
Satu tahun setelah perceraian Arjuna dan Nimas. Detik yang berlalu sungguh cepat.
Hari ini dan kemarin masih sama bagi Arjuna. Sepi, sunyi, senyap, ingin sekali berteriak keras dan hanya menjadi angan karena itu tidak bisa dilakukan olehnya.
Arjuna terpaku kelu memandangi kolom yang menuliskan nama Dokter Alfan di sisi nama Nimas Fathia. Detik berikutnya, tak hentinya ia tertawa, menertawakan dirinya sendiri.
Dia yang kekeuh saat memutuskan untuk bercerai, tapi dia sendiri yang menangis setelah mendapat undangan pernikahan dari mantan istri keduanya.
Nimas masih muda dan cantik mudah saja mendapatkan pengganti dirinya. "Bodohnya aku!" Arjuna menyesal, tapi sesal itu tertutup oleh rasa aneh yang bercampur aduk.
Dendam, insecure, entah apa lagi yang dapat Arjuna rasakan, dan jujur ini membuatnya semakin gila saja. Hidup sendiri mungkin pilihan terbaiknya, tapi tak jarang dia merasa sepi.
Satu tahun bersama Nimas, bukan waktu yang singkat. Suka dan suka yang selalu dia rasakan di pagi, siang dan malamnya.
Sebelum akhirnya Nimas pergi dan beritahu dia jika dia selalu menyebut nama Hilda saat tidur bersamanya.
Seharusnya Nimas memohon untuk kembali ketika talak dia gaungkan, tapi tidak mungkin, Nimas wanita dingin yang sukses membawa dirinya sendiri.
Itu yang membuatnya jatuh cinta. Dan pasti juga itu yang membuat Dokter Alfan jatuh cinta pada pembantu rumah tangga Dokter Lusia sang kakak.
Nimas mandiri, wanita itu tak berkeluh meski harus jauh dari putranya yang Arjuna yakin ini tidak mudah bagi seorang wanita.
Setidaknya, ia lega, sebab Nimas tak egois membawa Daru darinya, dan bayangkan jika itu terjadi, dunianya runtuh seketika.
Meski harus tumbuh menjadi pribadi yang moody dan jarang bersuara. Daru hidup dengan baik layaknya pangeran tampan yang bersiap mewarisi kekayaannya.
Sepuluh tahun setelah Snowy dan Daru lahir, Vanessa hamil putra Rega yang kedua. Wajah anak-anak Vanessa lebih dominan ke Eropa dibanding Asia.
Jangan tanya bagaimana hidup Rega setelah memiliki dua anak rupawan. Rega amat teramat sangat bahagia begitu pun Arjuna yang mendapatkan bahagia dengan caranya.
Sedari lulus kuliah, Vanessa fokus pada keluarga kecilnya. Bakatnya dia tekuni tanpa harus mengabaikan suami dan anaknya.
Rega juga membuatkan galery lukisan khusus karya istrinya. Tak jarang galery itu dibuka untuk umum.
Kembali bulan-bulan pun berlalu, dan tentunya diisi dengan suka duka canda tawa riang gembira. Banyak perkara, banyak masa, banyak luka, banyak juga kebahagiaan yang tercipta selama waktu bergulir.
Satu, cinta tak sampai seorang Arjuna yang kian menua dengan elegan. Dua, kebucinan hakiki dari Rega dan Vanessa.
Tiga, tumbuhnya Daru yang dingin. Empat, tumbuhnya Snowy yang centil. Lima, tumbuhnya Sky Rain si pewaris tahta X-meria yang ke sekian.
Beruntung, Daddy Raka dan Mommy Krystal sempat melihat Sky Rain. Lalu satu bulan kemudian pewaris X-meria yang turun dari Ray Rain itu mengembuskan napas terakhir.
Cukup dramatis, karena sebelumnya, Vanessa sempat melihat betapa sedihnya Grandma Krystal yang pada akhirnya menyusul di bulan berikutnya.
Dua bulan yang membuat anggota keluarga Miller dan Rain patah. Kehilangan dua sosok tetua yang sangat hangat dan riang.
Vanessa membuat lukisan satu raja dan dua permaisuri. Inspirasi ini dia dapat, dua bulan sebelum Daddy Raka wafat.
Daddy Raka selalu memanggilnya dengan sebutan Viona ku. Vanessa sempat melihat senyum tulus dari bibir kakek tua itu tatkala menceritakan kisahnya bersama Viona dan Krystal.
"Viona seperti mu. Dia hadir di sini." Raka menunjukkan letak hatinya berdebar keras.
"Dia memiliki tempat tersendiri di hatiku. Dan aku tahu Krystal masih sering cemburu karena ketulusan ku. Tapi, beruntung Viona sahabatnya. Aku pria yang beruntung memiliki cinta yang banyak dari keduanya."
__ADS_1
Goresan kuas yang diiringi dengan cerita masa lalu Daddy Raka itu pun Vanessa selesaikan demi mengenang ketiga sepuh dari suaminya.
Nama Raka, Viona dan Krystal juga disematkan pada masing-masing gambarnya.
"Berapa lukisan ini?" Vanessa segera memberikan informasi. "Yang ini, tidak untuk dijual." Ketika ada yang ingin membelinya.
Lukisan itu memiliki cerita tersendiri. Baginya, kisah segitiga yang masih berlangsung sampai menua itu membuat lukisan beraliran romantisme tersebut tidak ternilai harganya.
•••••••••••••
^^^•••••••••••••^^^
16 tahun usia Daru Disaga. Pemuda dengan tinggi 165 itu semakin tumbuh menjadi sosok beku, tertutup, pantang bersuara jika tidak amat penting dan perlu.
Untuk sesekali, Arjuna memaksanya bertemu dengan ibunya. Sulit, tapi pada akhirnya mau karena tidak kuasa menolak ketika ancaman tidak diberi uang saku pun tercetus.
Daru keluar dari kamar mandi. Tiba di jajaran lemari, handuk yang melilit di pinggangnya dia buka dengan kedua tangan.
Namun, segera dia urungkan niatnya setelah melihat gadis nakal yang tertawa di sudut tempat. "Ngapain di sin!?"
Daru menatap sewot keponakan yang sepantaran dirinya. Di kursi tanpa sandaran itu Snowy menyengir puas. "Ngintipin jodoh masa depan."
"Keluar!" Daru tarik lengan keponakannya yang lalu menepis.
"Dulu kita mandi sama-sama nggak apa-apa kok. Ngapain malu? Ayok ganti baju!"
"Keluar!"
Daru mendorong dorong tubuh gadis nakalnya. Dia terbelalak saat dengan sengaja Snowy menarik handuk di pinggangnya sambil tertawa.
Entah kutukan dari mana, dia harus memiliki keponakan cantik yang super duper menyebalkan. Setiap hari terus mengganggu, bising, dan merusak ketenangan jiwanya.
Daru mengganti pakaian, kemudian keluar lagi untuk menuju meja belajarnya. Daru siswa berprestasi, ketua OSIS, dan menjadi idola, setidaknya tidak seperti para anggota JAS-MC yang terkenal nakal di sekolahnya, Daru dikenal bersahaja karena bekunya.
Mata Daru menatap ranjang yang diisi tubuh mungil gadis cantik. Snowy bangkit lalu menyatroni Daru yang duduk di kursi meja belajarnya.
"Apa sih!" Daru menepikan tangan yang bergelayut di dadanya. Snowy gendong di punggungnya, dan itu sudah biasa.
"Pura-pura jadi pacar Snow ya?"
"Jangan gila!" Daru melirik tajam Snowy yang wajahnya berada di sisi pipinya. "Keluar sana!"
Gadis itu mencebik. "Snow mau kasih Bara tahu kalo Snow udah bisa move on. Makanya please pura-pura jadi pacar Snow."
Tangan gadis itu bersatu. Wajahnya memelas, berharap Om tampannya ini mau membantu dirinya memanas-manasi mantan pacar yang sudah punya gandengan baru.
"Enggak!" Daru menepis tangan Snowy yang menyentuh pipinya dengan ujung jari telunjuk.
Snowy mengucek matanya sambil menangis tergugu-gugu. "Huhu... Bara kemarin caci maki Snowy. Dia bilang udah bisa move on dari Snowy yang jelek dan bau, terus dia juga tampar Snowy pake sepatu rusaknya, kan kurang ajar! Masa Om nggak mau bantu Snow balas dendam sih?"
Sempat Daru tertawa samar. Apa ada yang berani menampar pewaris X-meria dengan sepatu rusak? Mencaci maki? Jika ada, dia akan berikan penghargaan.
"Daftar jadi artis sana!" sindirnya. "Akting dan jiwa halusinasi Lo bagus," lanjutnya kemudian meraih bulpen untuk mengerjakan PR.
__ADS_1
Snowy mendengus, semua keluarganya tampan tapi ketus dan jutek. Padahal mereka sangat beruntung memiliki Snowy yang cantik dan genius. "Beneran nih nggak mau bantuin Snowy?"
"Nggak!"
Cup... Mendarat dengan maksa kecupan kecil di pipi Daru yang lekas berteriak.
"SNOW!"
Snowy yang berlari keluar, masih sempat memunculkan kepalanya untuk menatap ekspresi kesal Omnya. "Uluh, manisnya pipi Om ganteng!"
Brakkk... Daru lemparkan kotak pensil serampangan. Snowy sudah menjauh dengan tawa cekikikannya.
"Astaga!" Daru selalu memijat kepala yang pening karena ulah Snowy.
•••••••••••••
^^^•••••••••••••^^^
"Snowy..." Vanessa menegur putrinya. Jelas suara brak barusan terdengar dari arah kamar adiknya. "Kamu godain Om lagi?"
Snowy duduk di sisi ayahnya yang tertawa dengan tingkahnya. "Abisnya suka sayang kalo ada cowok ganteng terus jomblo."
"Nggak boleh centil begitu!" Rega cubit pipi mulus Snowy pelan. Semakin hari, semakin Rega menyayangi putri kecilnya itu.
"Mirip siapa kamu ini!" Vanessa menggerutu di atas sofanya.
Snowy tertawa. "Mirip tetangga sebelah yang janda itu. Oya, Mami tahu ngga? Kemarin, Papi lirik lirik dia," cepunya.
"Snowy..." Rega protes. Kemarin melirik, tapi bukan berarti ingin nakal, ya walau sedikit penasaran tapi tidak bermaksud selingkuh.
"Oh jadi gitu?" Vanessa menatap wajah kikuk ayah dari putri nakalnya. "Papi suka lirik janda sebelah?"
"Amit-amit, kalo cuma sebelah!" Dan Snowy tertawa cekikikan melihat raut aneh sang ayah.
"Aku serius, Papi!" cecar Vanessa.
"Kamu, percaya sama gadis pemecah seribu umat ini hmm?" Rega mencubit pipi putrinya dan kali ini lebih lama dari sebelumnya.
"Jangan suka cepu gitu! Mami kamu kalo lagi cemburu suka buang buangin baju dalam Papi! Kamu mau Papi masuk angin?"
"Biar yang kerokin janda sebelah. Kan suka kan Papi sama Tante yang bodynya goal itu?'
Vanessa berdiri dengan wajah jutek. Lalu, Rega ikut berdiri dan mengikuti langkah kaki mungil istrinya. "Yank, jangan percaya sama Snow. Kamu kayak nggak tahu ajah kelakuan dia!"
"Aku baru tahu loh kalo kamu suka lirik lirik janda muda di sebelah itu. Bagus Snowy bilang!"
"Sumpah, Snowy cuma bercanda pasti! Di hatiku cuma ada kamu." Rega berusaha meyakinkan atau malam nanti dia tidur bersama Sky di kamar lain.
Snowy hanya terkikik menikmati hasil dari ulahnya barusan. Saat dunia kacau karena dirinya, betapa indah dunia Snowy.
...📌 Terima kasih sudah baca bonusnya... Ku kasih visual Daru sama Snowy yang kemarin minta......
__ADS_1