa mengendalikan mantu konglomeratnya.
"Ok, Papa." Sambil mendengus kesal Rega menghentakkan punggung ke sandaran kursi rotan di balkon kamar Arjuna.
Benar, memang seromantis itulah mertua dan menantu ini sampai-sampai mengobrol di balkon kamar.
"Jangan Papa juga. Aku geli mendengarnya!"
"Kau ini kebanyakan buang bibit di kamar mandi makanya jadi begini." Rega terpaku kesal pada Arjuna, entah maunya apa orang tua ini, Rega heran.
Arjuna tahu Rega bosan, tapi serius, dirinya sulit mengutarakan hal yang mengganjal di hatinya. "Dengar Rega, aku memanggilmu ke sini. Karena aku butuh solusi!"
Rega menghela napas untuk berusaha lebih bersabar lagi. Bagaimana pun, Arjuna ayah mertuanya.
Jangan lupa pengorbanan Arjuna yang rela sunat di Amerika demi bisa mendapatkan gadis cantik seperti Vanessa. So, sabar Rega sabar Rega batinnya.
"Apa perkaranya? Makanya katakan!"
"Nimas! Puas?" Arjuna membentak.
"Mana aku tahu dia puas atau tidak. Memang sudah kau apakan dia?"
"Uughhh!" Dengan geram Arjuna ingin sekali menekuk nekuk pria di hadapannya ini. Tidak bisa nyambung dengan apa yang dia maksud.
"Ngomong yang jelas biar aku tahu maksud mu. Kau tahu, Juna. Dalam dua jam yang kau buang, harusnya aku sudah dapat dua ronde!"
Arjuna memukul lengan Rega dan dibalas kembali oleh pemiliknya. Mereka tentu tak mau kalah jika ada salah satu yang main tangan, akan langsung membalasnya.
"Aku suka sama...."
"Astaga?" Sontak, Rega mengangkat kakinya ke atas kursi sambil menutup mulut dengan mata melotot. "Kau menyukaiku, Papa Juna?"
"Dengarkan dulu!" Arjuna menoyor kepala Rega yang sontak terkikik geli melihat ekspresi aneh Arjuna.
"Aku suka sama Nimas."
"What!" Rega pura-pura terkejut. Ya, hanya pura-pura karena dari awal dia tahu. "Suka sama Nimas?" teriaknya pura-pura histeris.
"Sekalian aja kamu umumkan lewat speaker masjid merek toa!" ketus Arjuna.
Spontan, Rega bangkit dari kursi dan berteriak di tepian balkon. "Woy! Orang-orang...."
"Sialan ni anak!" Arjuna membekap mulut menantunya yang sudah mirip ember bocor. Dan hal itu disaksikan oleh Pak Wisnu yang sedang berjaga di bawah taman sana.
Pak Wisnu sampai menyorotkan senter ke arah dua majikan pria yang masih dalam kondisi memeluk. "Tolong, pak... Mertua ku gaaay..."
"Ah!" Rega meringis mendapat gigitan di telinganya. Dia membalasnya dengan menendang kaki Arjuna lalu berlari keluar dari kamar mertuanya sambil tertawa.
__ADS_1
Arjuna mengejar dan segera menghentikan langkah Rega yang akan masuk ke dalam kamar putrinya. "Tunggu, Rega! Bantu, aku!"
"Ogah!" tolak Rega.
Arjuna memelas. "Sebentar lagi Anes mau jodohin Wisnu sama Nimas. Aku nggak mau ketinggalan dari Wisnu yang umurnya lebih tua!" katanya.
Rega mengatur napas, menghela dan membuangnya cepat. "Ok. Kalau begitu tunggu apa lagi, katakan cinta mu sekarang!"
Rega menggandeng tangan Arjuna, berjalan menuju ke kamar Nimas. "Mau solusi kan? Sekarang katakan cinta mu, Papa!"
"Bagaimana caranya?"
"Bilang i love you!" Rega ketus.
"Itu sulit!"
Tanpa babibu lagi, Rega mengetuk pintu kamar Nimas. Dan membuat Arjuna mendelik karena gugup. "Kau gila?"
"Bilang kau tergila gila padanya!"
"Itu lebih gila lagi!" bentak Arjuna melotot.
"Tuan?" Arjuna tersentak saat Nimas membukakan pintu yang sudah kadung diketuk. Sedang Rega bersembunyi di sisi kusen pintu kamar Nimas.
Arjuna menggaruk kepalanya sambil menyengir tak jelas. Dia bingung harus memulai dari mana percakapannya.
Untuk membantu bicara Arjuna, usaha yang Rega lakukan adalah menulis sesuatu di layar ponselnya yang lumayan lebar.
Dari sanalah Arjuna mulai membaca kata, per kata panduan yang Rega tuliskan. "Kau... seperti... bidadari... surga."
"K-kau seperti bidadari surga." Arjuna menyengir setelah mengatakan itu pada Nimas yang kebingungan.
Nimas tahu Arjuna mulai menunjukkan gelagat aneh, tapi tidak berekspektasi jika tuannya mengatakan itu di tengah malam begini. "Tuan datang ke kamar Nimas, hanya untuk mengatakan ini?" tanyanya bingung.
"Tidak!" Arjuna menggeleng karena instruksi dari Rega. Dan dia kembali mengangguk karena Rega mengangguk. "Ah, iya."
"Eh tidak!" Arjuna menggeleng kembali. Jujur dia bingung pada instruksi yang Rega unjuk. Sepertinya mereka mis communication.
"Jadi yang benar yang mana, iya atau tidak, Tuan?" Nimas bertanya bingung sekali lagi.
"Aku Tresno Karo Kowe!" Itu yang Rega tulis di layar ponselnya. Arjuna mana tahu bahasa Jawa, dia bahkan tak bisa membacanya dengan baik meski memiliki darah Jawa.
"Aku tresss..."
"Tuan stress?" Nimas bertanya lagi, yang mana membuat Arjuna garuk-garuk kepala yang mendadak gatal.
"Aku cinta kamu." Rega menulis hal lain untuk mempermudah pengucapan Arjuna.
"Aku ci......"
"Apa?" cecar Nimas. Wanita itu cukup tak sabar untuk tahu apa yang sebenarnya ingin dikatakan tuannya.
"Cicak, iya..., di kamar kamu pasti ada cicak!"
__ADS_1
Rega membentur benturkan kepalanya di dinding mendengar jawaban refleks Arjuna yang dipelesetkan. Sudahlah, gagal total jika caranya begini.
"Tuan demam?" tanya Nimas.
Mendengar pertanyaan Nimas, sontak Rega tertawa sampai terpingkal-pingkal walau dalam mode silent. "Sialan!" kesal Arjuna.
"Maaf kalau Nimas kurang ajar."
"Oh... Bukan, bukan Nimas, bukan kamu yang kurang ajar." Arjuna lupa kalau Nimas tak melihat Rega yang padahal berada di sisinya. Mereka hanya tersekat kusen pintu saja.
"Lalu?" Nimas masih sangat bingung.
Arjuna pada akhirnya menyerah. "Sebaiknya kamu masuk saja, sudah malam," ucapnya pada Nimas pasrah. Rega menghela napas.
"Iya." Nimas lega.
Akhirnya, dia tidak perlu takut menghadapi keanehan majikan dudanya yang terlalu mencurigakan. Wanita itu masuk dan menutup pintu, bahkan terdengar suara kunci dengan gerakan segera.
Arjuna melenggang pergi. Lalu, Rega menarik ayah mertuanya yang sudah lemah, letih, lesu, loyo, padahal belum ditolak. "Mau ke mana?"
"Aku gugup!"
"Lalu?" Rega mendengus. Cupu begini bagaimana bisa punya istri.
"Aku frustrasi!" Arjuna mendatangi dapur untuk minum. Tapi karena, saking panasnya sang otak memikirkan Nimas Dewi, Arjuna meletakkan keningnya pada lemari es.
Rega terkikik, mertuanya aneh saat jatuh cinta, pantas dulu dikatakan cupu oleh teman sekelasnya. Meski sekarang sudah tampan, kelakuan masih sangat-sangat cupu.
"Jadi gimana?" Rega menahan tawanya melihat Arjuna mendinginkan otak lewat lemari esnya.
"Gimana lagi, aku selalu gugup saat menghadapinya. Masih untung tidak mimisan!" rutuk Arjuna.
Rega ingin tertawa lepas, tapi masih takut dosa yang sudah melimpah. "Lebih baik, besok kau ajak saja ke fine dining. Nyatakan di sana dengan suasana romantis."
Arjuna tertawa kecut. "Yang ada aku kaku karena cuma bisa memandangi wajahnya yang cantik."
Rega memutar bola matanya. "Terus maunya gimana? Lari-lari di lapangan kayak film India hah?"
Arjuna berdecak. "Sialan! Bukan kasih solusi malah dibully!"
Keduanya terdiam saling berpikir. Sampai saat Rega menemukan ide cemerlang, Rega lantas menjentikkan jari sambil berkata aha!
"Dengan cara yang ekstrim saja, Jun... Mmmh... Papa!" ralatnya.
"Apa?" Arjuna merapat dengan wajah serius. Kelihatannya ide Rega sangat brilian, tidak sia-sia punya mantu genius.
"Mabuk!" Rega menyengir. "Kamu minum di kelab, pulang-pulang masuk kamar Nimas, kamu rebut mahkotanya. Paginya dia pasti menangis, lalu setelah itu kamu tepuk punggungnya, bilang kalau kamu mau bertanggung jawab!"
"Sarap!" ketus Arjuna sembari memberi jari miring di dahinya.
"Kau manis sekali, Papa!" gelak Rega cengengesan.
"Udah masuk kamar sebelum aku pecat kamu dari jabatan mantu!" teriak Arjuna.
__ADS_1
Rega terkikik geli. Bahkan sampai memegang perut saking sakit dan kakunya. Ayah mertua yang manis ini cukup menggelitik perutnya.
📌 Welcome to pembaca baru... Cuma bisa menyapa dengan ini... Lope kalian semua...