Menikahi Calon Papa

Menikahi Calon Papa
MUSIM KE DUA_2


__ADS_3

-Nimas Fathia...


"Jangan pergi Hilda!" Kata yang selalu Nimas dengar setiap malam-malam saat masih menjadi istri Arjuna Disaga.


Tak ada yang lebih menyakitkan daripada tidur bersama pria yang terus menyebut nyebut nama mantan istrinya.


Nimas lebih suka menjadi pesuruh dibanding menjadi Nyonya yang hanya disandangi istri pelampiasan hasrat.


Setiap malam sebelum tidur Arjuna terus memuji keindahan tubuhnya, desah merdunya, bibir ranumnya, dan kenikmatan lain yang dia suguhkan sebagai seorang istri.


Namun, saat lelaki itu tertidur, bahagia dari pujian pujian itu seolah menguap digantikan celetukan celetukan tak mengenakan Arjuna.


Satu tahun lamanya Nimas bertahan, dan pertahanan itu cukup sudah, Nimas pergi meninggalkan putra yang lahir secara normal dengan tertatih dia berlari.


Nimas kembali bekerja sebagai pembantu rumah tangga di perumahan elit. Nimas menikmati hidup sederhananya.


Tiga tahun lamanya Nimas bekerja di sini dan cukup betah karena pemilik rumah ini sangat baik. Masalah pekerjaan, meskipun banyak tak pernah menjadi keluhannya.


Nimas memang sengaja menyibukkan diri agar senantiasa lupa pada Arjuna dan Daru putranya. Mungkin hanya mimpi, karena itu tidak akan pernah mudah baginya.


"Nimas, bersihin kamar belakang ya!" Begini lebih enak, Nimas lebih suka disuruh suruh dari pada berdiam diri seperti nyonya.


Ini hidup yang layak untuk dirinya. Ini hidup yang sedari dulu dia tekuni. Hanya pembantu rumah tangga, bukan seorang Nyonya.


Walau tak dipungkiri, ada saat-saat Nimas menangisi putra yang tinggal bersama suaminya. Tak apa, jika resiko A tak mau dia tanggung, maka Nimas yakin resiko B takkan lupa hadir untuknya.


"Hari ini saya ada pertemuan dengan klien dari luar kota. Tolong bersihkan kamar tamu. Barang kali saja, tamu saya akan menginap."


"Baik Nyonya." Nimas segera melanjutkan pekerjaan yang menjadi tugasnya.


"Setelah itu, temani aku juga ke klinik ya, Nimas!" Nimas baru akan beranjak, pria tampan di sisi Nyonya mudanya itu bertitah.

__ADS_1


"Baik Tuan..." Nimas mengangguk menanggapi ucapan Tuan Alfan-nya.


"Aku tunggu kamu di mobil, jangan lupa berdandan yang cantik." Alfan pergi setelah membuat Nimas menganggukkan kepalanya.


•••••••••••••


^^^•••••••••••••^^^


-Arjuna Disaga...


"Selamat siang... Dengan Bapak Arjuna?"


Lelaki bertubuh tinggi itu tersenyum sambil memberikan anggukan. "Saya sendiri. Apa Anda dokter baru yang akan menangani saya, Dok?"


Wanita berusia 35 tahun itu membenarkannya dengan senyuman simpul. "Benar, Dokter Izhar titip salam pada Anda Tuan. Saya, Lusia, Tuan," perkenalnya lalu mengulurkan tangan.


"Semoga Dokter Izhar cepat sembuh. Salam kenal Dokter Lusia." Arjuna mengikuti langkah kaki Lusia menuju sebuah kursi santai.


Kursi yang dikhususkan teruntuk pasien yang memiliki gangguan kecemasan seperti Arjun ini. Di kursi ini pula, biasanya Lusia gunakan metode hipnoterapi.


Dokter kejiwaan yang selama ini membantu masalah kecemasan Arjuna. Mumpung Daru dan Snowy bersama Rega, Arjuna sempatkan waktu untuk menemui dokter Lusia.


"Rekam medis terakhir. Tuan sudah tidak lagi memimpikan masa lalu, tapi kini beralih ke kecemasan baru setelah istri baru Anda pergi?"


"Benar..." Arjuna menatap ringan wajah wanita berjas putih itu. Lusia duduk di kursi yang menghadap pada kursi santai Arjuna.


"Saya sudah baca rekam medis Tuan. Tapi, akan lebih baik jika Tuan ceritakan semua sedari awal gangguan kecemasan Tuan dimulai."


Arjuna menghela napas, bersiap menerima hipnoterapi dari Lusia. Hal yang dulu Arjuna dapatkan dari dokter Izhar.


Stimulasi terhadap alam bawah sadar Arjuna yang membuat lelaki itu tidak memiliki kekuatan untuk memberikan respons.

__ADS_1


Terkadang tertawa, terkadang tersenyum, dan lebih banyak menangis. Cerita tentang putri pertamanya, cerita tentang Hilda, sampai cerita tentang teman sekelasnya yang sudah merebut dunia putrinya.


Tidak ada yang lebih buruk dari pada menjadi orang tua tunggal di usia muda. Bahkan Arjuna kerap kali dibully banyak temannya karena memiliki anak di luar pernikahan tanpa istri.


Cacian, cercaan, makian, tak hanya berupa pahitnya lisan, Arjuna bahkan mengalami perundungan secara langsung di beberapa titik tubuhnya yang bahkan sampai saat ini masih menyisakan jejak sundutan.


Arjuna tak memiliki sahabat yang bisa dijadikan tempat bercerita. Sebelumnya, Arjuna hanya fokus membesarkan putrinya seorang diri di tengah hinaan sarkas Hilda yang terus menghancurkan hatinya.


Satu-satunya wanita yang dia idamkan dan justru memberikan cacian. Ini sungguh tidak mudah baginya, sangat tidak mudah.


Andai bukan anak dari orang berada, Arjuna takkan mungkin memiliki tempat terbaik di kampus dan kehidupan orang-orang di sekitarnya.


Itupun, Arjuna harus hidup bersama ayah dan ibu tirinya yang tentunya tak memiliki rasa kasih sayang cukup terhadapnya. Beruntung, meski memiliki saudara tiri, Arjuna tetap mendapatkan hak waris seperti seharusnya.


Arjuna bisa mewarisi kekayaan ayah yang telah bahagia bersama istri dan adik tirinya di Thailand sana. Keluarga ibunya di Jawa, tak pernah mau besuk walau jarak tak begitu jauh


Di tengah aktivitas kuliahnya, Arjuna tak jarang membawa Vanessa. Sering kali Arjuna menitipkan Vanessa pada ibu kantin saat dia akan masuk kelas, dan mengambilnya saat dia akan pulang kuliah.


Tak ada yang tahu jika kejadian pilu itu membekaskan sebentuk trauma. Di setiap malam, bayangan tentang Hilda yang pergi meninggalkan putrinya terus berputar di mimpi-mimpinya seperti kaset rusak.


Arjuna sudah lakukan begitu banyak cara, dari psikolog, Arjuna harus beralih ke yang lebih serius, yaitu psikiater. Mimpi buruk soal Hilda telah lenyap, dan digantikan mimpi buruk tentang Nimas Fathia.


Ini tidak mudah baginya, jika saja tidak ada Rega, Vanessa, Daru, dan Snowy yang menemani hari-hari di kesepian hatinya, Arjuna sudah gila barangkali.


Lusia turut menitihkan air mata. "Ini cukup sulit. Dua kali mengenal wanita dua kali pula mereka mengecewakan Anda."


"Apa yang harus saya lakukan, Dokter?"


Lusia menghela. "Anda perlu mengenal wanita lain. Kalau bisa, lebih banyak lagi. Jangan takut berkenalan, asal Tuan tahu batasannya. Tidak untuk mempermainkan mereka. Lebih kepada menjalin pertemanan."


"Maksudnya, saya harus hidup dengan cara yang dikelilingi wanita begitu? Itu sangat mustahil!" Arjuna takkan pernah bisa dekat dengan wanita, apa lagi wanita yang tidak dia kehendaki.

__ADS_1


"Kita coba dulu saja, mungkin seiring berjalannya waktu, ketakutan Anda tentang wanita cantik akan hilang," saran Lusia.


Hidup Arjuna semoga tidak hanya berpusat pada Nimas dan Hilda. Menjumpai wanita lain, akan membuka pikirannya perlahan.


__ADS_2