Menikahi Calon Papa

Menikahi Calon Papa
HOP EMPAT Lima


__ADS_3

Rega membetulkan dasi Arjuna. Lalu mundur dan memberikan jempol demi membuat pria berstatus mertua itu percaya diri.


Meski sempat benci pada lelaki itu. Rega sudah anggap duda 17 tahun ini teman dan ayah hebat dari istrinya.


Jangan lupa jasa Arjuna. Vanessa ada dan se menyenangkan sekarang ini karena Arjuna. Vanessa hadir di muka bumi melalui benih Arjuna.


Rega yakin tak ada yang kebetulan. Semua sudah digariskan termasuk jodoh bersama Vanessa dan menjadi menantu pria tampan seumurannya.


"Kau, sempurna..." Rega memberikan dua jempol untuk Arjuna. Sementara pria itu masih kekurangan percaya dirinya.


"Ya Tuhan, aku grogi. Kau tahu, Rega. Dulu saat ijab untuk Hilda, aku sampai mengulang berkali-kali." Arjuna berdesah sesaat.


Rega terkekeh. "Apa lagi aku yang mendadak. Putrimu tiba-tiba minta nikah, kau pikir aku siap hah? Tapi lihat, lancar-lancar saja!"


"Ah, pentium otak kita berbeda!" ketus Juna.


"Jadi gagal?"


Arjuna mengusap usap dahi dan berjalan mondar mandir. "Aku takut mimisan di depan banyak orang!"


"Mau diwakili ijab? Biar aku yang gantiin mempelai prianya."


"Om!" Vanessa menegur. Tatapan matanya mendadak tajam pertanda jika wanita cantik itu tidak suka ucapannya.


"Joking Baby!" Rega menyengir. Lagi pula, ini hanya untuk membuat Arjuna tidak tegang, tapi Vanessa selalu serius dalam urusan WIL.


"Nggak lucu tahu nggak!" Vanessa pasang muka jutek, marah, cemburu dan kesal secara bersamaan.


Melihat Rega kicep disentak putrinya, tegang Arjuna mendadak luntur. "Dunia mendadak indah, Ga! Rasanya lega liat kamu dimarah."


"Sialan!" Rega menendang sepatu Arjuna yang menghindar seketika. Lantas menunduk untuk memberikan kecup di pipi kanan istrinya yang duduk di depan cermin rias.


"Aku menggilai mu," bujuknya modus. Dan Vanessa masih memberengut. Kemudian satu kecup lagi dia dapati. "Kamu tidak tergantikan, Baby."


Vanessa bisa apa selain tersenyum karena tersentuh. Nyatanya meski Rega ceplas ceplos, hati dan cinta pria itu hanya untuknya.


"Yuhuuuu, Septi hapsari tralala trilili datang lagi dooong...." Septi masuk dengan suara cempreng ber khodamnya, mengulur gaun putih berkilau pada Vanessa.


Vanessa sumringah. Gaun itu dia tempel di tubuh depannya ia tunjukkan pada Rega yang menatapnya. "Om suka nggak gaun Anes?"


"Hmm, sangat suka." Rega reflek menampik tangan Septi yang mengusap bisepnya.


Septi menyengir. "Ya ampun Om, Anes nggak pingsan ya kalo lagi gituan? Nggak kebayang kalo Septi yang jadi Anes!"


Rega bergidik geli membayangkannya. Sebelum Septi khilaf, pria itu segera mengayunkan langkah menuju kamar ganti yang dipakai istrinya.


Vanessa sudah melucut pakaiannya. Ganti dengan gaun pesta rancangan Septiansyah.


Rega mengusap dagu seraya menatap istri kecilnya dari atas hingga bawah. Paha mulus itu, model rok span terbelah itu, Rega teguk saliva yang muncul tiba-tiba.


Rega menggapai pinggang ramping Vanessa, berdiri berdempetan, dan memandangi cermin yang menampilkan bayangan keduanya.

__ADS_1


Vanessa membalas tatapan wajah Rega dari pantulan cerminnya. Rega sudah menggigit bibir khas ingin bercinta. "Boleh nyicip?"


Vanessa sontak tertawa. Vanessa suka dengan gairah Rega yang meletup letup.


Dia akan meladeni lelaki panas ini dengan senang hati, di mana pun, dan kapan pun.


Namun sayang, saat bibir mulai bertaut, suara dobrakan pintu bahkan jeritan terdengar gaduh di luar. Dan, Vanessa cukup mengenal suara itu, ya suara Hilda.


"Mama!" Vanessa harus rela meninggalkan Rega yang mulai on. Bergegas keluar dan mendapati konfrontasi ayah dan ibunya.


"Batalin sekarang, Juna!" Hilda berteriak dengan linangan air matanya. Hilda bahkan terisak-isak, dan Vanessa yakin mamanya sudah menangis jauh sebelum ada di sini.


Siapa yang tega melihat ibunya menangis? Vanessa ikut sedih mendapatinya.


"Kasihan Anes harus punya ibu tiri, Juna! Tega kamu egois!" Marah Hilda berapi-api.


"Kau sendiri kasihan tidak hah?" tukas Juna.


"Aku minta maaf. Tolong kasih aku kesempatan sekali lagi saja. Aku yakin cinta mu masih untuk ku!"


Andai Arjuna mau berikan kesempatan satu kali lagi saja. Dia sudah akan merubah semua sikap buruknya. "Batalkan Nimas, Juna!"


"Harus berapa kali aku bilang? Aku tidak benar benar menunggu mu selain hanya untuk Vanessa!" Arjuna pergi menghindar.


Namun, dihalau wanita itu. "Juna!"


"Aku akan tetap menikahi Nimas, Hilda. Seperti yang kau atur sebelumnya. Nimas akan tetap menjadi ibu Vanessa. Dan terima kasih, karena mu aku menemukannya."


Arjuna berjongkok menatapnya iba. Bagaimana pun, Hilda cinta pertamanya. Karena Hilda Vanessa ada menemaninya.


"Aku harap kau dipertemukan dengan pria yang bisa mencintaimu seperti aku dulu. Dan saat itu terjadi, jangan sia-siakan dia, Hilda."


"Aku mau kamu, Juna." Hilda melirihkan suaranya yang bergetar. "Ku mohon batalkan Nimas...," pintanya menghiba.


"Please..." Arjuna menggeleng. "Cukup Hilda. Cukup kau menangis, lihat masa depan dan songsong dengan cara yang baik."


Di balik tirai Vanessa membasuh air mata yang tiba-tiba terjun. "Sssttt..." Rega tak mau melihat itu tentu saja. "Sudah cukup kamu dan Juna menangis."


"Lanjut yang barusan?" Rega menawarkan dan membuat Vanessa tertawa karena tak habis pikir. "Om! Anes lagi nangis! Gaunnya lecek entar!"


"I don't care!" Rega menarik Vanessa ke dalam kembali. Angsa harus diberikan makan yang cukup supaya tidak berisik.


•••••••••••••


^^^•••••••••••••^^^


Sah!


Terdengar hikmat kata pamungkas itu di Antero gedung pernikahan ini, dan dalam sekejap, Nimas Fathia menjadi istri sah Arjuna Disaga.


"Selamat Papa..." Vanessa yang menangis memeluk ayahnya. Haru biru suasana di dalam sana.

__ADS_1


Arjuna sampai tak kuasa menahan bendung di tepian matanya. "Terima kasih, Sayang..."


"Selamat Papa..." Gantian Rega yang berucap, dan Arjuna protes seketika. "Jangan panggil aku begitu!"


"Ok, selamat Jun!"


"Kau pikir aku temannya Om Jin!"


"Lantas?"


"Older saja!" Arjuna menyengir.


"Astaga..." Rega hanya bisa menyebut saking tak habis pikirnya pada sang mertua.


"Selamat Mama..." Vanessa menciumi pipi kanan dan kiri Nimas. "Cepetan bikin Baby. Anes nggak mau ya kalo ada cerita yang umur Om sama keponakan sama! Pokoknya Papa sama Mama cepetan punya Baby!"


Nimas tertunduk malu-malu. Bayangan malam pertama, seketika terlintas dengan tidak sopannya.


Terlebih Arjuna yang lebih terlihat merona seakan tak sabar untuk melakukan kegiatan romansa bersama istri barunya.


Vanessa tersenyum sambil menyisir raut wajah para tamunya, semua orang terlihat bahagia. Terkecuali, wanita cantik yang meneguk wine di bartender sana.


Demi menyatroni Hilda, Vanessa berjinjit untuk bisa mendekat pada telinga Rega. "Om, Anes mau ke Mama."


Rega menatap Hilda yang duduk dengan wajah tak keruan. Wanita yang perfect, kini terlihat sangat kacau dandanannya.


Rega mengangguk mengizinkan. Dan segera Vanessa datangi ibunya. "Ma...."


Hilda menatap Vanessa seksama. Kemudian kembali menangis sedih. "Kamu mau apa lagi Anes? Mama sudah kalah!"


Vanessa menggeleng. Sedari awal, musuhnya bukan Hilda. Vanessa justru membenci Rega dan ingin Rega jauh dari keluarganya. Ya..., sebelum semua keadaan terbalik.


Vanessa duduk dan menggenggam tangan lembut Ibunya. Wanita inilah tujuan awal Vanessa mendekati suaminya. "Mama punya wajah yang sangat cantik. Anes yakin Mama akan cepat dapat ganti Papa."


Hilda terkekeh samar. Jika urusan pengganti, Hilda takkan kesulitan mengingat wajahnya begitu cantik. Tapi, mereka tidak memiliki anak seperti Vanessa.


Hilda peluk putrinya untuk yang pertama kalinya melakukan itu. Sejenak, biar dia nikmati ketenangan bersama anak.


"Rega nggak nyakitin kamu lagi kan Vanessa?"


Vanessa menggeleng. "Dia baik."


"Maafin Mama Sayang." Hilda pada akhirnya berani mengakui kesalahan yang sedari Minggu Minggu sebelumnya ditepisnya.


Sebuah pelajaran hidup dia dapat. Jangan sia-sia orang yang menyayangi, siapa tahu di masa depan, akan hidup bersama.


"Anes yang minta maaf. Anes yang jahat udah rebut Om Rega dari Mama. But apa pun itu. Mama percaya kan, kalo jodoh sudah Allah yang atur."


Hilda tersenyum mengangguk. "Always be happy baby... Semoga Rega bisa bahagia kan kamu selamanya," ucapnya tulus.


Wanita itu kembali meneguk winenya.

__ADS_1


📌 Uaaahhh, masih nunggu kah?


__ADS_2