
📌 Sebelumnya maaf kalau judul babnya nggak beraturan wkwk, pokoknya asal ada judulnya ajah deh...
Vanessa merenung di kamarnya. Malam ini Rega tak pulang, mungkin masih marah dan masih masih tak terima Geovan datang.
Sejujurnya Vanessa sudah mengurangi komunikasi dengan Geovan. Tapi, memang belum memutuskan hubungan dengan pemuda itu.
Lebih tepatnya tak tahu harus berbuat apa untuk ke depannya. Vanessa merasa Geo tak punya salah apa pun padanya, sulit untuk meminta putus.
Huhh... Vanessa menghempas punggung di atas ranjang serba merah mudanya. Rindu sosok tampan itu, tapi....
Gadis itu meraih ponselnya. Biasanya, Rega sibuk mengirimi banyak sekali pesan hingga dia harus mengalihkan ponselnya ke mode diam.
Lagi di mana, bersama siapa, sedang apa, sudah makan, sudah mandi, hanya seputar itu saja bisa puluhan chat yang masuk. Lalu ada apa dengan hari ini, Rega bahkan tak sekali pun menelepon dirinya.
"Om lagi apa..." Vanessa kembali menghapus tulisannya. "Om nggak pulang..." Lagi-lagi, Vanessa urungkan pesan teksnya.
Ah, Tuhan kenapa rasanya ada yang kurang saat seseorang yang setiap hari memberikan kabar dan kemarin kabar itu tidak penting, lalu detik ini menjadi sangat mahal baginya.
Vanessa menggulir layarnya, dia baca ulang pesan pesan teks dari Rega yang kemarin tak pernah mau dia baca. Bahkan hanya sekedar melihat saja tidak Vanessa lakukan.
[Hanya suara burung yang kau dengar, dan tak pernah kau lihat burung itu, tapi tahu burung itu ada di sana.]
[Hanya desir angin yang kau rasa, dan tak pernah kau lihat angin itu, tapi percaya angin itu di sekitarmu.]
[Hanya doaku yang bergetar malam ini, dan tak pernah kau lihat siapa aku, tapi yakin aku ada dalam dirimu.]
[Dan, akulah bait bait di puisi itu.]
Vanessa berdesir terpejam, selama ini dia acuhkan pesan pesan dari seseorang yang malam ini tak mengirimnya sama sekali.
Vanessa meletakkan ponselnya di sisi kepalanya, berguling ke samping dan meraba seprei merah muda miliknya.
Seprei yang tidak sama sekali Rega sukai, tapi karena ada dirinya di sana, lelaki tampan itu selalu pulang hanya untuk tidur bersamanya seolah tak kapok meski dia tak mau disentuh.
Pertolongan Rega, permintaan maaf Rega, juga ucapan kata Sayang Rega, sepertinya tulus jika mengingat kembali bagaimana pria itu memperlakukan dirinya dan ayahnya.
Rega bahkan membantu permasalahan perusahaan ayahnya tanpa meminta imbalan apa pun, seketika Vanessa berpikir.
__ADS_1
Kalau tidak ada rasa tulus, bisa saja Rega menceraikan dirinya dan mencari pengganti dirinya. Bukankah di luar sana banyak wanita yang mengantri, termasuk Yulia si sekretaris mungkin.
Ah... Entah lah, malam ini Vanessa merasa bisa memaklumi semua tindakan Rega yang kemarin sama sekali tak dihargainya.
•••••••••••••
...Besok sorenya.......
^^^•••••••••••••^^^
Vanessa berlari dari lobby sekolah. Mobil hitam milik suaminya sudah standby di depan sana. Vanessa bertekad untuk bicara santai dengan Rega dan menganggap hal kemarin tidak pernah terjadi dalam hidupnya.
Kenyataannya, Vanessa sudah membatasi hubungannya dengan Geovan. Harusnya Rega bisa maklum dan tidak perlu marah lagi.
Namun, bibir yang semula tersenyum, sontak meredup ketika bukan Rega yang datang melainkan Sofie. "Kakak kok di sini?"
Sofie tersenyum di atas kebingungan Vanessa. "Om Rega sakit?" tanyanya lagi.
Sofie menggeleng. "Tidak, Bos hanya sedang banyak pekerjaan saja. Dan mulai sekarang, saya yang akan jemput Nona."
"Om Rega di mana sekarang?" Vanessa justru ingin sekali tahu di mana suaminya. Selama ini bukankah Rega juga banyak kerjaan, tapi masih bisa menyempatkan waktu untuknya.
"Sama siapa?" Vanessa jadi teringat pada Yulia yang selalu ngintil ke mana pun suaminya pergi.
"Kliennya."
Vanessa masuk lewat pintu yang dibukakan sopir cantiknya. "Antar Anes ke sana ya, Kak."
"Tapi..."
"Please," mohon Vanessa. Sofie mendengus walau pada akhirnya menuruti kemauan sang Nyonya muda.
Sampai di hotel, Vanessa segera berlari ke kamar yang ditunjukkan resepsionis sambil bertempur dengan pikirnya.
Kenapa bukan ruang meeting, kenapa harus kamar tidur yang digunakan untuk pertemuan. Vanessa kacau, apa lagi ketika tahu tempat yang Rega pakai adalah toilet.
"Om!" Saat tiba di ruangan yang digunakan Rega, Vanessa mendapati tatapan bingung dari beberapa pria dan wanita paruh baya.
__ADS_1
Rupanya dugaan buruknya salah. Alih-alih selingkuh, Rega memang sedang bekerja dan tengah memperlihatkan fungsi elektronik baru X-meria yang disematkan di toilet kamar mandi Millers-corpora.
"Mari Nona." Yulia menunjukkan jalan untuk Vanessa keluar sedang Rega tetap melanjutkan pekerjaannya.
Vanessa disuruh menunggu di kamar. Kamar yang sama yang kemarin menjadi tempat Rega menidurinya. Cukup lama Vanessa menunggu suaminya.
Pukul tujuh malam, Rega baru masuk ke kamar tersebut. Vanessa segera berdiri untuk menyambut kedatangan suaminya.
"Om..." Rega melonggarkan dasinya. Menatap istrinya secara peduli.
"Om mau nginep di sini lagi?"
"Hmm." Rega melepas satu persatu kancing kemejanya. Menghempasnya serampangan ke sofa.
"Anes juga kalau gitu." Vanessa mendekati Rega yang melangkah ke kamar mandi.
"Om marah soal kemarin?" Celetukan gadis itu ditanggapi dengan tolehan Rega yang cukup datar. "Soal Geovan," tambah Vanessa.
Rega diam tak menjawab. Dia takut tak bisa mengontrol emosi lagi seperti terakhir kali mereka berdebat.
Vanessa menundukkan kepala. "Kami memang belum putus. Tapi... Coba pahami sedikit posisi Anes..."
"Aku tidak memiliki kekasih. Jadi tidak tahu bagaimana caraku mengerti mu." Vanessa terdiam ketika Rega menyela ucapannya.
"Aku tidak tahu rasanya memiliki kekasih dan istri dalam waktu bersamaan, makanya sulit untuk mengerti mu," tambahnya dan Vanessa cukup tertohok.
"Kemarin bersama Hilda, kami sempat merencanakan pernikahan. Dan itu terjadi sebelum aku memutuskan untuk berlanjut menikahi mu, sebelum aku berkomitmen untuk tetap bersama mu," timpalnya.
Vanessa masih bergeming. Dari awal pernikahan, ini ulah Vanessa dan dia mengaku salah.
"Tapi kau masih tetap menjalin status dengan kekasih mu. Padahal kau sendiri memilih untuk tidak bercerai dengan ku," imbuhnya.
"Jadi maaf Vanessa, kalau aku tidak pernah tidak marah saat kau bertemu dengannya, terima atau tidak, beginilah aku," pungkasnya.
Vanessa mencebik bibir cukup dalam sebagai awal akan luruhnya air mata yang merayapi pipi mulusnya. -Kenapa begini...
Semula Vanessa pikir takkan pernah merasa nyaman bersama orang yang pernah menjadi kekasih ibunya, tidak..., dia salah besar.
__ADS_1
"Shitt..." Rega menarik tubuh gadis itu untuk diberikan pelukan kepedulian. Nyatanya, semarah apa pun, dirinya tak tega melihat air mata istri kecilnya. "Kenapa aku harus jatuh cinta padamu?" gumamnya.
📌 Puisi Rega, diambil dari bapak sastra kesukaan kooh... Djoko Damono.