
-Arjuna Disaga....
Masih mengelap bibir dengan tisu, Arjuna baru menyelesaikan sarapan paginya. Dan matanya terarah pada wanita yang berjalan mendekati meja makan.
Arjuna mengusap keringat di dahinya. Rumah sepi, Vanessa dan Rega sudah jarang pulang, kalau Nimas dekat begini, Arjuna takut khilaf menghamili wanita lagi.
"Maaf Tuan, stok makanan di rumah sudah sisa sedikit. Biasanya, siapa yang belanja kebutuhan dapur, Tuan?" tanya Nimas.
Arjuna terpaku heran pada Nimas yang sepertinya biasa saja disaat dirinya salah tingkah. Kode-kode yang selama ini dia berikan, signal cinta yang dia layangkan, tak sedikitpun direspon baik oleh wanita itu.
Apa mungkin karena dia terlalu cupu? Kalau begini terus, bagaimana perasaannya bisa sampai pada wanita itu?
"Tuan..." Arjuna terjaga dari lamunan.
"Biasanya Anes dan aku sendiri yang pergi belanja. Tapi, sekarang Anes jarang pulang ke rumah."
"Kalau begitu. Biar saya saja Tuan. Nanti Tuan catat apa saja yang Tuan butuhkan."
"Kamu pergi sendiri?" Nimas menganggukkan kepalanya mengiyakan. Sebelumnya di rumah Hilda juga Nimas sendiri yang berbelanja.
Namun, Arjuna merasa tidak tega, bagaimana cara Nimas membawa barang belanjaannya seorang diri? "Gimana kalau kita sama-sama saja?" tawarnya.
"Boleh Tuan." Nimas mengangguk. Jika ada yang menemani, itu justru lebih baik.
Nimas akan lebih mudah dan tidak perlu mencatat ini itu karena Arjuna akan menunjuk langsung apa yang akan dibelinya.
Sepakat dengan itu, Nimas bertolak ke kamar lalu meraih tas, jaket, juga dompet miliknya dan bersiap-siap untuk pergi.
Keluar dari kamar kembali, Nimas tak menyangka jika Arjuna menunggu di depan kamarnya seperti lelaki yang menunggui istrinya.
"Tuan kok di sini?"
Arjuna justru fokus pada pakaian yang dikenakan gadis itu. "Kamu tidak punya pakaian lain?"
Nimas mengikuti arah mata Arjuna yang menatapnya dari atas ke bawah. "Apa ini terlalu jelek Tuan?" tanyanya.
"Itu terlihat tidak setara dengan wajah mu."
"Maksudnya?"
Arjuna menyodorkan emam paper bag bermerek branded pada Nimas. Sedari kemarin Arjuna tak cukup alasan untuk memberikannya pada gadis itu, akhirnya sekarang ada momen yang tepat untuk memberikan pakaian baru yang dibelinya secara khusus untuk Nimas.
"Apa ini Tuan?" Nimas menilik seluruh isi paper bag-nya. Nimas merasa beruntung bisa menjadi bagian dari rumah ini, sebab saat bekerja dengan Hilda tidak diperlakukan seperti ini.
"Dulu aku berencana mengirimnya ke Hilda. Tapi, kamu saja yang pakai."
Arjuna tak mungkin jujur kalau gaun dan baju-baju baru itu memang sengaja dibeli untuk Nimas. Arjuna belum seberani itu.
__ADS_1
Melihat merek branded, jiwa perhitungan gadis desa bergejolak. "Waduh Tuan, apa tidak terlalu banyak? Lagi pula, ini juga pasti sangat mahal. Saya tidak pantas pakai..."
"Kamu pantas memakainya, Nimas. Sekarang pakai salah satu dan keluar dengan cepat!" sela Arjuna. Sudah bisa ditebak jika Nimas akan berbicara seperti itu, padahal tinggal pakai saja kok apa susahnya?
Nimas manggut-manggut cepat sebagai tanda bahwa ia setuju. Lalu saat ingin membalikkan badannya, Arjuna kembali bersuara, 'Oya,' membuat Nimas terdiam di tempatnya.
"Aku suka yang hitam, Nimas."
"Hah?" Nimas sedikit bingung dengan maksud dari tuannya. Kenapa harus mengatakan mana yang disukainya sambil tersenyum manis begitu.
Sebagai wanita muda, melihat duda tampan bersikap seperti ini, tentu membuat Nimas tak bisa fokus hingga gagal mencerna apa maksud tuannya.
"Aku mau kamu pakai yang hitam, itu akan lebih cocok dengan mu," ulang Arjuna.
"Mmmh, I-iya Tuan." Nimas setuju. Tapi, apa harus diatur begitu? Nimas jadi membatin sendiri, kenapa Tuan Arjuna menyuruhnya memakai yang disukainya?
Arjuna tersenyum tipis saat Nimas masuk lagi ke dalam kamarnya dengan wajah bingung, sebelum ia memutar haluan kakinya untuk keluar dari rumah asri miliknya.
Di luar, burung-burung yang ada di beberapa sangkarnya tengah bernyanyi nyanyi saling sahut menyahut, seakan ikut menyemarakkan suasana gembiranya.
Arjuna tersenyum kembali mengingat raut wajah Nimas yang lucu saat dia menyuruhnya memakai baju hitam. Demi apa pun Arjuna rela bersumpah kalau jantungnya berdebar sangat kencang.
Sebelum mimisan terjadi, Arjuna menghela napas dalam dalam untuk mencoba berdamai dengan tubuhnya sendiri. Mulai saat ini, lekas tunjukkan perhatian se kentara mungkin agar gadis incarannya peka.
Dia bahkan rela tak ke kantor dulu, hanya karena ingin pergi berbelanja dengan gadis desa nan cantik jelita. Setidaknya itu bagi Arjuna yang sudah jatuh cinta.
Nimas keluar dengan blouse yang dipilihnya satu Minggu lalu. Namun, bukan itu yang membuat Arjuna bergeming, sebab Arjuna justru terpaku menatap wajah Nimas yang tiba-tiba bisa berdandan.
"Kamu pakai make up?"
Nimas menyengir. "Iya Tuan, kemarin dikasih Non Anes, diajarin juga cara pakainya. Siapa tahu ada acara keluarga lagi. Tapi, tadi saya pake karena..."
Nimas menunjukkan bajunya dengan menarik bahan melarnya. "Sepertinya bajunya terlalu cantik di muka saya yang kusam... Mmmh... A-apa terlalu menor, Tuan?" tanyanya.
"Kamu sangat cantik," puji Arjuna. Sedang Nimas merasa lancang karena sudah GeEr atas pujian yang dilontarkan tuannya.
Meski acap kali saling salah tingkah, Nimas menurut untuk mengikuti instruksi demi instruksi yang diberikan oleh Arjuna. Mereka berbelanja seperti halnya pasangan suami istri, bukan pembantu dan majikan.
Pukul sebelas siang, keduanya baru sampai kembali ke rumah. Barang belanjaan yang sangat banyak itu, dibantu dibawakan oleh sopir dan satpam.
"Swit swiiiit..." Rega bersiul.
Rupanya sudah ada Rega dan Vanessa di ruang TV, yang tengah duduk berpangku sambil bermain game online dengan ponsel yang sama.
"Ehm!" Arjuna kesal jika melihat kemesraan putri dan menantunya. Satu tarikan Arjuna sasarkan pada rambut Rega.
__ADS_1
"Ah!" Rega yang lebay, sengaja berkeluh dan meringis di depan istrinya.
"Papa..." Vanessa menegur. Tiada hari tanpa mengajak ribut jika mereka bersama di ruang yang sama.
"Sekarang Anes bela suami Anes, hmm?"
Vanessa tahu ayahnya cemburu. "Ya kalian ngapain juga berantem kayak anak kecil?"
Arjuna duduk dengan wajah kesal, dicampur lelah juga karena hampir setengah hari waktu yang dihabiskan bersama Nimas untuk pergi berbelanja banyak kebutuhan rumah.
"Baju Bibi bagus." Vanessa tersenyum melihat Bibinya sudah lebih enak dipandang mata.
Tak seperti saat bersama Hilda, Nimas di rumah ini, lebih terlihat seperti manusia, mungkin karena dimanusiakan oleh Vanessa dan Arjuna.
"Bibi belanja baju ya?" Vanessa takjub, KW jaman sekarang sangat mirip dengan aslinya.
"Tuan yang kasih," kata Nimas. Dan Arjuna mendadak menjadi sorotan, jujur dia belum siap untuk mengaku pada Vanessa.
"Akm akm akm!" Rega lebih lebay saat tahu baju yang Nimas pakai dari mertuanya.
"Baju Mama kamu dulu. Daripada dibuang mending Papa kasih Nimas." Arjuna bangkit dari duduk, daripada melihat tatapan heran dari putrinya.
"Mana ada baju Mama di sini?" Gadis itu mengikuti langkah kaki ayahnya yang mencurigakan. Vanessa tahu ayahnya sedang berkilah, tapi untuk apa?
Arjuna tertangkap basah. "D-dulu Papa sempat belikan Mama, tapi belum Papa kirimkan ke Mama kamu."
"Terakhir udah dikirim kok sama Anes," sangkal Vanessa. "Lagian Mama nggak mungkin pakai baju tertutup begitu."
"Mmmh..." Arjuna mempercepat langkah kakinya. Dan Vanessa pun melakukan hal yang sama hingga mereka berakhir di pintu kamar Arjuna.
"Papa. Jelasin ke Anes." Vanessa mencegah pintu kamar yang akan Arjuna tutup.
"Apa lagi, Papa ngantuk!"
"Masih siang loh ini!" Bahkan, biasanya Arjuna ke kantor lalu kenapa tiba-tiba di rumah dan bilang mengantuk?
Vanessa sudah jelas masih libur di hari tenang sebelum ujian. Lantas, apa alasan Arjuna tidak ngantor?
"Papa suka sama Bibi?" cecar Vanessa.
"Yang benar saja." Arjuna tertawa agar tak terlihat canggung.
Vanessa bersidekap. "Ya baguslah. Soalnya Bibi mau Anes jodohin sama Pak Wisnu."
"A-apa?" Arjuna melotot.
__ADS_1
"Kenapa terkejut gitu?"