
"Ngapain ke sini Regal!"
Turun dari mobil sportnya, Arjuna ngedumel, sedari sore tadi menantu yang namanya mirip dengan biskuit bayi ini memaksanya ikut.
Arjuna menyesal telah mengatakan apa yang disarankan Lusia pada Rega. Sekarang, Rega yang paling semangat membawanya bepergian.
Snowy dan Daru sampai harus dititipkan di rumah keluarga besar Rain. Kebetulan, Daddy Raka sangat suka anak kecil, biar saja cicit dan kakek uyut itu saling lepaskan rindu.
"Katanya mau kenalan sama banyak cewek yang nggak baper. Di sini tempatnya, cukup satu malam, besoknya mereka lupa!"
"Ya Tuhan..." Arjuna menghela. "Seumur-umur, aku nggak pernah ke kelab malam demi kepentingan sendiri begini, Ga!"
"Santri bukan, taat bener!" Rega memutar bola matanya secara malas-malasan.
Tak peduli dengan protesnya Arjuna, Rega melangkah lebih dulu masuk ke dalam bar paling ternama di Jaksel. Di sini juga, bar tempatnya bertemu dengan Vanessa dulu.
Rega tersenyum kecil melihat bartender yang dulu dia duduki saat Vanessa kecentilan merayunya. Mendadak, Rega bernostalgia.
"Hay Om ganteng..." Gadis cantik seusia Vanessa menaruh telapak tangan di dada dan pundak Rega yang hanya terdiam menatap gadis itu dengan lirikan ringannya.
"Jangan pegang-pegang!" Tak perlu waktu lama, tangan Arjuna menepisnya. Rega suami putrinya.
Rega menahan tawa ketika perempuan yang Arjuna bentak tampak kebingungan di hadapannya. Bukankah mereka datang ke sini untuk mencari sugar Baby?
"Maaf, pacar saya memang posesif!" Rega merangkul Arjuna yang mendelik penuh.
Gadis itu sontak mundur dan menutup mulutnya yang terkejut. Tak mengira jika dua laki-laki macho ini sepasang kekasih.
Rega terkikik geli melihat raut aneh Arjuna yang kesal padanya. "Kau mau bantu, apa tidak sih, Ga!" ketusnya.
Gimana caranya cari cewek sementara Rega bilang mereka pelangi yang lagibete. Arjuna benar-benar sial memiliki menantu somplak.
Tak urus panjang lebar, Rega melangkah lagi ke bartender demi memesan koktail sifon andalan bar ini. Sementara Arjuna tak memesan apa pun lagi selain oren jus.
"Pilih cewek yang kau suka!" Rega menunjuk lantai dansa. Biasanya, para wanita di sana memang sengaja mencari teman kencan.
Bersandar pada tubir meja bartender, Arjuna mengedar pandangan menyisir wajah-wajah seluruh orang, dari sekian banyak wanita yang berjingkrak jingkrak di lantai dansa, tak ada yang menarik baginya.
Hampir setengah jam di sini, Arjuna tak menunjuk satu pun wanita. Hal yang membuat Rega jenuh. "Pulang lagi hm?"
"Jangan dulu Ga, sayang bensinnya, udah sampe sini!" Arjuna tertawa ringan sambil meraih oren jus yang disodorkan bartender.
Asyik meneguk minumannya, atensi netra Arjuna teralihkan pada sosok cantik berbusana minim bahan. "Hey Om..."
Arjuna tersedak, lalu meletakkan gelas heels di atas meja dengan gugup. Gadis itu tersenyum manis nan ramah. "Nama Om siapa?" godanya.
__ADS_1
Arjuna menyingkirkan pelan-pelan tangan yang menggelayuti pundaknya. Mendadak, mata lelaki itu kehilangan fokus.
"Siapa nama mu?" Rega yang bertanya. Dan membuat gadis itu dengan gembira menjawab pertanyaannya.
"Lisa blacky." Lisa tertawa, ya dia sadar namanya seperti anying. "Nama panggungnya itu, Om."
"Nama panggung yang bagus."
Arjuna menggeleng pelan, rupanya Rega masih begitu lihai menggoda gadis belia, jika saja Vanessa tidak cantik, mungkin sudah berpaling cari sugar Baby pengganti.
"Bisa pergi?" Arjuna mendorong pelan tubuh yang terus menempel pada lengannya.
"Kok gitu sih Om?"
Lisa justru semakin dibuat penasaran. Baru kali ini ada Om Om yang menolak sentuhannya, bahkan tampak risih.
"Having se*s tanpa bayar nggak apa-apa kok Om. Sama-sama dewasa ini."
"Saya tidak sedang cari Sugar Baby!" tolak Arjuna.
"Dia cari Berondong!" Rega menimpali dengan wajah serius.
"Oh, suka batang?" Lisa mundur dan perlahan enyah dari pandangan Arjuna.
"Kami pacaran!" Rega menyengir pada dua gadis yang menatap ke arah mereka.
"Oh, upss! Sorry Daddy..." Jangankan merayu, bahkan, gadis itu tak jadi mendekat karena Rega mengaku berpacaran dengan pria yang kesal di sisinya.
"Stress!"
Rega merangkul Arjuna. "Lihat, dia seksi," tunjuknya pada seorang wanita bergaun merah, "Aku taksir, ukuran dadanya hanya 34, tapi cukup menggoda. Aku rasa dia cocok dengan mu."
Tidak, tidak cocok sama sekali. Arjuna tidak melihat kecocokan diantara mereka. "Aku tidak bisa dekat dengan wanita lain selain Snowy dan Vanessa, Ga! Apa lagi stranger!"
Ya, baiklah, Rega diam untuk mengumpulkan napasnya dan dibuang dalam satu kali hentakan. Arjuna memang sulit untuk bercengkrama dengan wanita random.
"Kau punya sekretaris seksi kan?" Setelah cukup lama terdiam, Rega terpikir sesuatu.
"Hmm," gumam Arjuna.
Rega meletakkan sikunya di meja bartender, demi menopang pelipisnya untuk menatap Arjuna dengan seksama. "Kenapa tidak kau pacari saja Sonya, dia pasti mau dengan mu!"
"Masalahnya, Sonya istri orang!"
"Jadi kau bukan orang?" sela Rega.
__ADS_1
"Tidak begitu konsepnya!" Arjuna mulai geregetan. Susah memang jika berdebat dengan biskuit bayi ini.
Rega tertawa, disela kejenuhan memandang Arjuna, kini matanya mulai melangkah ke arah lainnya. Dan ketika maniknya menangkap sesosok gadis paling dikenal, bibir senyum Rega kian memudar.
"Kau tunggu di sini."
Arjuna tak peduli karena lelaki itu sedang fokus memainkan ponselnya.
Rega berlari kecil mengikuti langkah kaki wanita itu. Ya, wanita cantik yang telah melahirkan putrinya.
Di meja sana, Vanessa tersenyum sambil menunjukkan tempat duduk pada seorang wanita dan dua orang pria. Di sisinya, ada Geovan dan Adis serta Luke dan Jane.
Tampak serius obrolan mereka, dan tampak Vanessa yang terlihat lebih dominan saat bicara dibandingkan teman-teman lainnya.
Rega meraih ponsel dari saku celananya, mengirim panggilan pada nomor istri kecil yang sering membuatnya mengelus dada.
📞 "Iya Papi..."
"Kau di mana?" Rega hanya mampu bersuara dingin, sedingin hatinya saat ini.
📞 "Di bar, ketemu sama Gallerist sama Kurator juga. Anes mau pamerin lukisan Om di tempat mereka. Maaf belum sempat bilang, Papi..."
"Hmm..." Rega mematikan sambungan teleponnya. Tak ingin memaki, itu yang sedang Rega lakukan.
"Kita pulang!" Rega mengajak mertuanya pulang, mood menjadi berantakan setelah lagi dan lagi Vanessa tak bilang jika acara malam ini melibatkan Geovan.
Arjuna senang tentu saja. Lelaki itu masuk ke dalam mobil setelah Rega masuk dan mengambil alih kemudi.
Arjuna terus mengobrol di sepanjang perjalanan pulangnya, tapi suara Arjuna tak terdengar oleh Rega karena batin Rega sedang riuh oleh pergulatan sengit.
Ini yang paling tidak Rega suka memiliki istri yang usianya jauh lebih muda, dirinya harus selalu mengalah karena jika tidak, semua keluarganya akan beranggapan dia lelaki dewasa yang seperti anak kecil.
Tiba di kamar, mata Rega tertuju lekat pada kanvas yang diisi dengan gambar tampan dirinya. Rega ingat dialog yang dia suarakan kemarin malam bersama istrinya.
"Kamu mau jual suamimu, Baby?"
"Hanya dipamerkan, berapa pun mereka mau, Anes nggak akan menjualnya."
Rega akui, lukisan realisme Vanessa sangat luar biasa, tapi karena lukisan inilah, gadis itu sering lalai dengan tugasnya sebagai seorang istri terutama seorang ibu.
Snowy lebih banyak bersama dirinya, Arjuna, atau keluarga Rain yang lainnya. Vanessa hanyut dalam kehidupan pencarian jati diri.
...📌 MUSIM KEDUA TAKKAN LAMA YAA MENTEMEN... SEPERTI BIASA, NOPEL PASHA PENDEK KOK... TAPI KALO PUN BIKIN BARU, MUNGKIN YANG SEJENIS DENGAN INI, KOMEDI ROMANTIS AJAH BIAR RETENSI NGGAK ANJLOK HIHI... ...
__ADS_1