Menikahi Calon Papa

Menikahi Calon Papa
HOP TIGA PULUH ENAM


__ADS_3

Vanessa tak mengizinkan Nimas pergi bersama ibunya. Jelas, Nimas akan dianiaya setelah pesta ulang tahun Arjuna tentu saja.


Mulai sekarang, Vanessa yang akan menjamin hidup Nimas dengan bantuan suami yang super punya power. Rega setuju merekrut Nimas untuk bekerja di rumah istrinya.


Sedang Arjuna tampak menciut setiap berdekatan dengan gadis ke dua yang membuat hidung bangirnya menitihkan darah.


"Papa kok sering mimisan sih sekarang?"


Satu Minggu sudah dilayani Nimas, respon hidungnya selalu sama. Mimisan di setiap sarapan pagi dan makan malam.


"Papa punya penyakit serius?" Vanessa membantu meraih tisu untuk ayahnya yang repot membersihkan hidungnya.


Arjuna menggeleng. "Papa cuma kecapean."


"Beneran nggak apa-apa?" cecar Vanessa.


"Enggak..." Arjuna menyudahi pembicaraan mereka dengan kata itu.


Rega yang tahu gelagat lain mertuanya, dia mulai cari sela untuk membuat huru hara sekedar hiburan semata. "Nimas..."


"Iya Tuan..." Gadis itu berlari dari dapur ke meja makan dengan langkah yang setengah berlari.


"Kamu sudah punya kekasih?"


Nimas mengerutkan keningnya. Hal yang juga dilakukan oleh Vanessa dan Arjuna. Ketiga orang itu sama bingungnya.


"Mana ada orang yang mau sama saya Tuan."


Rega tergelak menatap Nimas. "Ada, tapi mungkin nggak berani ngomong saking pengecutnya.... Aw!"


Rega berkeluh terinjak kaki Arjuna. Rega memang tidak memaksudkan nama Arjuna, tapi jelas Rega menyindirnya, ya Arjuna merasa saja seketika.


"Kalian kenapa sih?" Vanessa bingung. Dari kemarin, ayah dan suaminya sering injak injakan kaki di depan Bibi Nimas.


Arjuna menyengir. "Ada nyamuk di bawah. Makanya Papa injak, Sayang," alibinya.


Rega hanya terkikik kecil. Dengan tangan dia menutup tawa agar tak lepas.


Nimas masih berdiri di sisi Arjuna, menatap Rega yang belum mengatakan titah yang perlu dilakukan setelah memanggilnya. Tak berani bertanya, Nimas diam saja di tempat.


"Nimas." Rega kembali menatap gadis cantik yang disimpan di balik daster kusam. "Aku punya teman yang cocok denganmu."


"Uhuk uhuk..." Arjuna tersedak. Nimas hendak mengambilkan minuman, tapi kemudian Juna lebih cepat melakukannya sendiri.


Rega semakin suka melihat respon kocar kacir Arjuna. "Kamu mau yang seperti apa jodohnya?" tanyanya pada Nimas.


Nimas menutup mulutnya. "Nimas tidak punya kriteria, Tuan. Nimas sadar Nimas juga bukan wanita yang sempurna."


"Kata siapa, kamu cantik." Arjuna mendelik seperti tidak suka. Begitu pula dengan Vanessa yang merasa Rega kecentilan.


Ini yang Rega sukai, anggap saja sekali dayung dua pulau yang terlampaui. Arjuna cemburu, Vanessa pun begitu.


"Kamu mau sama teman ku?" tawar Rega.


"Tuan jangan bercanda."

__ADS_1


"Aku serius. Namanya Digjaya, orang kaya, kemarin dia liat kamu di pesta, makanya sekarang, dia titip salam untukmu. Kau mau kan aku pertemukan dengannya?"


Nimas menggeleng tanpa mengurangi rasa hormatnya. "Tidak perlu Tuan. Nimas takut. Nimas belum kepikiran buat cari suami."


"Ya sudah."


Rega menyuruh Nimas pergi lagi ke arah dapur. Dan disaat yang sama, Arjuna menatap tajam Rega. "Kamu jangan coba-coba bawa orang lain masuk ke sini yah!" ancamnya.


"Kalian kenapa sih?" Vanessa curiga jika ada apa-apa dengan lelaki tampan di hadapannya.


"Pufffffzzz." Rega menyemburkan minuman teh hijaunya. Minuman buatan Arjuna setiap pagi untuk semua orang.


"Om!" Vanessa merasa suaminya sedang mengejek rasa greentea ayahnya. Bukankah itu tindakan tidak sopan. "Om kok gitu sih?"


"Papa mu mau kawin. Makanya bikin teh hijau asin begini!" Rega hampir memuntahkan pancake original yang sudah tertelan.


"Masa sih?" Vanessa mencicip dan dia setuju dengan ucapan Rega. "Papa, ini garam kali Pa!" protesnya.


Arjuna menyengir saat mencicipi dan memang sangat asin. "Kebetulan gulanya habis," kilahnya. "Makanya Papa sengaja pake garam buat nambah darah."


Vanessa tak habis pikir, Papa Arjuna bisa konyol begitu. "Papa kenapa sih akhir akhir ini, aneh. Papa kesambet?"


Arjuna hanya menyengir.


"Kau pikir dengan memandang Nimas greentea buatan mu bisa manis begitu?"


Vanessa bingung, kenapa lagi-lagi Rega membahas Nimas di depan Arjuna. -Om suka sama Bibi Imas?


•••••••••••••


^^^...•••••••••••••...^^^


Vanessa tersenyum kecil. Jujur, dia tidak ingin Geovan sakit, tapi mengusir Geovan juga tidak mungkin. "Maaf. Tapi akhir akhir ini aku sibuk, Geo."


Hal yang ditakutkan oleh Vanessa pun terjadi, Rega datang menjemputnya dan melihatnya bersama Geovan. "Aku pulang, Geo."


"Hati-hati." Geovan bisa apa selain tersenyum dan berpura-pura untuk kuat. Dia meronta pun tak mungkin karena Rega bukan lawannya.


Vanessa masuk ke dalam mobil suaminya yang sunyi. Perlahan mobil bergerak untuk berlalu dari SMA Millers-corpora.


"Mmmh..." Vanessa masih trauma dengan kejadian beberapa Minggu lalu. Saat Rega memergokinya bersama Geo dan berakhir menganiayanya di ranjang.


Kali ini, tak ada kemarahan yang Rega tunjukkan padanya. Rega terlihat tenang bahkan terkesan diam padanya.


Vanessa marah saat Rega menghukum dirinya dengan sentuhan. Tapi, diacuhkan seperti ini, terasa lebih menyiksa.


Apa cemburu Rega sudah hilang? Apa itu berarti Rega tidak menyukainya? Apa benar kalau Rega suka pada Bibi Nimas? Kenapa Rega biasa saja melihatnya bersama Geovan?


Perjalanan cukup sunyi. Rega hanya mengisi kekosongan mobilnya dengan alunan musik klasik yang bervolume lirih.


Sampai tiba di rumah Arjuna, Rega turun dan membuka pintu Vanessa. Gadis itu keluar tanpa berani bicara apa pun, bahkan sampai Rega pergi lagi Vanessa tak mendapatkan kesempatan untuk bicara.


Rega kembali ke kantor. Masih banyak urusan yang perlu dia selesaikan, ada pertemuan dengan klien dari Dubai.


Rega memang sengaja meluangkan waktu untuk menjemput Vanessa dan ternyata harus kembali melihat Geovan di sana.

__ADS_1


Sakit, masih sama seperti kemarin. Hanya saja, dia tak mungkin berbuat seperti kemarin, atau dia tidak bisa mengendalikan emosinya.


Rega memilih diam, mungkin itu yang istri kecilnya mau. Membiarkan meski bersama dengan pemuda selain dirinya.


Cemburu pun percuma saja. Semua hanya akan berpihak pada manusia lemah seperti Vanessa.


"Nak Rega." Rega tersenyum pada wanita paruh baya berpakaian kebaya. Dia Tante Ajeng istri dari Om Aldo; asisten personal ayahnya.


"Tante..."


Rega mencium pipi wanita itu. Mereka memang sudah seperti keluarga, dari Om Doni sampai Om Aldo bahkan istri-istri dari asisten personal Raja sudah Rega anggap keluarga.


"Tante mau bicara." Ajeng merengek. Lalu mereka duduk di sofa ruang tamu umum.


"Soal apa Tante?"


Ajeng mengusap tangan Rega. "Pindahin Sofie ke bagian lain. Jangan terus disandingkan dengan Antoni. Bisa kan?"


"Kenapa memangnya?" Rega berkerut kening. Sedari kemarin Sofie dan Antoni sering ribut, apakah ini ada hubungannya?


"Antoni sudah ada calonnya. Jangan sampai mereka terlibat cinta lokasi terlalu jauh."


"Calon?" Rega terkejut. Bukankah Sofie dan Antoni sudah terlalu jauh berhubungan?


"Iya, calon pilihan Tante yang lebih pantas dengan Antoni. Yang sekelas, lulusan luar negeri, bukan sopir kayak Sofie."


Rega menatap Antoni yang baru saja datang dan berdiri di sisi ibunya. "Kau punya calon?"


"Mmmh..." Antoni tak bisa berkata-kata.


"Nak Rega..." Rega mengangguk. "Secepatnya Rega pindahkan Sofie ke bagian lain."


"Terima kasih Nak Rega Sayang." Ajeng tersenyum bahagia, tapi tidak dengan Antoni.


"Sama-sama Tante," ucap Rega. "Rega harus lanjut kerja, masih banyak pertemuan."


"Ok... Hati-hati kalian ya." Ajeng melambaikan tangan pada putranya dan Rega yang kian menjauh.


Sampai di ruangannya, Rega menatap Sofie yang sibuk dengan tugas tambahan. Rega memang menyuruh gadis itu memfotokopi berkas-berkasnya.


"Sofie..."


"Iya Bos..." Sofie berdiri. Matanya tak mau menoleh pada kekasihnya yang brengsek menurutnya.


"Kau siap-siap berkemas. Kau akan aku utus ke rumah mertua ku. Kau akan menjadi sopir pribadi Vanessa. Mulai sekarang, kau yang akan antar jemput Nyonya muda mu."


"Ok." Sofie bergegas keluar dari ruangan, tanpa melihat wajah Antoni yang terlihat seperti bajingan baginya.


"Bos!" Sekarang, hanya Rega yang bisa Antoni mintai bantuan. "Jangan pindahkan dia."


"Kau sudah apakan anak gadis orang selama ini, setiap keluar kota, kalian selalu tidur di satu kamar dan sekarang, kau mau menikah dengan gadis lain?"


"Ini diluar kendali ku."


"Aku tidak mau tahu lebih banyak urusan mu. Hubungan ku dengan Vanessa saja sedang tidak baik-baik saja, kau paham!"

__ADS_1


Rega meremas rambutnya yang pekat, rasanya ingin pecah kepalanya. Vanessa, Geovan, Arjuna, perusahaan, dan sekarang Sofie Antoni yang mengisi otaknya.


-Aku perlu wine sepertinya.


__ADS_2