
Senja berkelir jingga, hingga menuju malam tak butuh banyak waktu untuk berproses dan menampakkan kegelapan.
Dua hari Rega dan sebagian keluarga Arjuna berada di Bogor. Mereka memantapkan langkah meminang seorang gadis muda untuk Arjuna.
Siapa yang menolak jika Arjuna si tampan dan kaya melamar. Orang tua Nimas segera menerima bahkan bersedia jika langsung mengadakan acara pernikahannya.
Malam ini, giliran Rega yang tergesa-gesa masuk ke dalam kamar istrinya. Dua hari tak melihat wajah istrinya, rasanya berkurang separuh hidupnya meng-hampa.
Setelah dua hari kemarin rewel bilang rindu, kangen, dan lainnya, kali ini Rega datang. Vanessa tak tahu jika Rega pulang hari ini, Rega sengaja datang memberi kejutan.
"Baby..." Vanessa yang terbengong di meja belajar, sontak menoleh pada suara gelotak pintu yang terbuka.
Gadis itu berdiri, berlari, dan menghambur di pelukan hangat suaminya. "Kalian kok lama banget pulangnya!" Vanessa menangis.
Dua hari terakhir Vanessa hanya tinggal berteman kan Sofie, Antoni, Pak Wisnu dan satu tukang kebun bernama Baron. Vanessa kesepian, seperti ada yang hilang ketika Rega tak muncul di hadapannya.
Rega melerai, dan air mata rindu Vanessa telah luruh merayapi pipi. Rega yakin Vanessa mengalami greget seperti yang dia rasakan.
Ingin berjumpa, namun jarak terlalu banyak. Rega terkikik lebih lama dari sebelumnya, dia mengingat lagi kata-kata Vanessa.
Kemarin istrinya begitu yakin untuk LDR, bahkan baru dua hari saja, Vanessa sudah menangis seperti ini. "Kamu yakin mau kuliah di Oxford?"
"Entah..." Vanessa menyeka dua matanya sambil mencebik bibirnya yang sendu.
Rega suka dengan kabar ini. Mungkin, setelah ini, Vanessa tak mau ke London. "Kamu yakin tidak merindukan aku, nanti?" tanyanya.
"Nggak tahu!" Vanessa menggeleng masih sambil mengusap usap matanya seperti anak kecil. Antara malu, tapi mau bagaimana lagi selain mengakui kerinduannya.
Tak basa-basi, Rega makan bibir Vanessa, pejamkan matanya, perdalam dan meraup setangkup bibir mungil itu dia sesap dalam dalam.
Vanessa mundur, dan terus mundur karena sorongan tak sengaja Rega yang hanya fokus pada satu titik yaitu bibir mereka.
Tubir nakas mentok di punggung Vanessa, membuat wanita itu tak punya pilihan lain selain duduk melingkarkan kakinya pada Rega.
Sekejap, mata mereka bertemu untuk memberi kode berikutnya. Membuka kancing kemeja slim fit Rega bersama-sama.
__ADS_1
Selesai itu, fokus mereka beralih pada resleting, ikat pinggang, dan Rega segera menurunkan celananya separuh saja.
Keduanya sempat tertawa geli, mereka akan melakukan di atas nakas. Dan baru permata kalinya bagi mereka.
Buah kenyal yang semakin hari semakin bertambah besar tak boleh diabaikan. Rega meraup keduanya untuk dilahapnya bergantian.
Vanessa hanya mendongak menatap langit-langit kamar sambil meremas pundak Rega tanpa rencana. Rega suka saat wanita itu mendesah panjang.
Sangat seksi dan menggairahkan. Rega tarik CD Vanessa hingga terlepas. Sempat ia mengendus-endus CD tipis berenda putih itu, dan menyimpannya di gigitan giginya sembari menatap wajah Vanessa dengan sensual.
Vanessa terkikik, lalu pasrah menerima sodoran pusaka yang sudah tidak lagi asing bagi miliknya. Meski masih sama sulitnya setiap kali lakukan, tiada keluh untuk hal itu.
Hal candu yang bahkan hampir berkali-kali dalam sehari bisa sampai empat kali. Ingat kembali status keduanya.
Sugar baby, dan Sugar Daddy. Vanessa membara karena masih muda, dan Rega hot Daddy yang sudah haus akan itu.
Jeritan sensual telah tergema. Bibir Rega mulai beroperasi di area yang sensitif: telinga, leher, dada, bahkan menggigit areola.
Vanessa hanya bertugas membuka dan menutup mata menikmati hentakan demi hentakan Rega Putra Rain. "Sakit?"
"Nggak!" Vanessa menggeleng sembari menjerit runtut. Dia seperti sengaja bersuara seksi demi memuaskan telinga suaminya.
Kain yang melekat di tubuh Vanessa terhempas secara berkala. Terakhir, Vanessa sendiri yang memilih untuk dimanjakan dari belakang tubuhnya.
Ini gila, Rega tak tahu jika Vanessa harus kuliah di luar negeri sementara dirinya masih selalu candu dengan kegiatan ini. "Triple ssshiittt!" umpatnya.
Vanessa hanya bisa mengeluarkan lenguhan suara parau nya. Sempat trauma, tapi sekejap karena ke besokannya Vanessa kembali ingin merasakan Hujaman pinggul suaminya.
Kriiiiiing....
Dering ponsel sempat membuyarkan konsentrasi Rega. Sudah hampir sampai, tiba-tiba hilang kembali dan merasa masih cukup jauh untuk didakinya.
"Siapa yang telepon?"
"Siapa lagi, Papa kamu!" Rega merutuk kesal.
__ADS_1
•••••••••••••
^^^•••••••••••••^^^
Rega keluar dari kamar setelah selesai dengan satu ronde rindunya. Arjuna pasti memanggil untuk menanyakan soal acara.
Catering, souvernir, semua hal tentang resepsi akan mereka bicarakan secepatnya, kalau bisa sebelum Vanessa kelulusan.
Kaos ketat putih sudah kembali dipakainya. Celana pun sedang dia betulkan sambil berjalan mendekati Arjuna yang duduk di kursi meja makan.
"Gimana?"
Arjuna menatap Rega dari atas hingga bawah. Banyak cap lipstik di wajahnya, gigitan di lehernya, dan resleting yang tak ditutup.
"Ya Tuhan!" Arjuna menutup mata yang tercemar. Untung tidak ada Nimas di sini, Rega benar-benar melompong. "Kondisikan angsa mu!"
Bahkan sudah bukan lagi burung. Karena itu terlalu over size untuk ukuran burung.
Rega tergelak tak tahu malu. Bukan tidak di tutup, hanya turun kembali sedikit saja karena miliknya masih tegap berdiri.
Jelas Arjuna bisa membayangkan seberapa ukuran menantunya. "Kau gila, sebesar itu kau berikan sama putriku yang mungil?"
Rega cengengesan. "Dia keenakan, tenang saja! Putri mu salah satu perempuan yang beruntung di jagat raya. Rega kaya, Rega cerdas, Rega setia, Rega..."
"Stress!"
Rega terkikik lebih geli. "Tidak usah iri, bentar lagi kau juga merasakannya!"
Arjuna menghela napas, agar tak terpancing pembicaraan yang memalukan. "Kau masih ingat caranya kan?" tanya Rega ragu.
"Kau pikir?" Arjuna melirik tajam. Meski 17 tahun lamanya tak pernah lagi, Arjuna yakin masih tahu caranya.
"Kalau tidak, aku ajari tutorialnya." Rega kembali cengengesan. "Aku belikan filmnya khusus dari Jepang."
"Kau mau aku pecat rupanya!" Arjuna menegur nyalang. Sementara Rega hanya tertawa sambil membuka lemari esnya.
__ADS_1
"Dosa apa, aku punya mantu kurang ajar seperti mu!"
"Dosa mu menghamili pacar ku." Rega berceletuk setelah menenggak setengah botol air mineral.