Menikahi Calon Papa

Menikahi Calon Papa
HOP EMPAT TIGA


__ADS_3

"Papa sakit?" Vanessa mengecek suhu tubuh ayahnya. Di sisi ranjang, Rega melipat kedua tangannya sambil menggeleng-geleng kepala.


Sudah dapat diklaim jika sakit Arjuna, sakit asmara. Cinta yang tersumbat dan tidak beredar lancar hingga mengakibatkan demam pusing, kunang-kunang, tak mau makan.


Arjuna benar-benar panas dan lemas. Terlihat ada kantung mata juga yang membuat lelaki itu semakin mirip zombie helloween.


"Mana Anes mau ada ujian lagi. Terus kenapa juga Papa pake begadang segala hmm? Sakit kan jadinya!" Vanessa tampak khawatir.


"Kamu berangkat ajah sana!" Arjuna mengusir halus putrinya yang sudah rapi dengan seragam putih abu-abu.


"Anes kepikiran pasti, Pa!" Vanessa tak mungkin membiarkan ayahnya sakit tanpa didampingi siapa pun. "Ke rumah sakit yuk!"


Arjuna menggeleng, kemudian menatap Rega yang mendadak mengedarkan pandangan sambil pura-pura bersiul. Rega tak mau jika ayah mertuanya memintanya menemani.


"Ada Rega yang jagain."


Rega menghela napas. Mertuanya ini terlalu kekanak-kanakan. Bukankah lebih gampang masuk rumah sakit saja.


"Aku ada pertemuan di luar kota, Pa..."


"Ya sudah berangkat sana semuanya!" Arjuna membuang muka seperti anak kecil.


Vanessa menggeleng pelan, mungkin memang benar ada yang namanya pubertas kedua. Dan sepertinya Arjuna tengah berada dalam fase kekanak-kanakan.


"Ada Bibi Nimas. Jadi biar Bibi Nimas ajah yang ngerawat Papa," ujar Vanessa.


"Nggak usah!" sungkan Arjuna.


Vanessa berdecak. "Jangan bandel! Atau Anes nggak usah ikut ujian sekalian!"


"Iya-iya!"


Arjuna bisa apa selain menurutinya, ini hari pertama ujian akhir sekolah Vanessa. Jangan sampai dia menjadi penghalang kelulusan putrinya.


Vanessa menatap Nimas yang membawa baki berisi sarapan pagi. "Bibi tolong jagain Papa ya..." Dan wanita itu mengangguk.


Vanessa menciumi pipi Arjuna, lalu keluar dari kamar tersebut. Sedang Rega menyengir pada Arjuna, dia juga harus pamit sambil menyelimuti Arjuna hingga wajahnya.


"Rega!"


Rega lari sambil terkikik saat Arjuna tak terima diperlakukan seperti mayat.


"Mantu durhaka, dia!"


Nimas senyam senyum melihat kelakuan Rega dan Arjuna yang tiada hari tanpa saling meneriaki lawannya. "Tuan, Nimas suapi ya?"

__ADS_1


Arjuna terdiam, lalu Nimas meletakkan baki di sisi Arjuna yang akhirnya bangkit untuk bersandar pada kepala ranjang. "Tuan harus sembuh, sarapan dulu baru minum obat."


Arjuna menatap lekat wanita itu. Baru kali ini Arjuna merasakan jatuh cinta lagi setelah sekian lama bertahan dengan hinaan Hilda.


Kedamaian ini, ingin sekali dia miliki dalam waktu yang lama, selama lamanya. "Aa, Tuan."


Arjuna membuka mulutnya saat Nimas mulai menyuapkan makanan padanya. Tiada yang lebih enak dari senyum Nimas sebagai lauk pauknya.


Semalaman Arjuna tidak tidur, hanya karena memikirkan Wisnu yang akan dijodohkan dengan wanita ini.


Terbesit pikiran, jika usulan Rega sangat brilian. Bukankah jika Nimas hamil, maka mau tak mau gadis itu menjadi miliknya?


Entah setan apa yang merasukinya, Arjuna berani membawa tangan lancangnya untuk menyentuh paha gadis itu.


Nimas yang terkaget segera menepis kasar dan meminta maaf. "Tu-tuan kenapa?" Wajah Arjuna kian memerah. Nimas takut jika terjadi sesuatu dengan duda tampan itu.


Napas Arjuna seketika berderu. Dia sendiri tak menyangka jika ia berani menyentuh paha gadis ranum itu. "Kamu pergi saja Nimas!" usirnya.


Bukan takut, Nimas justru semakin khawatir dibuatnya. "Kenapa, Tuan? Kan makannya belum selesai."


"Kalau kau di sini terus. Lama-lama aku yang memakan mu!" Arjuna tersentak sendiri dengan kata-katanya yang entah mendapat Ilham dari mana.


"A-apa maksud Tuan?" Nimas penasaran, tapi juga takut. Jujur, sikap Arjuna akhir akhir ini lumayan kentara, tapi....


"Aku menyukai mu, Nimas!" Arjuna lagi-lagi terkejut dengan dirinya sendiri. Apa yang membuatnya lancar bicara seperti itu? Apa mungkin karena nekad? Entah saja!


"Mungkin ini terlalu kurang ajar. Tapi aku ingin menikahi mu, Nimas."


"Hah?" Nimas masih tak berkutik. Rasanya, seperti masuk ke dalam buku dongeng sebelum tidur, di mana kisah Upik abu dan pangeran tampan dibacakan.


"Harusnya aku sadar diri. Aku sudah tidak muda lagi. Maafkan aku, Nimas." Arjuna mendadak insecure.


"Tapi tidak perlu dijawab sekarang. Kau bisa menjawabnya nanti, atau tidak usah sama sekali jika kau menolak ku nanti."


Nimas mengernyit, lalu bagaimana cara Arjuna tahu kalau menolak saja tak boleh memberitahukannya. "Kenapa tidak usah sama sekali, Tuan?"


"Tidak bisa memiliki mu saja frustrasi. Apa lagi kalau kau menolak ku, mungkin aku lebih frustrasi."


Nimas tersenyum tersentuh. Dia hanya gadis desa yang tidak pernah berinteraksi dengan laki-laki, tentu akan tersentuh walau hanya dengan kata-kata ala bapack bapack.


Melihat senyum Nimas. Arjuna lebih khawatir lagi. Pasti Nimas berpikir, dia hanya Om Om tidak tahu diri yang menggoda daun muda.


"Kau pasti mengutuk ku kan?"


Nimas menggeleng refleks. "Tidak... Bukan begitu Tuan. Sungguh. Bukan begitu!"

__ADS_1


"Lalu?"


"Nimas hanya kaget saja." Nimas tersenyum, dan kali ini signal itu telah sampai pada otak Arjuna.


"Jadi kamu tidak keberatan aku suka sama kamu Nimas Dewi?" cecarnya. Mendadak, wajah pias Arjuna berubah merona.


Andai tidak ada Nimas, mungkin Arjuna sudah melakukan selebrasi dengan jungkir balik di atas kasurnya.


"Jadi yang Tuan sukai Nimas Dewi?" tanya balik Nimas, memastikan.


"Memang kenapa?"


"Namaku Nimas Fathia."


"Ya Tuhan!" Arjuna memukul mukul mulutnya sendiri. "Mulut ini memang suka typo kalo dekat dekat kamu!" gombalnya.


Arjuna mulai mendapat keberanian, entah dari mana asalnya. Tak sia-sia semalaman melamun dengan pikiran kosong, akhirnya ada setan percaya diri yang merasukinya.


"Jadi Neng Nimas mau nerima cinta AA?" tanyanya. Arjuna pikir, orang Bogor mungkin memangilnya dengan sebutan AA.


Nimas tersenyum lalu bangkit dari duduknya. Sontak, Arjuna meraih tangan mulus gadis pujaannya. "Mau kemana? Katanya mau nyuapin makan?"


Sesopan mungkin Nimas melepas tangan Arjuna dari tangannya. "Maaf Tuan. Mungkin sekarang ini, kita tidak aman untuk berduaan di kamar. Setan suka menggoda kita. Nimas nggak mau terjadi hal yang tidak diinginkan."


-Tapi aku ingin Nimas, ingin sekali....


"Kalau Tuan benar-benar niat melamar Nimas. Silahkan datangi keluarga Nimas." Gadis itu pergi dengan senyum malu-malu khasnya.


"A-apa?"


Arjuna melongo cukup lama, lalu mencubit pipi, menarik hidung, menjambak rambutnya sendiri. Bodohnya semua itu terasa sakit karena dia tidak sedang bermimpi.


"Rega!" Segera pria itu meraih ponselnya, melayangkan telepon pada menantunya.


Tak lama, Rega menerima. 📞 "Apa lagi?"


"Kamu batalin ajah pertemuannya. Bantu aku melamar Nimas ke Bogor!" Terdengar gelak tawa meremehkan dari seberang sana.


📞 "Kau ini semakin stress saja sepertinya! Semalam saja kamu grogi menyatakan i love you, sekarang kau mau melamarnya?"


"Aku serius! Barusan Nimas bilang begitu! Dia mau aku langsung melamarnya!"


Arjuna berapi-api seperti anak baru gede yang baru mengenal cinta. Rega terdiam cukup lama, mungkin memastikan kebenarannya.


📞 "Kau serius?" cacar Rega berikutnya.

__ADS_1


"Tango rius!" Arjuna antusias. Apa itu serius, bahkan keseriusannya sudah berlapis-lapis.


...Yeay.... Terima kasih teman-teman.... Pasha juga mau selebrasi kayak Papa Arjuna karena retensi karya ini cukup baik.... Thanks.... Yang nggak skip skip.... Itulah cara kalian bantu Pasha betah nulis di sini, dengan membaca tidak di skip atau nabung bab.... Thanks sekali lagi.......


__ADS_2