
Rega kecup bibir istrinya cukup lama, beralih ke pipi kemudian kening. Lantas, bangkit dari posisi mengungkungnya.
Pria yang semakin hot itu menarik pengaman yang melekat di miliknya, untuk lekas dibuang ke dalam tong sampah di kamar mandinya.
Tanpa busana, Rega mendekati shower, memutar keran, menengadahkan wajahnya hingga setitik yang menjadi buraian air itu mengenainya.
Tak lama, perempuan menyusul masuk ke dalam, tanpa ragu Vanessa menanggalkan handuk dan ikut merasakan tetesan air di sisinya.
Rega tersenyum kecil, meraih kepala wanita cantik yang telah melahirkan putri pertama yang sangat cantik itu, untuk diberikan hadiah kecupan lembut di ubun-ubun.
"Hari ini Anes pulang malem yah. Ada acara sama anak-anak." Vanessa mengusap dada Rega yang lalu berbusa.
"Enjoy!" Rega tersenyum. Tangannya mulai menyisir perut rata istrinya, membalikkan dan memulainya kembali dari belakang.
Sebelum benar-benar mandi, biar dia tuntaskan gairahnya di sini. Desah yang menggaung diantara gemericik air, Rega sungguh menggilai istrinya.
•••••••••••••
^^^•••••••••••••^^^
"Pagi Sayang..." Arjuna menciumi satu persatu dari sepasang anak berusia 3 tahunan itu.
Sepasang balita yang sangat lucu. Balita
laki-laki berparas tampan itu milik Arjuna dan Nimas, sedang balita perempuan berbusana merah muda itu milik Rega dan Vanessa.
Daru Disaga, nama yang Arjuna sematkan di hidup putranya. Putra yang malang, ya, karena sedari lahir anak itu tak memiliki kesempatan untuk melihat sang ibunda.
Nimas lari dari Arjuna setelah cukup lelah dengan cinta fatamorgana. Cinta yang Nimas pikir hanya sebagai pelarian semata.
..."Maafkan Nimas, tapi ini yang terbaik bagi kita, menikahi pria yang masih hidup dengan bayang masa lalu, ternyata tidak semudah itu, A. Nimas undur diri dari hidup mu. Nimas titip Daru, jaga dia baik-baik, setidaknya untukmu sendiri."...
__ADS_1
Pesan yang sempat membuat Arjuna hampir kehilangan akses pernapasannya. Dunia yang semula berwarna mengelabu setelah Nimas tak lagi di sisinya.
Arjuna yakin, dia sudah cukup keterlaluan hingga Nimas memilih pergi. Menyerah pada keadaan yang mungkin bagi orang lain, dia belum bisa beralih dari Hilda.
Tiga tahun putranya beranjak, semakin hari semakin bertambah pintar. Cinta dan kasih sayang tulus Arjuna hampir semua tercurah pada bocah tampan itu.
Setiap hari, doanya selalu sama. Melihat pulangnya Nimas Fathia ke rumah ini.
Andai tidak ada Daru Disaga, mungkin Arjuna tak sanggup menatap awan yang bergumpal gumpal setiap sorenya. Ini cukup lawak, di mana Nimas menghilang begitu saja, tanpa tinggalkan asap sebagai cirinya.
Snowy Rain, putri perdana Rega, cucu ke dua Papi Raja dan Mami Kimmy setelah memiliki cucu laki-laki dari Tante Chika dan Om Sandy yang sudah berusia 10 tahun, namanya Bara Gun Cavalera yang kini duduk di bangku kelas empat SD.
"Hello Baby..."
"Hello..." Snowy menyapa balik ayahnya yang tampan dengan kemeja slim fit. Juga jas yang dilampirkan di lengannya.
Rega terlihat berbinar-binar, jatah pagi lancar sampai dua kali, tentu saja wajahnya merona bahkan berseri-seri.
Wanita beranak satu itu berputar di depan suaminya, memancing pujian. Lantas tak panjang lebar, Rega menggigit bibir bawahnya seraya berkata. "Seksi! You're my hot girl!"
"Thank you, suami ku yang cool!" Vanessa cium pipi berjambang tipis lelaki itu. Sedikit gigitan kecil di ujung bibir juga Vanessa beri.
Arjuna memutar bola matanya. "Pasangan hot and cool, udah mirip dispenser!" celetuknya iri.
"Jomblo, biarin aja!" Rega menyesap kopinya sambil melirik kearah Arjuna yang kesal.
Arjuna bukan jomblo, hanya ditinggal lari oleh istrinya. Istri yang tiga tahun terakhir selalu dia impikan di malam-malam kesepiannya.
"Snow mau ikut Mammi, Bhulliihh?" Snowy memunculkan puppy eyes yang gemas.
Namun, sayang, Vanessa selalu menggeleng saat putrinya meminta ikut. "Snow sama Papi dulu ya. Hari ini Mami ada kelas sampai malam."
__ADS_1
Wajah senang Snowy memberengut perlahan, dan Daru mengusap pucuk kepala Snowy dengan lembut, Daru selalu tahu kesedihan keponakan sepantarannya.
Melihat itu, Rega mendekati dua kursi khusus balita tersebut. "Jangan sedih, nanti Om Daru yang temani Snowy. Kita main seluncuran di kantor Papi, mau?"
"Mau..." Daru semangat membuat Snowy ikut senang. "Okay, mau...," ujarnya gembira.
Setiap harinya pun begitu, Daru dan Snowy selalu bergantian diajak Rega atau Arjuna ke kantornya. Tergantung siapa yang tidak sibuk.
Vanessa tersenyum. Mahasiswa semester enam itu mencium pipi suaminya. "Duluan ya, Papi suami," ucapnya pamit.
"Aku mencintaimu." Rega membalas dengan kecupan di pipi lalu membiarkan istrinya berlari keluar terlebih dahulu.
Vanessa sudah mendapatkan SIM A, dan telah bebas berkendara sendiri. Walau di awal, Rega cukup kaget, Vanessa istrinya sering uring-uringan saat tak diperbolehkan keluar.
Lambat laun, Rega beradaptasi, semakin umur bertambah, semakin Rega beranjak dewasa tentunya.
Rega membiarkan istri kecilnya bebas melalui aktivitas layaknya mahasiswi lainnya, dengan keyakinan tinggi jika gadisnya benar-benar amanah.
Cemburu? Bukan Rega jika tak cemburu. Ada banyak moment di mana Geo masih bertemu dengan Vanessa, karena Adis sudah menjadi pacar pemuda itu sekarang.
Rega hanya berusaha untuk lebih paham pada situasi yang mungkin sulit dihindari oleh istrinya di kampus. Toh, sedari awal, Rega sendiri yang menyuruh Vanessa kuliah lokal.
"Daru sama Snowy ikut kamu?" Arjuna bertanya dan dijawab anggukan kepala menantunya.
Rega lalu melirik ke arah layar ponsel Arjuna yang diisi dengan foto Nimas sebagai wallpaper. "Kamu nggak cari istri baru lagi?"
Arjuna menggeleng. "Ini pernikahan ke dua ku. Dan aku mau jadikan pernikahan ini yang terakhir."
"Lain kali kalo Nimas pulang. Jangan ngigo nama Hilda lagi." Rega beri saran yang dicibir malas si penerima.
📌 Musim ke dua baru dimulai....
__ADS_1