Menikahi Calon Papa

Menikahi Calon Papa
MUSIM KE DUA 4


__ADS_3

Vanessa pulang larut malam. Tumben tak ada yang menyambut kedatangannya. Tidak Snow tidak Daru tidak Arjuna tidak juga Rega.


Sepi, Vanessa menghela napas berat ketika menjumpai suaminya tidur terlelap. Setelah beberapa saat lalu mematikan panggilan yang belum diselesaikan, Rega tidur nyaman di atas ranjangnya.


Vanessa yakin Rega begitu kesal. Vanessa sampai harus buru-buru pulang hanya untuk ini, hanya untuk memastikan suaminya tidak marah.


Mau bagaimana lagi? Menikah bukan berarti tak memiliki cita-cita lain bukan? Vanessa ingin wujudkan impian yang sedari kecil dia idam-idamkan.


•••••••••••••


^^^•••••••••••••^^^


"Aku mau lukisan ini, berapa harganya?"


Wanita quite luxury dengan jenis fashion coloured cashmere itu terpaku kagum pada goresan yang terpahat indah di atas kanvas dan tertancap gagah di dinding galery.


Dealer mengatakan jika lukisan dengan senyum hangat itu beraliran realisme yang itu artinya mengambil dari objek asli. Sekilas, wanita itu tertarik dengan cerita apa yang ada di balik momen saat lukisan itu dibuat.


"Maaf, tapi... Lukisan ini tidak akan dijual pemiliknya, Nyonya." Laki-laki di sisinya berusaha sopan karena wanita kaya itu kolektor milyuner.


"Why? Dia membuat ku menginginkannya, dan dia tidak mau menjualnya? Ini tidak bisa aku tolerir!"


Selena namanya, sejauh yang dia koleksi, belum ada lukisan sehangat senyum pria yang ada di kanvas bertulis Anes .D. tersebut.


"Aku mau bertemu langsung dengan pemiliknya!" kata Selena. Dengan segera sang dealer menyatroni pemilik lukisan yang sedari tadi mengintainya dari kejauhan.


"Nona Anes, ada yang mau bertemu."


Vanessa bergegas menuju lokasi di panjangnya lukisan suaminya. Menatap sopan wanita berbusana mewah elegan itu.


Selena menggeleng geleng kagum. "Wah wah, pelukis muda yang sangat cantik. Kau yang bernama Anes D?" tanyanya.


"Benar, Nyonya!" Vanessa mengangguk. Ada kepuasan tersendiri baginya saat mata mata kolektor milyuner mengagumi karyanya.


"Langsung saja, aku ingin kau menjual lukisan mu yang ini, berapa pun harganya!"


Vanessa menyatukan kedua tangannya, ia sudah berjanji tidak akan menjual karya ini kepada siapa pun. "Maaf Nyonya, saya tidak menjualnya," tolaknya.

__ADS_1


"Satu juta pound Britania, gimana?" tawar Selena. Memang gosipnya Selena berasal dari Britania, tapi tidak berarti penawaran harus dengan mata uang sana, ini terlalu menggiurkan.


"Tidak, Nyonya..."


Vanessa menggeleng dan tersenyum. Satu juta pound itu, sangat bombastis tinggi untuk ukuran sebuah lukisan, tapi tidak mungkin dia melepas suaminya untuk dimiliki wanita lain.


"Dua juta pound Britania?"


Selena kembali membuat Vanessa tercengang. 18 milyar saja sudah sangat besar, lalu dikali dua, jangan bodoh, dia bisa membuat salinannya dan kaya dengan hasil kerjanya sendiri bukan?


"Tiga juta pound, itu penawaran terbaikku!"


Vanessa hampir pingsan, meski lahir dari keluarga kaya, ia masih tak percaya jika dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu hanya dengan menekuni hobinya.


Ada kebanggaan tersendiri, ada cerita menarik tersendiri, tidak melulu ongkang-ongkang kaki di bawah ayah dan suaminya yang crazy rich.


"Ini kartu nama saya. Kau bisa hubungi saya jika berubah pikiran." Selena yakin tidak ada yang akan menolak tiga juta pound darinya.


"Baiklah..."


Vanessa menatap lukisan wajah suaminya yang ceria nan hangat. Ini hari pertama karya realisme Vanessa dipajang di galery yang paling banyak dikunjungi kolektor kelas kakap.


Senyum manis Rega terlihat lebih dominan diantara lukisan lainnya. Mungkin juga itu yang menjadi alasan Selena begitu berhasrat memiliki karyanya yang menawan.


"Ehm..."


Vanessa melenggang maniknya pada sosok tampan lalaki tinggi yang berdiri nyata di sisinya. "Papi..." Ada Snowy juga yang digandeng di bawah, "Snowy..."


Vanessa menciumi pipi putrinya lalu menerima kecupan lembut dari suaminya.


Saat ingin menggendong Snowy, Rega yang mengambil alih tugas itu, tubuh Snowy cukup besar untuk usianya, tentu Vanessa yang bertubuh kecil sering kewalahan.


Mereka makan malam bersama di restoran fine dining. Ini waktu berkualitas yang selalu melekatkan Rega dan Vanessa setelah lewati masing-masing kesibukan.


"Hey, Nona Anes." Vanessa dan Rega sama sama menatap ke arah suara. Selena hadir dengan senyumannya, sesekali ia tampak menatap Rega yang duduk dengan raut polos.


"Nyonya Selena..."

__ADS_1


"Dia ini ayah mu?" Selena bukan orang yang suka basa-basi. Dia tertarik pada lukisan Vanessa karena senyum hangat itu, dan dia beruntung dapat menyaksikannya langsung.


"Dia suami ku, Nyonya." Vanessa ingin segera mengakhiri tatapan Selena yang begitu tidak sopan.


"Wow, aku kira..., mmmh tidak." Selena tidak mungkin berkata jika pria tampan di sisi pelukis muda itu seperti ayahnya.


Memang tampan berwibawa, tapi jika disandingkan dengan wajah Vanessa yang jauh lebih muda, cukup membuat Selena tercengang. Seharusnya, pria itu bersanding dengan wanita seumuran dirinya.


"Suami yang tampan," puji Selena.


"Kami sedang menikmati waktu makan malam bersama, Nyonya. Terima kasih atas pujian mu." Rega mencoba mengusir halus.


Rega yakin istrinya sedang cemburu, bahkan mungkin ketakutan jika dirinya dimiliki wanita kaya raya itu. Barusan Vanessa menggebu saat menceritakan bagaimana Selena begitu menginginkan lukisan wajahnya.


Lalu, sekarang Selena seolah lebih mengagumi pahatan asli buatan Tuhannya itu. Rega paham arti tatapan Selena padanya yang bukan sekedar kagum tapi lebih kepada ingin memiliki.


Wanita kaya selalu saja terkait dengan dominasi. Mungkin, Selena tipe wanita yang ambisius seperti dugaannya. Terlihat dari cara penawarannya soal tiga juta pound.


Selena pergi dengan sopan. Dan Vanessa kembali menikmati waktu bersama keluarga kecilnya. Keluarga yang bahagia dan hangat jika bersempat waktu luangnya.


Selesai makan, Snowy diajak berkeliling Jakarta dengan mobil sport kuning tanpa atap. Rega sangat bahagia hanya dengan mendengarkan suara lucu Snowy dan Vanessa yang bernyanyi di sepanjang jalan.


Walau sudah terlihat kedinginan, Snowy tak ingin atap mobilnya ditutup. Jaket tebal dan hoodie berbulu lucu dia kenakan, lantas ketiganya pulang setelah gadis kecil itu tidur.


Atap mobil ditutup, Snowy dipindahkan ke belakang dengan baby-car-seat-nya. Vanessa kembali ke depan dan menyandarkan kepala di bahu kokoh suaminya.


Vanessa kira, Rega marah karena kemarin dia ke bar tanpa beri kabar. Rupanya, malam ini Rega bawa dia jalan-jalan bersama putrinya.


"Maaf yang kemarin ya, Hubby." Rega tergelak pelan sambil merangkulnya. "Papi nggak marah soal kemarin kan?" tanyanya.


"Tidak akan ada yang berubah dengan aku marah. Perubahan hanya akan terjadi saat kau ingin melakukannya."


Vanessa terdiam sejenak, lalu beralih menatap lekat wajah suaminya yang datar dan fokus menyetir. Sedikitnya ia tercabik oleh perkataan menohok Rega barusan.


Itu berarti, dirinya lah yang bermasalah sebenarnya. Rega di sini memeluknya mungkin karena Snowy saja. "Kamu marah?"


Rega diam tak sehangat saat Snowy masih bangun. Jelas Rega marah tanpa harus berkata kejujurannya.

__ADS_1


__ADS_2