
Sebagian dari urusan rumah tangga akan diselesaikan di atas ranjang. Kata orang begitu, dan itulah yang akhirnya dilakukan oleh sepasang suami istri beda usia ini.
Rega melahap bibir Vanessa. Dan seakan tahu kegelisahan suaminya, wanita mungil itu diam membiarkan lelakinya menyalurkan kebutuhan biologis yang lama tak disambut.
Vanessa meremas sprei saat tak lagi mampu menahan gejolak dari dalam tubuh yang menginginkan sesuatu. Namun juga takut oleh hal yang baru saja akan Rega mulai.
Kain di tubuh Vanessa terhempas dan Rega mulai menjelajah. Vanessa hanya pasrah menerima serangan serangan beruntun dari bibir Rega yang menelusuri perut ratanya.
Mata mulai terbuka tertutup. Ada gerak tak menentu yang tak bisa Vanessa kendalikan lagi alurnya, mengalir sesuai tindakan yang dia dapatkan dari suaminya.
Rega berdiri menatapnya bergelora, Vanessa merinding jujur saja. Namun, melihat dada yang dihiasi bulu-bulu halus dan keringat, dopamine ditubuhnya membuatnya takluk pada akhirnya.
Rega yang sudah melepas celana, pria itu mengangkat tubuh Vanessa agar lebih ke tengah. Lantas menindihnya dan mengulang kecupan lembut yang barusan dilakukan hingga ke bagian intinya.
"Tunggu Om! Mmmh, maksud Anes, tunggu dulu Rega." Vanessa menggeleng saat wajah pria itu sudah berada tepat di bentangan kedua pahanya.
"Why?"
"Jangan dulu. Anes masih takut." Vanessa menggigit jarinya. Pertanda bahwa wanita itu benar-benar gelisah saat ingin memulainya.
Rega bisa melihat ketidaksiapan istrinya. Wajar dan normal jika dipikir ulang, karena akibat perilakunya kemarin pasti masih menyisakan trauma bagi wanita itu.
"Aku mandi saja." Rega tersenyum, ia kecup kening Vanessa lalu beranjak. Sebelum, tangan mungil wanitanya meraih kembali tengkuk kokoh nan berkeringat-nya.
"Jangan..." Vanessa menggeleng seolah tak rela jika kegiatan ini disudahi.
Rega kembali memfokuskan maniknya pada wajah dan bibir wanita itu. "Apa lagi? Kau akan menderita lagi jika kita lakukan."
"Anes siap. But, touch me gently please," pinta Vanessa merengek. Takut tapi tak dipungkiri rasa yang kemarin masih mencandui.
Rega bersusah payah untuk menolak gelora yang bergejolak begitu kuat. Bibir itu mungkin sudah menjadi candu yang pakem baginya.
Entah lah, Rega tak mampu menepis keinginannya untuk me.lu.mat kembali dua benda kenyal yang tipis itu. Bahkan Rega sering kali menariknya untuk digigit gemas.
Berpindah ke leher, sementara tangannya berkelana ke mana mana hingga berlabuh di lubuk yang sudah cukup berkuah.
"Om..." Vanessa terpejam. Tugasnya hanya menimbulkan suara yang membangkitkan semangat Rega.
Kembali Rega mengulang hal yang barusan sempat ditolak Vanessa. Pulang ke rumah utama, menunduk di bawah sana.
__ADS_1
Cukup lama Vanessa bergelut dengan kuatnya lenguh dan detakan jantung yang tak keruan aturannya. Sudah cukup berantakan dan tak terkendali lagi saat merasai benda tak bertulang mengobrak-abrik dirinya.
Rupanya hal itu mampu membuat Vanessa ingin lebih dan lebih. Tak cukup puas dengan hanya itu saja, Vanessa seolah lupa pada kapoknya.
Rega tersenyum kecil. Rangsangan yang dia lakukan berhasil memancing jiwa muda seorang gadis remaja.
Rega mengangkat wajahnya, dan Vanessa mengusap lembut bibir yang baru saja singgah di inti tubuhnya.
"Anes, mau..." Vanessa menyengir. Kembali Rega menarik tubuhnya ke pinggir, dan memulainya dari sana.
Runtuh semua ego oleh rasa saling butuh dan dibutuhkan. Vanessa berdamai dengan situasi, nyatanya dirinya telah jatuh pada pria yang dia curangi sedari awal kisah mereka.
Tak seperti kemarin, Rega kali ini begitu lembut, hanya saja jika bicara soal gemuruh napas, jujur Rega tak pandai mengaturnya.
Terdengar seperti orang yang baru saja berlari dari kejauhan tiga kilo meter. Sesekali mendesah sekedar menenangkan berisiknya.
"Om!" Rega lebih suka begitu daripada harus Geo kembali yang disebutnya. "Tatap mata ku Vanessa!" titahnya terbata-bata.
Vanessa menggeleng dan terus memejamkan kuat-kuat matanya, atau dia akan pecah dan berteriak lebih kuat saat menatap raut seksi lelaki itu.
"Tatap mataku, Vanessa!" Rega memekik lebih kuat. Rega mau hanya Rega yang dibayangkan, bukan lelaki lain.
Tak jua berhasil membuat wanita itu membuka matanya, Rega menunduk untuk mendekati wajah. Memperlambat tempo, tapi juga memperdalam.
Hentakan pasti membuat Vanessa membuka mata pada akhirnya, untuk menatap manik biru dan raut seksi suaminya. Desah terburai di depan bibir Rega, tak jadi masalah, Rega sangat menyukainya.
"Anes bilang apa! Anes nggak mau liat muka Om! Anes nggak mau!" Vanessa memukuli dada Rega sambil berteriak.
Rega terkikik disela aksinya, tak peduli dengan kesah wanita itu, Rega tetap pada misinya, menuju puncak yang masih terlampau jauh meski wanita di bawah kungkungannya telah sampai lebih dulu.
Bagian wanita saat sudah sampai. Akan lebih sensitif, dan Rega menyukai gerakan dan suara yang dihasilkan setelahnya. Dirasa lebih alami dan lebih seksi baginya.
•••••••••••••
...Skip......
^^^•••••••••••••^^^
Rega memberikan paper bag berisi pakaian pada Vanessa. Sebelumnya, Rega memastikan inti Vanessa aman tak mengalami robek seperti kemarin.
__ADS_1
"Kita makan malam, dengan klien." Rega duduk di atas toilet yang tertutup. Sedang Vanessa memakai baju gemasnya satu persatu.
"Masih sakit?"
Vanessa menggeleng. "Tidak. Sudah lebih baik kok."
Rega menatap lekat gerakan lucu istrinya saat memakai celananya. Lalu memakai sepatu boots kasualnya.
Meski sudah saling menerima lagi. Rega masih bertanya-tanya, sebenarnya apa yang membuat Vanessa datang dan menunggu cukup lama hanya karena untuk menjelaskan padanya tentang hubungannya dengan Geo.
Bukankah gadis itu tidak harus menjelaskan jika memang tidak memiliki kepentingan apa pun? Apa karena perusahaan Arjuna yang masih butuh backup dari kehandalannya?
"Kenapa menyusul ke sini?" Rega menarik pinggang ramping istrinya. Celana sudah Vanessa pakai, kemudian mengenakan kaos longgar yang akan menutupi celana pendeknya.
"Jangan marah lagi." Vanessa lekas bicara seperti setelah keluar dari lubang kerah kaosnya.
Rega tersenyum. "Apa ruginya kalau aku marah? Kau masih mendapat fasilitas dariku meskipun tak peduli padaku."
Vanessa duduk di pangkuan Rega seraya mengalungkan tangannya pada leher lelaki yang sudah terlihat lebih sabar.
"Maaf kalau Anes menyebalkan. Tapi ini bawaan lahir Anes. Percayalah. Anes nggak bermaksud memanfaatkan kekayaan Om."
Rega suka dengan gaya bicara Vanessa yang tak bisa kalem. "Kamu boleh pergi kalau mau. Aku tidak akan mengambil kebebasan mu lagi," lirihnya.
Sontak Vanessa mengernyit. "Om kok gitu sih, om mau lepasin Anes setelah buat Anes bolong! Cowok macam apa kayak gitu!"
Rega tertawa. "Bolong apanya?"
"Om mau Anes sama Geo lagi?"
"Sssttt!" Rega menutup mulut istrinya dengan jari telunjuk. "Jangan sebut orang lain saat bersama ku. Itu terlalu menyakitkan."
"Maaf." Vanessa terlihat tulus. "Makanya yang bener kalo ngomong! Jangan asal! Anes udah dibikin lemes baru bilang boleh pergi! Cowok apaan begitu!" protesnya.
Rega memeluk lembut Vanessa. Bukan soal tidak bertanggung jawab atau berlaku seperti lelaki bajingan yang habis manis sepah terbuang.
Rega hanya akan lebih bahagia saat tidak memaksakan kehendaknya, karena sekarang, Vanessa bukan istri balas dendamnya, tapi kesayangannya. "Jangan pergi."
Vanessa menyengir. "Nah gitu dong jadi cowok yang gentleman!" tuturnya.
__ADS_1
"Mau digentle-in lagi?" Vanessa menguatkan mesem-nya. "Katanya mau makan malam."
"Kapan-kapan coba gaya lain... Sambil makan malam mungkin." Vanessa tergelak gemas mendengar usulan erotis suaminya.